NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Setelah melewati malam yang mencekam antara hidup dan mati, Gia akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan intensif dengan penjagaan yang sangat ketat.

Kamar tersebut terletak di sayap privat rumah sakit, di mana setiap orang yang masuk harus melalui pemeriksaan berlapis oleh tim keamanan internal Pratama Group.

Pratama dengan setia menemani di sisi ranjang istrinya.

Pria itu duduk di sebuah kursi besi, menolak untuk berbaring di bangsal pasien meskipun luka bakarnya sendiri kini sudah diperban total dari pundak hingga pinggang bawahnya.

Rasa perih yang luar biasa di punggungnya sama sekali tidak ia hiraukan; fokusnya hanya tertuju pada jemari kecil Gia yang berada dalam genggamannya, memastikan detak nadi gadis itu tetap berdenyut konstan.

Pintu ruang perawatan diketuk secara perlahan sebelum akhirnya terbuka.

Sosok Tuan Bayu melangkah masuk dengan tergesa-gesa.

Ayah kandung Diandra itu datang ke rumah sakit secara rahasia di tengah malam buta setelah menerima kabar darurat dari Pratama.

Begitu melihat raga baru putrinya terbaring lemah dengan bantuan selang oksigen dan beberapa bagian kulit yang terkena noda jelaga, Tuan Bayu seketika lemas.

Tubuhnya bergetar hebat karena syok yang bercampur dengan kemurkaan yang meledak-ledak.

"Siapa yang berani melakukan kekejian ini lagi, Pratama?!" desis Tuan Bayu dengan suara tertahan, sekuat tenaga menahan raungan amarahnya agar tidak mengejutkan putrinya yang sedang beristirahat.

"Diandra hampir saja tiada di lantai delapan korporasi kita, dan sekarang, bajingan mana lagi yang mencoba menghancurkan raga barunya dengan serangan yang sama?!"

Pratama mendongak, matanya yang merah memancarkan kilat sedingin es.

"Kita akan segera mengetahuinya, Papa. Diko sedang dalam perjalanan membawa hasil investigasi awal dari lapangan."

Tepat setelah kalimat itu terucap, Diko melangkah masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi wajah yang sangat tegang.

Di tangannya, ia membawa sebuah tablet digital dan beberapa berkas laporan investigasi dari puing-puing rumah petak yang terbakar.

"Pak Pratama, Tuan Bayu," sapa Diko sambil membungkuk hormat, lalu langsung menyerahkan laporan tersebut.

"Tim keamanan kita yang bekerja sama dengan tim forensik independen telah selesai menyisir lokasi kebakaran."

Pratama menerima berkas tersebut dengan cepat.

"Apa yang kalian temukan?"

"Ini mutlak merupakan sabotase dan percobaan pembunuhan berencana, Pak," jawab Diko dengan tegas.

"Di area dapur dan ruang tengah yang runtuh, tim keamanan Pratama menemukan sisa-sisa jeriken bensin yang digunakan untuk memicu ledakan api awal. Selain itu, ada jejak langkah kaki dari sepatu bot militer di pintu belakang yang sengaja dihapus menggunakan kain basah sebelum api membesar, namun sensor termal kita sempat merekam distorsi debu di sana."

Tuan Bayu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Apakah ada rekaman visual dari lingkungan sekitar?"

Diko mengangguk, lalu membuka sebuah video di tabletnya.

"Area pemukiman tersebut memang minim kamera pengawas, namun tim IT kita berhasil meretas dan mengambil rekaman CCTV dari sebuah toko kelontong di persimpangan jalan utama, sekitar seratus meter dari rumah petak Gia. Perhatikan ini."

Layar menampilkan rekaman hitam-putih bertanggal beberapa jam lalu.

Sebuah mobil minibus hitam tanpa menyalakan lampu utama tampak melintas dengan kecepatan rendah, lalu terparkir di sudut jalan yang gelap tepat sebelum api mulai berkobar.

Beberapa menit kemudian, dua orang pria bertopeng keluar dari gang rumah petak dan masuk kembali ke dalam mobil tersebut sebelum kendaraan itu melesat pergi.

"Melalui pelacakan plat nomor digital dan pencocokan basis data korporat yang saya lakukan secara mendalam," lanjut Diko, suaranya mendadak merendah namun sarat akan ketegangan, "kami menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Mobil minibus hitam tersebut terdaftar sah atas nama salah satu perusahaan cangkang logistik milik Mita."

Mendengar nama putri tirinya disebut, Tuan Bayu

terkesiap, dadanya naik turun menahan napas.

