NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Aroma minyak telon, bedak bayi, dan riuh suara tawa anak-anak selalu berhasil menjadi obat penawar paling mujarab bagi kepala Tina yang berisik. Di dalam ruangan kelas berukuran lima kali enam meter yang dindingnya dipenuhi tempelan kertas origami berbentuk hewan dan angka, Tina merasa hidup.

"Ibu Guru ! Lihat, Doni merebut krayon hijau punya saya!" seorang anak perempuan beruncit dua mengadu dengan mata berkaca-kaca, menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang asyik mencoret-coret kertas bergambar pohon.

Tina tersenyum manis. Ia berlutut di antara kedua balita itu, menyamakan tinggi badannya dengan mereka. "Doni, krayon hijaunya kan ada dua. Boleh berbagi satu dengan Sasa? Anak ganteng harus pintar berbagi, supaya nanti disayang sama semuanya."

Doni mendongak, menatap wajah teduh Tina, lalu dengan malu-malu menyodorkan salah satu krayon ke arah Sasa. Tangisan Sasa langsung reda, digantikan senyum lebar. Tina mengusap lembut kepala kedua anak didiknya itu dengan perasaan lega yang membuncah.

Menjadi guru di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Sukamaju bukanlah cita-cita besar Tina setelah ia berhasil menggondol gelar Sarjana Pendidikan enam belas bulan lalu.

Dengan IPK yang sangat memuaskan, ia sempat bermimpi mengajar di sekolah bergengsi di kota kabupaten, mengenakan seragam rapi, dan menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Namun, realitas menamparnya keras.

Enam bulan menganggur di rumah setelah wisuda membuatnya sadar bahwa mencari pekerjaan di zaman sekarang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kepala desa menawarkan posisi guru PAUD dengan honor yang bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan pribadi dalam sebulan, Tina menerimanya. Baginya, menyibukkan diri di luar rumah jauh lebih baik daripada terus-menerus mengurung diri di dalam kamar.

Pukul sebelas siang, lonceng sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar setelah menyalami tangan Tina dengan takzim. Setelah memastikan seluruh ruangan rapi dan mengunci pintu sekolah, senyum yang sejak pagi menghiasi wajah Tina perlahan memudar, digantikan oleh hela napas panjang yang berat.

Langkah kakinya tidak mengarah ke jalan pulang menuju rumah, melainkan memotong kompas melewati jalan setapak menuju area persawahan di kaki bukit. Di sana, matahari siang sedang terik-teriknya, membakar kulit siapa saja yang berani menantangnya. Namun, di bawah sengatan itu, seorang pria paruh baya dengan caping usang tampak masih membungkuk, menancapkan satu demi satu bibit padi ke dalam lumpur. Itu adalah Pak Rahman, ayahnya.

Tina bergegas menuju gubuk kecil di pinggir sawah, meletakkan tas mengajarnya, lalu mengganti sepatu flatnya dengan bot karet yang sudah robek di beberapa bagian. Ia menggulung lengan kemeja batiknya hingga ke siku dan melangkah masuk ke dalam petakan sawah yang berlumpur sedalam lutut.

"Ina? Kenapa langsung ke sini? Pulang dulu, makan siang," suara Pak Rahman terdengar serak, wajahnya yang penuh kerutan tampak basah oleh peluh.

"Ina tidak lapar, bah. Biar Ina bantu, supaya Abah bisa cepat istirahat. Hari ini panas sekali, nanti darah tinggi Abah kambuh lagi," sahut Tina lembut sambil mulai mengambil seikat bibit padi.

Pak Rahman menatap anak perempuannya dengan pandangan bersalah sekaligus bangga. "Harusnya kamu tidak perlu sekotor ini, Na. Kamu itu sarjana. Tugasmu mengajar, bukan berlumur lumpur seperti Abah."

Tina hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Kalimat itu sudah ratusan kali ia dengar, dan setiap kali mendengarnya, hatinya selalu tercubit. Ia tidak malu menjadi anak petani, tidak sama sekali. Yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa ia terpaksa melakukan ini semua karena tidak ada orang lain lagi yang bisa diandalkan oleh ayahnya.

Mereka berdua bekerja dalam diam di bawah terik matahari hingga azan zuhur berkumandang dari kejauhan. Setelah membersihkan kaki dan tangan di pancuran air irigasi, Tina dan ayahnya berjalan beriringan pulang ke rumah. Di sepanjang jalan desa, beberapa tetangga yang berpapasan menyapa mereka dengan ramah.

