NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

“Amira!” Mirza dan Nurul spontan berseru bersamaan. Wajah mereka langsung pucat.

Namun Amira justru tertawa kecil. Tawa pahit yang membuat suasana terasa lebih menyeramkan. “Kenapa?” tanyanya lirih. “Takut?”

“Mira, jangan emosional dulu,”

“Emosional?” Amira langsung menatap Mirza tajam. “Kamu yang ngajarin aku soal ini, Mas.”

Mirza membeku.

Amira maju satu langkah. Air matanya jatuh lagi, tetapi suaranya semakin jelas. “Masih ingat pengajian terakhir yang kamu isi?”

Mirza menelan ludah.

Dan Amira mengulang kata-kata yang pernah keluar dari mulut suaminya sendiri. “Kalau ada suami atau istri yang mengkhianati pernikahan…” suaranya pecah menahan sakit, “apalagi sampai berzina maka pihak yang disakiti berhak berpisah.”

Ruangan hening.

Amira tersenyum sinis penuh luka. “Dan katanya lagi…” ia menatap Mirza lurus-lurus, “untuk memberi efek jera, pelaku boleh dilaporkan ke polisi.”

Wajah Mirza langsung berubah hancur. Karena semua itu memang pernah ia katakan sendiri di depan jamaah. Sebagai ustaz yang mengajari orang tentang menjaga kehormatan rumah tangga. Ironisnya sekarang ucapan itu berbalik menghantam dirinya sendiri.

“Mira…” suara Mirza mulai panik sungguhan. “Kita bisa selesaikan baik-baik.”

“Baik-baik?” Amira tertawa lagi sambil menangis. “Kalian tidur bersama sampai punya anak!”

Nurul mulai menangis semakin keras. “Amira, tolong…”

Namun Amira tidak lagi memandang mereka dengan lembut seperti dulu. “Bersiaplah.” napasnya gemetar berat. “Menjalani hari-hari kalian di penjara.”

Kalimat itu membuat Nurul langsung terduduk lemas. Sementara Mirza tampak benar-benar kehilangan pijakan untuk pertama kalinya hari itu.

“Dan satu lagi.” Suara ibu Mirza kembali terdengar. Pelan. Tetapi penuh ketegasan yang membuat semua orang menoleh padanya. Perempuan tua itu berdiri di samping Amira sambil menggenggam tangan menantunya erat-erat. Tatapannya lurus ke arah Mirza dan Nurul. “Kalian dengar baik-baik.” Air mata masih membasahi pipinya, tetapi kini tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. “Kalau Amira benar-benar melaporkan kalian…” beliau menarik napas panjang, “Aku orang pertama yang akan mendukung.”

“Bu!” Mirza langsung membelalak tidak percaya.

Namun ibunya justru menatapnya dengan kecewa yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan. “Kenapa kaget?” tanyanya lirih. “Kamu pikir setelah semua yang kamu lakukan, aku masih akan membelamu?”

Mirza langsung terdiam.

“Dari kecil aku ngajarin kamu agama.” suara beliau mulai bergetar lagi. “Aku kerja banting tulang supaya kamu jadi orang baik.” Tangannya menunjuk Mirza dengan gemetar. “Tapi sekarang kamu malah menghancurkan hidup perempuan yang paling tulus sama kamu. Aku sudah susah di dunia ini, aku juga tak mau susah di akhirat nanti karena ulahku."

Tangis Amira kembali pecah mendengar itu.

Sementara Nurul hanya bisa menutup wajahnya sambil sesenggukan.

Ibu Mirza melanjutkan dengan nada dingin, “Kalian sudah dewasa.”

“Kalian tahu zina itu dosa besar.”

“Kalian tahu selingkuh itu menghancurkan rumah tangga.”

“Tapi kalian tetap melakukannya.” Beliau menggeleng pelan penuh kecewa. “Jadi sekarang…” tatapannya tajam menusuk keduanya, “…bersiaplah menerima akibatnya."

"Mirza, kau bawa perempuan ini keluar dari rumahku. Lagipula ini tidak sepenuhnya rumahku, uang warisan Amira yang dipakai untuk melunasinya. Jadi ibu rumahku dan menantuku!"

"Tapi Bu, aku harus kemana?" Mirza memelas.

"Kau bisa menumpang hidup di rumahnya." cetus Ibunya Mirza.

"Nggak mau. Mas Mirza nggak bisa tinggal di rumahku. Ibuku nggak akan setuju. Ia bisa murka padaku." jawab Nurul.

