NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung dalam kesunyian

Setelah malam pesta yang emosional itu, hubungan mereka memasuki fase "perjanjian tidak tertulis". Arden tidak lagi mengusir Violet, namun ia tetaplah Arden—pria yang lebih banyak bicara lewat tindakan daripada kata-kata manis.

Pagi itu, di kampus, Violet dikejutkan oleh kehadiran dua pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam yang berdiri di depan pintu kelasnya.

"Maaf, kalian siapa ya?" tanya Violet bingung.

"Kami instruksi dari Pak Arden, Nona. Tugas kami adalah memastikan Nona sampai di kelas dan pulang ke rumah dengan aman," jawab salah satu dari mereka dengan kaku.

Violet langsung menepuk jidatnya. "Tuan Bos bener-bener berlebihan! Dikira gue mau perang apa?"

Violet segera mengirim pesan singkat:

"Tuan Bos, ini kampus, bukan zona hijau perang! Kenapa harus pakai pengawal segala? Malu tahu dilihat Rayyan dan temen-temen!"

Hanya butuh sepuluh detik bagi Arden untuk membalas:

"Aman itu mahal, Violet. Dan jangan sebut nama pria itu lagi. Fokus belajar atau saya tambah pengawalnya jadi empat orang."

Violet mendengus, tapi ujung bibirnya berkedut menahan senyum. "Dasar Kulkas Protektif," gumamnya.

Kencan Pertama yang "Kaku"

Sore harinya, alih-alih dijemput supir, mobil Arden sendiri yang sudah terparkir di depan gerbang kampus. Kali ini, Arden menolak untuk turun, hanya menurunkan kaca jendela sedikit sambil memberi kode agar Violet cepat masuk.

"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Violet riang sambil memasang sabuk pengaman.

"Makan malam. Papa bilang aku harus lebih sering mengajakmu keluar agar hubungan ini terlihat 'normal' di depan publik," jawab Arden datar, meski ia sudah mengenakan parfum terbaiknya.

Mereka sampai di sebuah restoran mewah yang sudah dipesan secara pribadi (private booking). Suasananya sunyi, hanya ada suara denting piano di sudut ruangan.

"Tuan, kencan itu harusnya seru, bukan kayak lagi rapat pemegang saham sesepi ini," keluh Violet sambil memotong steaknya. "Ayo dong, tanya sesuatu tentang aku. Apa kek, hobi aku selain ngejar Tuan, atau warna kesukaan aku."

Arden meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi. Ia menatap Violet cukup lama. "Aku sudah tahu warna kesukaanmu. Ungu. Hobimu selain menggangguku adalah menonton film horor tapi akhirnya tidak bisa tidur dan harus menelepon teman-temanmu sampai pagi."

Violet melongo. "Tuan... stalking aku ya?"

Wajah Arden sedikit memerah—sebuah pemandangan langka. Ia berdehem keras. "Aku hanya melakukan riset profil calon pendamping. Itu bagian dari manajemen risiko."

"Manajemen risiko matamu!" Violet tertawa kencang, membuat suasana restoran yang kaku itu mendadak jadi hangat. "Bilang aja kalau Tuan perhatian. Susah banget ya ngomong 'Aku sayang Violet'?"

"Makan makananmu, Violet. Jangan banyak bicara," sahut Arden dingin, tapi ia justru memotongkan bagian steak yang lebih lembut dan menukarnya dengan piring Violet secara diam-diam.

Teror yang Nyata

Saat mereka berjalan keluar dari restoran menuju tempat parkir yang agak remang, sebuah motor melaju kencang ke arah mereka. Pengendaranya mengenakan helm full face hitam dan membawa sebotol cairan yang mencurigakan.

"Violet, awas!"

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Arden menarik pinggang Violet dan memutarnya hingga posisi mereka bertukar. Arden mendekap kepala Violet erat di dadanya, melindunginya sepenuhnya.

Byurr!

Cairan itu meleset dan hanya mengenai aspal, mengeluarkan aroma tajam yang menyengat—cat merah pekat yang dicampur aroma busuk. Motor itu langsung tancap gas dan menghilang di kegelapan.

Violet gemetar di dalam pelukan Arden. Ia bisa mendengar detak jantung Arden yang berdegup sangat kencang, jauh lebih kencang dari miliknya.

"Tuan... Tuan nggak apa-apa?" bisik Violet dengan suara bergetar.

Arden melepaskan pelukannya, tangannya memegang kedua bahu Violet dengan sangat erat. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat penuh amarah yang meledak-ledak. "Kamu terluka? Ada yang kena?"

Violet menggeleng. Arden langsung memeluknya lagi, kali ini lebih erat seolah tidak ingin membiarkan seujung kuku pun dari Violet tersentuh bahu jalan.

"Cukup. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu bermain-main lagi," desis Arden. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon asisten keamanannya. "Cari pemilik motor dengan plat nomor tadi. Jangan bawa ke polisi dulu. Bawa dia ke hadapanku."

Arden menatap Violet dengan tatapan yang sangat dalam. Tidak ada lagi kekakuan, yang ada hanyalah proteksi murni. "Mulai malam ini, kamu tinggal di apartemenku. Aku tidak menerima penolakan."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!