NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 21: RASA AMAN YANG BARU

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 21: RASA AMAN YANG BARU

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, sinarnya berwarna keemasan menyinari jalan tanah yang berdebu. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah kering dan bunga liar di pinggir jalan. Biasanya, jam-jam begini adalah waktu yang paling berat buat Ria. Dulu, setiap pulang dari rumah Bu Rini atau dari sekolah, ia berjalan sendirian menundukkan kepala. Kakinya terasa berat sekali seolah ada besi yang mengikat, badannya pegal linu semua karena seharian menyapu, mengangkat air, dan mencuci piring. Ia sering berjalan sambil menahan air mata, menahan rasa lapar, dan menahan rasa sakit di pinggangnya. Jalan yang seharusnya dekat, rasanya begitu jauh dan panjang sekali karena beban yang dipikulnya sendirian.

Tapi sore ini, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.

Ria berjalan di tengah-tengah ketiga kakaknya. Di sebelah kanan ada Bang Hamza, di kiri ada Bang Arefin, dan di belakang ada Bang Ardiansyah. Mereka berjalan beriringan, langkah mereka santai tapi tegap, mengelilingi adik satu-satunya itu seolah-olah sedang menjaga harta paling berharga di dunia. Tangan kasar Bang Arefin sesekali memegang bahu kurus Ria pelan, memastikan adiknya itu berjalan enak dan tidak terhuyung. Bang Ardiansyah berjalan di belakang, matanya mengawasi sekeliling dengan waspada, takut ada batu tajam, duri, atau apa pun yang bisa menyakiti kaki adiknya.

Ria sendiri berjalan dengan kepala tegak, wajahnya bersinar cerah, dan bibirnya tak pernah lepas dari senyum manis yang bahagia. Badannya yang tinggi kurus itu masih sama, tulang-belulangnya masih terlihat jelas karena memang belum ada makanan enak yang bisa mereka beli, tapi tatapan matanya sudah berubah total. Dulu matanya selalu redup, penuh kekhawatiran, dan rasa lelah yang tak berkesudahan. Sekarang? Matanya berbinar terang, penuh rasa aman, dan ada kebanggaan besar di sana.

"Gimana, Dik? Jalan rasanya beda nggak?" tanya Bang Hamza sambil menoleh, tersenyum lembut. "Dulu kamu jalan sendirian, berat kan? Sekarang rasanya gimana? Enak nggak rasanya punya kami di sampingmu?"

Ria mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca tapi bukan sedih, melainkan bahagia. Ia menatap wajah kakak sulungnya itu dengan penuh rasa syukur.

"Enak banget, Bang... Rasanya jalan ini jadi pendek banget... Rasanya kaki ini enteng sekali, gak ada beban apa-apa... Dulu aku sering mikir, kenapa sih hidupku berat banget? Kenapa aku harus jalan sendiri terus? Tapi sekarang... rasanya aku jadi orang paling beruntung sedunia. Aku jadi ngerasa, biarpun kita miskin, biarpun kita makan seadanya, aku gak kurang apa-apa lagi. Aku punya Abang semua... itu lebih dari segalanya buat aku."

Kalimat sederhana itu membuat hati ketiga kakaknya terasa hangat dan nyeri sekaligus. Nyeri karena ingat betapa lama adik mereka menanggung perasaan kesepian itu, tapi hangat karena akhirnya mereka bisa memberikan apa yang paling dia butuhkan: teman hidup dan pelindung.

Sepanjang jalan, orang-orang desa yang berpapasan atau sedang duduk di beranda rumah mereka sampai berhenti bicara dan menatap rombongan itu dengan pandangan heran. Mereka semua tahu benar keadaan keluarga itu selama ini他们. Mereka tahu Ria yang kurus tinggi itu berjuang sendirian mati-matian, mereka tahu kakak-kakaknya dulu bersikap dingin dan seolah tak peduli. Tapi pemandangan sore ini sungguh luar biasa aneh dan indah buat mereka.

"Itu bukan Ria ya?" bisik seorang ibu-ibu tetangga ke temannya, matanya melotot kaget. "Lho kok sama Abang-abangnya jalan bareng? Dulu kan Ria selalu sendirian, menunduk, lelah banget jalannya... Sekarang kok jalan tegak, senyum-senyum, dan Abang-abangnya malah kayak penjaga gawang gitu di kiri kanan... Ada apa ya? Berubah drastis banget!"

"Iya bener... Dulu kelihatan benci atau gak peduli banget, sekarang kok manja-manja gitu ngajak ngomongnya... Wah, mungkin sadar kali ya? Kasihan lihat adiknya sekurus itu... Alhamdulillah kalau mereka rukun, enak dilihatnya."

Bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Bang Hamza dan yang lain. Mereka tidak merasa malu atau marah, malah hati mereka terasa lega. Biarlah orang ngomong apa saja, biarlah orang heran, yang penting mereka sudah sadar dan mau berubah. Biar semua orang tahu, mulai hari ini, siapa pun yang mau nyentuh, mau nyakitin, atau mau bikin susah Ria, harus lewat tubuh mereka bertiga dulu.

Sesampainya di rumah, Bunda Maria sudah menunggu di depan pintu dengan wajah cemas seperti biasa. Tapi begitu melihat pemandangan anak-anaknya masuk beriringan sambil tertawa kecil, cemas di wajah Bunda langsung berubah jadi senyum haru.

"Sudah pulang ya, Nak...?" sapa Bunda pelan, matanya berlinang.

Bang Ardiansyah langsung menjawab riang sambil melepaskan kain penutup kepalanya. "Sudah Bun! Hari ini enak banget rasanya! Di sekolah kami yang sapu semua sampai bersih mengkilap, Ria cuma duduk di teras ngeliatin aja. Terus di Bu Rini juga kami yang angkat air sama cuci piring tumpukan tinggi itu, Ria disuruh duduk diam di kursi, kalau mau bantu cuma boleh ambilin air minum doang! Bu Rini sampe kaget lho Bun, dia bilang 'Wah, ini baru namanya keluarga!'"

Mendengar itu, Bunda mengangguk sambil mengusap air matanya. Ia menatap Ria yang sekarang duduk di kursi kayu tua, menghela napas panjang lega. Tubuh Ria yang kurus itu kelihatan santai sekali, tidak seperti biasanya yang langsung jatuh duduk sambil mengeluh pegal.

"Syukurlah... syukurlah ya Allah..." ucap Bunda lirih. "Bunda dari dulu cuma minta satu doa aja... Biar kalian rukun, saling sayang, dan saling bantu. Biarpun makan sehari cuma satu kali, biarpun lauk cuma garam atau sambal, kalau hati kalian damai begini, itu sudah kekayaan paling besar yang Bunda punya."

Sore itu berlalu dengan suasana yang belum pernah ada sebelumnya di rumah kecil itu. Biasanya, setelah pulang, Ria sibuk menyapu halaman rumah, sibuk ambil air, sibuk bersihkan sisa makanan, sibuk melakukan segala hal sendirian sampai matahari terbenam. Sementara ketiga kakaknya biasa duduk diam merokok atau ngobrol santai saja.

Tapi sore ini, kebalikannya sama sekali.

Bang Hamza yang menyapu halaman sampai bersih bersih, Bang Arefin yang mengangkat air dari sumur berkali-kali sampai tong penuh, Bang Ardiansyah yang membersihkan peralatan masak dan memotong kayu bakar. Mereka bekerja bergantian, cepat, dan gembira sekali. Kalau ada hal berat, mereka berebut mengerjakannya duluan, takut kalau-takut kalau Ria yang mau maju bantu.

Sedangkan Ria? Ria duduk diam di beranda, bersandar santai di tiang kayu, memegang bukunya, tapi matanya tak lepas menatap punggung ketiga kakaknya yang kini bekerja keras menggantikan penderitaannya dulu. Hatinya terasa penuh sekali, rasanya ingin menangis bahagia tapi senyumnya tak pernah hilang. Ia baru sadar, ternyata rasanya punya pelindung itu seindah ini. Ternyata rasanya tidak perlu memikirkan beratnya hidup itu senyaman ini.

Matahari pun tenggelam sepenuhnya, digantikan langit malam yang bertabur bintang. Di tengah rumah sederhana itu, di tengah kemiskinan dan kekurangan makanan, tumbuh satu hal yang paling indah dan mahal harganya: kasih sayang yang baru tumbuh kembali, lebih kuat, lebih kokoh, dan lebih hangat dari sebelumnya.

Ria menatap bintang di langit sambil tersenyum dalam hati: Dulu aku berjuang sendirian biar bisa hidup dan sekolah... Sekarang aku berjuang bareng-bareng biar kita semua bahagia. Badanku masih kurus, perutku kadang masih lapar, tapi hatiku sudah kenyang sekali. Aku aman sekarang. Aku tidak takut apa-apa lagi.

Dan di sudut lain, ketiga kakaknya saling pandang satu sama lain sambil mengangguk diam-diam. Mereka punya tekad baru: Dulu kami biarkan dia kurus kering dan sakit-sakitan karena kami bebal. Mulai sekarang, meski kami harus kerja banting tulang mati-matian, kami pastikan dia tidak pernah merasakan beratnya hidup sendirian lagi. Sampai kapan pun.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!