"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepercayaan yang buta
Rani mengusap lengan Angga, menatap suaminya dengan penuh rasa percaya. "Tapi untung ada kamu di rumah. Mas, tolong jagain Tyas ya selama aku pergi dua hari ini? Tolong bantu dia kalau dia bingung atau butuh sesuatu di sekitar sini. Kasihan, dia belum hafal daerah kampus barunya."
Mendengar permintaan tulus dari istrinya, rasa bersalah sempat menyengat hati Angga. Namun, bayangan tubuh sintal Tyas dengan kaus ketatnya tadi sore jauh lebih kuat mencengkeram pikirannya. Dorongan hasrat yang sudah lama mati suri di dalam dirinya kini justru melihat kepergian Rani sebagai sebuah kesempatan emas.
Angga memaksakan sebuah senyuman, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ran. Kamu tenang saja, pergilah fokus bekerja. Soal Tyas... biar Mas yang jaga di rumah."
Sebagai seorang kakak sekaligus istri, Rani memiliki hati yang teramat tulus. Dalam kamus hidupnya, tidak pernah sekalipun terlintas prasangka buruk, baik kepada Angga yang telah menemaninya selama lima tahun, maupun kepada Tyas, adik kandung yang sangat ia sayangi. Baginya, Angga adalah suami yang bertanggung jawab meskipun belakangan terasa dingin, dan Tyas hanyalah adik kecilnya yang lugu. Rani benar-benar percaya bahwa semua akan baik-baik saja di rumah ini.
"Ya sudah kalau begitu, Mas masuk ke kamar duluan ya. Mau bersih-bersih," pamit Angga, bangkit dari sofa dengan perasaan yang campur aduk.
"Iya, Mas," jawab Rani sambil tersenyum hangat, menatap punggung suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar utama.
Setelah Angga masuk, Rani berdiri dan melangkah menuju ujung lorong. Ia mengetuk pintu kamar tamu dengan pelan agar tidak mengejutkan adiknya. "Tyas? Belum tidur, Sayang?"
Pintu terbuka, memperlihatkan Tyas yang sudah mengenakan piyama katun tipis bermotif kartun. Rambut pendek sebahu miliknya tampak sedikit berantakan, sisa-sisa kantuk mulai menggelayuti matanya. "Eh, Mbak Rani. Belum, Mbak. Ada apa?"
Rani masuk dan duduk di tepi ranjang, diikuti oleh Tyas. "Mbak mau ngomong sebentar. Jadi begini, mulai besok sore, Mbak harus dinas ke luar kota selama dua hari karena ada urusan bisnis yang mendesak."
Tyas sedikit terkejut, matanya mengerjap. "Yah... Mbak Rani kok langsung pergi? Tyas kan baru hari pertama di sini."
Rani terkekeh pelan sambil mengusap bahu adiknya yang terasa penuh dan padat. "Maaf ya, ini mendadak dari kantor. Tapi kamu tenang saja, di rumah ada Mas Angga kok. Kalau kamu butuh apa-apa, atau mau diantar ke kampus untuk urusan administrasi, bilang saja sama Mas Angga. Dia sudah Mbak titipi untuk jaga kamu."
Tyas mengangguk dengan polos, senyumnya kembali terkembang. "Oh, iya Mbak, siap. Mbak Rani tenang saja di luar kota, Tyas bisa jaga diri kok di rumah."
Melihat kepolosan di wajah adiknya, Rani merasa hatinya sangat tenang. Ia memeluk Tyas sejenak, memberikan kecupan hangat di kening sang adik, lalu pamit untuk kembali ke kamarnya sendiri. Rani melangkah pergi dengan keyakinan penuh bahwa rumah tangganya aman, tanpa menyadari bahwa keputusannya malam itu justru membuka gerbang bagi ujian terbesar dalam hidupnya.
Sebagai seorang pegawai bank, jadwal kerja Angga memang tidak seperti pegawai kantoran pada umumnya yang terikat jam nine-to-five yang kaku. Shift kerjanya sering kali tidak tentu; kadang ia harus masuk pagi buta, kadang siang hari, dan tak jarang pula ia mendapatkan jadwal fleksibel yang membuatnya bisa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Fleksibilitas inilah yang membuat Rani merasa sangat terbantu, terutama dengan keberadaan Tyas yang kini menumpang di rumah mereka.