NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Adikku Datang

Malam di balkon hotel terasa terlalu sunyi setelah Arkana berkata pelan di dekat rambut Kemuning, “Mulai sekarang... berdirilah di belakangku.” Kalimat itu masih menggantung hangat di telinga Kemuning. Dan tubuh gadis itu langsung membeku di dalam pelukan pria tersebut.

Tangan Arkana masih berada di punggung Kemuning dengan erat tetapi tenang. Hangat tubuh pria itu perlahan mengusir dinginnya angin malam. Sedangkan suara detak jantung Arkana terdengar jelas di telinga Kemuning. Pelukan itu terasa terlalu nyaman untuk dilepaskan.

Kemuning tidak tahu sejak kapan dirinya mulai merasa aman seperti ini. Selama bertahun-tahun, ia selalu menghadapi semuanya sendirian. Namun sekarang ada seseorang yang berdiri di depannya tanpa meminta apa pun sebagai balasan. Dan hal itu membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.

Kemuning perlahan menggenggam jas Arkana lebih erat tanpa sadar. Gerakan kecil itu langsung disadari Arkana. Tatapan pria tersebut turun perlahan ke wajah Kemuning yang masih memerah karena menangis. Dan sesuatu di mata Arkana langsung melembut samar.

Kemuning terlalu dekat sekarang. Aroma rambut gadis itu memenuhi indera Arkana dengan cara yang mengganggu pikirannya. Sedangkan tubuh kecil yang bersandar di dadanya terasa terlalu pas di pelukannya. Dan Arkana mulai membenci kenyataan bahwa dirinya tidak ingin melepaskan gadis itu.

Perlahan, Arkana mengangkat satu tangannya ke rambut Kemuning. Jemari panjang pria itu menyibakkan beberapa helai rambut yang berantakan karena angin malam. Sentuhannya sangat lembut sampai Kemuning langsung menahan napas. Jantung gadis itu kembali berdetak tidak normal.

Kemuning perlahan mendongak. Dan lagi-lagi ia terjebak dalam tatapan mata Arkana yang terlalu intens. Pria itu menatapnya begitu dekat sampai Kemuning sulit berpikir jernih. Suasana di antara mereka mulai terasa terlalu intimate.

Kemuning mulai takut pada dirinya sendiri. Setiap kali Arkana menyentuhnya seperti ini, dirinya semakin ingin bergantung pada pria tersebut. Dan itu berbahaya. Sangat berbahaya bagi gadis seperti dirinya.

Namun sebelum suasana berubah semakin dalam, suara langkah kaki terdengar mendekat dari pintu balkon. Kemuning langsung tersentak kecil dan buru-buru menjauh dari pelukan Arkana.

Wajahnya langsung merah padam karena malu. Sedangkan Arkana kembali memasang ekspresi dingin seperti biasa.

Mahardika berdiri di ambang pintu balkon sambil memperhatikan mereka berdua diam-diam. Tatapan pria tua itu bergerak dari Arkana ke Kemuning beberapa detik. Namun ia tidak mengatakan apa pun soal kedekatan mereka. Seolah sudah memahami sesuatu tanpa perlu dijelaskan.

“Ada kabar soal Agam.” Mahardika akhirnya berkata tenang. Dan dalam hitungan detik, seluruh fokus Kemuning langsung berubah. Wajah gadis itu menegang penuh harap dan takut sekaligus.

“Agam?” Suara Kemuning langsung bergetar kecil. Matanya membesar tidak percaya saat menatap Mahardika. Sedangkan napasnya mulai tidak stabil.

Mahardika mengangguk pelan. “Anak itu akan dibawa ke mansion malam ini.” Kalimat sederhana tersebut langsung membuat mata Kemuning dipenuhi air mata. Tubuh gadis itu sampai gemetar karena terlalu lega.

“Agam baik-baik saja?” Kemuning langsung bertanya panik sambil melangkah mendekat. Suaranya terdengar hampir pecah karena terlalu cemas. Dan Arkana diam-diam memperhatikan semua reaksi itu.

