Tahun 1989, desa Suka tani belum tersentuh yang nama teknologi canggih tidak seperti di kotanya. Desa itu mengandalkan alat tradisional khasnya sendiri.
Lampu lentera minyak tanah atau obor minyak tanah menjadi alat utama penerangan rumah, berpergian malam hari. bisa juga di gunakan sebagai penerangan kegiatan pribadi.
Tidak ada namanya motor dan mobil mewah . Delman dan sepeda ontel menjadi opsi alat transportasi. Itu pun hanya di miliki oleh orang kaya saja, orang sederhana tidak memiliki. Mereka mengandalkan kakinya.
Tidak ada ponsel canggih, hanya ada ponsel jadul harus memasuki wilayah terdapat sinyal agar bisa di gunakan menghubungi seorang. Namun ponsel tidak berguna di desa itu. Di mana tidak terdapat listrik.
Tidak ada namanya SMS, maupun pesan teks seperti WA. Orang mengirim pesan lewat surat tertulis di kirim lepat kantor pos maupun lewat temannya hanya sekedar berpesan pada kekasih.
Sebagian besar penduduk asli desa suka tani menekuni sebagai petani, dan nelayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amatir author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
main bola
Di sisi lain jam yang sama di lapangan. Asep bermain sepak bola bersama temannya.
Main sepak bola anak perempuan lawan anak laki laki.
Tim wanita di pimpin Selly dengan 7 anggota, sedangkan Tim pribadi hanya 5 anggota saja. Terlihat tidak seimbang namun permainan itu terlihat seru .
"Rani oper ke depan." Seru Eva.
Rani mengangguk kepalanya pelan, kakinya di ayunkan dengan santainya menendang mengoper ke rekan timnya sebagai pemain depan yaitu Selly.
"Duk..
Bola meluncur melayang melewati hadangan pemain lawan yaitu Donny.
"Sial, dia wanita apa pria. Tendangan nya keras amat!" Guman Donny.
Selly dengan santainya menahan bola dengan dada, bola jatuh di kakinya.
Membalikkan badannya, menendang tanpa melihat arah belakang.
"Duak!"
Bola terhantam keras, meluncur dengan sedikit melengkung kearah atas mistar gawang.
"Sial tendangannya."
Guman kiper gawang di jaga oleh Eko.
Dia melompat untuk menghalau bola itu, jarinya berhasil menyentuh bola namun tidak cukup menahan bola itu. Sehingga bola masuk kedalam menabrak jaring sampai bergetar.
"Goal....
Seru Selly berlari pinggir lapangan di ikuti rekan timnya . Dia melakukan selebrasi gol berlari.
"Cih...
"Baru satu gol saja belagu." Guman Fais kesal.
"Hais..
"Ada apa dengan matamu, lihat papan skor itu, kita ke tinggal 3-1 goll dalam waktu dekat. Lawan wanita lagi." Ucap rekan timnya Dani teman baru.
"Kamu diam saja, itu karena kamu tidak becus menjaga pertahanan." Ucap kesal Fais.
"Huh...
Dani hanya menghembuskan nafas beratnya melangkah pergi.
"Sudah jangan bertengkar,saling menyalahkan. Ayo kita lanjut bermain,ini cuma pemain." Ucap Asep.
Permainan di lanjutkan ,tim anak laki-laki berhasil memperkecil kedudukan gol dari Wanto dan Winto. Skor menjadi 3-2 masih menjadi keunggulan tim anak perempuan.
Asep membawa bola dari daerah pertahanan sendiri , mendapatkan bola liar dari tim lawan yang gagal dalam menyerang.
Berlari membawa bola melewati hadangan tim lawan. menggojek semua bek lawan sampai satu lawan satu dengan penjaga gawang .
Asep melihat keadaan, melihat Fais berlari bebas.
Rani melihat itu tidak tinggal diam keluar dari posisi nyaman mencoba menggagalkan itu. Melakukan seleding kearah bola, namun asep dengan senyum meremehkan menendang bola mengoper ke Fais.
"Duak!"
Terdengar hantaman ,bola melesat kilat membalas udara menciptakan gesekan, desiran samar.
"Ini...
Tegun Rani kedua matanya melihat bola berhasil melewati nya.
Tubuhnya meluncurkan menabrak Asep, sehingga Asep terjatuh menindihnya.
Dia saling berpelukan, bibir saling bertautan.
"Ini..
Tegun Asep dan Rani. Pandangan Kedua matanya saling bertemu.
"Maaf!"
Asep bergegas berdiri.
Rani juga berdiri melangkah pergi, terlihat raut wajahnya memerah karena malu.
Fais menatap bola meluncur kearah nya, menahan dengan dada, bola turun dan langsung di tendang dengan keras.
Bola melesat melewati penjaga gawang yang gagal. jaring gawang bergetar, memantul kembali keluar.
"Goal....
Seru Fais berlari ke pinggir lapangan untuk melakukan selebrasi, namun di hentikan oleh Eva.
"Jangan lakukan selebrasi alay itu lagi, aku ingin muntah." Ucap kesal Eva.
"Hem..
"Baiklah." Guman Fais terlihat kecewa dan tidak berdaya.
"Tadi kakak mencetak gol, selebrasi nya membuat kesal. Tapi aku ingin balas, yasudah." Ucapnya lagi.
