NovelToon NovelToon
Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Gagal Jadi Istri Gus, Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mur Diyanti

Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.

Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.

Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta pandangan pertama

Hafidz berdiri termangu, menatap nanar sosok Alisa yang sudah lenyap ditelan tembok.

Hatinya berubah sesak, dadanya serasa sempit seolah rasa sakit itu juga ia rasakan.

"Maafkan aku, Alisa." Lirih Hafidz tercekat.

Ia memang merasa bersalah. Bagaimanapun, dia sudah membuat waktu berharga Alisa 5 tahun lamanya demi menunggunya.

Namun apa boleh buat, hati tidak bisa dipaksakan. Mungkin memang belum jodohnya, dan setiap mengingat Alisa. Rasa sakit dan bersalahnya semakin menggerogoti hatinya.

"Mas, aku kira kemana. Ternyata kamu disini." Lirih Anisa menghampiri calon suaminya itu.

Hafidz buru-buru menghapus air mata. Lalu berbalik, tersenyum ke arah Anisa. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.

Hafidz menggeleng lemah, "Gapapa, tadi hanya mengobrol sebentar dengan santri. Maaf yah membuatmu menunggu lama." Lirih Hafidz.

Anisa mengulum senyum tipis, menggeleng kecil, "Aku gapapa kok, Mas. Aku cuma khawatir aja soalnya kamu lama banget perginya."

"Iya, makasih yah sudah menghawatirkan, Mas." Balas Hafidz tersenyum.

Anisa mengangguk kecil, "Iya, Mas. Yok kita kembali ke mobil." Ajaknya, yang diangguki oleh pria itu.

Sementara Alisa tidak benar-benar pergi. Hatinya kembali remuk setelah mendengarkan percakapan mereka berdua dibalik dinding pembatas antara pondok dan kediaman kiai.

Tubuhnya luruh lantak. Isakan yang semula ia tahan langsung pecah dalam sekejap.

"Ya Allah...Aku terima jika memang Gus Hafidz bukan jodohku. Tapi aku mohon Ya Allah, kuatkan hatiku untuk menerima takdir ini." Lirihnya tercekat, menangis sejadi-jadinya dibawah lampu kuning temaram yang nyaris redup.

***

"Hey, kamu sudah dengar belum putra pertama kiai yang sudah 10 tahun lebih di luar negeri?" Bisik-bisik santriwati di asrama.

Alisa mendengarnya saat ia berjalan menyusuri koridor asrama. Tatapannya kosong, hatinya masih berkecamuk dengan rasa sakit yang belum bisa ia redam.

"Ahh...iya, Zefano itu bukan?"

"Hooh, yang melenceng dari ajaran abahnya itu."

"Iya bener, aku tau betul. Dulu skandalnya juga ngeri kan yah? Hampir mau bunuh temen satu kampus cuma gara-gara masalah Genk motor."

"Iya, ngeri weh. Mending sekarang hati-hati keluar asrama. Jangan sampe ketemu orang itu. Ada yang bilang dia pernah ngelecehin perempuan di pesantren ini dulu."

"Astaghfirullah....bahaya banget yah. Udah betul di luar negeri aja, ngapa pulang kesini segala. Mau bagaimanapun gaada tempat dia di sini yakan?"

"Astaghfirullah kalian ini kok malah bergibah? Udah-udah bubar sana." Usir pengurus asrama.

Alisa hanya menguping saja, masih berdiri di luar asrama miliknya. Menyandarkan punggungnya pada dinding, menatap kakinya kosong.

"Zefano?"

Kening Alisa mengerut. Dia baru tahu nama kakak dari Hafidz adalah Zefano.

Maklum, Alisa baru 7 tahun di pesantren ini, sementara Zefano sudah berangkat keluar negeri 10 tahun lalu.

Meski begitu, Alisa tak mau terlalu memikirkan. Toh dia udah gamau urusan dengan keluarga kiai lagi.

Saat Alisa menangis tadi. Ia berfikir lagi, ia sudah membulatkan tekadnya untuk mengikhlaskan semuanya.

Dan ia pun sudah meyakinkan dirinya untuk keluar dari pesantren ini setelah Gus Hafidz dan Ning Anisa sudah boyongan ke rumah mempelai wanita.

"Lho, Alisa. Kamu kenapa berdiri disini?" Tanya Fatimah, mengejutkan Alisa.

Gadis itu buru-buru menoleh, menggeleng kecil sembari tersenyum tipis, "Gapapa kok, Fatimah."

Tatapan Fatimah langsung berubah nanar pada teman satu asramanya itu. Menepuk bahu Alisa lembut.

"Kamu yang sabar yah, Alisa. Aku yakin setelah ini, kamu akan mendapatkan ganti yang lebih baik daripada Gus Hafidz." Hiburnya.

Alisa mengulum senyum manisnya, mengangguk kecil, "Aku pasti akan menemukan yang jauh lebih baik, Fatimah. Karena sesuatu tidak akan pergi kecuali diganti dengan yang lebih baik." Lirihnya.

Fatimah tersenyum lega, mengangguk antusias, "Syukurlah, akhirnya kamu mengerti."

Lalu mereka berdua masuk ke dalam asrama mereka bersama-sama.

