Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Pria Tua Mengesalkan
“Hei!” protes pria tua itu cepat.
Edwin hanya menggeleng pelan seolah sudah terbiasa.
Rosline diam-diam memperhatikan keduanya. Hubungan mereka terlihat aneh, tetapi hangat. Meski sering membantah, Edwin tetap sabar menghadapi pria tua itu.
Pria tua itu bernama Alberto Alexander. Ia adalah pemilik perusahaan terbesar di pusat kota. Semua orang segan padanya. Perusahaan itu bergerak di bisnis ilegal. Tapi sekarang semua itu dipegang oleh kedua cucunya. Yang bernama Edwin dan Bara.
Rosline tanpa sadar kembali melirik Edwin. Pria itu duduk tenang sambil membaca sesuatu di ponselnya. Wajah dinginnya sulit ditebak. Tidak heran rumah ini begitu besar. Dan tidak heran aura Edwin terasa berbeda dibanding orang biasa.
Sementara itu, Kakek Alberto tiba-tiba memukul meja pelan. “Aku ingin masuk kamar.”
“Apa Tuan ingin saya bantu?” tanya Rosline cepat sambil berdiri.
Namun pria tua itu langsung mengerutkan wajah. “Tidak perlu.”
Rosline terdiam kikuk. “Tapi... ”
“Aku bisa sendiri!”
Meski berkata begitu, Kakek Alberto tetap kesulitan menggerakkan kursi rodanya sendiri. Rosline refleks ingin membantu lagi. Namun Edwin langsung mengangkat tangan kecil memberi kode agar Rosline diam saja.
Beberapa detik kemudian...
BRAKK!
Kursi roda Kakek Alberto menabrak sudut meja kecil.
“Awas, Tuan!” seru Rosline panik.
Namun pria tua itu malah mendengus kesal. “Mejanya yang menghalangi!”
Rosline langsung menahan senyum kecil. Sifatnya benar-benar seperti anak kecil. Akhirnya Edwin berdiri pelan lalu mendorong kursi roda Kakek Alberto menuju kamarnya.
Sebelum pergi, pria tua itu masih sempat menunjuk Rosline. “Kamu jangan pergi.”
Rosline hanya bisa mengangguk bingung. Tak lama kemudian suasana rumah kembali sepi. Rosline langsung berdiri canggung sambil menggenggam tas kecilnya.
“Kalau begitu… saya permisi dulu, Bi.”
Bibi Rena menoleh. “Mau pulang?”
“Iya. Saya masih harus kembali ke toko.”
Beberapa saat kemudian Edwin kembali dari Kakek Alberto. Tatapannya langsung tertuju pada Rosline.
“Kamu mau ke mana?”
Rosline menunduk sopan. “Saya harus kembali bekerja, Tuan. Saya bekerja di minimarket itu untuk menghidupi kedua orang tua dan adik saya.”
Edwin terdiam sesaat.
Rosline melanjutkan pelan. “Ayah saya sakit ginjal, jadi harus rutin cuci darah. Adik saya juga masih kuliah…”
Entah kenapa Rosline jadi merasa malu sendiri menceritakan hidupnya pada orang yang baru saja ia kenal itu.
Namun Edwin hanya memperhatikannya tanpa ekspresi. “Gajimu berapa?”
Rosline sedikit bingung kenapa Edwin terus menanyakan soal uang. “Sekitar lima juta…”
“Tidak cukup.”
Rosline terdiam, karena memang benar... tidak akan pernah cukup.
Edwin lalu berjalan mendekat beberapa langkah. “Aku akan bayar lima belas juta per bulan.”
Mata Rosline langsung membesar. “Ha-hah?!”
“Kerjamu hanya menjaga Opa.”
Rosline sampai kehilangan kata-kata. Lima belas juta? Jumlah itu bahkan belum pernah ia pegang seumur hidupnya.
“Itu terlalu banyak, Tuan…”
“Bagiku tidak.”
“Tapi saya tidak punya pengalaman jadi perawat.”
“Kamu cukup sabar.”
Rosline membeku. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa aneh.
Edwin kembali berbicara dengan nada tenang. “Opa tidak pernah mau makan bersama orang asing.”
Rosline perlahan menatap pria itu. “Tapi tadi dia mau.”
Keheningan sesaat memenuhi ruangan besar itu. Lalu Edwin mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya dan menyerahkannya pada Rosline.
“Besok datang lagi.”
Rosline menatap kartu itu gugup. “Kalau saya menolak?”
Tatapan Edwin tetap tenang. “Kamu butuh uang.”
