“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sah atau Tidak?
Meja makan itu mendadak menjadi sunyi. Seroja dan Bu Dhe saling pandang, seolah bicara lewat mata. Sedangkan Jordi mengunyah pisang gorengnya pelan, tapi jelas mengikuti percakapan ini.
Bu Dhe akhirnya menatap Ryu. "Nak, Ryu. Kamu tahu sendiri, nenek baru saja meninggal. Rasanya kurang..." Bu Dhe terdiam sejenak seolah sedang memilih kata yang pas.
"Saya mengerti, Bu Dhe," ucap Ryu akhirnya. "Seroja pasti masih mau mengadakan tahlilan untuk nenek. Tapi mohon maaf sebesar-besarnya. Hari ini saya harus pulang membawa Seroja. Karena nenek berpesan, saya tidak boleh pulang tanpa Seroja."
Jordi mengangkat alisnya samar. "Oh, jadi ini alasannya," gumamnya dalam hati.
Akhirnya ia menemukan jawaban kenapa Ryu yang sangat mencintai Clara tetap mau menjemput Seroja.
"Pantas saja, bos datang ke sini setengah hati, ternyata dipaksa nyonya besar."
Bu Dhe menggenggam tangan Seroja yang masih diam menatap mangkuknya yang telah kosong. Bukan sedang melamun, tapi sedang mempertimbangkan apa yang akan ia lakukan.
Ryu berdehem kecil. "Bukannya saya tidak menghormati almarhum nenek, tapi saya tidak bisa mengabaikan tanggung jawab saya di perusahaan," ujar Ryu tenang dengan suara terkontrol.
"Banyak karyawan yang menggantungkan hidup pada perusahaan," lanjut Ryu sambil menautkan kedua tangan di atas meja. "Jika saya terlalu lama meninggalkan pekerjaan, itu akan merugikan banyak orang."
Jordi menyeruput kopinya santai, menunggu apa yang akan diputuskan dalam pembicaraan ini.
Bu Dhe terdiam menimbang, lalu mengusap punggung tangan Seroja. "Nak, nenek sudah meninggal. Doa bisa dikirimkan dari mana saja," tutur katanya lembut penuh pengertian. "Jangan menghambat urusan orang yang masih hidup karena urusan orang yang sudah meninggal."
Seroja akhirnya menarik napas dalam, lalu mengangkat wajahnya menatap Ryu. Meski ada kesedihan dalam sorot matanya, pembawaannya tetap tenang.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan ikut kamu," ucapnya tanpa keraguan.
"Itu keputusan yang bijak," sahut Ryu singkat. Lalu dengan gerakan terukur, ia menyesap kopinya.
Seroja membalas genggaman tangan Bu Dhe. "Maaf jika aku merepotkan Bu Dhe untuk mengurus tahlilan nenek."
Bu Dhe menggeleng cepat. "Mana ada? Nenekmu adalah ibunya Bu Dhe. Sudah tanggung jawab Bu Dhe mengadakan tahlilan. Suamimu sudah menjemput, jangan biarkan dia pulang tanpa kamu."
"Terima kasih, Bu Dhe," ucap Seroja tulus.
"Kalau begitu, Bu Dhe bantu mengepak barang-barangmu," ujar Bu Dhe seraya beranjak dari duduknya.
Seroja ikut berdiri. Namun saat ia baru saja hendak melangkah--
"Seroja," panggil Ryu untuk pertama kalinya.
Seroja menoleh, menunggu apa yang ingin dikatakan pria yang ternyata adalah suami dari masa kecilnya itu.
Sedangkan Jordi memalingkan wajahnya menyembunyikan senyumnya.
"Kaku sekali," gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
"Bawa barang yang penting-penting saja," lanjut Ryu. "Saat tiba di kota, aku akan menyiapkan semua keperluanmu. Kamu tinggal bilang kalau ada yang kurang."
Seroja terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Hm," sahut Seroja, lalu berbalik menuju kamarnya bersama Bu Dhe.
Ryu menghela napas lega karena tak perlu banyak drama, apalagi harus berdebat untuk mengajak Seroja pulang.
"Bos," panggil Jordi. "Istri masa kecil Bos ini kayaknya orangnya enak deh. Cantik, dewasa, dan pengertian. Tapi yang paling penting gak pakai drama. Keluarganya juga bijak," papar Jordi.
"Kenapa, kamu suka?" tanya Ryu dengan nada sinis. Rahangnya menegang samar.