Mahardika mengembuskan napas pendek. “Dia sempat demam. Dan terus menangis mencarimu sejak kau pergi.” Kalimat itu langsung menghantam hati Kemuning keras.

Kemuning menutup mulutnya sendiri dengan tangan gemetar. Rasa bersalah langsung menyerangnya tanpa ampun. Agam pasti sangat ketakutan sendirian di rumah Miranti. Dan sebagai kakak, dirinya tidak berada di sana untuk melindunginya.

“Aku harusnya tidak meninggalkan dia...” Kemuning berbisik lirih dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya terlihat sangat rapuh sekarang. Sampai Arkana tanpa sadar ingin kembali menarik gadis itu ke pelukannya.

Namun Mahardika kembali bicara dengan nada lebih serius. “Miranti awalnya menolak menyerahkan Agam.” Suasana balkon langsung berubah lebih dingin. Dan Arkana perlahan mengangkat tatapannya tajam.

Kemuning membeku. “Apa?” Suaranya terdengar sangat pelan karena syok. Sedangkan Mahardika menatap jauh ke halaman hotel sesaat.

“Wanita itu terlihat terlalu panik saat orang-orangku datang.” Mahardika berkata pelan.

“Seolah dia punya rencana lain terhadap anak itu.” Kalimat tersebut langsung membuat perut Kemuning terasa mual.

Arkana langsung merasa tidak nyaman mendengar nama Miranti lagi. Semakin banyak yang ia dengar, semakin muak dirinya pada keluarga itu. Bagaimana mungkin seseorang tega memperlakukan anak kecil seperti Agam? Dan kemarahan Arkana mulai tumbuh perlahan.

Untuk pertama kalinya, Arkana benar-benar ingin menghancurkan hidup Miranti Kusuma. Bukan hanya karena wanita itu menyiksa Kemuning. Tetapi karena kini Agam juga ikut menjadi korban. Dan Arkana tidak tahan melihat keluarga kecil itu terus menderita.

Tak lama setelah itu, mereka meninggalkan hotel menuju mansion Mahendra. Malam sudah semakin larut dan jalanan kota tampak basah oleh sisa hujan. Kemuning duduk diam di kursi mobil sambil terus memikirkan Agam. Tangannya gemetar kecil di atas pangkuannya.

Arkana duduk di samping Kemuning dengan tenang. Namun sejak tadi pria itu diam-diam terus memperhatikan gadis tersebut. Cara Kemuning menggenggam jemarinya sendiri saat cemas. Cara napasnya berubah pendek-pendek karena terlalu khawatir.

Kemuning bahkan tidak sadar dirinya terus menggigit bibir bawahnya pelan. Kebiasaan kecil itu muncul setiap kali dirinya gugup atau takut. Dan Arkana mulai terlalu sadar pada bibir gadis tersebut sekarang. Sampai rahangnya menegang samar.

“Berhenti menggigit bibirmu.” Suara Arkana terdengar rendah memecah keheningan mobil. Kemuning langsung tersentak dan buru-buru melepaskan bibirnya malu. Pipinya langsung memanas.

“A-aku tidak sadar...” Kemuning berbisik pelan sambil menunduk gugup. Namun Arkana justru beberapa detik terlalu lama menatap bibir gadis itu. Sampai akhirnya pria tersebut memalingkan wajah dengan rahang mengeras.

Kemuning langsung semakin salah tingkah. Ia tidak tahu kenapa setiap tatapan Arkana sekarang terasa berbeda. Lebih berat. Lebih membuat jantungnya kacau.

Perjalanan kembali terasa sunyi setelah itu. Namun keheningan kali ini terasa aneh dan penuh ketegangan lembut. Kemuning beberapa kali diam-diam mencuri pandang ke Arkana. Sedangkan pria itu tetap menatap lurus ke depan seolah tidak terganggu sama sekali.

