Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
"Woy, Dewi! Keluar kamu! Jangan ngumpet!"
Suara Weni menggema dari depan rumah. Pagar rumah Rahman digedor keras sampai bunyinya memantul ke rumah-rumah sebelah. Siang yang tadinya tenang langsung berubah gaduh.
Weni berdiri dengan wajah merah, rambut berantakan, mata sembab karena terlalu banyak menangis. Tapi yang paling terlihat bukan sedihnya. Yang paling terlihat justru amarah yang sudah tidak bisa ditahan.
Rahman yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri kaget.
"Weni?"
Belum sempat keluar penuh, pintu rumah sudah didorong dari luar.
"Dewi mana?! Panggil istrimu sekarang!"
Rahman bingung.
"Weni, ada apa sih?"
Weni menepis tangan Rahman.
"Aku mau tanya sama istrimu! Aku mau tanya dia puas atau nggak sekarang?!"
Tetangga mulai melirik dari pagar masing-masing.
Rahman menahan adiknya yang sudah mau masuk.
"Ngapain kamu teriak-teriak kayak gini?"
Weni menepis lagi.
"Jangan pura-pura nggak tahu! Panggil Dewi!"
Dari dalam rumah, Dewi yang sedang menyapu langsung keluar karena mendengar namanya diteriakkan.
Begitu melihat Weni, langkahnya berhenti.
"Weni?"
Weni langsung menunjuk wajah Dewi.
"Nah! Keluar juga kamu!"
Dewi mengernyit.
"Ada apa?"
Weni tertawa pendek.
"Masih tanya ada apa?"
Rahman mulai merasa nggak enak.
"Weni, ngomong baik-baik."
Weni menoleh cepat.
"Baik-baik? Anak cucuku lagi sekarat di rumah sakit!"
Suasana langsung sunyi.
Dewi diam.
Weni melangkah maju.
"Kamu puas sekarang?"
Dewi menatap bingung.
"Puas apa?"
Weni tertawa lagi. Kali ini suaranya tinggi.
"Jangan pura-pura! Dari dulu aku sudah tahu kamu nggak suka sama keluargaku! Dari dulu kamu iri sama Vena!"
Dewi mulai kehilangan sabar.
"Weni, ngomong yang jelas."
"Jelas? Anak Vena lahir nggak sempurna! Sekarang sakit komplikasi! Semua gara-gara dosa keluargamu!"
Rahman langsung kaget.
"Weni!"
Tapi Weni terus bicara.
"Celsi mandul, rumah tangga anakmu gagal, sekarang dosa itu kena ke cucuku!"
Dewi membeku.
Rahman langsung menarik tangan adiknya.
"Weni! Kamu sadar nggak ngomong apa?!"
Tapi Weni sudah seperti orang yang kehilangan kendali.
"Jangan sentuh aku! Ini semua karena mereka! Karena keluarga ini! Karena Dewi!"
Dewi menatap lama.
Tatapan yang awalnya bingung perlahan berubah dingin.
"Jadi sekarang cucumu sakit karena aku?"
Weni mendekat.
"Iya!"
Dewi tertawa pelan. Tapi matanya mulai basah.
"Gila."
Weni makin emosi.
"Jangan ketawa!"
Dewi mengangguk pelan.
"Oh, jadi sekarang semua salah aku?"
Weni membalas cepat.
"Iya!"
Dewi menarik napas.
"Lalu Vena yang dulu merebut suami orang itu salah siapa?"
Weni langsung diam sesaat.
Dewi melanjutkan.
"Rangga sudah punya hubungan. Anakmu yang masuk."
Weni menunjuk.
"Jaga omongan kamu!"
Dewi tertawa kecil.
"Kenapa? Sakit dengarnya?"
Rahman mulai panik.
"Dewi, sudah."
Tapi Dewi tidak berhenti.
"Dulu anakmu yang ngejar. Anakmu yang nggak malu. Anakmu yang hamil duluan."
Wajah Weni berubah.
"DIAM KAMU!"
Dewi melangkah maju.
"Kenapa sekarang cari kambing hitam? Karena kenyataannya susah diterima?"
Weni mendekat sampai hampir menempel.