Jawaban itu membuat Rosline tidak bisa membantah apa pun lagi. Rosline menggenggam kartu hitam itu pelan. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Lima belas juta per bulan. Jumlah sebesar itu bisa mengubah hidup keluarganya.
Namun ia juga tidak bisa langsung meninggalkan pekerjaannya di minimarket begitu saja. Rosline akhirnya memberanikan diri membuka suara.
“Bagaimana kalau saya kerja separuh waktu di sini saja, Tuan?”
Edwin menatapnya tenang.
“Saya masih harus menyelesaikan kontrak kerja saya di minimarket. Kalau keluar sekarang… nanti saya kena penalti.”
“Memang berapa lama sisa kontrakmu?”
“Masih tiga bulan lagi, Tuan.”
Edwin terdiam beberapa detik seperti sedang berpikir.
Sementara Rosline mulai gugup sendiri menunggu jawaban pria itu.
"Baiklah.”
Rosline perlahan mengangkat wajahnya.
“Saya juga akan lihat cara kerjamu selama sebulan ke depan.”
“Eh?”
“Kalau Opa cocok denganmu…”
Edwin melangkah mendekat sedikit. “Aku mau kamu lepaskan pekerjaanmu di minimarket.”
Rosline langsung membeku.
“Dan aku yang akan bayar penalti kontrakmu.”
Mata Rosline melebar perlahan.
“Bagaimana?”
Rosline benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini terasa terlalu tiba-tiba. Kemarin ia masih sibuk menghitung sisa uang di rekeningnya.
Sekarang ada seseorang yang menawarkan gaji besar dan bahkan ingin membayar penalti kerjanya. Namun di sisi lain, Rosline memang membutuhkan uang itu.
Rosline menunduk pelan sambil menggenggam ujung tasnya erat. Beberapa detik kemudian…
Ia akhirnya mengangguk kecil. “Baik, Tuan…”
Entah kenapa, setelah mendengar jawaban itu, tatapan Edwin sedikit berubah lebih tenang.
“Besok datang jam tujuh pagi.”
“I-iya.”
“Kamu akan mulai belajar jadwal obat Opa.”
Rosline langsung panik lagi. “Obat?”
“Ada masalah?”
“Ti-tidak…”
Padahal dalam hati Rosline sudah ingin menangis. Ia bahkan sering lupa minum vitamin sendiri. Bagaimana sekarang harus mengurus obat orang lain?
Edwin seperti bisa membaca kepanikan di wajah Rosline. “Bibi Rena akan membantu.”
Rosline menghela napas lega. “Baik, Tuan…”
“Tapi Opa tidak suka orang lambat.”
Belum sempat Rosline tenang, kalimat itu langsung membuatnya tegang lagi.
Bibi Rena sampai terkekeh kecil melihat ekspresi Rosline yang berubah-ubah sejak tadi. Lucu sekali gadis ini, pikirnya dalam hati. Sudah lama rumah itu terasa dingin dan sunyi.
Namun sejak Rosline datang, suasananya perlahan berubah lebih hidup. Tak lama kemudian Rosline berpamitan pulang. Edwin mengantar gadis itu sampai halaman depan rumah.
Saat melihat motor tua Rosline, tatapan Edwin sempat berhenti beberapa detik. Motor itu terlihat sangat kontras dengan mobil-mobil mewah di garasi rumah mereka.
“Kamu pulang pakai itu?”
Rosline langsung tersenyum kecil malu. “Iya, Tuan.”
“Motor itu masih kuat?”
“Kalau dipaksa… mungkin masih.” Jawaban polos itu membuat Edwin diam sesaat.
Rosline segera memakai helmnya. “Kalau begitu saya permisi, Tuan.”
Namun baru saja Rosline hendak menyalakan motor. Motor itu tidak mau menyala.
Rosline langsung panik. “Aduh…”
Ia mencoba lagi berkali-kali. Namun motornya tetap mati. Wajah Rosline mulai memerah malu.
Sedangkan Edwin berdiri memperhatikan tanpa bicara. Beberapa detik kemudian pria itu akhirnya berjalan mendekat.
“Geser.”
“Hah?”
“Saya bilang geser.”
Rosline buru-buru turun dari motor.
Edwin kemudian mencoba menyalakan motor tua itu. Namun hasilnya tetap sama. Motor itu benar-benar mogok.
Rosline langsung menunduk malu. “Maaf, Tuan…”
Edwin menghela napas pelan lalu mengambil kunci mobilnya. “Aku antar.”
Rosline langsung tersentak. “Ti-tidak usah, Tuan!”
“Aku tidak suka mengulang ucapan.”