NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kendali Penuh

 Keheningan di dalam ruang rapat lantai empat puluh itu terasa begitu mencekam. Para direksi Eropa yang duduk di sekeliling meja oval hanya saling pandang, bingung melihat reaksi Tuan Kresna yang gemetaran seperti melihat hantu, dan Cinta yang air matanya sudah mengalir deras tanpa suara.

Rangga berjalan memutari meja rapat dengan langkah yang konstan dan tenang. Ketukan sepatu kulit mahalnya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur bagi sisa-sisa harga diri Tuan Kresna. Rangga berhenti tepat di samping kursi Cinta, perlahan membungkuk untuk mengambil tas kecil milik Cinta yang terjatuh di lantai, lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan sangat sopan.

"Jaga barang lu baik-baik, Cin," bisik Rangga sangat lirih, menggunakan kata ganti "lu-gue" yang biasa mereka gunakan di Jakarta dulu. Panggilan akrab itu seketika membuat tubuh Cinta bergetar hebat menahan haru.

Rangga kembali tegak, lalu beralih menatap Tuan Kresna yang kini menunduk dalam, mengindari tatapan mata elang milik mantan anak jalanan itu. Semua keangkuhan Tuan Kresna sebagai penguasa kasta tinggi di Jakarta lenyap tak berbekas. Di tanah asing ini, di depan meja kerja Rangga, dia hanyalah seorang pengusaha yang sedang sekarat dan butuh belas kasihan.

"Tuan Kresna," suara Rangga memecah kesunyian, terdengar begitu dingin dan profesional. "Perusahaan kami tidak berinvestasi berdasarkan belas kasihan atau hubungan masa lalu. Kami bergerak berdasarkan angka, profit, dan profesionalisme."

Rangga kembali ke kursi utamanya, duduk dengan melipat kaki dengan elegan. Dia membuka berkas proposal milik Tuan Kresna yang sempat tercoret tinta hitam pertanda penolakan dari tim analis sebelumnya.

"Secara data bisnis murni, perusahaan Anda sebenarnya sudah mati. Likuiditas Anda buruk, dan aset properti yang Anda agunkan di Jakarta sedang dalam sengketa akibat penarikan modal sepihak dari keluarga Nicholas," lanjut Rangga, membeberkan borok perusahaan Tuan Kresna tanpa ampun di depan para direksi lain.

Tuan Kresna memejamkan matanya, pasrah. Dia tahu tamat sudah riwayat bisnis yang dia bangun puluhan tahun. "Saya tahu... saya tahu posisi saya tidak menguntungkan, Tuan Rangga," ucap Tuan Kresna, suaranya parau dan terpaksa menyebut nama Rangga dengan embel-embel "Tuan".

"Tapi," Rangga mengetuk meja dengan pulpen mahalnya, menghentikan kalimat pasrah Tuan Kresna. "Sebagai *Chief Innovation Officer*, saya memiliki hak veto mutlak untuk menyetujui proyek ini jika saya melihat ada jaminan lain yang jauh lebih berharga daripada sekadar tanah properti Anda."

Tuan Kresna mendongak, matanya memancarkan secercah harapan yang mendesak. "Jaminan apa? Apa pun akan saya berikan asal perusahaan saya selamat dari pailit!"

Rangga tidak langsung menjawab. Dia mengalihkan pandangannya, menatap lekat ke arah Cinta yang sejak tadi juga sedang menatapnya dengan mata yang basah. Tatapan mereka bertemu, menyalurkan kerinduan sedalam lautan yang selama tiga tahun ini terpisah jarak.

Rangga lalu kembali menatap Tuan Kresna dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan.

"Saya akan menyetujui kucuran dana investasi sebesar lima ratus juta euro untuk menyelamatkan seluruh perusahaan Anda dari kebangkrutan, Tuan Kresna. Surat kontraknya bisa ditandatangani sore ini juga," ucap Rangga dengan nada yang sangat tegas dan berwibawa.