"Eh, eh... ekspresi macam apa ini? Bau-baunya kenapa kayak ada yang kebakar?" seloroh Jordi seraya memutar tubuhnya menghadap Ryu. Lalu satu sudut bibirnya terangkat tipis. "Jangan-jangan... Bos cemburu nih," goda Jordi.
Sorot mata Ryu bergeser samar, seolah baru menyadari sesuatu.
"Jangan overthinking," tukas Ryu. "Kemasi barang-barang sana!" titahnya tegas.
Jordi malah bersandar santai. "Apa yang mau dikemas, Bos? Emang kita ke sini bawa apa? Bos 'kan jemput istri dengan tangan kosong. Di mana wibawa Bos sebagai suami dan CEO?" celetuk Jordi tanpa dosa, menyesap kopinya perlahan.
JLEB!!
Seketika jantung Ryu bagai dihantam batu besar. Apa yang dikatakan Jordi seratus persen benar. Ia datang menjemput istrinya tanpa membawa apa pun.
Meski sebelumnya ia tidak ingat kalau Seroja adalah istrinya, tapi ia tahu pasti kalau dirinya diminta menjemput wanita yang dijodohkan dengannya. Seharusnya ada cendera mata yang dibawa, bukan?
Ryu menumpukan kedua sikunya di meja, lalu menutup wajahnya. Ini adalah hal paling memalukan dalam sejarah hidupnya.
Dan Jordi?
"Hm... kopi buatan kampung memang beda," gumamnya setelah menghirup kopinya dengan mata setengah terpejam, seolah barusan tidak mengatakan apa pun yang menghantam telak harga diri Ryu.
PLAK!
"Aduh!"
Jordi spontan mengusap kepalanya yang baru saja dipukul Ryu.
"Bos!" protesnya. "Kenapa kepalaku digeplak? Ini aset paling berharga dan krusial, tahu," gerundel Jordi.
"Ini salahmu," tukas Ryu.
"Hah?!" Jordi melongo. "Kok aku sih, Bos? Salahku apa? Di mana? Halaman berapa?" tanyanya bingung.
Pemuda itu mencoba membuka lembar demi lembar memori otaknya, tapi tak menemukan letak salahnya.
"Kamu nggak ngingetin aku bawa oleh-oleh," jelas Ryu kesal.
"Lah... mana diriku tahu kalau Bos mau menjemput nyonya? Emang Bos ngasih tahu aku?" bela Jordi.
"Bahkan aku udah nanya berulang kali, mau apa kita ke sini. Tapi Bos gak mau bilang juga. Malah aku dibilang berisik, cerewet, dan ujung-ujungnya disuruh diem," balas Jordi tak mau disalahkan.
Ryu mendengus frustrasi. "Nggak usah banyak bacot," sergah Ryu. "Mending cariin solusi."
"Nah 'kan." Jordi memutar bola matanya malas. "Endingnya aku juga yang repot. Makanya jangan suka main rahasia-rahasiaan, Bos,"
Jordi bersungut-sungut. "Kalau sudah begini, 'kan kita berdua yang ribet. Dan yang paling banyak ya aku."
Ryu menatapnya tajam. Bahu Jordi langsung merosot.
"Iya... iya. Aku diem," ucap Jordi pasrah.
Di kamar Seroja, gadis itu mulai mengepak barang-barangnya dibantu Bu Dhe.
Seroja berhenti melipat pakaian. Matanya tertuju pada wanita yang setia mengenakan pakaian adat Jawa itu. Ia sudah menganggap Bu Dhe seperti ibu kandungnya sendiri. Sejak dulu, bahkan sebelum orang tuanya meninggal, Bu Dhe selalu memperlakukannya seperti putrinya sendiri.
"Bu Dhe," panggilnya pelan.
Bu Dhe mengangkat wajahnya. "Ya?"
Seroja membasahi bibirnya sebelum akhirnya bicara. "Aku dan dia...Kami menikah waktu masih kecil. Aku bahkan tidak mengingatnya."
Seroja menundukkan wajah, jemarinya meremas ujung bajunya sendiri.
"Apa kami masih sah sebagai suami istri?" tanyanya diselimuti ragu.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang takdir datang bukan lewat cinta yang diingat, melainkan lewat janji lama yang tak pernah benar-benar hilang."...
..."Mereka menikah saat terlalu kecil untuk memahami arti bersama, tapi takdir tetap mempertemukan mereka saat dewasa."...
..."Yang paling membingungkan bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan mengetahui bahwa orang asing itu ternyata suamimu sendiri."...
..."Doa untuk yang telah pergi bisa dikirim dari mana saja, tapi hati yang ditakdirkan bersama pada akhirnya akan saling menemukan."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