NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Waktu berjalan begitu cepat, kini menginjak bulan kesebelas masa pembelajaran Reno di Pesantren Al-Falah. Tinggal satu bulan lagi, hitungan hari pun mulai terasa nyata. Dari 365 hari yang dulu terasa seperti selamanya dan penjara, kini tersisa 30 hari yang terasa begitu pendek, begitu berharga, dan begitu ingin dipeluk erat agar tak lewat begitu saja.

Reno berdiri di tepi sungai, tempat saksi bisu segala perubahan hidupnya. Angin pagi bertiup lembut menyisir rambutnya yang kini terlihat lebih rapi dan berkarakter. Di dalam hatinya, tak ada lagi rasa ingin cepat pulang, tak ada lagi rasa bosan atau ingin lari. Justru kini yang ada adalah rasa berat hati, rasa takut kehilangan suasana damai ini, rasa ingin menghentikan putaran bumi sebentar saja agar waktu berhenti berlalu.

Ia sudah berubah total. Bukan lagi sekadar fisik yang tegap, berkulit sawo matang, dan penuh bekas perjuangan. Tapi jiwanya sudah matang sempurna. Ia sudah lulus ujian fisik, ujian kesabaran, ujian kepemimpinan, ujian godaan dunia, ujian keikhlasan, hingga ujian memaafkan yang paling berat. Kini di sisa waktu ini, Kyai Ahmad membimbingnya untuk satu hal terakhir sebelum benar-benar terbang ke dunia luar: Belajar Bersyukur dan Menghargai Setiap Detik Kehidupan.

Pagi itu, Kyai Ahmad duduk bersama Reno di teras belakang rumah, menghadap ke arah hamparan sawah yang mulai menguning siap panen. Pemandangan itu indah sekali, lukisan alam yang sederhana namun sempurna ciptaan Tuhan.

“Nak Reno,” panggil Kyai Ahmad lembut, suaranya terdengar sedikit sendu namun penuh kasih sayang. “Hitung mundur sudah mulai berjalan. Sebentar lagi gerbang ini akan terbuka lebar untukmu pulang ke duniamu yang sesungguhnya. Kyai lihat, hatimu sekarang bukan lagi gembira menanti kepulangan, tapi sedih karena mau berpisah. Benar bukan?”

Reno menundukkan pandangannya, tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. “Benar sekali, Kyai. Dulu aku datang dengan rasa benci dan terpaksa. Sekarang aku mau pergi dengan rasa berat dan takut. Aku takut hilang kedamaian ini, aku takut hilang bimbingan Bapak dan Ibu, dan aku takut… hilang suasana di mana aku bisa melihat senyum Zahrana setiap hari meski hanya dari jauh.”

Kyai Ahmad tertawa kecil, tawanya teduh dan menenteramkan. “Baguslah kalau begitu. Artinya tanaman yang kita tanam di hatimu sudah berakar kuat dan berbuah manis. Tapi ingat Nak, tempat ini bukan kandang yang mengurungmu, dan bukan juga surga yang harus kau tinggalkan dengan sedih. Tempat ini adalah pangkalan latihan, adalah tempat mengisi bekal. Dan sekarang, bekal itu sudah penuh, sudah lengkap, dan sudah siap kau bawa ke mana pun kau melangkah.”

Beliau menunjuk ke arah sawah yang menguning itu.

“Lihat padi itu. Kalau belum masak, ia tegak kaku dan sombong tinggi ke atas. Begitu isinya penuh, begitu bijinya padat dan berisi, ia perlahan menunduk makin rendah sampai menyentuh tanah. Begitu juga manusia. Kau dulu seperti padi muda, tinggi, kaku, kosong, dan angkuh. Satu tahun ini kita siram, kita pupuk, kita lindungi dari hama, sampai isimu penuh dengan ilmu dan akhlak. Dan sekarang, lihat dirimu… kau sudah menunduk rendah, penuh isi, dan matang sempurna. Itu tanda kebesaran jiwa yang sesungguhnya.”

Reno mendengarkan setiap kata itu, menyerapnya sampai ke tulang sumsum. Ia merasa begitu lengkap, begitu kaya, namun begitu rendah hati.

“Di sisa satu bulan ini,” lanjut Kyai Ahmad, “Jangan kau habiskan dengan menghitung hari menanti pulang. Tapi habiskanlah dengan menghitung nikmat yang masih kau miliki di sini. Bangunlah paling awal, tidurlah paling akhir, kerjakanlah pekerjaan yang paling remeh dan paling berat dengan rasa senang dan syukur. Nikmati setiap suapan nasi sederhana, nikmati setiap hembusan angin, nikmati setiap percakapan, dan nikmati setiap pandangan mata. Karena setelah kau melangkah keluar gerbang itu, tak ada lagi waktu yang sama, tak ada lagi momen yang persis seperti ini.”

