“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: NAPAS DI DALAM KEGELAPAN
Hening yang tercipta setelah lampu menyala terasa lebih menyesakkan daripada kegelapan itu sendiri.
Alesha mengerjapkan mata, mencoba menghalau bintik-bintik putih yang menari di penglihatannya akibat cahaya neon yang tiba-tiba.
Jantungnya masih berdegup di kerongkongan, dan aroma cendana yang hangat itu masih tertinggal di indra penciumannya.
Namun, pemandangan di depannya membuat Alesha meragukan kewarasannya sendiri.
Matteo Al-Ricci duduk di sana. Di atas kursi roda elektriknya yang berwarna hitam legam.
Posisi pria itu hanya berjarak satu meter darinya, tangan kirinya bertumpu pada kendali kursi roda, sementara tangan kanannya diletakkan di atas pangkuan, posisi yang sangat pasif, sangat "lumpuh".
Tidak ada napas yang memburu, tidak ada keringat yang menetes seperti yang ia bayangkan beberapa detik lalu. Wajahnya kembali menjadi topeng porselen yang dingin dan datar.
"Apa yang kau lakukan di sini, Alesha?" suara Matteo mengalun rendah, bergema di antara dinding batu ruang bawah tanah.
Alesha menarik napas tajam, jemarinya masih gemetar. "Aku... aku mendengar langkah kaki. Aku yakin sekali itu suara langkah kaki yang berat. Kau berdiri tepat di belakangku, Matteo. Aku merasakannya!"
Matteo menaikkan satu alisnya, sebuah ekspresi meremehkan yang sangat khas.
"Langkah kaki? Di ruangan yang dipenuhi mesin medis dan gema lorong bawah tanah? Kau mungkin mulai berhalusinasi karena terlalu banyak menghirup uap cat di San Lorenzo."
"Jangan membodohiku!" Alesha melangkah maju, menunjuk ke arah tirai yang sempat ia singkap tadi.
"Aku melihat alat itu. Aku melihat bekas goresan di lantai. Dan aku merasakan hawa panas tubuhmu tepat di belakang leherku saat lampu padam. Kau tidak sedang duduk di kursi ini saat itu!"
Matteo mendorong kursi rodanya mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Matanya yang kelabu menatap Alesha dengan intensitas yang sanggup membungkam siapa pun. "Kau ingin aku berdiri, Alesha? Kau ingin sebuah keajaiban terjadi di ruang bawah tanah yang kotor ini?" ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat terluka namun palsu di telinga Alesha.
"Jika aku bisa berdiri, aku tidak akan membuang waktuku untuk menakut-nakuti istri yang tidak tahu aturan seperti kau. Aku akan berada di luar sana, menghancurkan musuh-musuhku."
Alesha terdiam, namun otaknya bekerja cepat. Ia tahu apa yang ia dengar. Ia tahu perbedaan antara suara motor listrik yang halus dan dentum sepatu bot di atas lantai kayu.
Sifat bar-bar-nya memberontak, ia benci dianggap gila atau lemah.
Matanya melirik ke samping. Di atas sebuah meja kecil dekat jangkauannya, terdapat sebuah vas keramik tua berisi larutan antiseptik yang cukup berat.
"Oh, benarkah?" desis Alesha.
"Mari kita lihat seberapa 'mati' saraf kakimu itu."
Tanpa peringatan, Alesha menyambar vas itu dan menjatuhkannya dengan tenaga penuh tepat ke arah kaki kanan Matteo yang terbungkus celana kain mahal.
BRAKK!
Vas itu menghantam bagian tulang kering Matteo sebelum akhirnya pecah berkeping-keping di lantai, memercikkan cairan dan pecahan keramik ke mana-mana.
Itu adalah serangan yang cukup untuk membuat orang normal melompat kesakitan atau setidaknya menarik kakinya secara refleks.
Namun, Matteo tidak bergeming.
Pria itu tetap duduk diam.
Kakinya tidak bergerak satu milimeter pun. Ia bahkan tidak berkedip saat pecahan tajam keramik menggores kulit sepatunya.
Matteo hanya menunduk, menatap puing-puing di kakinya dengan tatapan yang sangat mematikan, lalu kembali menatap Alesha.