"Bukan hanya itu, Tuan," tambah Diko lagi. "Data koordinat GPS dari ponsel pintar Ferdian—rekan sekolah Gia—menunjukkan bahwa ia berada di lokasi yang sama dengan mobil cangkang tersebut beberapa jam sebelum aksi pembakaran terjadi. Mereka berdua telah bekerja sama;

Ferdian memberikan informasi detail mengenai denah rumah petak dan kebiasaan Gia di sekolah, sementara Mita menyediakan eksekutor lapangan untuk melenyapkan Gia secara permanen."

Ruang perawatan intensif itu seketika diselimuti oleh aura pembunuhan yang sangat pekat.

Pratama perlahan melepaskan tangan Gia, lalu berdiri tegak.

Luka bakar di punggungnya seolah mati rasa, digantikan oleh hasrat balas dendam yang sudah mencapai puncaknya.

"Mita... Ferdian..." ucap Pratama, mengeja nama-nama itu dengan nada yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun merinding.

"Mereka pikir mereka bisa bermain api denganku. Papa, kali ini saya tidak akan menggunakan jalur hukum biasa untuk menghancurkan mereka."

Tuan Bayu menatap wajah sayu Gia, lalu kembali menatap menantunya dengan tatapan penuh persetujuan.

"Lakukan, Pratama. Ratakan siapa pun yang menyentuh putriku. Jangan sisakan satu pun dari mereka."

Kelopak mata Gia bergerak perlahan. Setelah belasan jam terjebak dalam kegelapan yang menyiksa, sepasang manik mata itu akhirnya terbuka.

Kesadarannya ditarik kembali ke dunia nyata oleh bau antiseptik yang menyengat dan suara ritmis dari monitor jantung di samping ranjangnya.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Pratama yang tampak lelah namun dipenuhi kelegaan luar biasa, serta Tuan Bayu yang langsung berdiri dari kursinya dengan mata berkaca-kaca.

"Diandra... Gia, Nak... kamu sudah sadar?" bisik Tuan Bayu dengan suara serak, langsung menggenggam jemari putrinya.

Meskipun tubuhnya masih sangat lemah dan dada raganya terasa sesak akibat sisa-sisa trauma inhalasi, amarah di dalam diri Diandra sudah mencapai puncaknya.

Memori sebelum ia pingsan—pukulan keras di tengkuknya, bau bensin yang menyengat, dan kalimat keji para suruhan Mita—berputar kembali seperti kaset rusak di kepalanya.

Gia mencoba bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mencengkeram sprei rumah sakit dengan kuat, berusaha melepaskan masker oksigen yang menempel di wajahnya dengan tangan yang gemetar.

"Mita..." suara Gia terdengar sangat parau, nyaris habis di balik masker oksigen.

"Mas... Papa... Mita mencoba membunuhku lagi. Aku tidak bisa tinggal diam. Wanita itu harus membusuk di penjara hari ini juga!"

Melihat istrinya yang langsung tersulut emosi dalam kondisi yang masih kritis, Pratama dengan sigap namun lembut menahan kedua pundak Gia.

Ia menekan perlahan tubuh mungil itu agar kembali bersandar pada tumpukan bantal.

"Tenang, Sayang. Tenang dulu, dengarkan aku," ucap Pratama, suaranya melembut, kontras dengan kilat kemarahan yang tadi ia tunjukkan pada Diko.

Pratama membelai rambut Gia dengan penuh kasih sayang, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa istrinya yang sedang membara.

Ia mengabaikan rasa perih di punggungnya sendiri yang kini menegang akibat menahan gerakan Gia.

"Pratama meminta istrinya untuk tidak gegabah. Sembuhkan lukamu dulu, Sayang. Papa dan aku ada di sini," tutur Pratama dengan nada yang sangat dalam dan menenangkan.

Tuan Bayu ikut mengangguk, mengusap punggung tangan Gia.

"Benar kata suamimu, Diandra. Kamu hampir saja kehilangan nyawamu untuk kedua kalinya. Serahkan urusan Mita dan tikus kecil bernama Ferdian itu kepada Papa dan Pratama. Kami sudah memegang semua bukti perusahaan cangkang dan aliran dananya."

Gia menatap bergantian ke arah dua pria yang paling mencintainya di dunia ini.

Napasnya yang memburu perlahan mulai teratur kembali di balik masker oksigen.

Amarahnya tidak padam, melainkan mengkristal menjadi sebuah rencana yang jauh lebih dingin dan mematikan.

"Mereka sudah bermain dengan api, Mas," bisik Gia, matanya berkilat tajam menatap Pratama.

"Maka pastikan mereka sendiri yang akan terbakar habis oleh api yang mereka nyalakan."

Pratama tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menandakan bahwa badai besar akan segera menghantam hidup Mita dan Ferdian tanpa ampun.

"Tentu saja, Istriku. Sekarang, istirahatlah." ucap Pratama sambil mencium kening istrinya.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!