Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Di perjalanan, Kayla masih diam. Tapi saat es krim sudah di tangannya, ia mulai menjilat perlahan. Rasa manis dan dingin itu membuatnya sedikit tenang. Mama melirik Kayla.
"Enak?"
Kayla mengangguk kecil. Beberapa menit kemudian…
"Ma…" panggil Kayla pelan.
"Iya?"
"Aku mau coba lagi belajarnya… tapi temenin ya," ucap Kayla.
Mama tersenyum bangga.
"Tentu, Mama selalu temenin Kayla."
Kayla tersenyum kecil. Mungkin hari ini berat…
Tapi langkah kecil itu sudah dimulai lagi.
Liburan sekolah akhirnya tiba. Pagi itu, suasana rumah Kayla terasa berbeda dari biasanya. Mama terlihat sibuk menyiapkan beberapa barang, sementara Kayla masih duduk di sofa dengan wajah setengah mengantuk.
"Kayla, ayo siap-siap!" panggil Mama dari dapur.
"Siap-siap apa, Ma?" tanya Kayla sambil menguap.
Mama muncul sambil membawa tas kecil.
"Kita mau ke pantai. Dekat kok dari rumah," jawab Mama sambil tersenyum.
Mata Kayla langsung terbuka lebar.
"Serius, Ma?!"
"Iya, sekalian liburan sederhana," jawab Mama.
Kayla langsung berlari ke kamar dengan semangat yang tiba-tiba muncul.
Tak lama kemudian, mereka berangkat. Di dalam mobil, Kayla duduk di belakang bersama sepupunya, Caca dan Tia, yang ternyata ikut dalam perjalanan itu.
Tia adalah sepupu Kayla, hanya beda 1 lebih muda dari Kayla. Tia punya kulit yang gelap dan manis, pintar dan mata yang bulat besar.
"Pantai! Pantai!" teriak Caca kegirangan.
"Aku mau main air!" sahut Tia.
Kayla ikut tertawa. Perasaan yang kemarin masih dipenuhi sedih perlahan tergantikan oleh rasa antusias. Perjalanan tidak terlalu lama. Angin mulai terasa lebih sejuk, dan suara ombak samar-samar terdengar.
"Kita sudah sampai," kata Papa.
Mobil berhenti, dan mereka semua turun. Hamparan laut biru langsung terlihat di depan mata. Ombak bergulung pelan, dan pasir putih terbentang luas.
"Waahh…" Kayla terdiam sejenak.
Ini bukan pertama kalinya ia ke pantai, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Mungkin karena suasana hatinya yang mulai berubah.
"Ayo!" ajak Tia sambil menarik tangan Kayla.
Mereka bertiga langsung berlari menuju tepi pantai. Air laut menyentuh kaki mereka.
"Dingin!" teriak Caca sambil tertawa.
Kayla ikut tertawa. Ia merasakan air laut menyapu kakinya, lalu mundur lagi. Mereka mulai bermain kejar-kejaran dengan ombak. Setiap kali ombak datang, mereka berlari menjauh sambil tertawa.
"Kayla, jangan jauh-jauh!" teriak Mama dari belakang.
"Iya, Ma!" jawab Kayla.
Setelah puas bermain air, mereka duduk di pasir.
"Ayo bikin istana pasir!" ajak Caca.
"Iya!" jawab Tia.
Mereka mulai mengumpulkan pasir basah, membentuknya perlahan. Kayla mencoba membuat bentuk rumah kecil.
"Aku bikin rumah… ini sekolahnya juga," kata Kayla.
"Wah, bagus!" kata Tia.
Caca menambahkan hiasan dari kerang kecil.
"Istana kita jadi cantik!" katanya.
Kayla melihat hasil karya mereka dan tersenyum bangga. Hal sederhana seperti ini ternyata membuatnya bahagia. Tidak jauh dari sana, Papa dan Mama duduk di bawah payung pantai sambil memperhatikan mereka.
"Kayla kelihatan lebih ceria ya," kata Mama pelan.
Papa mengangguk.
"Iya, mungkin dia memang butuh waktu untuk menikmati prosesnya," jawab Papa.
Mama tersenyum. Menjelang siang, mereka makan bersama. Mama membuka bekal yang sudah disiapkan dari rumah.
"Wah, ada ayam goreng!" kata Caca.
"Aku lapar banget!" tambah Tia.
Kayla ikut duduk dan mulai makan. Angin pantai yang sejuk membuat suasana semakin nyaman.
