NovelToon NovelToon
Mr. Profesor

Mr. Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Cintapertama
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Amabillis.13

Zoya telah jatuh cinta kepada dosennya bernama Arlo. Arlo adalah sosok dosen yang dingin dan tidak ramah... dia kikuk dengan hal asmara.
lalu bagaimana zoya akan meluluhkan hati Mr. profesor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

Tuan Muda kedua keluarga Saksomo… Jaidan.

Pantas saja Meilan bisa begitu sombong di lokasi syuting. Ternyata, orang inilah backingannya. Kalau yang ini sih Zoya tidak heran.

Zoya cukup mengenal reputasi Jaidan. Pria itu terkenal sebagai playboy kelas atas yang sangat murah hati, tetapi juga sangat arogan. Di kalangan sosialita dan industri hiburan, namanya nyaris tidak ada yang tidak tahu.

Namun saat ini, Jaidan justru menatap Zoya dengan sedikit bingung.

Ia sebenarnya ingin langsung menyapanya, tetapi tatapan Zoya jelas-jelas memperingatkannya untuk tidak mendekat.

Di sisi lain, melihat Jaidan datang bersama Meilan, wajah Rahengga tampak sedikit memburuk. Meski begitu, ia tetap mempertahankan senyum ramahnya.

“Oh, Meilan sudah datang. Cepat pergi ke ruang rias, sebentar lagi giliranmu.”

“Sudah giliran saya?” Meilan tersenyum manis sambil menoleh pada Jaidan dengan tatapan yang sangat dimanja-manjakan hingga membuat para asistennya merinding. “Kalau begitu saya pergi dulu.”

Meskipun satu tangan Jaidan merangkul bahu Meilan, tatapannya sendiri tampak dingin dan tanpa kemesraan sedikit pun.

Bulu matanya yang panjang membuat wajahnya terlihat nyaris terlalu cantik untuk seorang pria.

Mendengar Meilan akan pergi, sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Pergilah,” katanya rendah dan malas. “Jangan pedulikan aku.”

Setelah Meilan pergi, Jaidan langsung berjalan menuju meja tempat Zoya duduk.

Ia berhenti di depan gadis itu lalu sedikit menunduk.

Mata phoenix-nya menyipit tipis, memancarkan pesona yang sangat menggoda. Senyum jahat namun menawan terlukis di bibir merahnya saat ia berkata pelan,

“Bolehkah aku duduk di sini?”

Melihat sikap Jaidan yang terlalu akrab, tubuh Zoya langsung menegang.

Ia melirik ke sekeliling dan benar saja… untungnya tempat istirahat nya agak jauh, sehingga suara mereka berdua tidak terlalu terdengar. Walaupun cukup banyak orang mulai memperhatikan mereka.

Zoya segera menggeleng.

“Maaf, tempat ini kursi temanku..” katanya datar. “Silahkan Tuan Muda duduk di tempat kekasih Anda saja.”

Ia menunjuk sofa khusus milik Meilan di kejauhan.

Alis Jaidan sedikit berkerut.

“Kenapa?” tanyanya.

Satu kata itu terdengar sederhana, tetapi jelas mengandung banyak pertanyaan tersembunyi.

Sayangnya, Zoya memilih mengabaikannya.

“Saya tidak mengenal Anda,” jawabnya tenang. “Jadi saya tidak ingin duduk bersama Anda.”

Jaidan mengangkat alis.

Pura-pura tidak kenal?

Ia mendengus kecil, lalu mengikuti permainan Zoya.

“Terserah,” katanya santai. “Aku ingin duduk di mana pun yang kusuka.”

Ia sedikit membungkuk, mendekatkan wajah ke telinga Zoya sebelum berbisik pelan,

“Mengapa kamu ada di sini? Bibi bilang kamu pergi ke luar negeri.”

Zoya langsung mengangkat tangan dan mendorong wajah pria itu menjauh.

“Hati-hati lah banyak orang yang mengawasi, aku tidak ingin ada orang yang tahu hubungan kita,” katanya dingin. “Jangan ganggu saya. Anggap saja kita tidak saling kenal.”

Setelah berkata demikian, Zoya segera berdiri hendak pergi.

Namun detik berikutnya…

Jaidan refleks mencengkeram lengan bajunya untuk menahan.

Karena tarikannya terlalu kuat, bahu putih Zoya yang halus seperti giok ikut tersingkap.

Alis Zoya langsung berkerut dingin.

Tatapan matanya berubah tajam.

Jaidan sendiri langsung menegang saat menyadari apa ia lakukan.

Sementara itu, Zoya dengan dingin mengibaskan tangannya hingga pegangan pria itu terlepas begitu saja.

Jika mereka sedang berada di tempat sepi tanpa banyak orang…

maka hari ini kemungkinan besar Jaidan sudah tidak bisa berjalan pulang.

Menyadari dirinya telah bertindak keterlaluan, ekspresi Jaidan langsung berubah.

Tatapannya yang tadi malas kini dipenuhi rasa bersalah dan sedikit panik.

Ia melirik ke sekitar dan mendapati banyak orang sedang memperhatikan mereka.

Biasanya, jika ada yang berani menepis tangannya seperti itu, Tuan Muda Saksomo pasti sudah murka sejak tadi.

