Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Alergi?
Meninggalkan keluarga Alexander yang tak sadarkan diri, kini Violet dan Tuan X, atau yang sekarang bernama Xavier, tengah berada dalam sebuah mobil hitam.
Mereka langsung pulang setelah acara pernikahan selesai. Bahkan mereka juga masih mengenakan pakaian pengantin.
Xavier yang melihat Violet mulai terantuk-antuk karena mengantuk menjadi perhatiannya.
Ia terkekeh melihat Violet yang seperti itu. Ketika kepalanya hampir terbentur ke arah jendela, Xavier dengan gerak cepat mengalihkan kepala Violet pada pundaknya.
Ia memeluk pinggang Violet dengan erat, seolah takut akan kembali terhantuk.
Xavier menatap Violet dengan tatapan dalam. “Kau tetap cantik seperti dulu, Vio. Kau tidak berubah.”
Setelah itu, pandangan Xavier mulai beralih pada tangan kiri Violet. Ia tersenyum tipis. Dalam hatinya ia berkata, “Terima kasih nek. Nenek tidak salah memberikan gelang itu pada Violet.”
Tatapan Xavier kembali pada jalanan malam yang sepi kendaraan karena hari sudah larut malam.
Akhirnya mobil pun tiba di kediaman Xavier.
Tin! Tin! Tin!
Suara klakson dibunyikan. Penjaga yang menjaga gerbang langsung membukakan gerbang ketika mendengar bunyi klakson.
Saat sudah sampai di depan rumah, Xavier perlahan memindahkan kepala Violet terlebih dahulu pada sandaran kursi. Setelah keluar, barulah ia mengangkat tubuh Violet dengan pelan.
“Eunghhh...” lenguh Violet ketika merasa ada yang menggerakkannya.
Xavier yang melihatnya malah terkekeh. “Kau memang tidak berubah. Bahkan di saat aku menggendongmu, kau tidak kunjung bangun.”
“Tolong bukakan pintu rumah,” titah Xavier.
Sang sopir pun membantu membukakan pintunya. Setelah itu, Xavier pun masuk dengan Violet yang berada dalam gendongannya.
Kepala pelayan yang melihat Tuan nya sudah pulang pun langsung menghampiri.
“Tuan?”
“Tolong gantikan pakaian Violet di kamar saya.”
“Baik, tuan.”
Kepala pelayan pun segera bergegas menuju kamar Violet untuk mengambil pakaian ganti.
Sedangkan Xavier, ia langsung melangkahkan kakinya ke arah lift.
Ting!
Lift pun naik ke lantai 2.
Pintu lift terbuka.
Hanya beberapa langkah dari lift, Xavier langsung membuka kamarnya secara perlahan.
Kemudian, ia pun menidurkan Violet di ranjangnya.
“Kau pasti kelelahan sekali setelah pulang sekolah langsung menikah. Setelah ini, aku tidak akan membuatmu kelelahan. Cup.”
Setelah mengecup Violet singkat, Xavier pun berjalan keluar kamar, dan terlihat kepala pelayan sudah berada di depan pintu.
Xavier segera menyuruh kepala pelayan untuk segera menggantikan pakaian Violet, sedangkan ia pergi ke ruang kerjanya.
...****************...
Keesokan paginya, di kediaman Alexander, kepala pelayan mengetuk pintu kamar majikannya bahwa sarapan sudah siap. Setelah itu, ia pun pergi tanpa menunggu terlebih dahulu.
15 menit... 30 menit... satu jam, majikannya masih tidak kunjung turun.
Kepala pelayan pun terheran, tidak biasanya majikannya terlambat untuk sarapan. Ia pun segera kembali menuju kamar majikannya.
Ia mengetuk lagi, satu kali, masih tidak ada jawaban, diketukkan ke dua, tiga hingga empat, masih tidak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya dengan berat hati, kepala pelayan pun masuk. Ia melihat ke sekeliling. Ranjang masih terlihat rapi, meja rias pun masih terlihat sama. Begitu pun dengan lemari, masih tertutup rapat.
Kepala pelayan pun masuk lebih jauh. Matanya melihat ke arah kamar mandi, masih tertutup. Ketika langkahnya semakin dekat, kakinya tak sengaja menabrak sesuatu, “Aduh... apa ini?”
Ketika melihat ke bawah, betapa terkejutnya ia, melihat tuan dan nyonya nya, tergeletak di dekat kamar mandi.
