NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Suara patahan ranting itu mendadak tenggelam oleh sensasi getaran halus yang mulai merambat naik dari permukaan tanah kotor tempat Maizy berdiri.

.Dug-dug... Dug-dug... Dug-dug....

Goncangan itu semakin lama semakin intens, berirama, dan berat. Maizy menahan napasnya, menempelkan punggungnya pada batang pohon pinus raksasa di belakangnya demi menstabilkan kakinya yang mendadak lemas. Dari kejauhan, menembus lebatnya kabut putih yang memeluk lantai hutan, gema suara itu akhirnya terdengar jelas di telinganya.

Suara derap langkah kaki kuda. Dan bukan hanya satu atau dua, melainkan sepasang pasukan berkuda dalam jumlah besar.

.Klothak-klothak-klothak!.

"Cari di sekitar sektor barat! Jangan biarkan ada area yang terlewat!"

Sebuah teriakan lantang berwibawa dalam bahasa Jerman kuno yang berlogat kaku memecah keheningan rimba. Suara itu disusul oleh ringkikan kuda-kuda jantan yang bersahut-sahutan, berbaur dengan bunyi gemerincing besi dari baju zirah dan kekang yang saling beradu. Pasukan itu bergerak cepat, mematahkan ranting-ranting rendah dan menerobos semak belukar dengan brutal.

Maizy membelalakkan matanya di balik kabut. Dari sela-sela pohon, dia bisa melihat kilatan logam dari ketopong baja dan tombak-tombak panjang yang dibawa oleh para penunggang kuda tersebut. Mereka mengenakan jubah beludru tebal berwarna merah marun dengan lambang bordir emas berbentuk perisai dan elang di bagian dada—sebuah simbol yang terasa asing, namun entah mengapa memicu debaran familier di dada Maizy.

"Nona Muda! Nona Maizy?!"

Jantung Maizy serasa berhenti berdetak saat namanya diteriakkan oleh salah satu prajurit di barisan depan. Mereka tidak sedang berpatroli acak. Pasukan berkuda dengan persenjataan lengkap ini... memang sedang melakukan pencarian besar-besaran untuk menemukannya.

Sebagai seorang ENFJ yang insting sosial dan kewaspadaannya langsung aktif, Maizy dihadapkan pada dilema besar. Siapa mereka? Apakah mereka kawan dari identitas barunya sebagai nona bangsawan bergaun biru ini, atau justru pihak yang harus dia hindari? Sebelum dia sempat mengambil keputusan untuk keluar dari persembunyian atau lari menjauh, tiga ekor kuda hitam besar dengan penunggang berbaju zirah lengkap mendadak melompati semak belukar, tepat beberapa meter di hadapan tempatnya berdiri.

"Di sini! Nona Muda ditemukan!"

Moncong kuda-kuda itu mendengus mengeluarkan uap panas di depan wajah Maizy. Para prajurit itu dengan cekatan langsung menarik tali kekang, membuat kuda mereka berhenti memutar di sekeliling Maizy, mengunci posisinya di bawah kepungan bayang-bayang pasukan berkuda yang mencekam.

Di antara belasan kuda yang kini berderap mengepung posisinya, barisan prajurit berbaju zirah itu mendadak terbelah dengan teratur. Suasana yang tadinya gaduh oleh teriakan dan derap kaki kuda seketika berubah menjadi khidmat dan patuh saat sebuah langkah kuda hitam yang paling besar dan gagah melangkah maju ke barisan depan.

Penunggangnya adalah seorang pria tinggi tegap dengan aura dominasi yang mutlak. Pria itu mengenakan jubah beludru hitam berlapis pelindung dada dari baja hitam yang berkilat legam. Rambut hitamnya yang bergaya .wolfcut. tampak agak panjang, dengan beberapa helai poni yang jatuh berantakan menyentuh pangkal hidung dan sedikit menutupi matanya yang berwarna abu-abu tajam. Kulitnya yang kecoklatan berpadu kontras dengan dinginnya logam zirah, memberikan kesan sebagai seorang prajurit tangguh yang terbiasa menempa diri di bawah terik matahari dan badai peperangan.

Dia adalah sang Komandan Pasukan, Frederick Aldrich.

Bagi para prajuritnya, Frederick adalah perwujudan dari disiplin besi. Tatapannya sedingin es dan ketegasannya tidak pernah mengenal kompromi. Namun, begitu manik mata abu-abunya menangkap sosok Maizy yang berdiri gemetar di balik pohon dengan gaun biru dongker yang kotor terkena tanah, seluruh aura membunuh dan ketegangan di wajah tegas itu langsung runtuh dalam sekejap.

