NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16. Mata Sang Senopati

Kemenangan konyol Mada atas Raden Daniswara di lapangan utama meninggalkan riak batin yang mendalam bagi seluruh penghuni barak pelatihan Barat. Ketika barisan dua ratus calon Tamtama akhirnya dibubarkan untuk menikmati istirahat sore sebelum lonceng makan malam berdentang, suasana di dalam barak hunian nomor empat terasa jauh lebih hidup dibandingkan hari sebelumnya. Lembu Sora dan Jaka Wulung berjalan di samping Mada sambil terus menepuk-nepuk punggung jangkungnya, menganggap pemuda Hutan Tarik itu sebagai pembawa keberuntungan yang telah menyelamatkan punggung mereka dari siksaan membersihkan kandang kuda selama sebulan penuh.

Namun, di barisan paling depan, Ragajaya berjalan dengan langkah yang sangat kaku. Pemuda pesisir itu tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka meninggalkan lapangan. (Ada yang tidak beres dengan anak desa itu. Dua kali berturut-turut dia memenangkan pertarungan kritis dengan alasan tersandung dan terpeleset. Apakah benar ada manusia yang memiliki keberuntungan seluar biasa itu di tengah medan perang, atau dia sedang mempermainkan kami semua?) Kecurigaan Ragajaya terus berputar di dalam benaknya, menciptakan jarak tak kasat mata di antara dirinya dan Mada yang kembali memilih untuk duduk diam di sudut barak yang paling gelap dan apak.

Mada sendiri tidak memedulikan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya. Ia duduk bersila di atas amben bambunya yang berderit, memejamkan mata perlahan untuk memeriksa jalur sirkulasi spiritual di dalam sukmanya. Di bawah pengawasan mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya, ia bisa merasakan bahwa keputusannya untuk menahan seluruh letupan hawa murni emas Batara Niti Mandala telah berhasil dengan sangat baik. Tidak ada kebocoran energi yang bisa dideteksi oleh para bintara instruktur yang berkeliaran di luar dinding bambu.

(Fase pertama penyamaran di barak Tamtama berjalan sesuai rencana. Ragajaya kini memegang posisi sebagai pahlawan luar yang mengumpulkan perhatian massa, sementara para anak bangsawan seperti Daniswara akan mengunci dendam mereka pada sosokku yang dianggap sebagai pecundang yang beruntung. Selama skema ini bertahan, aku memiliki waktu yang cukup untuk memetakan seluruh kekuatan garnisun Trowulan tanpa perlu memicu kecurigaan mata-mata Mahapati.)

Sinar matahari sore yang berwarna jingga kemerahan mulai meredup di balik dinding batu luar kompleks militer Barat ketika pintu barak hunian nomor empat kembali diketuk dari luar. Ketukan kali ini tidak berupa tendangan kasar seperti yang dilakukan oleh para senior semalam, melainkan tiga ketukan teratur yang berat dan berwibawa.

Seorang bintara senior bertubuh tegap dengan seragam pengawal pribadi senopati melangkah masuk ke dalam ruangan. Pandangan matanya yang dingin langsung menyapu seluruh penjuru barak, mengabaikan Ragajaya yang baru saja berdiri bersiap menyambutnya, dan langsung mengunci fokus pada sudut paling belakang tempat Mada duduk bersandar.

"Prajurit nomor registrasi nol empat puluh tujuh, Mada dari Hutan Tarik!" seru bintara tersebut, suaranya terdengar datar namun tegas. "Senopati Kudamerta memerintahkanmu untuk menghadap secara pribadi di ruang kerja menara pengawas tengah sekarang juga! Tinggalkan seluruh perlengkapan latihanmu di sini, dan ikut aku segera!"

Perintah mendadak itu langsung membuat seluruh isi barak nomor empat menjadi sunyi seketika. Jaka Wulung dan Lembu Sora saling berpandangan dengan wajah cemas, mengira Mada akan menerima hukuman rahasia karena telah mempermalukan seorang putra jaksa agung wilayah di depan umum. Ragajaya sendiri menatap Mada dengan mata menyipit, menyadari bahwa dipanggil secara pribadi oleh seorang jenderal sepuh sekelas Kudamerta bukanlah sesuatu yang biasa dialami oleh seorang prajurit Tamtama berpangkat rendah.

Mada segera bangkit berdiri, memasang kembali wajah polos dan keluguannya yang tampak sangat terkejut bercampur ketakutan setengah mati. "S-siap, Tuan Bintara. Apakah saya membawa kesalahan besar lagi? Saya bersumpah demi dewa di gunung bahwa saya tidak sengaja membuat Raden Daniswara jatuh tersandung tadi siang."

