NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik yang Membalas dan Parkiran yang Menyimpan Cerita

Tepat di depan daun pintu kelas XI-A yang masih tertutup, Alisha buru-buru menarik tangannya. Namun, tarikan itu tidak berjalan mulus karena jemari panjang Shaka ternyata masih menggenggamnya dengan cukup kuat, menahan pergelangan tangan Alisha selama beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar terlepas.

Alisha mengembuskan napas lega, memijat pergelangan tangannya yang terasa hangat. Sementara Shaka berdiri menyandar pada kusen pintu besi, melipat tangan di depan dada sambil menatap Alisha dengan tatapan yang sangat menyebalkan. Sebuah senyuman jail terukir jelas di wajah cool-nya.

"Loh, kenapa dilepasin tangannya?" ucap Shaka, nadanya sengaja dibuat santai namun penuh nada menggoda yang kental. "Kenapa gak sekalian digandeng sampai masuk ke dalam kelas aja, Partner? Kan lumayan, tanggung kalau aktingnya setengah-setengah."

Wajah Alisha mendadak terasa panas. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lapangan bawah, enggan menatap mata elang Shaka yang tampak sangat menikmati momen ini.

"Ih, enak aja! Ngapain juga, toh si Ivanka juga udah gak kelihatan dari sini," balas Alisha ketus, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang mulai berdetak ugal-ugalan. "Gue kan cuma pinjem tangan lo bentar buat ngasih pelajaran ke nenek sihir itu."

"Oh, jadi cuma dimanfaatin nih ceritanya?" Shaka melangkah satu langkah lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit agar bisa sejajar dengan wajah Alisha yang mulai merona merah muda. "Tapi suara lo yang tadi... imut juga ya. 'Hay Shakaaa, bareng gue yuk!' Sejak kapan singa betina pinter ngerayu kayak gitu, hm?"

"Reyshaka, diem gak!" semprot Alisha, wajahnya kini sudah merah padam sempurna sampai ke telinga. Ia memukul lengan Shaka dengan buku catatan Fisika yang ia peluk sejak tadi. Berani-beraninya cowok kulkas ini menirukan suara imutnya dengan nada mengejek seperti itu. Alisha benar-benar dibuat mati kutu dan menahan malu yang luar biasa di depan pintu kelas.

Shaka terkekeh rendah, suara tawa yang sangat jarang terdengar di koridor sekolah. Ia sangat suka melihat ekspresi Alisha yang serba salah dan salah tingkah seperti sekarang.

Sebelum Shaka sempat mengeluarkan kalimat godaan berikutnya yang bisa membuat Alisha meledak, suara derap langkah kaki yang terburu-buru menyela mereka. Amelia muncul dari arah koridor tengah, menenteng tas ransel kecilnya dengan wajah yang tampak celingukan.

Begitu melihat Shaka dan Alisha berdiri berdekatan di depan pintu, Amelia langsung mempercepat langkahnya.

"Sha! Shaka!" panggil Amelia, napasnya agak memburu. Ia melirik Alisha sekilas yang wajahnya masih merah padam, lalu tatapannya beralih penuh harap ke arah Shaka. "Shak, lo liat Raihan gak? Biasanya jam segini dia kan barengan mulu sama lo dari gerbang depan. Kok hari ini dia gak kelihatan di koridor?"

Shaka menegakkan tubuhnya kembali, mengubah ekspresi wajahnya menjadi lempeng dalam sekejap seolah kejadian goda-godaannya dengan Alisha barusan tidak pernah terjadi.

"Raihan masih di parkiran," jawab Shaka singkat.

Amelia mengernyitkan dahi bingung. "Loh? Ngapain dia lama banget di parkiran? Biasanya kan cuma parkir motor habis itu langsung ngibrit ke kelas."

Shaka tidak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke arah tangga bawah yang menuju ke area parkir motor khusus kelas sepuluh dan sebelas, lalu kembali menatap Amelia dengan tatapan datarnya. "Dia sengaja nungguin seseorang. Tadi pas gue turun dari motor, dia bilang mau nyari Aleta dulu."

Mendengar nama Aleta disebut, Alisha langsung mendongak, rasa malunya mendadak menguap berganti rasa heran. "Nyari Aleta? Ngapain Raihan nyari adek gue?"

Shaka hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Katanya mau mastiin anak kelas sepuluh itu gak kram kaki lagi setelah dihukum kemarin. Otak temen gue itu emang lagi agak geser akhir-akhir ini."

Sementara Alisha sibuk mencerna maksud ucapan Shaka, di sebelahnya, senyuman di wajah Amelia perlahan memudar. Dadanya mendadak terasa berdenyut aneh, ada rasa sesak yang tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di hatinya. Mengingat bagaimana perhatian Raihan yang begitu manis kepada Aleta di pinggir taman kemarin siang, Amelia diam-diam menyadari bahwa fokus mata cowok yang ia sukai itu kini tampaknya sudah tidak lagi mengarah kepadanya, melainkan pada si bungsu yang terkenal galak di ujung koridor lantai satu.

...----------------...

Langkah kaki Raihan yang tegap menyusuri koridor lantai satu gedung selatan, area yang sebenarnya asing bagi anak-anak kelas tingkat akhir. Seragamnya yang sengaja digulung sampai siku dan wangi parfum yang maskulin seketika menarik perhatian di sepanjang jalan. Cowok itu sengaja memperlambat ritme jalannya, matanya yang tajam mengedar ke setiap sudut, berharap bisa berpapasan dengan satu sosok yang sejak di parkiran tadi terus mengusik pikirannya.

