NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16 Ingatan Masa Lalu

Malam kembali mendekap Desa Sekar dalam keheningan.

Angin laut berembus lembut, menyelinap masuk melewati sela dinding kayu rumah panggung Bu Ratih. Di kamar tengah, Rani sudah tertidur pulas setelah seharian penuh bermain.

Namun, kedamaian itu tidak menyentuh Kael. Pria itu masih duduk sendirian di sudut beranda, menatap kosong ke arah laut yang gelap gulita. Malam yang sunyi ini justru meruntuhkan pertahanan di kepalanya. Pikirannya terseret jauh ke masa lalu, kembali ke masa kelam saat namanya menjadi legenda berdarah yang paling ditakuti di Shadow Crown.

Flashback on

Saat itu, Kael baru saja menyelesaikan operasi besar di perbatasan. Namun, euforia kemenangan lenyap dalam hitungan detik ketika sebuah pesan darurat masuk ke radio komunikasinya.

Arin diculik.

Wanita itu adalah sahabat, belahan jiwa, sekaligus alasan utama mengapa Kael selalu bertarung mati-matian untuk tetap hidup di setiap misi maut. Musuh menahan Arin di sebuah gudang tua dekat pelabuhan dan mengancam akan mengeksekusinya dalam waktu dua puluh empat jam. Tanpa menunggu perintah atasan, Kael langsung bergerak memimpin tim penyelamat.

Malam itu hujan turun sangat deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Kael dan timnya membelah ombak menggunakan kapal cepat. Di sepanjang perjalanan, firasat buruk terus menghantuinya.

Semuanya terasa terlalu mudah. Namun, membayangkan Arin dalam bahaya membuat Kael mencampakkan semua logika perang. Yang tersisa di otaknya hanya satu selamatkan Arin, apa pun risikonya.

Begitu merapat di dermaga, pertempuran langsung pecah tanpa kompromi.

DOR! DOR! DOR!

Suara rentetan tembakan menggema membelah badai. Kael bergerak mematikan bak bayangan maut. Tak ada satu pun blokade musuh yang mampu menahannya. Dalam waktu singkat, seluruh area berhasil dikuasai.

Kael menendang pintu besi di ruangan paling belakang. Di sana, di bawah lampu yang berkedip redup, ia menemukan wanita itu terikat di kursi dengan tubuh penuh luka.

"Arin!" seru Kael. Ia langsung menjatuhkan senjatanya dan berlari menghampiri dengan raut wajah cemas.

"Kael..." bisik Arin lirih. Matanya seketika berkaca-kaca menatap pria di hadapannya.

"Kita pulang, semua sudah aman," kata Kael dengan suara bergetar. Tangan cekatannya bergerak cepat memotong tali yang mengikat tubuh Arin.

Arin hanya mampu tersenyum lemah. Namun, senyuman itu terasa berbeda—seolah menyimpan kesedihan dan rasa bersalah yang teramat dalam.

Baru saja mereka melangkah keluar dari gudang, suara ledakan dahsyat tiba-tiba mengguncang pelabuhan.

BOOOOM!

Tanah bergetar hebat dan lidah api raksasa langsung membumbung tinggi. Kael membeku dengan mata membelalak lebar. Belum sempat ia mencerna keadaan, ledakan kedua dan ketiga menyusul menghancurkan jalur evakuasi mereka.

BOOOOM!

BOOOOM!

Dalam hitungan detik, seluruh pelabuhan berubah menjadi neraka. Di atas atap bangunan, puluhan penembak jitu mendadak muncul, sementara ratusan pria bersenjata mengepung mereka dari segala arah. Saat itulah Kael menyadari kenyataan mengerikan: ini adalah jebakan maut yang dirancang khusus untuk mengubur dirinya.

"Tutup Arin! Cari perlindungan!" teriak Kael lantang. Ia menarik tubuh wanita itu dengan cepat ke balik kontainer besi.

Peluru menghujani tempat persembunyi mereka tanpa henti.

DOR! DOR! DOR!

Satu demi satu anggota tim elit Kael tumbang karena dikepung. Situasi malam itu berubah menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan.

Menggunakan sisa amunisi dan keahliannya, Kael nekat menerobos hujan peluru demi membuka jalan menuju kapal evakuasi. Namun, tepat saat langkah mereka hampir sampai di dermaga, sesosok pria melangkah keluar dari balik bayangan kontainer.

Pria muda itu adalah Rheon, anggota baru Shadow Crown  yang selama ini dikenal sangat patuh dan setia. Namun malam itu, Rheon justru berdiri dengan tenang sambil mengarahkan pistol tepat ke arah dada Kael dengan senyum dingin di bibirnya.

"Terima kasih sudah datang sesuai jadwal, Kael," ujar Rheon. Matanya dipenuhi rasa kemenangan yang licik.