"Sudah puas dengan eksperimenmu?" tanya Matteo, suaranya kini setajam silet.
"Atau kau ingin mematahkan tulangku secara nyata untuk membuktikan fantasimu?"
Alesha terpaku.
Rasa ragu mulai merayap di hatinya. Apakah dia benar-benar salah dengar? Ataukah Matteo memiliki kontrol diri yang begitu mengerikan hingga ia sanggup menahan rasa sakit luar biasa demi menjaga rahasianya?
"Keluar," perintah Matteo.
Suaranya tidak keras, namun mengandung perintah yang tidak bisa dibantah.
"Sekarang. Sebelum aku memanggil Marcello untuk menyeretmu ke kamar dan mengunci pintunya dari luar."
Alesha mengepalkan tangannya. "Ini belum selesai, Matteo. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Foto Kiara dengan tanda silang itu—"
"Keluar!" bentak Matteo, kali ini dengan kilatan amarah yang murni di matanya.
Alesha menggeram frustrasi. Ia berbalik, namun saat ia melangkah melewati kursi roda Matteo, matanya yang tajam menangkap sesuatu yang berkilau di lantai, tepat di bawah bantal kursi roda pria itu.
Sebuah benda kecil baru saja terjatuh, mungkin karena guncangan saat vas itu menghantam, atau karena gerakan Matteo yang terlalu kaku.
Itu adalah sebuah kunci logam kecil dengan ukiran kuno di kepalanya.
Dengan gerakan cepat yang tertutup oleh kibasan gaunnya, Alesha membungkuk seolah-olah ia sedang menghindari pecahan kaca, dan jemarinya yang lincah menyambar kunci itu.
Ia segera menyembunyikannya di dalam telapak tangannya.
"Aku akan pergi," ucap Alesha, suaranya kini terdengar lebih tenang, menyembunyikan kemenangan kecil di baliknya.
"Tapi jangan pikir aku akan berhenti mencari tahu. Di rumah ini, bau kebohongan lebih tajam daripada bau antiseptikmu."
Alesha berjalan menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Ia bisa merasakan tatapan Matteo menusuk punggungnya hingga ia mencapai lantai atas.
Sesampainya di kamarnya, Alesha segera mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Ia membuka telapak tangannya. Kunci itu masih ada di sana. Kecil, dingin, dan penuh rahasia.
Ia kembali teringat momen di kegelapan tadi. Napas yang ia dengar, posisi tubuh yang tinggi, dan tekanan tangan di bahunya. Ia yakin seratus persen bahwa pria itu berdiri.
Jika Matteo sanggup menahan hantaman vas seberat itu tanpa bereaksi, artinya ia adalah pria yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah Alesha bayangkan.
"Kau aktor yang hebat, Matteo," bisik Alesha sambil menatap kunci itu di bawah lampu meja.
"Tapi setiap aktor pasti punya pintu rahasia menuju belakang panggung. Dan kurasa, aku baru saja menemukan kuncinya."
Alesha tahu, kunci ini bukan untuk pintu biasa. Bentuknya yang unik mengingatkannya pada laci-laci kecil di meja kerja Matteo atau mungkin sebuah kotak rahasia di dalam laboratorium tadi.
Apapun itu, kunci ini adalah benang merah yang akan membawanya pada kebenaran tentang kelumpuhan palsu Matteo dan apa yang sebenarnya terjadi pada Kiara.
Di bawah tanah, Matteo Al-Ricci masih terdiam di posisi yang sama. Ia perlahan meraih kakinya yang tadi dihantam vas. Di balik celana kainnya, otot-ototnya berkedut hebat menahan sisa rasa sakit yang luar biasa, namun wajahnya tetap datar. Ia meraba sakunya, menyadari sesuatu telah hilang.
Matteo memejamkan mata, mengembuskan napas panjang yang penuh akan ketegangan.
"Gadis bar-bar yang merepotkan," gumamnya pelan.
Ia tahu Alesha telah mengambil kuncinya. Dan ia juga tahu, mulai malam ini, ia tidak hanya harus berperang melawan musuh-musuhnya di luar sana, tapi juga harus menghadapi istrinya sendiri yang jauh lebih cerdas dan nekat daripada yang ia duga.