Pencarian Raihan tidak sia-sia. Di dekat belokan arah laboratorium bahasa, sosok yang dicarinya muncul. Aleta baru saja keluar dari perpustakaan bersama dua orang teman sekelasnya, menjinjing beberapa buku tebal dengan draf tugas yang didekap di dada. Rambut sebahunya yang bergoyang tipis seiring langkah kakinya langsung membuat radar Raihan berbunyi.

Raihan memotong jarak, berdiri tepat di jalur langkah Aleta dengan senyuman cool andalannya.

"Hey, Aleta. Kebetulan ya bisa ketemu di sini," sapa Raihan santai, menaikkan sebelah alisnya.

KYAAAAA!

Eh, itu Kak Raihan kan?! Ngapain ke sini?!

Gila, ganteng banget dari dekat!

Bisikan-bisikan histeris dari siswi-siswi kelas sepuluh yang sedang mengobrol di depan kelas langsung pecah. Teman di sebelah Aleta bahkan sampai menyenggol lengan gadis itu dengan heboh, wajah mereka memerah padam karena mendadak disapa oleh salah satu cowok paling populer di SMA Pelita Bangsa.

Aleta menghentikan langkahnya. Ia agak mendongak, menatap struktur wajah jangkung seniornya itu. Meskipun energinya masih tersisa sedikit dari sisa kelelahan kemarin, Aleta mencoba bersikap sopan. Ia mengulum sebuah senyum tipis—hanya senyuman formal biasa—untuk membalas sapaan tersebut.

"Hey juga, Kak Raihan," jawab Aleta pelan.

Deg.

Hanya karena sebuah senyuman tipis yang sangat singkat itu, dada Raihan mendadak berdenyut ugal-ugalan. Jantungnya berdegup kencang dengan ritme yang tidak biasa. Sisi penakluk dalam dirinya yang biasa menghadapi ratusan cewek mendadak terasa kelu hanya karena tatapan lempeng dari seorang anak baru.

Sementara itu, di dalam benaknya, Aleta justru mengerutkan dahi bingung.

Ngapain sih Kak Raihan jalan-jalan di koridor kelas sepuluh? Kurang kerjaan banget. Apa ruang kelas dua belas pindah ke bawah?

batin Aleta merasa ada yang aneh dengan eksistensi seniornya ini.

"Oh iya, Leta," Raihan memajukan tubuhnya sedikit, mencoba menurunkan intensitas suaranya agar terdengar lebih intim. "Gimana kaki lo? Gak sakit atau kram-kram lagi, kan, setelah dijemur satu jam pelajaran penuh kemarin?"

Aleta terkekeh kecil, rasa bangganya sebagai anak yang tangguh mendadak bangkit. "Oh, nggak kok, Kak. Aku kan kuat, hehe. Cuma pegal dikit aja pas dibawa jalan pulang sore kemarin," jawabnya dengan binar mata yang jujur dan polos.

Raihan yang melihat ekspresi ceria itu langsung mengunci pandangannya pada wajah Aleta. Ia menatap gadis itu dengan tatapan khasnya—tatapan berkarisma, dalam, dan sedikit intens yang biasa ia gunakan saat sedang tebar pesona atau merayu cewek-cewek, alias tatapan buaya andalannya.

Ditatap sedekat itu dengan binar mata yang seolah menguliti dirinya, Aleta mendadak merasa serba salah. Ia menggeser tumpukan bukunya untuk menutupi dada, merasa atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi aneh. Pipinya yang sawo matang bersih itu mendadak memanas, menyiratkan semburat salting tipis yang mati-matian ia sembunyikan dengan cara membuang muka sekilas.

Namun, dasar Aleta memiliki kepribadian yang kaku dan ceplas-ceplos, rasa penasaran di otaknya akhirnya mengalahkan rasa malunya. Dengan ekspresi kocak dan wajah yang dibuat sepolos mungkin, Aleta langsung menatap lurus ke mata Raihan dan melontarkan pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalanya.

"Tapi... Kak Raihan ngapain ada di koridor kelas sepuluh? Kelas Kakak kan di lantai dua gedung utara. Jauh banget loh kesini, Kak," tanya Aleta tanpa dosa, nadanya terdengar sangat menyelidik.

Skakmat.

Mendengar pertanyaan yang terlampau jujur dan tidak terduga itu, Raihan langsung membeku. Senyuman buayanya seketika patah di udara. Sorot matanya berubah kikuk, dan ia reflek mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal, benar-benar bingung harus menjawab apa. Ia tidak mungkin, kan, mengaku secara jantan di depan koridor yang ramai ini kalau dia sengaja turun tangga hanya demi mencari alasan untuk melihat wajah Aleta? Gengsinya sebagai cowok populer taruhannya!

"Eh? Itu... itu..." Raihan berdeham berkali-kali, mencoba memutar otak jeniusnya yang mendadak macet untuk mencari alibi yang logis. "Gue... gue tadi abis dari ruang olahraga di ujung sana! Iya, mau ngecek draf jadwal peminjaman bola basket buat angkatan gue. Kebetulan aja lewat sini, makanya ketemu lo. Hehe."

Aleta menyipitkan sepasang matanya, menatap Raihan dengan pandangan penuh kecurigaan karena letak ruang olahraga sebenarnya berlawanan arah dari koridor ini. Namun, sebelum Aleta sempat memprotes alibi busuk sang senior, bel tanda masuk jam pelajaran pertama berbunyi nyaring, menyelamatkan Raihan dari sesi interogasi kocak yang bisa merusak reputasi kerennya di SMA Pelita Bangsa.

1
Siti Nurjanah
❤️❤️🫰Gemes deh shaka
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!