Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Bayangan di Cakrawala Selatan
Archive Zero
Bab 16 — Bayangan di Cakrawala Selatan
Angin yang berhembus dari arah selatan kini berubah. Tidak lagi segar dan membawa aroma rumput basah, melainkan berbau debu kering, panas, dan samar-samar bau besi serta darah.
Ren, Anya, dan Kai melesat kencang menaiki tiga ekor hewan tunggangan yang diberikan para Pengamat. Makhluk itu bukan kuda biasa; tubuhnya ramping dan kuat, berlari dengan langkah panjang yang hampir melayang di atas tanah, tenaganya ditenagai energi alam yang mengalir deras di dalam urat-uratnya. Dalam waktu singkat, mereka telah menempuh jarak yang butuh berhari-hari jika menggunakan kendaraan lama mereka, kini semakin mendekati dataran luas tempat Elarion berdiri.
Di punggung tunggangannya, Ren menatap lurus ke depan, matanya tajam dan penuh fokus. Pengetahuan yang ia terima dari permata ungu itu kini menyatu sepenuhnya dengan pikiran dan tubuhnya. Ia bisa merasakan aliran energi di sekelilingnya seolah itu adalah napasnya sendiri. Ia bisa merasakan gangguan, ketidakteraturan, dan kekuatan asing yang kini merayap masuk ke wilayah selatan.
"Jarak kita ke Elarion tersisa kurang dari dua puluh kilometer," seru Kai dari samping, suaranya terdengar jelas meski ditelan suara angin kencang. Ia memegang peta baru yang diberi para Pengamat, matanya bergerak cepat menandai setiap bukit dan sungai yang mereka lewati. "Tapi Ren... lihatlah ke arah cakrawala itu."
Kai menunjuk ke depan, ke arah langit di atas dataran luas yang membentang sebelum kota Elarion.
Di sana, di ufuk selatan yang dulu bersih dan cerah, kini terlihat gumpalan awan hitam besar yang perlahan merayap naik. Itu bukan awan hujan. Itu debu. Debu yang terlempar ke langit akibat ribuan langkah kaki, roda gerobak, dan tapak pasukan yang bergerak maju. Di antara gumpalan debu itu, kilatan cahaya merah sesekali menyambar, menandakan penggunaan kekuatan energi yang liar dan kasar.
"Mereka sudah dekat," gumam Ren pelan, rahangnya mengeras. "Pasukan Kerajaan Utara... jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang kubayangkan."
Anya yang berlari di sisi kanan mengangkat tangannya. Udara di sekitarnya langsung mendingin drastis, membentuk pusaran angin dingin yang membersihkan pandangan mereka dari kabut dan debu halus. Matanya yang dulu merah menyala kembali bersinar tajam, namun kini dikendalikan dengan tenang dan terkendali, tidak lagi liar seperti saat pertama kali ia membangkitkan kekuatannya.
"Kekuatan mereka kasar," ucap Anya dingin, merasakan getaran energi musuh yang begitu kuat hingga terasa menyakitkan di kulit. "Mereka memaksa energi itu bekerja, membakarnya mentah-mentah tanpa memahami keseimbangannya. Itu membuat mereka kuat, tapi juga membuat mereka mudah hancur."
Ren mengangguk. Ia mengingat pelajaran yang didapatkannya: Energi adalah aliran, bukan bahan bakar. Menggunakannya dengan paksa hanya akan memberikan kekuatan sesaat sebelum menghancurkan penggunanya sendiri. Tapi bagi musuh yang jumlahnya ribuan, kekuatan sesaat itu sudah cukup untuk meratakan apa saja yang ada di jalannya.
"Kita harus sampai di sana sebelum mereka mendekat ke tembok kota," kata Ren tegas. Ia menepuk leher tunggangannya, memacu larinya semakin kencang hingga bayangan mereka berubah menjadi garis kabur di padang rumput yang luas. "Warga Elarion tidak siap berperang. Mereka baru saja bebas, mereka tidak punya senjata, tidak punya pelatihan. Kalau pasukan itu masuk ke kota... pembantaian tak terelakkan."
Pikiran Ren melayang pada wajah-wajah yang ia kenal: anak-anak yang dulu bermain di gang sempit, pedagang ramah di pasar, orang tua yang duduk menikmati matahari baru. Mereka semua tidak tahu bahaya apa yang sedang bergerak mendekat. Mereka masih berpikir bahwa kebebasan adalah akhir dari segala penderitaan.