"Wah, rajin sekali Neng Tina. Habis mengajar langsung turun ke sawah. Beruntung sekali Pak Rahman punya anak perempuan seperti Tina," puji Bu Darmi yang sedang menjemur kerupuk di halaman rumahnya.

Pak Rahman hanya tersenyum dan mengangguk sopan. Di luar, semua orang melihat mereka sebagai keluarga yang harmonis dan penuh berkah. Namun bagi Tina, pujian-pujian itu terdengar seperti ironi yang menyakitkan. Mereka hanya melihat permukaannya, tanpa tahu kebusukan apa yang sedang menggerogoti bagian dalam rumah mereka.

Begitu melangkah masuk melalui pintu dapur, pemandangan pertama yang menyambut Tina adalah tumpukan piring dan wajan kotor yang penuh di dalam bak cuci piring. Di atas meja makan, hanya ada sisa tulang ayam dan mangkuk sayur yang sudah mengering.

Dari arah ruang tengah, terdengar suara tawa melengking dari Rika, kakak perempuan Tina. Rika yang sudah menikah tiga tahun lalu itu tampak sedang rebahan di sofa panjang sambil menonton video di ponselnya, sementara suaminya sedang merantau untuk bekerja. Di sudut ruangan lain, Fandi, adik laki-laki Tina yang berusia sembilan belas tahun dan baru tamat SMA, sedang tengkurap di lantai dengan earphone menyumbat telinga. Jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, sesekali mengumpat kasar karena kalah dalam permainan *game online*-nya.

"Kak Rika, ini piring kotor di dapur kenapa belum dicuci? Lalatnya sudah banyak sekali," kata Tina, mencoba menahan suaranya agar tetap tenang meski dadanya mulai bergemuruh.

Rika bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. "Aduh, Na, Kakak lagi pusing dari pagi mikirin bisnis yang mau aku buat. Lagian kan kamu baru pulang, sekalian saja dicuci. Kakak tadi habis menyuapi anak Kakak, capek tahu."

"Anak Kakak dititipkan ke Ibu dari pagi, kan? Kakak cuma main HP dari tadi," balas Tina, suaranya naik satu oktav.

Mendengar ribut-ribut, Fandi mendengus kesal dan berteriak tanpa menoleh, "Bisa diam tidak sih? Jangan berisik, aku lagi *war* ini! Gara-gara kamu suara *step*-nya jadi tidak kedengaran!"

Tina mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Rasa muak yang teramat sangat bergejolak di dalam dadanya. Inilah pemandangan yang harus ia telan setiap hari. Kakak perempuannya yang sudah berkeluarga tapi masih menumpang hidup, tidak tahu diri, dan malasnya minta ampun. Sifatnya sama persis dengan Fandi, adik laki-laki mereka yang hidup seperti parasit—hanya tahu makan, tidur, main *game*, dan menjelang sore akan keluyuran bersama teman-teman tidak jelasnya hingga larut malam.

Ibu mereka, Bu Aminah, keluar dari kamar habis sholat zuhur. Wajah wanita tua itu tampak sangat kelelahan. "Sudah, Na... jangan ribut. Biar Ibu saja yang cuci nanti."

"Tidak, Bu. Ibu tidak boleh cuci piring itu. Biar Tina yang kerjakan," potong Tina dengan nada tegas namun bergetar. Ia tidak tega melihat ibunya yang sudah tua harus melayani anak-anaknya yang berbadan besar namun berotit malas.

Tina berjalan ke dapur dengan langkah menghentak. Ia menyalakan keran air dan mulai menggosok piring-piring itu dengan kasar, melampiaskan seluruh amarahnya pada sabun dan busa. Air matanya hampir menetes, namun ia sekuat tenaga menahannya. Ia benci rumah ini. Ia benci kenyataan bahwa ia harus menanggung beban domestik sendirian, sementara dua saudaranya yang berbadan sehat memperlakukan rumah ini layaknya hotel gratisan.

"Kak Ina..." sebuah suara lembut menyapa dari pintu dapur.

Itu adalah Lisa, si bungsu yang baru saja pulang sekolah mengenakan seragam SMA. Wajahnya tampak polos dan lelah, namun ia langsung meletakkan tasnya dan berjalan mendekati Tina. Tanpa banyak bicara, Lisa mengambil selembar kain lap dan mulai mengeringkan piring-piring yang sudah dibilas oleh Tina.

"Maaf ya, Kak. Tadi pagi Lisa cuma sempat menyapu ruang depan saja sebelum berangkat, tidak sempat bereskan dapur," bisik Lisa takut-takut, seolah-olah kemarahan Tina disebabkan oleh dirinya.