"Jangan bawa anakku!"
Dewi menatap tajam.
"Harusnya introspeksi diri."
Kalimat itu seperti bensin disiram ke api.
Weni langsung maju ingin menarik rambut Dewi.
Dewi refleks menepis.
"Jangan sentuh aku!"
Rahman buru-buru masuk di tengah.
"UDAH!"
Tetangga yang dari tadi menonton langsung berdatangan.
"Bu Weni!"
"Tahan!"
Weni meronta.
"Lepas aku!"
Dewi juga emosi.
"Jangan fitnah anakku!"
Weni berteriak.
"Anakmu mandul! Anakmu bawa sial!"
Dewi langsung menangis.
"Cukup!"
Rahman memegang bahu istrinya.
Dewi gemetar.
"Celsi salah apa..."
Weni masih berusaha maju.
Suaminya yang dari tadi menyusul akhirnya datang dengan wajah pucat.
"Weni!"
Weni menoleh.
"Apa?!"
Suaminya mendekat lalu menarik tangan Weni.
"Pulang."
Weni menepis.
"Aku belum selesai!"
Pria itu menahan emosi.
"Sudah cukup bikin malu!"
Weni melotot.
"Anak kita lagi sekarat!"
Suaminya menjawab dengan suara berat.
"Terus kamu pikir dengan fitnah orang semuanya selesai?"
Weni diam.
Suaminya menatap kecewa.
"Kamu kayak nggak punya Tuhan."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Weni membeku.
Tetangga juga diam.
Suaminya menarik tangan Weni.
"Pulang."
Weni masih menangis dan memberontak.
"Aku cuma mau cucuku sembuh..."
Tapi suaminya tetap menyeret Weni pulang.
Rahman hanya diam melihat adiknya pergi.
Setelah rumah mulai sepi, Dewi masuk ke dalam.
Begitu pintu tertutup, air matanya jatuh.
Rahman masuk pelan.
Dewi duduk di kursi.
Tangannya gemetar.
"Mas..."
Rahman mendekat.
Dewi menangis.
"Aku sakit hati."
Rahman diam.
Dewi mengusap wajah.
"Aku dihina nggak apa."
Suaranya pecah.
"Tapi kenapa Celsi dibawa..."
Rahman duduk di sampingnya.
Dewi menangis makin keras.
"Anakku dituduh mandul..."
Rahman memegang tangan istrinya.
"Dewi..."
Dewi menunduk.
"Celsi sudah banyak menanggung. Kenapa masih saja..."
Rahman menarik napas panjang.
"Orang kalau lagi kehilangan arah, kadang cari tempat buat menyalahkan."
Dewi menggeleng.
"Tapi bukan begini caranya."
Rahman mengusap pundaknya.
"Sabar."
Dewi menangis dalam diam.
Sementara itu, di rumah sakit.
Alarm monitor mulai berbunyi lebih sering.
Dokter dan perawat keluar masuk.
Vena menangis di depan ruang perawatan.
Rangga berdiri diam.
Tatapannya kosong.
Sampai akhirnya satu dokter keluar.
Tatapan dokter itu membuat dada Rangga langsung turun.
Tidak ada kalimat yang perlu diucapkan.
Rangga mundur pelan.
Lalu berbalik.
Dia berjalan cepat.
Melewati lorong.
Turun tangga.
Keluar menuju taman rumah sakit.
Begitu sampai di tengah taman, Rangga berhenti.
Tangannya mengepal.
Dadanya naik turun.
Lalu dia berteriak.
"KENAPA?!"
Orang-orang menoleh.
Rangga tidak peduli.
Dia menatap langit.
"KENAPA ANAKKU?!"
Suaranya pecah.
Air matanya jatuh.
"Apa salah dia?!"
Dia menutup wajah.
"Kalau mau ambil... ambil aku..."
Rangga berjongkok.
Menangis.
Lalu berteriak lagi.
"TUHAN NGGAK ADIL!"
Tapi taman tetap diam.
Angin tetap lewat.
Dan saat itu Rangga sadar.
Dia bukan marah pada Tuhan.
Dia marah karena dia tidak bisa melakukan apa pun.