"Terserah, itu urusan kalian berdua. Aku dan Amira tak mau dibuat pusing dengan kehidupan kalian selanjutnya. Yang jelas persiapkan diri kalian untuk panggilan polisi!" kata Ibu.

Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak semua terbongkar Mirza benar-benar terlihat takut.

Mungkin karena benar-benar sudah kehilangan arah atau akhirnya sadar semua yang dimilikinya hampir hancur, tiba-tiba Mirza bangkit dari kursinya lalu jatuh berlutut di depan Amira. “Mas…”

Nurul dan ibu Mirza sampai kaget.

Namun lelaki itu sudah lebih dulu memegang ujung gamis Amira dengan tangan gemetar. Lalu, bruk. Ia bersujud di kaki istrinya sendiri. Tangisnya langsung pecah keras. Benar-benar meraung seperti orang yang baru sadar hidupnya runtuh seketika. “Amira…” Suaranya hancur.

Amira langsung mundur refleks, tetapi Mirza memegang ujung pakaiannya erat sambil menangis.

“Amira istriku yang salihah…” isaknya tersengal-sengal. “Aku mohon… maafkan aku…” Ruangan langsung dipenuhi suara tangis lelaki itu.

Bahkan Nurul sampai membeku melihatnya.

Sementara Amira hanya berdiri kaku dengan napas gemetar.

“Aku benar-benar bersalah…” lanjut Mirza sambil menangis di kaki Amira. “Aku khilaf…” Bahunya bergetar hebat. “Aku terlalu lemah…” suaranya nyaris hilang. “Sampai jatuh ke dosa sebesar ini…”

Amira memejamkan mata kuat-kuat. Namun setiap kalimat Mirza justru membuat dadanya makin sakit.

“Tolong jangan tinggalkan aku…” Tangisan lelaki itu semakin menjadi. “Entah bagaimana hidupku tanpa kamu…”

Kalimat itu membuat air mata Amira jatuh lagi. Karena ironis sekali. Lelaki yang selama ini mengkhianatinya sekarang justru takut kehilangan dirinya.

“Aku janji akan tanggung jawab…” Mirza mengangkat wajahnya yang penuh air mata. “Aku akan perbaiki semuanya…” Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh kaki Amira lagi. “Beri aku kesempatan…” Suara Mirza pecah total. “Agar aku bisa bertaubat.” Ruangan hening. Hanya suara tangis Mirza yang terdengar memalukan dan menyayat sekaligus.

Ibu Mirza sampai menutup wajahnya sambil ikut menangis.

Sementara Amira tetap berdiri diam. Tubuhnya gemetar. Hatinya hancur. Sudah tak ada cinta atau keinginan bersama lagi dalam hatinya. Pengkhianatan yang dilakukan suaminya sudah sangat keterlaluan.

“Amira… tolong…” Mirza masih bersujud di lantai sambil menangis. Tangannya mencengkeram ujung gamis istrinya erat seolah takut ditinggalkan saat itu juga. “Aku salah…” isaknya tersengal. “Aku benar-benar salah…”

Amira menunduk memandang lelaki itu dengan dada yang terasa remuk. Ia belum pernah melihat Mirza sehancur ini sebelumnya. Namun luka di hatinya terlalu besar untuk langsung luluh begitu saja.

“Aku mohon…” suara Mirza makin serak, “jangan hancurkan rumah tangga kita…”

Ibu Mirza yang sejak tadi diam akhirnya bersuara lagi dengan napas berat. “Terus bagaimana kamu mau mempertanggungjawabkan semuanya?”

Mirza perlahan mengangkat wajahnya. Matanya merah dan sembab. “Aku akan bertanggung jawab.”

“Caranya?”

Ruangan kembali tegang. Mirza menelan ludah sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau Amira mengizinkan…”

Amira langsung mematung.

Dan kalimat berikutnya membuat suasana kembali dingin. “Aku akan menikahi Nurul.”

Nurul langsung menangis semakin keras.

Sementara Amira justru tertawa kecil tidak percaya.

Tawa pahit yang membuat mata ibu Mirza langsung membelalak marah lagi. “Kamu masih bicara poligami?!” bentaknya.

“Tapi Nurul hamil anakku!” Mirza ikut meninggi karena panik. “Aku harus tanggung jawab!”

“Dan Amira?” suara ibunya bergetar marah. “Perasaan Amira kamu taruh di mana?!”

Mirza langsung menoleh pada istrinya dengan wajah penuh permohonan. “Aku enggak akan ninggalin kamu, Mira…”

Amira memalingkan wajah. Muak mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!