Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kecurigaan
Rapat Family Gathering berlangsung hampir dua jam.
Begitu selesai, seluruh tim kembali ke meja masing-masing dengan tugas baru yang harus diselesaikan minggu itu.
Acara ulang tahun perusahaan tinggal kurang dari dua bulan lagi.
Semakin mendekati hari pelaksanaan, semakin banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Namun di tengah kesibukan itu, ada seseorang yang pikirannya justru tidak fokus pada acara.
Rita.
---
Wanita itu duduk di mejanya sambil memperhatikan Luna dari kejauhan.
Sejak pertama kali Luna masuk ke perusahaan, ada banyak hal yang menurutnya janggal.
Awalnya ia tidak terlalu memikirkan.
Namun semakin lama, semakin banyak hal yang membuatnya penasaran.
Terlalu penasaran.
---
Mulai dari tas yang dipakai Luna.
Sepatu.
Jam tangan.
Pakaian.
Sampai cara beberapa atasan memperlakukannya.
Semua terasa aneh.
---
"Ada apa sih?"
tanya Adel yang duduk di sebelahnya.
Rita menghela napas.
"Aku lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Luna."
Adel langsung menggeleng.
"Lagi?"
"Iya."
---
Rita menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kamu nggak merasa aneh?"
"Aneh apanya?"
"Dia baru kerja."
"Iya."
"Tapi hidupnya kayak bukan karyawan biasa."
Adel terdiam.
Karena sebenarnya ia juga pernah memikirkan hal yang sama.
---
"Aku pernah lihat sepatunya."
lanjut Rita.
"Itu bukan barang murah."
"Mungkin hadiah."
jawab Adel.
Rita langsung mendengus.
"Semua hadiah?"
---
Adel tidak menjawab.
Karena memang sulit menjelaskan semuanya.
---
Sementara itu.
Di meja lain.
Luna sedang sibuk menyusun daftar vendor untuk Family Gathering.
Sisil duduk di sebelahnya sambil memeriksa proposal acara.
"Kamu sadar nggak?"
tanya Sisil.
"Sadar apa?"
"Rita lagi lihat ke sini."
Luna bahkan tidak menoleh.
"Biarkan aja."
---
Sisil menghela napas.
Kadang ia benar-benar heran dengan tingkat kesabaran sahabat barunya itu.
Kalau berada di posisi Luna, mungkin ia sudah kehilangan kesabaran sejak lama.
---
Hari terus berjalan.
Menjelang sore, Amanda memanggil beberapa anggota tim untuk membahas revisi konsep acara.
Luna termasuk salah satunya.
---
Begitu masuk ke ruang rapat kecil, Luna terkejut melihat siapa saja yang hadir.
Amanda.
Dua kepala divisi lain.
Dan Ryan.
---
"Silakan duduk."
kata Amanda.
Luna menurut.
Namun tidak bisa menghilangkan rasa penasaran.
Kenapa ada Ryan di sana?
---
Ternyata rapat tersebut membahas sponsor tambahan dan koordinasi antar divisi.
Karena Family Gathering tahun ini jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
---
Di tengah rapat, salah satu kepala divisi memuji konsep publikasi yang dibuat Luna.
"Saya suka ide media interaktifnya."
kata pria itu.
"Terima kasih, Pak."
jawab Luna.
---
Ryan yang duduk di ujung meja hanya tersenyum kecil.
Melihat hal itu, Amanda terlihat puas.
Karena keputusannya mempercayakan proyek tersebut kepada Luna ternyata tidak salah.
---
Namun tanpa mereka sadari.
Dari luar ruangan, Rita sempat melihat Luna keluar dari rapat bersama para petinggi perusahaan.
Dan itu semakin memperkuat kecurigaannya.
---
Malam harinya.
Sebagian besar karyawan sudah pulang.
Namun Rita masih berada di kantor.
Ia sedang membereskan pekerjaannya ketika tanpa sengaja melihat data internal yang belum ditutup di komputer salah satu staf administrasi.
Awalnya ia tidak berniat melihat.
Namun kemudian matanya menangkap satu nama.
Lunaria Wulandari.
---
Rita langsung berhenti.
Matanya menyipit.
Lalu perlahan membaca data yang terlihat di layar.
Sayangnya informasi tersebut sangat terbatas.
Hanya data karyawan biasa.
Tidak ada sesuatu yang istimewa.
---
Namun ada satu hal yang membuat Rita mengernyit.
Nomor kontak darurat.
---
Bukan nama orang tua.
Bukan saudara.
Melainkan:
Alex Lucas Dimitri.
---
Jantung Rita langsung berdetak cepat.
"Tunggu..."
gumamnya.
---
Ia membaca ulang nama itu.
Memastikan dirinya tidak salah lihat.
Alex Lucas Dimitri.
Nama CEO perusahaan mereka.
---
"Itu nggak mungkin."
bisiknya.
---
Rita langsung menutup layar komputer ketika mendengar langkah kaki mendekat.
Namun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.
Kenapa nama CEO ada di data kontak darurat Luna?
Kebetulan?
Saudara?
Kenalan?
Atau...
---
Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, Rita merasa dirinya semakin dekat dengan jawaban yang selama ini ia cari.
---
Di rumah keluarga Dimitri.
Luna sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di kantor.
Saat itu ia sedang duduk di ruang keluarga bersama Alex.
Membantu memeriksa daftar tamu Family Gathering.
---
"Kamu serius mau baca semuanya?"
tanya Alex.
"Iya."
"Jumlahnya ribuan."
Luna menghela napas.
"Aku tahu."
Alex tertawa kecil.
---
Mereka terus bekerja bersama hingga malam.
Tanpa menyadari bahwa di tempat lain, seseorang baru saja menemukan petunjuk kecil yang bisa mengubah banyak hal.
---
Di apartemennya.
Rita masih memikirkan nama yang dilihatnya tadi sore.
Alex Lucas Dimitri.
CEO perusahaan.
Dan kontak darurat Luna.
Semakin dipikirkan, semakin aneh.
Dan semakin membuatnya penasaran.
---
Rita tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir.
Karena menurutnya, ia akhirnya menemukan benang merah yang selama ini hilang.
Dan mulai besok...
Ia akan mencari tahu lebih dalam.
Tentang siapa sebenarnya Lunaria Wulandari.
Rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat di Dimitri Group perlahan mulai mendekati titik terbongkar.