Dengan gol Fais , kedudukan sama kuat menjadi 3-3.
Mereka melanjutkan bermain sampai jam 3 sero , kedudukan akhirnya 5-4 keunggulan tim anak laki-laki.
"Sudah kita bubar sebentar lagi ashar, sebaiknya kita lanjutkan besok ." Ucap Eko.
"Selamat tinggal calon iman masa depan, terimakasih kecupan pertama kita, sampai ketemu lagi." Ucap Rani melangkah pergi bersama Nadia, Eva dan Fais.
"Cih...
Selly merasa kesal.
"Betul sekali pede sekali dia, mana mau Asep bersamanya dewasa nanti." Timpal Abdul.
"Huh...
"Kelihatannya semua anak perempuan mulai perhatian dengan mu ,aku sangat cemburu itu." Guman Selly.
"Sudahlah dik, tadi hanya kecelakaan. Bukan buatan kakak." Ucap Asep.
"Jangan menyangkalnya, aku tahu kakak menikmatinya. Nanti aku adukan pada ibu dan ayah. Kakak ciuman sama perempuan." Ucap melangkah pergi .
"Tidak, itu tidak benar. Dik jangan lakukan itu. Kakak tidak tahu harus menjelaskan apa pada ayah ibu " Ucap Asep melangkah mengikuti dari samping.
"Hais..
"Kamu tenang saja, jelaskan yang sebenarnya bahwa itu kecelakaan. Pasti ayah ibumu memahami nya." Ucap Abdul.
Sesampainya di tempat kerja nya, verra langsung melakukan tindakan menyelesaikan masalah toko bukunya. Melunasi denda, membayar gaji karyawan yang sempat tertunda dan lainnya.
"Huh..
"Akhirnya toko buku ku terselamatkan. Semoga kedepannya kembali normal."
Verra menghela nafas lega, duduk lemas di depan layar komputer tabungannya.
"Aku harus memberitahu itu pada suamiku." Ucap verra.
Mengambil ponselnya, menghubungi suaminya. Namun tidak kunjung tersambung dalam waktu lama.
Hanya ada suara operator saja, memberitahu nomor sedang sibuk dan tidak aktif.
"Ini...
Tegun verra.
"Mungkinkah ucapan kakak dan kakak ipar benar, suamiku sudah kabur?" Guman di hatinya.
Dia mencoba menghubungi suaminya lagi, namun sama saja terdengar suara operator saja.
"Huh...
"Kamu jangan berprasangka buruk dulu, mungkin ponsel suami mati." Ucapnya menghibur diri agar tidak panik.
"Sebaiknya aku pulang, memastikan perasaan ku salah."
Verra bergegas pergi.
Sesampainya di rumahnya, dia tidak melihat kehidupan suami dan anaknya.
"Mas, mami pulang. Di mana kamu mas!" Ucapnya mencari berbagai ruangan tak kunjung menemukannya.
"Jangan jangan!" Guman verra.
"Brak brak!"
Suara lemari terdengar.
"Bu! Ibu... Nelly di lemari Bu!" Teriak anaknya di dalam lemari.
"Ini...
Verra bergegas membuka lemari di depannya.
Dia terkejut bahwa anaknya ada di dalam lemari dalam kedalam lemas kekurangan oksigen.
"Nak, siapa yang melakukannya? Di mana ayah mu?" Ucapnya merasa khawatir.
"A-ayah Bu." Ucapnya pelan seperti kehabisan tenaga dan nafas.
"Dasar penghianat, berani sekali dia melakukan ini pada anakku. Dasar pria bajingan." ucap marah verra memeluk anaknya.
"Bu, Nelly su.. sah nafas." Ucapnya pelan dan lemah sambil mengatur nafas nya terputus putus.
"Nak, bertahan nak. Kita kerumah sakit. Kamu akan baik baik saja."
Bu verra bergegas pergi menggendong anaknya.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, anaknya mendapatkan penanganan dari dokter.
"Dasar ayah iblis, tidak punya hati. Tega mengurung putrinya di lemari."
"Aku tidak akan biarkan ini begitu saja, aku akan mencari ,kalau perlu kan ku bunuh bajingan itu." Ucapnya.
Bu verra mengambil ponselnya, menghubungi seorang. Tak lama panggilan terhubung.
"Ada apa? Masih kurang dananya?" Tanya pak Harto di balik ponsel.
"Tidak kak, dananya sudah cukup."
"Tapi kak, nelly masuk ke rumah sakit, dia sesak nafas di kurung oleh ayahnya sendiri dalam lemari."
"Kak, ucapan mu dan kakak ipar benar. Suamiku sudah kabur dari rumah." Jawabnya.
"Apa!!" Ucap kaget pak juragan Harto.
"Dasar pria iblis tak punya hati, sudah sepantasnya di bunuh."
"Beri tahu alamat rumah sakitnya, kakak akan kesana." Ucap pak Harto marah.
Panggilan terputus secara tiba-tiba.
Pak juragan Harto terduduk dengan raut wajah masam dan marah. Salah satu tangannya di kepalkan dengan kuat.
"Ayo segera ke kota mas, kenapa bengong di tempat. Tapi kita memberi tahu dulu kedua anak kita. Agar tidak mencari kita." Ucap Bu asri.
Bergegas mengirim pesan teks pada kedua anak.
Mereka bergerak meluncur ke kota dengan delmannya.