***

Kabar Zefano pulang ke Indonesia ternyata benar adanya. Kini pria itu sudah sampai dengan mobil sport miliknya di depan rumah abahnya, Kiai Hakim.

Meski begitu, ia tak mendapat sambutan meriah. Padahal mereka sudah 10 tahun tidak bertemu. Namun rasa benci abahnya pada dirinya tak kunjung hilang.

Zefano menarik sudut bibirnya tipis. Rumah tertutup rapat. Padahal kabar ia akan pulang sudah sedari 2 jam lalu. Meski begitu, Zefano tak merasa heran.

Ia menapakkan kakinya untuk pertama kali sejak 10 tahun lalu di tanah kelahirannya.

Menatap ke arah gerbang pondok, seringaian tipis terbit di bibirnya, "Sudah 10 tahun, tapi tidak ada yang berubah."

Ia langkahkan kakinya menuju terang dengan tenang. Menatap sekeliling yang tampak sepi. Saat ia membuka pintu rumah, tak ada siapapun di dalam sana.

Lagi, ia terkekeh sinis. Bahkan ruang tamu kosong. Seolah kedatangannya tidak diinginkan di rumah ini.

"Alisa! Ya Allah hati-hati dong larinya!"

Perhatian Zefano terusik saat mendengar kegaduhan diluar rumah.

Ia langkahkan kakinya keluar dari rumah, mencari siapa pemilik suara di depan sana.

Sepasang matanya menyipit saat melihat dua gadis dengan hijab syar'i menjuntai hingga ke lutut.

Dalam sekejap, tatapan tajamnya berubah penuh binar saat melihat sosok gadis yang menyita perhatiannya.

Senyumnya, parasnya, bagaikan sihir yang sulit untuk Zefano alihkan.

"Siapa gadis itu." Lirihnya, tanpa sadar berjalan mendekati mereka.

"Alisa, apa ada yang sakit?" Tanya Fatimah Cemas, mengecek telapak tangan Alisa.

Alisa tersenyum menggeleng, "Aku gapapa kok, Fat. Tadi cuma kesandung gamisnya ini karena kepanjangan."

Fatimah memanyun sedih, menatap wajah Alisa sendu, "Lain kali hati-hati lho. Kamu mau kemana sih?"

Alisa tergagap, ia sembunyikan tangannya ke belakang tubuh.

"Ahh...aku ingin menemui kiai sebentar, kamu tunggu disini saja. Aku ga lama kok." Ucap Alisa tampak ragu-ragu.

Fatimah memanyun lagi, "Bener?"

Alisa mengulum senyum manisnya, mengangguk kecil.

"Iya, kamu tunggu disini sebentar."

Alisa sontak berlari melewati pembatas antara gerbang pesantren dan gerbang rumah kiai. Tak menyadari ada mobil asing yang terparkir di depan rumah sang kiai.

Alisa tatap tasbih kokka pemberian dari Hafidz, tanpa sengaja air matanya luruh disela langkahnya mendekat ke teras rumah.

"Meski ini pemberian dari Gus Hafidz. Bagaimanapun aku harus mengembalikannya pada pemilik yang sebenarnya." Lirih Alisa dengan yakin.

BRUK!

"AKHH!!"

Alisa terhenti dari larinya saat tubuhnya menubruk seseorang. Saat ia mendongak, ternyata adalah seorang pria yang cukup tampan, memakai jas hitam rapi dengan blazer panjang selutut itu, menatap Alisa intens.

Alisa tatap pria itu ragu-ragu. Buru-buru merunduk, mengangguk kecil, mundur beberapa tapak untuk memberi jarak.

"A-anu, maaf, kakak sedang mencari siapa?" Tanya Alisa ragu-ragu.

Zefano tak menjawab. Ia hanya menatap gadis di depannya intens. Membuat Alisa yang semula bertanya menjadi gugup dan sedikit takut. Merunduk lagi.

"Jika tidak ada saya izin menemui kiai, kak." Ucap Alisa lagi. Melewati Zefano yang terus menatapnya tanpa berkedip itu.

Alisa lirik Zefano dengan ekor matanya ragu-ragu. Ternyata pria itu masih menatapnya dengan tatapan tak berkedip. Membuat Alisa gugup.

"Kenapa orang itu natap aku kaya gitu terus sih?" Lirih Alisa tercekat. Buru-buru mengetuk pintu.

1
falea sezi
pergi aja Alisa biar klo dia inget mampus uda telat🤣 laki. goblok gini males bgt bkin Alisa pergi thor biar gk kayak ikan terbang
Dynhz: hhhi siap, aku juga klo jadi Alisa pergi sih😭
total 1 replies
Winny
👍
AsLan 🦁
diawal-awal udah bagus makin kesini makin pret kaya sinetron ikan terbang, basiiii
Dynhz: maaf yah kalo cerita saya kaya ikan terbang😁🙏🏻makasih sudah mampir😁🙏🏻
total 1 replies
AsLan 🦁
preeeetttlaaaghh
falea sezi
yaa kemana si zafano😕 msak hanyut nanti amnesia lagi😕
falea sezi
lanjut donk
Dynhz: uwokeee😍👍
total 1 replies
falea sezi
jahat bgt si hafiz makan aja itu ning nong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!