Padahal Arkana sedang berusaha keras mengendalikan pikirannya sendiri. Karena sejak balkon tadi, dirinya semakin sulit menjaga jarak dengan Kemuning. Dan itu mulai terasa berbahaya.

Sangat berbahaya.

Mobil akhirnya memasuki halaman mansion Mahendra yang besar dan sunyi. Lampu-lampu taman menyala remang di tengah malam yang dingin. Jantung Kemuning langsung berdetak sangat keras saat mobil berhenti. Dan gadis itu buru-buru membuka pintu sebelum sopir sempat turun.

“Agam...” Kemuning langsung mencari ke sekitar halaman dengan panik. Matanya bergerak cepat penuh kecemasan. Sedangkan Arkana berjalan di belakangnya diam-diam.

Pintu utama mansion perlahan terbuka. Seorang pelayan wanita keluar sambil menggendong tubuh kecil yang tampak lemah tertidur. Rambut Agam berantakan dan pipinya terlihat pucat karena demam. Tubuh mungil itu tampak begitu kecil di pelukan pelayan.

Kemuning langsung menahan napas. Air matanya jatuh begitu saja saat melihat adiknya.

“Agam...” Suaranya pecah penuh rasa lega dan sakit bersamaan.

Kemuning langsung berlari menghampiri. Pelayan itu buru-buru menyerahkan Agam ke pelukan kakaknya. Dan saat tubuh kecil itu berpindah ke pelukan Kemuning, Agam langsung bergerak gelisah. Seolah mengenali kehangatan yang sangat dirindukannya.

Kelopak mata Agam perlahan terbuka lemah. Butuh beberapa detik sampai anak kecil itu benar-benar sadar siapa yang sedang memeluknya. Dan begitu melihat wajah Kemuning, bibir kecil Agam langsung bergetar. “Kakak...”

Tangis Agam langsung pecah keras. Anak kecil itu memeluk leher Kemuning erat-erat sambil menangis sesenggukan. Sedangkan Kemuning ikut menangis sambil mencium rambut adiknya berkali-kali. Pemandangan itu langsung membuat mansion terasa sunyi.

“Kakak di sini...” Kemuning berbisik sambil menangis. “Kakak tidak akan pergi lagi...” Namun justru kalimat itu membuat Agam semakin menangis keras.

Arkana berdiri beberapa langkah di belakang mereka sambil memperhatikan diam-diam. Dan untuk pertama kalinya, pria itu melihat sisi lain Kemuning sepenuhnya. Kemuning yang lembut. Kemuning yang rela hancur demi adiknya.

Cara gadis itu memeluk Agam terasa begitu penuh kasih. Seolah anak kecil itu adalah seluruh dunianya. Dan melihat itu membuat sesuatu di dada Arkana terasa semakin berat. Karena dirinya semakin jatuh pada Kemuning.

Mahardika juga memperhatikan dalam diam. Tatapan pria tua itu terlihat rumit sekarang. Seolah sedang melihat bayangan seseorang dari masa lalu dalam diri Kemuning. Dan itu membuatnya semakin yakin pada keputusannya membawa gadis itu ke mansion Mahendra.

Namun tepat ketika suasana mulai sedikit tenang, Agam tiba-tiba menegang di pelukan Kemuning. Tatapan mata kecilnya jatuh ke arah beberapa pengawal mansion yang berdiri tidak jauh dari sana. Dan dalam hitungan detik, wajah Agam langsung berubah ketakutan. Tubuh kecil itu mulai gemetar hebat.

“Agam?” Kemuning langsung panik saat adiknya mendadak menangis histeris. Anak kecil itu memeluk leher Kemuning sangat erat sampai hampir sulit bernapas. Dan suara tangisnya terdengar penuh ketakutan.

“Jangan...” Agam menangis sambil gemetar. “Jangan biarkan mereka ambil Kak Ning juga.”

Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.

Kemuning langsung memucat. Sedangkan Arkana perlahan menajamkan tatapannya penuh bahaya. Karena sekarang pria itu sadar satu hal. Ada sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi sebelum Agam dibawa ke mansion Mahendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!