"Jangan banyak bicara! Ikut saja!" bentak bintara pengawal tersebut sambil membalikkan badannya, melangkah keluar barak tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Mada melangkah mengekor di belakangnya dengan langkah yang sengaja dibuat agak goyah, memberikan kesan kepada rekan-rekan sebaraknya bahwa ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi.

Perjalanan menuju menara pengawas tengah memakan waktu sekitar satu lingkaran pulsa nadi. Di sepanjang jalan setapak berbatu yang mulai gelap, Mada terus mematangkan rencana psikologisnya. Ia tahu bahwa panggilan ini adalah ujian paling krusial di awal karier militer pembentukannya. Senopati Kudamerta bukanlah perwira menengah bodoh yang bisa dikelabuhi oleh sandiwara tersandung yang murahan. Jenderal tua itu telah melewati ratusan pertempuran nyata sejak masa pendirian kerajaan dan pasti memiliki insting yang sangat peka terhadap ketidakwajaran gerakan tubuh manusia.

Ketika mereka tiba di lantai paling atas menara pengawas tengah, bintara pengawal membuka sebuah pintu kayu jati tebal yang diukir dengan lambang cakra militer. Di dalam ruangan yang cukup luas itu, udara terasa hangat oleh wangi asap kemenyan madu yang dibakar di atas tungku tembaga kecil. Beberapa obor dinding telah dinyalakan, memancarkan pendaran cahaya yang menerangi deretan rak perkamen kulit kuno serta sebuah peta besar wilayah Nusantara yang membentang di atas meja kayu jati panjang di tengah ruangan.

Senopati Kudamerta berdiri membelakangi pintu, menatap lurus keluar jendela menara yang menghadap ke arah hamparan lampu-lampu kota Trowulan di kejauhan. Jubah perang merah besarnya telah dilepas, digantikan oleh kain jarik hitam sederhana yang tetap tidak mampu menyembunyikan kekokohan pundak tuanya yang penuh dengan bekas luka sabetan pedang masa lalu.

"Hamba, Prajurit Nomor 047, Mada dari Hutan Tarik, menghadap Senopati," ucap Mada dengan suara yang dibuat agak bergetar rendah sambil menjatuhkan lututnya berlutut di atas lantai kayu, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh permukaan papan.

Senopati Kudamerta tidak segera membalikkan badannya. Ia membiarkan keheningan yang menekan merayap di dalam ruangan selama beberapa waktu, sebuah teknik psikologis klasik untuk menghancurkan ketahanan mental seorang bawahan yang sedang menyimpan rahasia. Suara jangkrik malam dari luar menara terdengar konstan, bersahutan dengan derit kayu tungku kemenyan yang terbakar pelan.

"Berdirilah, Mada," ucap Senopati Kudamerta perlahan, suaranya terdengar sangat tenang namun memiliki kedalaman resonansi energi yang tinggi.

Mada perlahan bangkit berdiri, tetap memosisikan tubuh jangkungnya agak membungkuk ke depan dengan sepasang tangan yang saling meremas di depan perut, menampilkan sisa-sisa kegugupan seorang anak desa yang tidak terbiasa berada di ruang elit kekuasaan.

Kudamerta membalikkan tubuhnya secara teratur. Sepasang mata elangnya yang tajam dan dipenuhi oleh kapalan usia langsung mengunci pandangan mata Mada, mencoba menembus lapisan emosi terdalam di balik wajah lugu pemuda di depannya. Jenderal sepuh itu melangkah mendekati meja peta, mengambil sebuah gulungan perkamen kecil yang tampaknya baru saja dikirimkan oleh ruang catatan sipil militer fajar tadi.

"Saya baru saja menerima laporan lengkap mengenai asal-usul pendaftaranmu dari Hutan Tarik, Mada," kata Kudamerta sambil mengetuk-ngetukkan gulungan perkamen tersebut ke telapak tangan kirinya. "Di dalam perkamen ini tertulis bahwa kamu adalah anak yatim dari seorang petani miskin bernama Sidacerma yang hidup menyendiri di dalam pedalaman hutan tersebut. Cap rekomendasi keberangkatanmu diberikan oleh seorang kepala desa tua di pinggiran Tarik yang saat ini kondisinya sudah pikun dan tidak bisa mengingat kembali kapan dia memberikan cap tersebut. Laporan yang sangat rapi, sangat bersih, dan hampir tidak memiliki cacat sedikit pun untuk ukuran seorang pemuda desa yang tidak memiliki kerabat di ibu kota."

Mada tetap mempertahankan ekspresi polosnya, meskipun di dalam lubuk sukmanya, ia tahu bahwa Kudamerta telah mulai mengendus adanya kejanggalan pada identitas palsunya. (Jenderal sepuh ini benar-benar teliti. Dia tidak hanya melihat gerak-gerikku di lapangan, tetapi langsung memeriksa jalur hukum pendaftaranku hingga ke akar desa. Beruntung mendiang Rama Sidacerma telah menyiapkan skema identitas ini dengan sangat matang sebelum beliau gugur.)