Tuan Kresna menarik napas lega yang luar biasa, wajah pucatnya mulai kembali berwarna. "Terima kasih... terima kasih banyak. Lalu, apa jaminan yang Anda minta?"

Rangga mematikan layar laptopnya, lalu berdiri dari kursinya. Dia mengancingkan satu kancing jas abu-abu gelapnya, bersiap menyudahi rapat formal tersebut.

"Jaminannya sangat sederhana. Mulai detik ini, lepas semua rantai kasta yang Anda pasang pada anak Anda. Jangan pernah lagi mengatur dengan siapa dia harus bertunangan, dengan siapa dia harus jatuh cinta, atau ke mana dia harus melangkah," ucap Rangga, setiap katanya membawa penekanan yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Rangga berjalan menuju pintu keluar ruang rapat, namun dia sempat berhenti sejenak di belakang kursi Tuan Kresna, berbisik dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk pria paruh baya itu merinding. "Tiga tahun lalu di balkon hotel mewah Jakarta, Anda bilang kata-kata sampah saya tidak bisa mengubah takdir dan saya telah kalah. Sekarang, saya kembalikan kata-kata itu kepada Anda, Tuan Kresna. Uang Anda tidak bisa membeli hati Cinta, tapi kejeniusan saya bisa membeli seluruh harga diri Anda. Hari ini, Anda yang kalah."

Rangga melangkah keluar dari ruang rapat, meninggalkan Tuan Kresna yang membisu seribu bahasa karena skakmat yang begitu elegan.

Beberapa menit setelah rapat selesai, koridor lantai empat puluh yang sepi dan megah itu mendadak dipenuhi suara langkah kaki yang terburu-buru. Cinta berlari keluar dari ruang rapat, mengabaikan panggilan ayahnya. Dia mencari ke sekeliling koridor kaca yang menampilkan pemandangan kota London dari ketinggian.

Di ujung koridor, dekat lift eksekutif, sosok tegap Rangga sedang berdiri menunggunya. Rangga berbalik, membuka kedua lengannya lebar-lebar sambil tersenyum hangat, persis seperti senyuman Rangga yang dulu sering menunggunya di depan gerbang SMA Bina Karya.

Cinta tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia berlari sekencang mungkin dan langsung menghambur ke dalam pelukan Rangga, mendekap tubuh cowok itu dengan sangat erat seolah takut kehilangan lagi. Tangisnya pecah sejadi-jadinya di dada jas mewah milik Rangga.

"Rangga... gue kangen banget sama lu... gue gak pernah lupain janji kita, Ngga!" isak Cinta histeris, menumpahkan seluruh beban penderitaannya selama tiga tahun terkunci di menara gading Eropa.

Rangga membalas pelukan itu dengan tidak kalah erat. Dia membenamkan wajahnya di rambut harum Cinta, menghirup aroma yang sangat dia rindukan setiap malam di kamar studio sempitnya dulu. Tangan kasarnya mengusap punggung Cinta dengan lembut, menenangkan badai di hati sang putri yang kini telah berhasil dia jemput.

"Gue tahu, Cin. Gue tahu," bisik Rangga hangat, matanya ikut berkaca-kaca namun dipenuhi rasa bangga yang luar biasa. "Gue udah bilang kan? Sejauh apa pun lu pergi, gue bakal selalu nemuin jalan buat jemput lu pulang. Perang kasta ini sudah selesai, dan kita pemenangnya."

Di balik dinding kaca menara pencakar langit London, di bawah saksikan langit sore Eropa yang indah, dua hati yang sempat dipisahkan oleh keangkuhan harta kini kembali menyatu dengan utuh. Ksatria jalanan itu tidak lagi membawa jaket jins lusuhnya, melainkan sebuah mahkota keberhasilan yang dia rebut dengan tangannya sendiri untuk bersanding dengan sang putri.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!