Pelajaran itu menjadi pedoman Reno selama 30 hari terakhir ini. Ia mengubah pola pikirnya sepenuhnya. Setiap hal yang dulu dianggap remeh, kini dilihatnya sebagai nikmat besar yang harus disyukuri.

Pagi-pagi sekali, saat ayam baru berkokok pertama, Reno sudah bangun. Ia menyapu seluruh halaman pesantren yang luas bukan karena disuruh, tapi karena ia ingin membelai setiap sudut tanah ini yang telah memijakkan kakinya selama setahun. Ia mengambilkan air wudhu untuk teman-temannya, mengisi bak mandi, menyusun sepatu dan sandal di depan masjid, semuanya dikerjakan dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.

Dulu ia merasa pekerjaan ini memalukan dan rendah. Sekarang ia merasa ini adalah cara berterima kasih pada tempat yang telah menyelamatkan hidupnya.

Siang harinya, ia ikut turun ke sawah membantu memanen padi. Panen raya kali ini adalah hasil kerja keras setahun penuh. Melihat bulir padi yang berat dan penuh, melihat teman-temannya bersorak gembira, melihat wajah Pak Yasin yang bangga, Reno merasa hatinya meluap penuh. Ia mengangkat karung-karung padi yang beratnya puluhan kilo, memikulnya dengan senang hati, keringatnya bercucuran membasahi punggung. Tapi rasanya, setiap tetes keringat itu adalah tinta emas yang menuliskan sejarah kebangkitan dirinya.

Di sela-sela kesibukan itu, matanya selalu mencari satu sosok yang menjadi pusat semestanya. Zahrana.

Zahrana sibuk di dapur bersama Ibu Nyai Siti dan santriwati lain, menyiapkan makan siang untuk ratusan orang. Ia tampak sibuk, keringat membasahi pelipisnya, tangannya penuh tepung dan bumbu, namun wajahnya bersinar paling terang. Ia tersenyum pada semua orang, melayani dengan tangan terbuka, tak ada rasa lelah sedikit pun terlihat.

Saat mata mereka bertemu di kejauhan, seulas senyum manis dan hangat terukir di wajah Zahrana. Senyum yang mengandung ribuan pesan: “Aku bangga padamu. Aku melihat ketulusanmu. Aku melihat kematanganmu. Aku makin yakin dan makin mencintaimu.”

Siang itu, saat istirahat makan siang, Reno sengaja duduk agak terpisah sedikit dari yang lain, di bawah pohon rindang tempat biasa mereka saling tukar pesan lewat pandang dan kata. Tak lama, Zahrana datang membawa nampan berisi piring yang isinya sedikit lebih banyak dan lebih enak dibanding yang lain, serta segelas air es yang segar sekali.

“Selamat makan, Pak Petani Sukses. Panennya luar biasa banyak dan bagus sekali tahun ini. Pasti capek sekali memikul dari pagi tadi ya?” sapa Zahrana lembut, duduk di jarak sopan di hadapan Reno.

Reno menatap gadis itu lekat-lekat, seolah ingin merekam setiap lekuk wajah, setiap gerak bibir, dan setiap pancaran cahaya di mata itu untuk disimpan rapi di ingatan selamanya.

“Capek fisik ada, Zahra. Tapi rasanya nikmat sekali. Aku jadi paham, kenapa orang desa ini selalu bahagia dan bersyukur. Karena mereka menikmati prosesnya, menikmati hasil keringatnya, dan menikmati nikmat sederhana yang ada di depan mata. Dulu aku punya segalanya tapi tak pernah merasa cukup. Sekarang aku cuma punya nasi, sayur, dan tempe ini… tapi rasanya paling enak sedunia, paling mewah, dan paling memuaskan. Semuanya karena ada rasa syukur, dan semuanya karena ada kamu yang menyajikannya dengan cinta.”

Wajah Zahrana merona indah, ia menunduk malu sambil tersenyum manis.

“Mas Reno ini kalau bicara sekarang… selalu saja membuat hati ini penuh sesak rasanya. Mas Reno tahu tidak? Perubahanmu ini adalah hal yang paling ajaib yang pernah saya lihat. Dulu saya ragu, apakah mungkin batu keras berubah jadi emas? Ternyata benar. Bukan cuma berubah, tapi berubah jadi yang paling berharga.”