"Ampun, Senopati," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat agak bingung. "Mendiang ayah saya memang hanya seorang pemelihara kambing hutan dan penanam talas di dalam pedalaman Tarik. Kami jarang keluar dari hutan karena ayah saya selalu mengatakan bahwa udara di luar terlalu ramai untuk paru-paru orang tua seperti beliau. Mengenai cap rekomendasi itu, kepala desa tersebut adalah teman lama ayah saya yang sering menerima hantaran daging buruan dari kami, jadi beliau dengan baik hati memberikan cap agar saya bisa mencari upah di Trowulan."

Senopati Kudamerta tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai sepasang mata elangnya yang tetap dingin menatap Mada. Ia meletakkan perkamen tersebut di atas meja peta, tepat di atas gambar wilayah Hutan Tarik yang berwarna hijau tua.

"Cerita yang sangat menyentuh batin, Mada," ucap Kudamerta, langkah kakinya kembali bergerak memutari meja jati tersebut, mendekati posisi berdiri Mada. "Namun, ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh perkamen catatan sipil ini. Yaitu cara tubuhmu bergerak di atas tanah liat lapangan latihan."

Kudamerta berhenti tepat satu langkah di depan Mada, membiarkan kedekatan jarak fisik mereka memberikan tekanan batin yang maksimal. "Dua hari berturut-turut, saya mengawasimu dari atas menara ini. Saat duel tombak perorangan kemarin melawan Ragajaya, kamu memutar poros kaki kirimu dengan sudut kemiringan yang sangat tipis namun luar biasa efisien untuk mematikan momentum tenaga lawan. Dan tadi siang, saat menghadapi tebasan hawa murni api milik Daniswara, kamu menjatuhkan dirimu dengan alasan tersandung tali tampar. Di mata para instrukturku yang bodoh, itu terlihat seperti keberuntungan murni. Namun di mata seorang pria yang sudah menghabiskan empat puluh tahun di medan perang seperti saya, gerakan menjatuhkan dirimu tadi sore adalah teknik pemindahan berat badan tingkat tinggi yang dirancang untuk merusak titik tumpu energi api lawan tanpa membuang tenagamu sendiri satu jengkal pun."

Tekanan udara di dalam ruangan kerja mendadak terasa sangat menekan. Mada bisa merasakan hawa murni pertahanan alami milik Kudamerta mulai merayap keluar dari pori-pori kulit jenderal sepuh tersebut, seolah sedang memancing energi spiritual di dalam tubuh Mada untuk meledak membalas sebagai bentuk refleks pertahanan diri. Namun, dengan kedisiplinan besi yang telah ditempanya selama belasan tahun di Hutan Tarik, Mada tetap mengunci rapat seluruh lubang spiritual emas Batara Niti Mandala di titik nol, membiarkan tubuhnya menerima tekanan tersebut murni dengan ketahanan urat daging alaminya yang padat.

"Siapa yang sebenarnya mengajarimu cara berpikir dan bergerak seperti itu, Mada?" tanya Senopati Kudamerta, suaranya kini merendah namun mengandung ketajaman yang menuntut kejujuran mutlak. "Siasat jepitan lambung yang kamu gunakan dalam simulasi kelompok kemarin, itu bukan sekadar formasi Supit Urang biasa yang bisa dipelajari dari melihat latihan bintara daerah. Itu adalah modifikasi taktis tingkat tinggi yang dahulu hanya dikuasai oleh satu orang di seluruh jagat Majapahit. Yaitu mendiang Patih Nambi, Mahapatih pertama kerajaan ini yang dinyatakan gugur sebagai pengkhianat di daerah timur puluhan tahun lalu."

Mendengar nama Patih Nambi disebut secara langsung dari mulut Kudamerta, getaran emosi yang sangat halus sempat melintas di dalam sukmanya, namun Mada dengan kecepatan mutlak berhasil meredamnya sebelum getaran itu memicu perubahan pada denyut nadi lehernya yang sedang diamati oleh Kudamerta.

Mada kembali menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai kayu, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan wajah yang dibuat penuh dengan ketakutan dan kebingungan yang luar biasa besar.