"Kai, apa rencanamu?" tanya Ren, matanya tak lepas dari awan debu yang semakin besar di depan.
Kai tersenyum tipis, senyum yang penuh perhitungan dan kecerdikan. Ia mengeluarkan selembar kertas besar berisi skema pertahanan yang ia buat terburu-buru saat di kota Pengamat, namun matanya berbinar penuh percaya diri.
"Energi liar mereka kuat, tapi tidak teratur. Ingat bagaimana kau dulu mengacaukan sistem Archive dengan mengganggu aliran energinya? Prinsipnya sama, tapi skalanya jauh lebih besar. Aku sudah memetakan titik-titik aliran energi alam di sekitar Elarion. Ada sungai energi yang mengalir tepat di depan kota, dan ada bukit batu yang memusatkan tenaga."
Kai menunjuk ke arah bukit panjang yang menjulang rendah melintang di dataran itu, tepat di jalur masuk utama ke Elarion.
"Kita akan berhenti di sana. Di Bukit Penjaga itu. Itu posisi paling strategis. Dari sana, kita bisa mengendalikan aliran energi di seluruh wilayah ini. Aku akan mengatur jaringan gangguan. Anya akan membentuk pertahanan. Dan kau, Ren... kau akan menjadi intinya. Kau akan mengarahkan seluruh tenaga alam untuk menghadang mereka."
Ren mengangguk mantap. Rencana itu berisiko tinggi, karena itu berarti mereka bertiga sendirian akan menahan laju ribuan pasukan asing yang memiliki kekuatan magis. Tapi tidak ada pilihan lain. Tidak ada waktu untuk meminta bantuan lebih jauh, dan tidak ada tempat mundur.
Mereka adalah garis pertahanan pertama, dan mungkin satu-satunya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di puncak Bukit Penjaga. Di bawah sana, terhampar jelas dataran luas yang memisahkan bukit ini dengan gerbang utama Elarion yang kini terbuka lebar dan kosong. Dan di kejauhan, sekitar lima kilometer dari posisi mereka, pasukan Kerajaan Utara itu akhirnya terlihat jelas wujudnya.
Jantung Ren berdebar kencang karena kaget sekaligus ngeri.
Pasukan itu bergerak seperti lautan besi dan api. Ribuan prajurit berpakaian zirah gelap berukir pola api dan mata merah, berjalan beriringan dengan langkah seragam yang membuat tanah bergetar. Di barisan depan, ada makhluk-makhluk raksasa berkaki empat, kulitnya tebal dan keras, menarik gerobak-gerobak besar berisi senjata pengepungan. Dan di tengah barisan, melayang di atas panggung bergerak, ada sosok-sosok berjubah merah tua, memancarkan aura kekuatan yang begitu kuat hingga udara di sekitar mereka bergetar dan berasap.
"Lihat itu..." bisik Kai dengan suara tertahan, matanya meneliti sosok-sosok berjubah merah itu melalui alat pembesar yang ia pasang di matanya. "Para Penyihir Api. Pemimpin pasukan ini. Mereka yang mengatur aliran energi liar itu. Kalau kita bisa melumpuhkan mereka... seluruh pasukan akan kacau."
Anya sudah berdiri di ujung bukit, kedua tangannya terangkat ke langit. Uap dingin mulai keluar dari tubuhnya, turun ke bawah, membekukan udara di sepanjang lereng bukit. Rumput-rumput di bawah langsung tertutup lapisan putih, dan sungai kecil yang membelah dataran itu perlahan berubah menjadi jalan es yang licin dan keras.
"Pertahanan mulai dibentuk," kata Anya tenang, napasnya teratur. "Aku bisa membuat tembok es setinggi sepuluh meter membentang di seluruh lebar dataran ini. Tapi itu hanya akan menahan mereka sebentar. Mereka punya kekuatan api yang besar."
"Kau buat saja sekuat mungkin," jawab Ren tegas. Ia berdiri di tengah puncak bukit, menancapkan kedua kakinya kuat-kuat ke tanah. Ia menutup matanya, mengosongkan pikirannya, dan mulai menarik napas dalam-dalam.
Seketika itu juga, angin di sekitar bukit itu berubah arah.