Frederick dengan cekatan melompat turun dari atas kudanya yang tinggi bahkan sebelum hewan itu berhenti sepenuhnya. Langkah kakinya yang dibalut sepatu bot baja melangkah lebar memangkas jarak, mengabaikan ranting yang patah di bawah pijakannya.

"Maizy..."

Suara Frederick terdengar begitu berat, namun kali ini nadanya sangat lembut dan penuh dengan rasa khawatiran yang mendalam—sebuah kontras 180 derajat yang membuat para prajurit di belakangnya refleks menundukkan kepala, enggan mencampuri urusan pribadi sang komandan.

Tanpa ragu, Frederick langsung berlutut di atas tanah basah di hadapan Maizy, menyamakan tinggi badannya dengan gadis itu. Sepasang tangannya yang besar dan kapalan perlahan terulur untuk memegang kedua bahu Maizy dengan sangat hati-hati, seolah-olah gadis di depannya ini adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja.

"Gott sei Dank... Syukurlah kau tidak apa-apa," bisik Frederick, matanya yang kelabu menatap intens ke seluruh wajah Maizy, memeriksa apakah ada luka tersembunyi di balik kacamata barunya. Sentuhan tangannya begitu hangat, dan tatapan dingin yang biasa dia gunakan untuk mengintimidasi musuh kini sepenuhnya mencair menjadi binar penuh kasih dan protektif yang luar biasa.

"Aku mencarimu ke seluruh sudut hutan ini sejak fajar menyingsing, Nona Muda," lanjut Frederick lembut, jemarinya perlahan bergerak naik untuk merapikan sehelai rambut coklat pendek Maizy yang menempel di pipinya karena keringat dingin. "Kau membuat jantungku hampir berhenti, Maizy. Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa berada di dalam hutan terlarang ini sendirian?"

Maizy mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan lagi karena takut pada kepungan pasukan berkuda, melainkan karena kebingungan yang luar biasa. Sepasang tangan besar pria asing bernama Frederick ini terasa begitu hangat di bahunya, dan tatapan mata abu-abunya memancarkan ketulusan yang luar biasa.

Sebagai seorang ENFJ, Maizy biasanya sangat pandai membaca emosi orang. Dan saat ini, dia tahu pasti bahwa pria di depannya tidak sedang bersandiwara. Pria ini benar-benar memuja dan mencintainya dengan seluruh jiwanya.

Masalahnya hanya satu: Maizy sama sekali tidak mengenal siapa pria berpakaian zirah ini.

Maizy refleks mundur setengah langkah, melepaskan bahunya dari cengkeraman lembut Frederick. Dia mencengkeram kain gaun sutra birunya yang berat dengan cemas.

"M-maaf..." bisik Maizy gagap, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Kau... kau siapa? Dan aku... di mana ini? Aku tidak mengenalmu."

Begitu kata-kata itu lolos dari bibir Maizy, suasana di sekitar mereka mendadak membeku.

Frederick tertegun. Sepasang tangan besarnya menggantung di udara, perlahan turun dengan kaku. Manik mata abu-abunya yang tadinya dipenuhi kehangatan dan rasa lega, seketika bergetar hebat. Ada kilatan rasa sakit mendalam yang melintas dengan sangat jelas di wajah tegasnya—sebuah hantaman emosional yang begitu kuat hingga membuat sang komandan tangguh itu sempat menahan napasnya selama beberapa detik.

Bagi Frederick, melintasi hutan berbahaya dan mempertaruhkan nyawa demi mencari sang kekasih hati adalah hal yang biasa. Namun, dilupakan oleh wanita yang menjadi pusat dunianya adalah luka yang paling mematikan.

"Maizy..." Suara Frederick tercekat di tenggorokan, berubah menjadi bisikan parau yang sarat akan rasa sakit hati. "Apa yang kau katakan? Ini aku... Frederick. Jangan bercanda seperti ini, kumohon. Ini sama sekali tidak lucu."

Frederick kembali maju satu langkah, mencoba meraih jemari Maizy, menatap lekat-lekat ke dalam mata gadis itu di balik lensanya, mencari sisa-sisa ingatan atau barangkali binar usil yang biasa Maizy tunjukkan. Namun, yang dia temukan di dalam mata Maizy hanyalah rasa asing, kebingungan, dan ketakutan yang nyata.

Menyadari bahwa gadis di depannya benar-benar kehilangan ingatan tentang dirinya, rahang tegas Frederick mengeras, menahan sesak yang mendera dadanya. Hatinya terasa seperti ditusuk oleh belati sedingin es. Para prajurit di belakangnya semakin menundukkan kepala dalam-dalam, menyadari bahwa sang komandan yang tak pernah kalah di medan perang, kini baru saja hancur hatinya di dalam hutan belantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!