Kepala pelayan segera berlari ke luar. “Tolong! Tolong!”
Suaranya terdengar sampai ke luar.
Pelayan dan satpam yang berjaga di luar pun ikut masuk.
“Ada apa, bi? Kenapa?!”
“Itu... itu...”
“Itu apa?” tanya pelayan dengan cemas.
“Itu, tuan sama nyonya... mereka pingsan di kamarnya.”
“Apa?! Bagaimana bisa? Bukankah semalam tidak ada kejadian apa-apa? Kenapa nyonya dan tuan bisa pingsan?” tanya Pak Maman.
“Saya juga gak tahu, Pak Maman. Ketika saya masuk, mereka sudah tergeletak di lantai.”
“Kalau begitu, kita segera bawa nyonya dan tuan ke rumah sakit.”
Mereka semua mengangguk.
“Pak Supra, tolong siapkan mobil.”
“Baik.” Pak Supra langsung bergegas ke arah garasi, untuk menyiapkan mobil.
Sedangkan Pak Maman, kepala pelayan dan beberapa pelayan lain masuk ke dalam kamar majikannya dan membawanya ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Pak Supra.
Pak Maman berada di depan sebelah sopir, sedangkan kepala pelayan berada di kursi belakang beserta nyonya dan tuannya.
“Pak Supra! Cepetan pak!” ucap kepala pelayan dengan nada cemas.
Kepala pelayan terus melafalkan do’a agar Tuan dan Nyonya nya baik-baik saja.
Akhirnya, mobil pun sampai di depan rumah sakit.
Pak Maman langsung keluar dan berteriak pada perawat yang berjaga.
“Tolong! Tolong! Tuan dan Nyonya saya pingsan! Mereka ada di dalam mobil!”
Perawat dan tenaga medis lainnya yang mendengar teriakan itu langsung berlari mendekat dengan membawa dua buah brankar.
“Segera bawa ke UGD!” perintah salah satu dokter yang baru datang.
Tanpa membuang waktu, Tuan Darius dan Nyonya Viony segera dipindahkan ke atas brankar. Wajah keduanya terlihat pucat, napas mereka masih terasa walaupun sangat lemah.
Mereka berlari ke UGD.
Pintu langsung ditutup oleh perawat. Lampu UGD menyala berwarna merah.
Kepala pelayan terduduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar, sementara Pak Maman terus mondar-mandir dengan wajah tegang.
15 menit... 40 menit... satu jam...
Waktu terasa berjalan begitu lambat.
Di dalam ruang pemeriksaan, dokter mulai melakukan pengecekan menyeluruh.
Seorang dokter pria tengah memeriksa kondisi Tuan Darius dan Nyonya Viony secara bergantian. Ia mengernyit saat melihat kondisi kulit mereka yang terlihat sama.
“Perawat, lihat ini,” ucapnya serius.
Perawat mendekat, dan langsung terkejut. Di tangan, lengan dan leher muncul bentolan-bentolan besar berwarna kemerahan, beberapa bahkan tampak seperti bekas garukan yang cukup dalam.
“Dok... ini seperti reaksi alergi biasa, tapi...” ucap perawat ragu.
“Ya, tapi ini bukan alergi biasa,” potong dokter itu.
Ia kemudian memeriksa lebih teliti lagi dan memperhatikan pola bentolan dan luka yang muncul.
“Seperti ada sesuatu yang memicu reaksi kulit hingga menjadi seperti ini.”
Dokter pun menggunakan sarung tangannya, dan perlahan mengusap kulit mereka. Ketika dilihat dari sarung tangannya, seperti ada partikel debu yang menempel pada kulit mereka.
“Apakah itu berbahaya, dok?”
“Jika hanya reaksi kulit biasa, tidak terlalu. Tetapi, jika efeknya sampai pingsan seperti ini, itu berarti kondisi tubuh mereka tidak tahan.”
Dokter itu lalu menarik napas. “Segera beri penanganan untuk alergi berat. Suntikan antihistamin dan lakukan observasi semua kondisi vitalnya.”
“Baik, dok.”
..._________...
Di luar...
Pintu UGD akhirnya terbuka.
Dan terlihat, seorang dokter keluar. Kepala pelayan dan Pak Maman langsung berdiri menghampiri dokter.
“Dokter, bagaimana kondisi Tuan dan Nyonya kami?” tanya kepala pelayan dengan wajah cemas.
...... To be continued ......