Dari segala penjuru, dari tanah, dari udara, dari air sungai, dari sinar matahari... energi berwarna ungu murni mulai mengalir masuk, berputar mengelilingi tubuh Ren. Ia tidak memaksanya, ia hanya menjadi saluran. Ia menjadi wadah bagi kekuatan alam itu, menyatukannya, dan menstabilkannya.
Cahaya ungu itu semakin terang, semakin besar, membentuk kubah energi raksasa yang menjulang tinggi di atas bukit, terlihat jelas oleh pasukan musuh yang masih jauh.
Di barisan musuh, gerakan mereka terhenti sejenak.
Seorang sosok berjubah merah di tengah panggung bergerak maju, menatap ke arah cahaya ungu di bukit itu. Wajahnya tertutup tudung, tapi suaranya terdengar mengerikan dan parau, bergema memenuhi dataran luas.
"Itu dia... Sisa-sisa kekuatan Aran. Itu dia si Pewaris yang dicerita dalam legenda. Ternyata benar... dia hidup, dan dia berani menghadang kami sendirian."
Sosok itu mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, bola api berwarna merah tua berputar ganas, memancarkan panas yang bisa dirasakan bahkan dari jarak jauh.
"Pengecut-pengecut Elarion! Kalian bersembunyi seribu tahun, dan sekarang berani menampakkan diri? Kalian pikir sedikit cahaya akan menghentikan kembalinya kekuasaan sejati? Hancurkan mereka! Ratakan kota itu! Dan ambil kembali apa yang menjadi hak kami sejak dulu!"
Teriakkan itu menjadi tanda. Ribuan prajurit bersorak mengerikan, dan barisan depan mulai bergerak maju kembali, berlari kencang menuruni dataran, menuju bukit tempat Ren, Kai, dan Anya berdiri. Di udara, puluhan bola api besar dilontarkan, melesat cepat meninggalkan jejak merah menyala di langit, mengarah tepat ke posisi pertahanan mereka.
"Mereka menyerang!" teriak Kai. Jari-jarinya bergerak secepat kilat di perangkat yang ia pasang di atas batu besar di tengah bukit. "Jaringan gangguan aktif! Aku akan memecah fokus energi mereka!"
Saat bola-bola api itu hampir menghantam puncak bukit, Kai menekan tombol terakhir.
ZUUUUUM!!
Gelombang suara dan cahaya halus menyebar keluar dari perangkat buatan Kai. Tidak ada ledakan, tapi efeknya langsung terasa. Bola-bola api itu yang tadinya melesat lurus dan kuat, tiba-tiba bergetar, arahnya kacau, dan sebagian meledak di tengah udara sebelum sampai ke sasaran, sementara yang lain jatuh sembarangan ke tanah, meledak di tempat yang kosong.
"Bagus sekali!" seru Ren. Ia membuka matanya, cahaya ungu di tubuhnya meledak keluar menjadi gelombang energi yang berbentuk seperti ribuan akar atau sulur cahaya, menjalar turun ke seluruh lereng bukit dan menembus ke dalam tanah. "Anya! Sekarang!"
Anya menurunkan tangannya dengan keras.
"TERBEKULAH!"
Bersamaan dengan teriakannya, lapisan es yang sedang ia bentuk di bawah sana meluas drastis. Dari sungai yang membeku, es merambat naik ke tanah, menutupi seluruh dataran itu secepat kilat, dan di ujungnya, tepat di depan pasukan musuh yang berlari, dinding es raksasa menjulang tinggi dalam sekejap, menghalangi jalan mereka sepenuhnya.
DUAR!!
Ribuan prajurit yang berlari kencang tidak sempat berhenti, menabrak dinding es itu, membuat suara benturan keras beruntun. Beberapa yang berada di barisan depan terlempar jatuh ke belakang, sementara yang lain terpeleset di tanah yang kini licin seperti kaca.
Namun, para Penyihir Api di belakang tidak diam. Mereka mengangkat tangan bersama-sama, dan panas yang luar biasa menyebar dari tengah pasukan. Dinding es itu mulai mendesis, asap putih mengepul tebal, dan lapisan luarnya mulai meleleh dengan cepat.
"Esnya meleleh terlalu cepat!" seru Anya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Panas mereka terlalu kuat! Aku tidak bisa menahannya lama!"