“Semua ini karena kamu, Zahra. Kamu adalah air yang melunakkan hatiku yang keras. Kamu adalah sinar yang menyalakan lampu hatiku yang mati. Kalau aku pulang nanti jadi orang besar, jadi pemimpin yang baik, itu semua hakmu, itu semua karena kamu. Dan di sisa waktu ini, aku ingin setiap detiknya aku isi dengan hal-hal yang baik, supaya kenangan kita di sini semuanya manis, semuanya indah, dan semuanya suci sampai kapan pun kita ingat.”

Hari-hari berikutnya, Reno lakukan hal-hal yang paling sederhana namun paling bermakna. Ia menemani Kyai Ahmad duduk berjam-jam mendengarkan nasihat dan kisah-kisah kehidupan, menyerapnya bak spons yang kering menyerap air. Ia menemani Ibu Nyai Siti mengupas kelapa, mengiris sayur, mendengarkan nasihat ibu yang penuh kasih. Ia bermain dan bercanda dengan santri-santri kecil, mencerahkan hari mereka, menanamkan kasih sayang. Ia mendekap erat persahabatannya dengan Dani dan Pak Yasin, mengikat janji persaudaraan yang tak akan putus walau terpisah jarak ribuan kilometer.

Semua orang di pesantren ini merasakan perubahan aura Reno yang makin lembut, makin damai, dan makin meneduhkan. Ia bukan lagi sekadar teman, ia sudah menjadi bagian dari jiwa mereka masing-masing.

Suatu sore yang indah, menjelang matahari terbenam, Reno dan Zahrana kembali berada di pinggir sungai, tempat saksi segala kisah mereka. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma bunga liar dan tanah basah. Air sungai mengalir tenang, memantulkan warna jingga keemasan langit senja.

“Zahra,” panggil Reno pelan, suaranya sedikit bergetar menahan rasa haru yang meluap. “Tinggal hitungan hari lagi aku harus melangkah keluar gerbang itu. Jujur, aku takut. Aku takut dunia luar yang keras, aku takut godaan yang datang lagi, aku takut aku tak sanggup membawa bekal ini tetap utuh.”

Zahrana menatap Reno dalam-dalam, matanya bersinar teguh dan penuh keyakinan. Ia tersenyum lembut, lalu berkata dengan suara yang tenang dan meyakinkan:

“Mas Reno, ingatlah padi yang sudah matang itu. Sekeras apa pun angin, sebesar apa pun badai, selama akarnya masih menancap kuat di tanah, ia tak akan roboh. Akarmu sekarang sudah menancap di nilai-nilai kebaikan, di ketakwaan, dan di rasa cinta ini. Selama kamu ingat prosesmu, ingat siapa dirimu sekarang, dan ingat ada hati yang sedang menunggumu dengan setia… kamu tak akan pernah jatuh, kamu tak akan pernah berubah kembali jadi dulu.”

Ia melanjutkan, tangannya menggapai setangkai bunga putih di pinggir sungai.

“Pulanglah dengan kepala tegak, Mas Reno. Pulanglah membawa jiwa yang utuh dan bersih. Tugasmu di sini selesai, tapi tugasmu di dunia baru baru dimulai. Jadilah pelita yang menerangi orang lain, sama seperti kamu pernah diterangi di sini. Dan yang paling penting… jangan khawatir tentang kita. Jarak dan waktu tak berarti apa-apa bagi hati yang sudah menyatu. Aku akan tetap di sini menjaga hati ini, menjaga janji ini, sampai saatnya nanti kamu datang menjemputku dengan cara yang paling mulia dan paling halal.”

Air mata bahagia dan haru menetes di pipi Reno. Ia merasa begitu kuat, begitu berani, dan begitu penuh semangat. Keraguannya hilang seketika diganti keyakinan yang kokoh.

“Terima kasih, Zahra. Terima kasih sudah menjadi segalanya bagiku. Sisa waktu ini akan kuhabiskan untuk bersyukur, untuk berdoa, dan untuk menyiapkan diri sematang mungkin. Sampai nanti hari itu tiba… aku akan pulang membawa semuanya, membawa semua ilmu, semua kasih sayang, dan membawa rindu yang sudah menumpuk setahun penuh untuk kusediakan semua hanya untukmu.”

Sore itu menjadi salah satu momen terindah dalam ingatan mereka berdua. Reno pulang ke kamarnya dengan hati yang penuh, siap menyongsong hari-hari terakhirnya di tempat ini dengan senyum syukur yang tak pernah padam. Ia tahu, perjalanan fisiknya di pesantren ini hampir selesai, tapi perjalanan batin dan kisah cinta mereka baru saja sampai di tengah jalan menuju puncak kebahagiaan sejati di akhir bab nanti.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!