"Ampun, Senopati yang agung! Hamba bersumpah tidak mengerti apa yang Anda bicarakan mengenai Patih Nambi atau teknik tinggi pengawal raja purba!" seru Mada dengan suara yang dibuat gemetar hebat. "Mendiang ayah saya, Sidacerma, hanya mengajarkan saya cara menghindari serundukan babi hutan dan bagaimana cara menjatuhkan kerbau liar yang mengamuk di dalam hutan menggunakan bilah bambu pikulan! Ayah selalu mencambuk kaki saya jika saya melangkah terlalu lebar saat mengejar kambing, karena menurut beliau langkah yang lebar hanya akan membuat air di dalam kendi yang saya bawa menjadi tumpah! Siasat jepitan yang hamba gunakan kemarin, hamba hanya mengingat bagaimana cara sekelompok serigala hutan menjepit seekor rusa dari arah samping saat kami berburu di dalam Hutan Tarik! Hamba bersumpah tidak memiliki niat tersembunyi apa pun selain ingin menjadi prajurit Tamtama yang patuh agar bisa membelikan kain baru untuk ibu hamba di desa!"

Senopati Kudamerta menatap sosok Mada yang sedang bersujud gemetar di dekat kakinya. Jenderal sepuh itu menarik napas dalam-dalam, membiarkan hawa murni pemancingnya kembali masuk ke dalam tubuhnya. Ekspresi wajahnya yang tegang perlahan mengendur, berganti dengan guratan keletihan usia yang mendalam. Ia menyadari bahwa di bawah tekanan batinnya yang paling kuat sekalipun, pemuda jangkung ini tetap tidak memancarkan riak hawa murni sekecil apa pun; detak jantung dan sirkulasi darahnya tetap berada di batas manusia biasa yang sedang ketakutan setengah mati.

(Entah dia memang benar-benar seorang anak desa yang dikaruniai bakat alamiah yang sangat mengerikan hingga mampu meniru hukum alam hutan menjadi strategi perang tingkat tinggi, atau dia adalah seorang aktor spiritual paling sempurna yang pernah dikirimkan oleh takdir ke dalam kompleks Trowulan ini. Jika dia adalah pilihan kedua, maka guru yang berada di belakangnya pastilah sosok yang jauh melampaui kemampuan berpikirku sendiri.)

Kudamerta melangkah mundur kembali ke arah jendelanya, meletakkan kedua tangannya di belakang punggung. "Bangunlah kembali, Mada. Jaga bicaramu dan simpan seluruh sumpah setiamu untuk lapangan latihan besok pagi."

Mada perlahan bangkit berdiri, menyeka keringat dingin palsu di dahinya menggunakan punggung tangan kanannya dengan sikap yang sangat canggung. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Senopati. Apakah... apakah hamba diperkenankan kembali ke barak hunian sekarang? Perut hamba sudah sangat perih karena belum sempat menyentuh jatah roti kering sore tadi."

Kudamerta menoleh sedikit, menatap Mada dengan pandangan mata yang sangat misterius. "Kamu boleh kembali ke barakmu, Prajurit Nomor 047. Namun ingat kata-kata saya ini dengan saksama di dalam benakmu. Lapangan barak Tamtama Barat ini terlalu kecil untuk menampung langkah kakimu yang jangkung. Teruslah bertahan hidup di dalam barak nomor empat, karena suatu hari nanti, jika insting tuaku ini tidak salah, saya sendiri yang akan membawa nomor registrasimu keluar dari jalur prajurit biasa dan memasukkanmu ke dalam lingkaran yang jauh lebih berbahaya di pusat kerajaan."

"Siapa yang mengajarimu cara berpikir seperti itu, Mada? Ingat, di bawah langit Trowulan ini, mata yang mengawasimu tidak hanya berasal dari menara pengawas milikku," ucap Kudamerta sebagai dialog penutup pertamanyanya, memberikan peringatan tersirat yang sangat padat mengenai bahaya intrik politik yang sedang mengintai dari kegelapan istana.

Mada menjura hormat sedalam-dalamnya, lalu melangkah mundur perlahan meninggalkan ruangan kerja menara pengawas dengan sikap yang sangat patuh dan tenang. Begitu pintu kayu jati tebal itu tertutup di belakang punggungnya dan ia kembali melangkah menuruni tangga menara yang gelap bersama bintara pengawal, wajah keluguan dan ketakutan Mada mendadak lenyap dalam satu hitungan napas penuh. Sepasang matanya kembali memancarkan pendaran batin emas yang dingin dan tajam di bawah naungan langit malam Majapahit.

(Mata Sang Senopati telah mulai bergerak menyelidiki, namun kecurigaannya justru akan menjadi pelindung terbaikku dari deteksi jaringan Singo Barong milik Mahapati. Selama Kudamerta percaya bahwa aku adalah sebutir benih mentah yang berpotensi menjadi ksatria pilihannya, posisiku di dalam barak Tamtama ini akan tetap aman hingga waktu pematangan energi Batara Niti Mandala tiba sepenuhnya.)

Mada melangkah kembali menuju barak hunian nomor empat dengan ritme kaki yang sangat konstan dan teratur, siap menghadapi kelanjutan dari pelatihan dasar militer Trowulan yang kian hari kian bersinggungan langsung dengan pusaran arus kekuasaan terbesar di tanah Nusantara.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!