"Kau... kenapa, Rheon?!" desis Kael dengan suara parau. Jantungnya mencelos seketika, menatap junior yang dipercayainya itu dengan tatapan tidak percaya.

"Seluruh operasi ini berjalan sempurna karena reputasimu yang sok pahlawan. Kalian semua benar-benar bodoh," kata Rheon lagi. Ia tertawa kecil, merasa berada di atas angin.

Belum sempat Kael menarik pelatuk senjatanya

DOR!

Sebuah peluru melesat cepat membelah rintik hujan. Rheon menggeser moncong pistolnya di detik terakhir. Peluru itu bukan menembus dada Kael, melainkan tepat bersarang di dada kiri Arin.

Waktu seakan berhenti berputar. Tubuh wanita itu tersentak hebat, dan darah segar langsung merembes membasahi pakaiannya.

"ARIN!" jerit Kael histeris. Ia melompat maju, melepaskan senjatanya demi menangkap tubuh Arin sebelum ambruk ke tanah.

Arin terbatuk, mengeluarkan darah dari sudut bibirnya yang kian memucat.

"Kael... maafkan... aku..." panggil Arin lirih dengan napas satu-satu.

"Tidak, jangan bicara! Bertahanlah!" potong Kael panik. Tangan gemetarnya terus menekan luka di dada Arin yang mengeluarkan banyak darah, namun aliran darah itu terlalu deras di sela jarinya.

Air mata mulai menggenang di kelopak mata Arin, bercampur dengan rintik hujan.

"Aku... sebenarnya senang..." ucap Arin terbata-bata dengan sisa tenaga yang ada. "Di saat terakhir, aku masih bisa melihat wajahmu..."

"Diamlah, Arin! Simpan tenagamu!" seru Kael sambil menggelengkan kepala dengan kuat, menolak kenyataan yang ada di depan mata.

"Maaf..." bisik Arin lembut. Ia memaksakan sebuah senyuman senyum indah yang selalu menjadi kekuatan Kael. Perlahan, tangannya yang dingin terangkat menyentuh pipi Kael. "Aku... mencintaimu, Kael..."

Dunia Kael seakan runtuh seketika. Untuk pertama kalinya, Arin mengucapkan perasaan yang selama ini mereka pendam rapat-rapat. Namun, semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat.

Setitik air mata jatuh dari sudut mata wanita itu. Detik berikutnya, tangan Arin terkulai lemas ke tanah. Napasnya berhenti total. Mata Arin tertutup untuk selamanya di dalam pelukan Kael.

Kael membeku seketika. Seluruh dunia di sekitarnya mendadak sunyi senyap. Yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, disertai rasa sakit mendalam yang merobek dadanya.

Melihat Kael yang hancur dan lengah untuk pertama kali dalam hidupnya, Rheon melihat celah emas. Ia langsung mencabut sebilah belati dari balik jaketnya, lalu menyerang Kael dari arah belakang.

SREET!

Bilah pisau itu menembus dalam ke punggung Kael. Darah segar langsung mengalir. Namun, Kael bahkan tidak mengedipkan mata. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding luka hancur yang baru saja mematikan seluruh jiwanya.

Dengan mata yang perlahan terbuka memancarkan amarah murni yang pekat, Kael perlahan bangkit berdiri. Tatapan matanya yang kosong dan dingin seketika mengunci pandangan Rheon.

Menyaksikan perubahan aura itu, Rheon mendadak merinding ketakutan hingga terpaksa mundur dua langkah. Pada detik itulah Rheon baru menyadari kesalahan besarnya: monster yang baru saja ia bangunkan jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah ia bayangkan.

Kael berdiri tegak di tengah guyuran hujan dengan tubuh penuh darah. Di belakangnya, Arin terbaring kaku tak bernyawa, sementara puluhan musuh kembali mempererat kepungan mereka.

Malam itu menjadi malam paling kelam, karena untuk pertama kalinya, Kael harus menerima kenyataan bahwa ia kehilangan seseorang yang paling berharga. Seseorang yang tidak akan pernah bisa ia selamatkan lagi.

Flashback off

Di beranda rumah Bu Ratih, Kael perlahan membuka matanya.

Kenangan buruk itu akhirnya selesai berputar, namun rasa sakitnya masih terasa sama. Masih setajam dan sedingin malam kelam di pelabuhan itu.

Ia mendongak menatap langit Desa Sekar yang dipenuhi bintang. Tangan kanannya bergerak masuk ke dalam saku celana, menggenggam erat sebuah kalung perak kecil peninggalan terakhir yang tersisa dari Arin.

"Maaf..." bisik Kael pelan dengan suara parau yang bergetar di tengah kesunyian malam. "Maaf karena aku gagal menyelamatkanmu."

Angin malam kembali berembus lembut, mengusap wajah pria yang kesepian itu. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, luka lama yang selama ini coba ia kubur dalam-dalam, kini perlahan-lahan mulai terbuka kembali.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!