NovelToon NovelToon
The 10th Battalion

The 10th Battalion

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.

Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.

Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.

Orc.

Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.

Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.

Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.

Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—

The 10th Battalion

Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.

Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang Mati Dua Kali

Hujan turun tanpa henti di balik jendela apartemen kecil itu.

Lampu kota yang biasanya terlihat indah kini hanya tampak seperti bayangan buram di mata Gerald. Di atas meja, botol alkohol kosong berserakan bersama bungkus rokok dan beberapa lembar tagihan yang belum dibayar.

Ruangan itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Gerald duduk di lantai sambil menatap layar televisi yang menyala tanpa suara. Rambut hitamnya berantakan, matanya cekung, dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dari umurnya.

Di dunia lain, mungkin orang akan memanggilnya pahlawan.

Mantan pasukan elit.

Veteran perang.

Orang yang pernah menyelesaikan operasi militer paling berbahaya.

Namun di dunia nyata…

Tak ada yang peduli.

Perang telah mengambil semuanya darinya sejak lama.

Teman-temannya mati satu demi satu.

Negara melupakannya.

Dan hidup setelah pensiun terasa lebih menyiksa daripada medan perang mana pun.

Gerald tertawa kecil.

Suara tawanya terdengar kosong.

“Lucu juga…”

Ia menyalakan rokok terakhirnya.

“Aslinya gue selamat dari perang cuma buat mati kayak gini.”

Asap memenuhi ruangan.

Di luar, suara hujan makin deras.

Gerald perlahan berdiri lalu berjalan menuju balkon apartemennya.

Angin malam langsung menghantam wajahnya.

Dingin.

Di bawah sana, jalanan kota masih ramai oleh kendaraan dan lampu neon. Orang-orang terus menjalani hidup mereka tanpa tahu ada seseorang yang sedang berdiri di ambang kematian.

Gerald memejamkan mata.

Entah sejak kapan…

Ia berhenti merasa takut mati.

Justru hidup terasa lebih berat.

Tak ada keluarga.

Tak ada tujuan.

Tak ada alasan untuk bertahan.

Perang sudah selesai bertahun-tahun lalu.

Tapi di dalam dirinya…

Perang itu tidak pernah benar-benar berakhir.

Gerald membuka matanya perlahan.

“Hah…”

Napasnya keluar pelan.

Lalu—

Satu langkah ke depan.

Tubuhnya jatuh menembus hujan malam.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada penyesalan.

Hanya gelap.

……

“BANGUN, BRENGSEK!!”

BRAKK!!

Sebuah tendangan keras menghantam perut Gerald.

“Muntahkan darahmu nanti saja! Ambil pedangmu!”

Gerald membuka mata secara refleks.

Tubuhnya langsung berguling ke samping.

WHUSSH!!

Sebuah kapak besar menghantam tanah tepat di tempat kepalanya tadi berada.

Insting tempurnya aktif seketika.

Gerald bangkit sambil terengah.

Matanya membelalak.

Tanah berlumpur.

Mayat berserakan.

Jeritan manusia.

Bau darah memenuhi udara.

Dan suara logam saling beradu terdengar dari segala arah.

“…Apa?”

Seorang pria berjanggut penuh darah melempar pedang ke arahnya.

“Kalau mau mati, mati sana belakangan!”

Tanpa sadar Gerald menangkap pedang itu dengan sempurna.

Tangannya berhenti sesaat.

Pedang?

Bukan senapan.

Bukan pisau tempur modern.

Pedang baja panjang yang berat dan kasar.

Belum sempat berpikir—

“GRAAAHHH!!”

Seorang prajurit berbaju besi berlari ke arahnya sambil mengayunkan tombak.

Gerald bergerak otomatis.

Satu langkah ke kiri.

Tangannya memutar.

Pedang di tangannya menebas leher lawan dengan gerakan cepat dan bersih.

CRAAKK!!

Darah muncrat ke wajahnya.

Tubuh lawan jatuh tanpa suara.

Gerald membeku.

Ia baru saja membunuh seseorang.

Lagi.

Namun yang membuatnya gemetar bukan itu.

Melainkan kenyataan bahwa—

Ia tidak mengenali dunia ini.

“Formasi kiri runtuh!!”

“Mundur!! Mundur!!”

“Sialan, mereka masuk dari bukit!”

Suara-suara asing terdengar di sekitarnya.

Gerald menoleh cepat.

Ratusan manusia saling membunuh di medan perang luas yang dipenuhi lumpur dan api.

Tidak ada kendaraan.

Tidak ada senjata api.

Hanya:

pedang

tombak

panah

dan kematian

Langit merah gelap dipenuhi asap.

Gerald menarik napas kasar.

Lalu rasa sakit tiba-tiba menusuk kepalanya.

“Gh…!”

Potongan ingatan asing mulai masuk secara brutal.

Nama.

Wajah.

Suara.

Kehidupan seseorang yang bukan dirinya.

Gerald Arden.

19 tahun.

Prajurit rendahan Kerajaan Valen.

Tak berbakat.

Tak punya keluarga.

Dan terkenal pengecut di baraknya sendiri.

Gerald memegang kepalanya.

“…Aku reinkarnasi?”

Kalimat itu terdengar absurd bahkan bagi dirinya sendiri.

Namun sebelum ia sempat memahami situasi—

DUUUMMM!!!

Tanah tiba-tiba bergetar hebat.

Semua orang terdiam.

Bahkan suara perang perlahan berhenti.

“Apa lagi sekarang…?” gumam seseorang.

Getaran itu makin kuat.

KRAAAKKK!!

Tanah di tengah medan perang retak.

Jeritan panik langsung terdengar.

“Tanahnya runtuh!”

“Mundur!”

Gerald menatap lurus ke depan.

Lubang raksasa perlahan terbuka di tengah medan perang seperti mulut neraka.

Dan dari dalam kegelapan itu…

Terdengar suara geraman aneh.

Suara yang bukan milik manusia.

Mata Gerald menyipit.

Insting militernya langsung memberi satu jawaban:

Bahaya.

Lalu—

Sebuah tangan besar berkulit hijau muncul dari bawah tanah.

Semua prajurit membeku.

“Apa… itu?”

Makhluk raksasa bertaring perlahan keluar dari retakan tanah sambil mengeluarkan suara geraman kasar.

Tubuhnya dua kali lebih besar dari manusia biasa.

Matanya merah.

Dan kapak batu raksasa berada di tangannya.

Keheningan memenuhi medan perang.

Sampai salah satu prajurit berteriak ketakutan.

“MONSTERRR!!”

Dan neraka yang sebenarnya…

Baru saja dimulai.

1
SR07
aing udh muak sama duel🗿
SR07
orc nya mana ini weh, harusnya orc yang jadi monster malah manusia nya banyak yang jadi monster 🗿
SR07
aing udh mulai muak sama peperangan antar manusia, kebanyakan drama, musuh terkejut lah, mulai serius lah, mending lawan orc 🗿
SR07
malah cosplay boris😅
SR07
anjay 10rb lawan ratusan🗿
SR07
lah gak war lagi?
Luthfi Afifzaidan
kok di ulang lg thor?
ar kan
mainkan👍👍
SR07
🤣🤣
SR07
awokawok Tom and Jerry 🤣
Kezia
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!