"Enak ya makan di sini," kata Kayla.
"Iya, beda rasanya," jawab Mama.
Setelah makan, Kayla berjalan sendirian sedikit menjauh. Ia berdiri menghadap laut. Ombak datang dan pergi, seolah tidak pernah berhenti. Kayla teringat banyak hal. Tentang nilai ujiannya… tentang usahanya… tentang ejekan teman-temannya. Ia menunduk.
"Aku harus gimana ya…" bisiknya pelan.
Tiba-tiba, Tia datang menghampiri.
"Kayla, kamu kenapa?" tanya Tia.
Kayla tersenyum kecil.
"Gak apa-apa..." jawab Kayla
Sore mulai tiba. Langit berubah warna menjadi jingga keemasan. Mereka semua kembali bermain, kali ini sambil menikmati matahari terbenam.
"Indah banget…" kata Kayla pelan.
Ia duduk di pasir, memeluk lututnya, sambil melihat matahari perlahan tenggelam. Perasaan hangat muncul di hatinya. Sebelum pulang, Mama memanggil mereka.
"Ayo, kita foto dulu!"
Mereka berdiri bersama, tersenyum ke arah kamera.
"1… 2… 3…!"
Klik!
Momen itu terekam. Momen sederhana, tapi penuh makna.
Libur telah selesai. Pagi itu, Kayla berangkat ke sekolah seperti biasa. Ia terlihat sedikit murung, tapi tetap berusaha semangat. Saat pelajaran dimulai, Kayla mulai merasa tidak nyaman di perutnya.
"Aduh… kenapa ya?" bisiknya pelan sambil memegang perut.
Awalnya ia mencoba bertahan. Ia berpikir rasa itu akan hilang sendiri. Namun semakin lama, rasa tidak nyaman itu justru semakin kuat. Kayla mulai gelisah di tempat duduknya.
"Kayla, kamu kenapa?" tanya Salsa pelan.
Salsa Katerina adalah sahabat Kayla, yang menjadi teman Kayla di kelas. Duduk tepat dibelakang Kayla.
"Gak apa-apa…" jawab Kayla, meskipun wajahnya mulai pucat.
Ia ingin izin ke toilet, tapi merasa malu untuk berbicara di tengah pelajaran.
Beberapa menit berlalu…
Tiba-tiba, Kayla tidak bisa menahannya lagi. Ia langsung menunduk, wajahnya berubah panik. Ia tahu sesuatu yang tidak diinginkan baru saja terjadi. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aduh…" ucapnya lirih.
Nadia Yang duduk di sampingnya mulai menyadari. Tak hanya Nadia, Salsa pun ikut menyadari apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Kayla… kamu mau ke toilet? Aku temenin," katanya dengan suara pelan dan penuh pengertian.
Kayla hanya mengangguk, hampir menangis. Salsa lalu mengangkat tangan.
"Bu, izin ke toilet ya," katanya.
Guru melihat mereka dan langsung mengangguk.
"Iya, silakan."
Di toilet, Kayla akhirnya menangis.
"Aku malu banget…" katanya sambil terisak.
Salsa menepuk pelan bahunya.
"Gak apa-apa, Kay… ini bisa terjadi ke siapa saja," ucapnya menenangkan.
Tak lama kemudian, guru datang menyusul setelah diberi tahu.
"Kayla, tidak apa-apa ya. Kita selesaikan pelan-pelan," kata guru dengan lembut.
Guru kemudian membantu menghubungi Mama Kayla. Beberapa saat kemudian, Mama datang dengan membawa pakaian ganti. Saat melihat Mama, Kayla langsung memeluknya.
"Ma… aku malu…" ucapnya sambil menangis.
Mama mengusap kepala Kayla.
"Tidak apa-apa, Nak. Ini bukan hal yang perlu kamu malu berlebihan. Yang penting kamu baik-baik saja," kata Mama dengan tenang.
Setelah berganti pakaian dan merasa lebih tenang, Kayla duduk sebentar. Ia masih merasa sedikit sedih, tapi juga lega karena sudah dibantu. Salsa tersenyum padanya.
"Kamu kuat loh, Kay," katanya.
Kayla mengusap air matanya dan mencoba tersenyum.
Hari itu memang tidak berjalan seperti yang Kayla harapkan. Tapi dari kejadian itu, Kayla belajar satu hal penting:
Bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa kita kontrol dan saat hal memalukan terjadi, yang kita butuhkan bukan rasa takut, melainkan orang-orang yang peduli dan memahami.