"Kau tidak perlu menahannya selamanya," jawab Ren tegas. Ia melompat naik ke atas batu tertinggi di puncak bukit, menjadi titik tertinggi dari kubah energi ungu itu. Ia mengangkat kedua tangannya ke langit, dan seluruh energi yang ia kumpulkan dari alam itu berkumpul menjadi satu titik besar di atas kepalanya.
"Aku tidak akan menahan mereka, Anya. Aku akan membalas serangan mereka."
Ren menunjuk ke bawah, tepat ke arah tengah pasukan musuh tempat para Penyihir Api itu berada.
"Kai! Jaga agar aliran energiku lancar! Jangan sampai mereka bisa memecah konsentrasiku!"
"Sia-sia kau bilang!" balas Kai lantang, terus mengetik secepat kilat, matanya menatap layar yang berkedip-kedip cepat. "Aku sudah menyiapkan perangkap energi di tanah! Begitu kau serang, aku akan memantulkan kembali setiap kekuatan yang mereka coba gunakan untuk menangkis!"
Ren menarik napas terakhir, mengumpulkan seluruh tekadnya, ingatannya, dan harapan semua orang yang ia cintai ke dalam satu serangan itu. Cahaya ungu di atas kepalanya berubah menjadi tombak raksasa yang bergetar hebat, berdenyut dengan kekuatan alam yang murni dan tak terbatas.
"Untuk Elarion! Untuk kebebasan!"
Dengan satu gerakan tangan Ren, tombak cahaya itu melesat ke bawah. Tidak bergerak cepat seperti kilat, tapi bergerak dengan kekuatan yang tak terhentikan, membelah udara, melewati dinding es yang hampir meleleh, dan menghantam tepat di tengah lautan pasukan musuh.
DUAARRR!!
Ledakan itu tidak menimbulkan api atau panas. Melainkan gelombang kejut energi yang begitu kuat hingga mendorong segala sesuatu di sekitarnya menjauh. Tanah bergetar hebat, retakan besar membelah dataran itu, dan ribuan prajurit terlempar ke segala arah seolah ditabrak ombak raksasa. Para Penyihir Api yang menjadi inti kekuatan mereka berteriak kaget saat ikatan energi yang mereka pegang hancur seketika, membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling dari panggung mereka.
Debu dan tanah beterbangan menutupi pandangan. Teriakan kesakitan dan kebingungan terdengar di mana-mana. Pasukan Kerajaan Utara yang tadinya bergerak seragam dan mengerikan, kini berantakan, mundur ke belakang karena takut menghadapi kekuatan yang tidak mereka sangka-sangka.
Di atas bukit, Ren berlutut, napasnya tersengal berat, tubuhnya lemas namun matanya masih tajam. Ia menghabiskan banyak tenaga, tapi serangan itu berhasil. Ia berhasil membuat mereka mundur.
Namun, di tengah debu yang perlahan mereda, satu sosok masih berdiri tegak.
Seorang pria tinggi besar, jubah meranya lebih gelap dari yang lain, zirah emas berkilauan di baliknya. Ia tidak terlempar. Ia menangkis serangan Ren sendirian dengan satu tangan, meski tanah di kakinya retak dan cekung ke dalam.
Perlahan, sosok itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke atas bukit ke arah Ren. Matanya berapi-api, penuh amarah dan rasa sombong yang tak tergoyahkan.
"Kekuatan yang menarik..." suaranya berat dan bergema, terdengar jelas meski dari jarak jauh. "Kau memang pewaris yang sejati, anak muda. Tapi kau masih terlalu lemah. Kau hanya meminjam kekuatan alam, sementara aku... aku adalah penguasa api itu sendiri."
Ia mengangkat pedang panjang yang berkilau merah menyala, dan api raksasa meletus dari tubuhnya, membakar sisa-sisa debu di sekitarnya, membentuk siluet raksasa berwujud naga di belakangnya.
"Aku adalah Jenderal Agung Ignis. Dan perang ini... baru saja dimulai. Tahanlah kalau kau mampu, Pewaris Aran. Karena aku akan merobek pertahananmu satu per satu, lalu aku akan membakar kotamu itu sampai menjadi abu."
Ren bangkit berdiri perlahan, menopang tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada. Di sampingnya, Anya dan Kai berdiri kembali, napas mereka sama beratnya, namun tekad mereka sama kuatnya.
Ren menatap musuh terkuat itu, menatap naga api di belakangnya, dan menatap jalan panjang
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"