Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9- Undangan yang mengubah segalanya
Undangan yang Mengubah Segalanya
Pagi itu udara di kantor pusat Aditama Group terasa lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berlalu-lalang membawa berkas, beberapa sibuk dengan panggilan rapat mendadak, sementara suara ketikan keyboard terdengar nyaris tanpa jeda.
Di tengah semua kesibukan itu, Mona duduk di meja sekretaris dengan wajah serius menatap layar laptopnya. Jemarinya bergerak cepat membalas email demi email yang masuk sejak subuh.
Sudah hampir dua minggu ia menjadi sekretaris pribadi Wira Aditama dan selama dua minggu itu pula hidupnya berubah total.
“Bu Mona, Pak Wira minta jadwal meeting sore dipindah ke jam tujuh malam,” ujar salah satu staf.
Mona menghela napas pelan.
“Jam tujuh?” ulangnya tidak percaya.
“Iya. Katanya beliau ada agenda mendadak.”
“Tentu saja mendadak,” gumam Mona pelan.
Sejak bekerja bersama pria itu, kata “mendadak” sudah seperti makanan sehari-hari baginya.
Namun anehnya, Mona mulai terbiasa. Bahkan sedikit menikmati tantangannya. Pintu ruangan CEO terbuka tiba-tiba, Wira keluar dengan jas hitam yang tergantung rapi di tubuh tingginya. Tatapannya tajam seperti biasa, membuat beberapa karyawan langsung menunduk gugup.
“Jadwal saya sudah diperbaiki?” tanyanya singkat.
“Sudah, Pak.”
“File kerja sama dengan perusahaan Jepang?”
“Sudah saya kirim ke email Bapak lima menit lalu.”
Wira berhenti melangkah, ia menatap Mona beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kamu cepat belajar.”
Mona sedikit terkejut mendengar pujian itu, karena selama ini, Wira lebih sering mengkritik daripada memuji.
“Terima kasih, Pak.”
Wira mengangguk kecil sebelum kembali masuk ke ruangannya, namun tanpa Mona sadari, beberapa karyawan wanita mulai berbisik pelan sambil melirik ke arahnya.
“Aku baru pertama lihat Pak Wira muji orang.”
“Iya, biasanya malah dimarahin.”
“Jangan-jangan…”
Mona pura-pura tidak mendengar, ia tidak mau memikirkan hal aneh-aneh. Karena baginya, Wira tetaplah atasannya. Pria dingin yang sulit ditebak dan sangat berbahaya untuk disukai.
***
Menjelang sore, Mona sibuk merapikan beberapa dokumen ketika Wira tiba-tiba memanggilnya.
“Masuk.”
Mona berdiri lalu membawa tablet kerjanya masuk ke ruangan CEO.
“Ada revisi jadwal lagi, Pak?”
“Tidak.” Jawaban singkat itu membuat Mona bingung.
Wira membuka laci meja lalu mengeluarkan sebuah amplop hitam elegan.
“Besok malam ikut saya.”
Mona mengernyit.
“Ke mana?” tanya Mona.
“Acara makan malam bisnis.”
“Sebagai sekretaris?” Wira menatapnya datar.
“Kalau bukan sebagai sekretaris, memangnya kamu berharap jadi apa?” Mona langsung salah tingkah.
“Bukan begitu maksud saya…”
“Jam tujuh malam. Jangan terlambat.”
Wira kembali fokus pada laptopnya, seolah pembicaraan mereka selesai, namun Mona masih berdiri di tempat.
“Pak…”
“Apa lagi?”
“Saya tidak punya baju untuk acara seperti itu.”
Kini Wira benar-benar mengangkat wajahnya, tatapan matanya turun sebentar memperhatikan penampilan Mona yang sederhana. Kemeja putih, rok hitam, sepatu flat biasa, sederhana tapi bersih dan rapi.
“Besok sore ikut saya dulu sebelum acara.”
“Untuk apa?”
“Beli baju.”
Mata Mona langsung membesar.
“Hah?!”
“Itu bagian pekerjaan.”
“Tapi saya bisa pakai baju yang ada—”
“Saya tidak suka penampilan sekretaris saya terlihat murahan di depan klien." Kalimat itu menusuk sedikit ke hati Mona.
Murahan, namun sebelum ia sempat membalas, Wira kembali bicara.
“Dan perusahaan yang bayar.”