Melihat ketulusan adik bungsunya, pertahanan Tina runtuh. Ketegangan di bahunya mengendur. Ia menatap Lisa dengan pandangan melembut. "Tidak apa-apa, Lis. Terima kasih ya sudah mau bantu. Kamu ganti baju dulu sana, lalu makan."

"Lisa bantu ini dulu sampai selesai, baru makan," jawab Lisa sambil tersenyum manis. Bantuan kecil dari Lisa adalah satu-satunya alasan mengapa Tina masih bisa bertahan di rumah ini tanpa kehilangan akal sehatnya.

Dulu, Tina pernah memberontak. Tiga bulan lalu, ia pernah mengamuk di ruang tengah, berteriak mengeluarkan semua keluh kesah, air mata, dan rasa tidak adil yang ia pendam bertahun-tahun. Ia menunjuk muka Rika dan Fandi, mencaci kemalasan mereka yang tidak tahu diuntung. Namun, apa hasilnya? Pertengkaran hebat itu justru membuat Abah dan Ibunya menangis. Pak Rahman merasa bersalah tidak bisa menjadi orang tua yang kaya yang bisa mencukupi semua kebutuhan mereka tanpa perlu membuat mereka berebut pekerjaan.

Melihat air mata dan tubuh gemetar ayahnya malam itu, hati Tina hancur berkeping-keping. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantamnya. Sejak malam itu, Tina bersumpah tidak akan pernah protes lagi. Ia memilih mengalah, memilih mengunci rapat mulutnya, dan menelan semua kepahitan itu sendirian demi menjaga sisa-sisa kedamaian hati kedua orang tuanya.

Sore harinya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan memastikan Abah serta Ibunya sudah beristirahat, Tina berjalan menuju kebun cokelat di pinggir desa untuk mengumpulkan buah yang matang. Pikirannya melayang jauh, membayangkan masa depannya yang tampak buram. *Sampai kapan aku harus hidup seperti ini?* tanyanya pada diri sendiri dalam hati.

Tanpa Tina sadari, di seberang jalan setapak, dekat sebuah mobil SUV hitam yang tampak kontras dengan lingkungan pedesaan, seorang pemuda berdiri menyandar pada pintu mobil. Pemuda itu mengenakan kemeja kasual berpotongan rapi khas orang kota, dengan jam tangan yang berkilat tertimpa cahaya matahari sore.

Namanya adalah tontonan baru bagi beberapa warga desa yang lewat, namun pemuda itu tidak peduli. Sepasang matanya yang tajam sejak tadi tidak lepas memperhatikan Tina. Ia melihat bagaimana gadis itu dengan cekatan memetik buah cokelat, memasukkannya ke dalam keranjang bambu, lalu menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Ada sesuatu pada diri Tina yang menarik perhatian pemuda itu. Bukan sekadar parasnya yang manis alami tanpa riasan berlebih, melainkan binar ketangguhan dan kedewasaan yang memancar dari seluruh gerak-geriknya—sesuatu yang sangat jarang ia temui pada wanita-wanita di kota besarnya.

Pemuda itu tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang menyimpan sejuta rencana, sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobilnya dan berlalu pergi, meninggalkan kepulan debu tipis di jalanan desa yang sepi.

Malam harinya, di dalam kamar yang gelap, Tina berbaring telentang menatap langit-langit yang putih. Seluruh otot di tubuhnya terasa linu dan pegal luar biasa setelah seharian bekerja tanpa henti. Namun, yang paling menyakitkan bukanlah rasa lelah di fisiknya, melainkan rasa sepi dan sesak di dalam batinnya.

Tina memiringkan tubuhnya, memeluk bantal dengan erat. Detik berikutnya, bahunya mulai berguncang. Air mata yang seharian ini ia tahan dengan susah payah di depan murid-muridnya, di depan ayahnya, dan di depan saudaranya, akhirnya tumpah tak terbendung. Ia menangis dalam diam, menggigit ujung bantal agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh anggota keluarga yang lain.

Di balik dinding kamar tembok itu, pergaulan bebas saudaranya, beban hidup orang tuanya, dan impian-impiannya yang terkubur, semuanya menumpuk menjadi satu, menghimpit dadanya hingga ia tertidur karena kelelahan. Tina tidak pernah tahu, bahwa dalam waktu dekat, sebuah takdir baru yang dibawa oleh pemuda kota itu akan datang mengetuk pintunya, membawa sebuah tawaran yang akan menguji seluruh kedewasaan hidupnya.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!