Namun kali ini, ia justru perlahan menurunkan tangannya sendiri.

Nada suaranya bahkan berubah jauh lebih lembut.

“Maaf…” katanya pelan. “Aku tidak sengaja.”

Zoya hanya mengernyit tanpa menjawab.

Melihat reaksinya yang dingin, napas Jaidan sedikit menjadi kacau.

Tatapannya ke arah Zoya perlahan berubah semakin hangat.

Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka suara.

“Mau kemana, duduklah disini..” Jaiden tahu apa maksud gadis ini, menghindarinya. Namun ia terbiasa melakukan apapun yang ia inginkan. “Jika kamu tidak memberitahu mereka, mereka tidak akan tahu hubungan kita.” katanya sambil menatap Zoya lekat-lekat.

Meilan baru saja selesai berganti pakaian dan keluar dari ruang rias. Secara naluriah, ia menoleh ke arah Jaidan, tetapi yang dilihatnya justru pemandangan mengejutkan: Tuan Muda Saksomo tengah tersenyum lembut kepada Zoya.

Jarang sekali Meilan melihat sisi lembut pria itu. Bahkan saat mereka sedang bersama, Tuan Muda Saksomo selalu memasang wajah dingin sepanjang hari. Meski status mereka adalah sepasang kekasih, sikap pria itu tetap acuh tak acuh padanya. Hanya ketika bersama keluarga, Meilan pernah sesekali melihatnya menunjukkan sedikit kelembutan. Selebihnya, terhadap siapapun, pria itu selalu dingin dan sulit didekati.

Siapa sangka, kelembutan yang nyaris tak pernah ia dapatkan itu kini justru diberikan kepada Zoya.

Tangan Meilan di samping tubuhnya langsung terkepal erat. Tatapannya pada Zoya berubah tajam, dipenuhi niat membunuh. Dengan gigi bergertak, ia bertanya kepada asistennya di samping,

“Apa yang terjadi?!”

Bagaimana bisa, hanya dalam waktu sesingkat itu, wanita jalang itu telah berhasil mendekati Tuan Muda Saksomo?

Asistennya tidak berani mengatakan yang sebenarnya… bahwa justru Tuan Muda Saksomo yang lebih dulu mengajak Zoya berbicara. Karena takut disalahkan, ia hanya memberi jawaban samar dan ambigu. Sikap itu malah membuat Meilan semakin yakin bahwa Zoya sengaja menggoda prianya.

Di mata Meilan, mendapatkan perhatian Tuan Muda Saksomo sama artinya dengan menginjakkan satu kaki ke gerbang popularitas. Aktris mana yang tidak menginginkan ketenaran? Karena itu, tanpa ragu ia menyimpulkan bahwa Zoya hanyalah wanita murahan yang aktif merayu pria. Sedikit pun tidak terlintas di benaknya bahwa Tuan Muda Saksomo-lah yang memulai semuanya.

Saat menjalani pengambilan adegan bersama Claeton, amarah Meilan masih membara. Dalam naskah, karakter Adira seharusnya menatap Marlon dengan sorot mata seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Namun emosi yang berkecamuk di dalam hati Meilan justru terbawa ke dalam aktingnya.

Alih-alih menatap Claeton dengan cinta, tatapannya malah dipenuhi kebencian, seolah pria itu adalah musuh yang telah membunuh ayahnya.

Hal itu membuat Rahengga meledak marah. Jika bukan karena Tuan Muda Saksomo sedang berada di lokasi syuting, ia pasti sudah mengusir Meilan sejak tadi.

Rahengga sudah sering bertemu aktor dengan kemampuan akting buruk, tetapi belum pernah separah ini. Mana ada seorang gadis memandang kekasihnya dengan tatapan sedalam itu penuh kebencian? Benar-benar membuat darahnya naik.

Adegan itu diulang sampai tiga atau empat kali. Namun perubahan ekspresi Meilan hanya bergeser dari “ingin membunuh” menjadi sekadar “galak”. Kebenciannya memang sedikit berkurang, tetapi tetap sama sekali tidak sesuai dengan naskah.

Rahengga yang frustasi akhirnya melambaikan tangan, menyuruh Meilan beristirahat sejenak untuk menenangkan emosinya. Sementara itu, ia sendiri langsung menenggak sebotol air mineral hingga habis.

Dalam hati, Rahengga bersumpah lain kali ia lebih memilih menunda jadwal syuting daripada menerima orang titipan kekuasaan seperti ini. Meilan benar-benar seperti setitik kotoran tikus yang merusak satu panci sup.

Begitu waktu istirahat dimulai, Meilan segera berjalan menghampiri Tuan Muda Saksomo dengan langkah penuh percaya diri, seolah ingin menegaskan posisinya.

Namun saat melihat Zoya masih duduk santai di hadapan pria-nya, amarah yang susah payah ia tekan kembali meledak.

Selama ini, Meilan selalu berhati-hati di depan Tuan Muda Saksomo. Ia bahkan tidak pernah berani duduk santai di hadapan Tuan Muda Saksomo seperti yang dilakukan Zoya sekarang.

Yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan bahwa Tuan Muda Saksomo sama sekali tidak marah melihat sikap Zoya. Tuan Muda Saksomo justru terlihat menganggap semuanya wajar, bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Meilan yang sudah berdiri di dekat mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!