Mona terdiam, entah kenapa nada suara Wira terdengar lebih halus di akhir kalimatnya. Seolah pria itu sadar kata-katanya tadi terlalu tajam.
“Baik, Pak,” jawab Mona akhirnya.
Malam harinya, Mona pulang dengan pikiran penuh. Ia bahkan tidak fokus saat makan bersama ibunya.
“Kamu kenapa?” tanya sang ibu.
“Capek kerja.”
“Bos kamu galak lagi?”
Mona tertawa kecil.
“Masih seperti biasa.”
Namun jauh di dalam hatinya, Mona mulai menyadari sesuatu. Wira memang dingin, keras, perfeksionis, tapi pria itu juga diam-diam memperhatikan hal-hal kecil dan perhatian kecil itu… berbahaya, Karena perlahan membuat jantung Mona tidak lagi biasa.
*******
Keesokan sore, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan kantor. Wira duduk di kursi belakang sambil membaca dokumen. Ketika Mona masuk ke mobil, pria itu melirik sekilas.
“Kenapa wajahmu tegang?” tanya Wira.
“Saya belum pernah ikut acara perusahaan besar.”
“Biasakan.” Jawaban singkat, khas Wira.
Mobil berhenti di sebuah butik mewah di pusat kota, Mona langsung menelan ludah saat melihat harga pakaian yang dipajang.
“Pak… ini mahal sekali.”
“Pilih saja.”
“Tapi—”
“Saya tidak suka mengulang perintah.”
Mona mendesah pelan, akhirnya seorang pegawai butik membawa beberapa gaun untuk dicoba.
Lima belas menit kemudian, pintu ruang ganti terbuka perlahan dan untuk pertama kalinya Wira kehilangan fokusnya.
Mona keluar mengenakan dress hitam sederhana dengan potongan elegan yang pas di tubuhnya, rambut panjangnya dibiarkan tergerai lembut.
Tanpa banyak aksesori, tanpa riasan berlebihan, namun justru itu yang membuatnya terlihat sangat cantik. Wira terdiam beberapa detik, Mona mulai gugup.
“Jelek ya?” tanya Mona dengan gugup.
“Tidak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat, bahkan Wira sendiri sedikit terkejut. Mona menatapnya bingung, sementara pegawai butik tersenyum kagum.
“Pacar Bapak cantik sekali.”
Suasana langsung hening, Mona hampir tersedak udara.
“Bukan!” jawab mereka bersamaan.
Pegawai itu langsung panik meminta maaf, namun entah kenapa, setelah kalimat itu keluar… Suasana di antara Mona dan Wira berubah canggung.
Sepanjang perjalanan menuju acara makan malam, keduanya lebih banyak diam dan Mona bisa merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan Wira malam itu berbeda, lebih lama, lebih dalam. Seolah pria itu baru benar-benar melihatnya untuk pertama kali.
***
Hotel tempat acara berlangsung dipenuhi para pengusaha besar. Lampu kristal berkilauan memenuhi ballroom mewah itu. Mona berusaha tetap tenang sambil mengikuti langkah Wira, namun baru beberapa menit masuk… Seorang wanita cantik menghampiri mereka.
“Ternyata benar kamu datang.”
Wanita itu tersenyum tipis pada Wira. Cantik, elegan dan terlihat sangat dekat dengannya. Wira mengangguk singkat.
“Sandra.”
Mona langsung merasa asing, namun yang lebih mengejutkan… Wanita itu menatap Mona dari atas sampai bawah sebelum tersenyum kecil.
“Sekretaris baru?” tanya Sandra
“Ya,” jawab Wira.
Sandra tertawa pelan.
“Kamu selalu cepat bosan ganti sekretaris.”
Kalimat itu terdengar biasa, tapi entah kenapa membuat Mona tidak nyaman. Lalu Sandra melangkah mendekat pada Wira.
“Tapi kali ini seleramu lumayan juga.”
Mona membeku, sementara mata Wira langsung berubah dingin.
“Sandra.”
Nada peringatannya jelas terdengar, namun wanita itu hanya tersenyum santai sebelum pergi. Mona menatap punggung wanita itu perlahan. Lalu tanpa sadar bertanya pelan…
“Dia siapa?”
Wira terdiam sesaat.
“Tunangan lama saya.”
Dan dalam satu detik… entah kenapa dada Mona terasa sesak.