Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di ruangan yang bernuansa putih ini terbaring seorang pria dengan keadaan yang memprihatinkan.
Ia perlahan membuka matanya. Seketika saat mata itu sudah terbuka sepenuhnya, kini bau obat memaksa masuk ke dalam hidungnya.
"Di rumah sakit?" Tebaknya seraya memperhatikan sekitar dengan seksama.
Joy segera melepaskan selang infus yang terpasang ditangannya. Setelahnya, ia membuang infus itu dengan kasar.
"Aduh!" Teriaknya saat merasakan sakit yang hebat pada punggung.
Punggungnya terasa sangat sakit saat ia mencoba bangkit.
Joy merasa ada sesuatu yang terpasang di tubuhnya. Ia memasukan tangan ke dalam baju, kemudian mencoba untuk memegang benda itu.
Tubuhnya terpasang alat penyangga tulang belakang. Karena mengalami cedera yang serius, jadi dia harus menggunakan penyanggah tulang untuk mengobatinya.
"Alat ini lagi? Benar-benar menyebalkan!" Umpatnya yang tak suka dengan benda itu.
"Apakah separah itu? Aku tidak suka harus bergantung pada alat ini! Gavin sialan!" Maki Joy.
Ia tidak masalah jika harus babak belur dan merasakan sakit. Tapi jika harus bergantung pada benda, membuatnya merasa sangat kesal.
Joy teringat dengan ibunya, padahal setelah makan ia berencana untuk menjenguk wanita itu. Namun, nasib berkata lain. Ia harus di bawah kerumah sakit dulu sebelum bertemu dengannya.
"Aku harus pergi!" Ucapnya tegas.
Joy turun dari ranjang, seketika rasa sakit di punggungnya sangat terasa. Ia mulai berjalan perlahan-lahan ke arah pintu keluar.
Klik!
Diluar dia melihat banyak sekali pengawal ayahnya. Mereka terkejut melihatnya berada di ambang pintu.
"Mau kemana tuan muda? Kau harus dirawat dulu!" Ucap salah satu pengawal seraya mendekati Joy.
Beberapa pengawal dengan sigap berdiri di belakangnya dan beberapa berdiri disamping, juga di depannya. Mereka membentuk formasi yang mengelilingi Joy.
Mereka memperlakukan Joy seperti sedang menjaga anak kecil yang baru belajar berjalan.
Hal itu membuat Joy semakin kesal. Terlihat jelas sekali kalau ia sangat lemah dimata mereka. Ia tidak suka dikasihani, ia tidak suka dijaga seperti ini.
"Aku bukan anak kecil! AKU TIDAK LEMAH!" Bentaknya dengan suara yang amat keras.
Namun, kemarahan Joy tidak membuat mereka berpindah tempat. Mereka masih dengan posisi formasi.
Mereka lebih takut Joy kenapa-kenapa ketimbang dengan marahnya sekarang. Karena Gavin dua kali lebih menyeramkan dari pada Joy.
"Aku ingin ketemu Helena! Jangan menghalangiku!" Ucap Joy dingin.
"Mengertilah tuan, kami mendapatkan tugas untuk menjagamu. Kalau sampai ada yang terjadi denganmu, nyawa kami adalah taruhannya!" Ucap salah satu pengawal dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar.
"Lalu kalian ingin menghalangiku untuk bertemu dengan dia? Kalian akan menghalangi anak yang ingin sekali ketemu ibunya?" Ucapnya dengan nada yang dingin.
Walaupun sedang emosi, dia tidak berteriak. Karena percuma meledak- ledak seperti tadi, mereka sama sekali tidak takut padanya.
"Telfon Gavin! Aku akan bicara padanya!" Perintah Joy kepada mereka.
Salah satu pengawal memberikan Handphonenya kepada Joy. Namun, saat Joy mencari nomor ayahnya ia tidak menemukannya.
"Kau save apa nomor Ayahku?" Tanya Joy kepada pengawal.
Pengawal mendekat, dia membisikkan sesuatu yang membuat Joy sedikit terkejut.
Kemudian Joy menuliskan nama Monster di kolom pencarian. Akhirnya dia menemukan nomor ayahnya.
"Aku ingin bertemu ibu! Jangan menghalangiku!" Ucap Joy dingin saat Gavin sudah mengangkat teleponnya.
"Ya sudah! Tapi kau harus pergi dengan beberapa pengawal!" Ucap Gavin tegas.
Tut! Tut! Tut!
"Sudah dengar kan? Ayahku sudah mengijinkannya." Ucapnya seraya mengembalikan handphone tadi kepada pemiliknya.
.............
"Kau ini terlalu keras padanya! Dimatanya kau terlihat seperti musuh, bukan Ayah. Berubah lah sedikit!" Nasehat Damian.
Damian adalah bawahan sekaligus sahabat satu-satunya. Kritik, saran, atau makian yang dilontarkan oleh pria itu tidak membuat Gavin marah.
"Aku sudah coba menahannya, tapi sama sekali nggak bisa! Aku ini benar-benar Bodoh!" Ucapnya menyalahkan diri sendiri.
"Terus bagaimana kondisi Helena? Apakah sudah membaik?" Tanya Damian penasaran.
"Kondisinya masih tetap sama. Kalau saja dia bisa menerimaku, mungkin dia tidak akan seperti itu!" Ucap Gavin dengan mata yang berkaca-kaca.
terlihat jelas dia sedang menahan dirinya agar tidak menangis di depan Damian. Walaupun sudah beberapa kali dia menangis di depan pria ini. Dia tetap malu kalau harus menangis lagi.
"Kau cari saja yang lain! Cari yang bisa menerimamu apa adanya! Kau selama ini hanya terpaku padanya terus, kau tidak melihat wanita lain." Ucap Damian Kesal.
Selama ini dia terus menasehati Gavin. Tetapi Gavin sama sekali tidak mendengarkan nasehatnya. Namun, Damian tidak pernah menyerah, dia terus menerus menasehati Gavin.
"Aku sudah muak harus terus membereskan masalah yang kau buat!" Ucap Damian dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.
"Aku masih lebih baik dari pada dirimu yang jomblo itu! Dasar Jomblo tua!" Ledek Gavin.
"Setidaknya aku bukan budak cinta sepertimu! Aku rasa aku bisa hidup tanpa cinta! Cinta itu menyebalkan!" Jawab Damian sambil mengingat kejadian yang dulu.
"Kau tidak mau ke dokter? Siapa tahu penyakitmu ini masih bisa disembuhkan. Kau tidak ingin terus menerus menyakiti orang-orang yang kau sayang kan?" Tanya Damian serius.
"Aku tidak sakit! Aku begini bukan karena punya penyakit! Aku begini karena ulah mereka! Mereka yang udah bentuk aku seperti ini!" Ucap Gavin seraya menatap tajam ke depan. Matanya memancarkan amarah yang sudah ia pendam lama.
"Lagian mereka sudah meninggal. Kau bisa hidup damai kalau kau menghentikan perbuatanmu ini!" Ucap Damian seraya memukul kepala Gavin dengan sangat pelan.
............
Kini Joy berada di rumah sakit jiwa. Terlihat banyak sekali pasien yang diterapi karena memiliki ganguan jiwa.
Ada satu pasien yang sedang duduk di sudut ruangan. Walaupun dalam keadaan sakit, pasien itu masih terlihat sangat cantik.
Sedari tadi Joy memandangi wanita itu. Ada kerinduan yang mendalam dan terpancar jelas di matanya. Walaupun sosok itu tak pernah hadir, ia tetap menyayanginya dengan tulus.
"Bagaimana kabarmu? Aku sekarang sudah dewasa, aku sudah bisa jaga ibu dengan baik." Ucapnya pelan seraya menatap Helena dengan Tatapan rindu.
Joy kemudian melanjutkan langkahnya. Dia mendekati Helena yang sedang ketakutan itu.
Saat dirinya sudah berada tepat di depan ibunya, dia memeluk tubuh yang sedang ketakutan itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku akan jaga ibu." Ucapnya serius dan tegas.
Saat Helena membalas pelukan Joy dengan sangat erat. Joy tersentak, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Apakah ibu sudah mengingatku? Apa dia sudah menerimaku?
Namun....
"Lucas! A...Aku takut! Dia... Monster! Dia jahat! Aku Takut!" Ucapnya sambil berteriak keras.
Tubuh Helena bergetar kuat, Air matanya menetes hingga membasahi punggung Joy. Semakin lama tubuhnya semakin bergetar hebat, ia seakan sedang melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
"Aku mencintaimu Lucas! Aku mencintaimu! Aku tidak menyukainya! Dia kasar! Dia jahat Lucas!" Ucap Helena dengan emosi yang tak terbendung lagi.
Rasa sakit pada punggung dan pinggulnya tidak lebih sakit dari pada rasa sakit yang tertoreh di hati.