NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

" Jawab Nadira! Apa yang kamu lakukan di kamarku malam malam begini!."

Suara Mahesa terdengar dingin. Tatapan mengintimidasi ia arahkan pada Nadira.

" Tuan... Aku datang kemari karena ingin mengembalikan uang yang anda berikan. Itu terlalu banyak." Nadira terlihat gugup dan menunduk.

" Aku tidak akan mengambil apa yang telah aku berikan. Kalau tidak mau buang saja."

Deg

"Uang sebanyak itu di...buang..." celetuk Nadira dalam hati tak percaya.

Tiba tiba Mahesa mencengkram lengan Nadira, dada bidang Mahesa dapat Nadira rasakan menyentuh tubuhnya. Saat ini posisi mereka sangat dekat.

" Apa kamu menginginkan sesuatu selain mengantar uang ini? Apa kamu mau mendapatkan hukuman lebih awal? Baiklah akan aku turuti!."

Nadira dapat merasakan bau nafas segar dari Mahesa, rambutnya masih basah, Nadira merasakan air berjatuhan di pipinya.

" Sekarang berbalik!." ucap Mahesa dengan dingin.

"Apa? Dia akan menghukum ku lagi?." gumam Nadira dalam hati. Tubuhnya kembali gemetar.

" Tuan, aku tidak mau di hukum!." Nadira memohon pada Mahesa sambil mengatupkan kedua tangannya.

" Kamu yang menginginkannya!"

Deg

Jantung Nadira berdegup kencang, kalau ia tahu begini akhirnya ia tak mau datang ke kamar ini.

Nadira pasrah, ia tahu tak ada yang bisa menyelamatkan nya dari Mahesa.

Mahesa mulai menjauh, ia terlihat berjalan ke arah meja yang di atas sana ada benda yang membuat Nadira merinding. Benda itu adalah ikat pinggang milik Mahesa.

Mahesa terlihat menyeringai, ia memainkan ikat pinggang itu dengan menyeramkan.

Nadira menelan ludah dengan susah payah, kali ini riwayatnya akan tamat.

" Berbalik!." titah Mahesa dengan tatapan tajam.

" Tuan..."

" Berbalik!." ucap Mahesa dengan dingin.

Nadira tak punya pilihan, perlahan ia berbalik dan kemudian menutup matanya.

Mahesa menyeringai, ia mulai mengangkatnya ikat pinggang di tangannya ke atas.

Namun tiba tiba, Mahesa malah membuang ikat pinggang itu di atas kasur tepat di hadapan Nadira.

" Pergilah! Jaga Keano dengan baik. Kalau aku menghukum mu sekarang, tak ada yang menjaga Keano."

Nadira menatap ikat pinggang menyeramkan di hadapannya, kemudian ia mengedipkan matanya berkali-kali. "Dia sungguh mengampuniku?."

" Pergi sebelum aku berubah pikiran!."

Suara Mahesa terdengar dingin.

" Sebaiknya aku harus pergi sebelum dia marah lagi?."

Nadira berlari keluar dari kamar Mahesa tanpa menatap pria itu.

Sementara Mahesa memperhatikan Nadira yang berlari ketakutan. Hingga akhirnya Nadira tak lagi terlihat. Mahesa duduk di atas ranjang.

" Kenapa? tanganku sangat berat mengayunkan ikat pinggang itu? Padahal dia pantas mendapatkannya?.". Gumamnya dalam hati.

Mahesa menatap langit langit kamar, ia bingung dengan dirinya akhir akhir ini. Nadira memang sudah menjaga Keano dengan baik, tapi dia juga telah membunuh Nayla. Tapi Mahesa seolah enggan memberikan hukuman pada Nadira.

Di saat yang sama, Mahesa menatap uang yang diletakkan Nadira di atas nakas. " Padahal dia sangat butuh uang, tapi tidak mau menerima nya. Sebenarnya apa yang di inginkan wanita itu?."

***

Nadira sudah berada di dalam kamar Keano, ia berbaring di atas sofa besar yang ada di kamar itu. Keano sudah tidur, sementara Nadira masih terjaga.

Nadira sangat bingung, kenapa Mahesa tidak menghukumnya. Padahal Mahesa masih membencinya. Tapi Nadira teringat kalau Mahesa membebaskannya karena Keano. Kalau Nadira sakit, tak ada yang mengurus Keano.

" Wajar sih seorang ayah seperti itu, apapun masalahnya anak lebih penting." gumam Nadira.

Tapi Nadira yang polos malah memikirkan dada Mahesa yang berotot. Bahkan wangi nya masih dapat Nadira cium. Juga rambut Mahesa yang masih basah membuat pria itu seribu kali lebih tampan dari biasanya.

Nadira memukul jidatnya dengan pelan. " Apa yang kamu pikirkan Nadira! tidurlah!." ucapnya pada diri sendiri.

Nadira memutuskan untuk memejamkan mata dan berusaha tidur.

***

Ke esokan paginya, seperti biasa Nadira akan memandikan Keano, kemudian mengajaknya bermain.

Bi Siti datang membawa susu hangat untuk Keano.

" Nadira, ini dari tuan Mahesa. Dia bilang kalau tidak mau di buang saja. bibi tidak tahu isinya apa." ucap Bi Siti sambil menyerahkan amplop coklat kepada Nadira.

Nadira terkejut, ternyata Mahesa kembali memberikan uang itu padanya. Nadira meraih amplop itu perlahan.

" Ini...uang bi, tuan Mahesa memberikan gajiku semalam. tapi terlalu banyak, jadi aku mengembalikannya pada tuan Mahesa." Nadira menjelaska isi amplop itu.

Bi Siti menutup mulut dengan tangan. " Jadi, ini uang? Astaga. Bibi pikir ini barang." ujar bi Siti syok.

" Bi, Nadira tahu dia kaya raya. Tapi tak seharusnya dia membuang uang kan bi. Itu namanya tidak menghargai uang. Di luar sana orang orang susah payah mencari uang, dia malah se enaknya bilang di buang." celetuk Nadira terlihat kesal.

Bi Siti tersenyum melihat Nadira. " Itu tandanya tuan Mahesa ingin kamu menerima uang ini. Makannya dia bilang di buang saja kalau Nadira tidak mau. Simpan saja uang ini, suatu hari pasti akan dibutuhkan. Harusnya Nadira bersyukur, karena bisa kirim uang sama ibu Nadira di kampung dengan uang ini."

" Tapi bi... Ini terlalu banyak untuk gaji sebulan." Nadira terlihat tidak enak hati.

" Sudah simpan saja." ucap Bi Siti.

Nadira tak punya pilihan, ia tak mungkin membuang uang itu. Nadira memilih untuk menyimpannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar untuk mengganti uang bi Siti yang ia pinjam.

" Bi, ini uang bibi kemarin." Nadira menyodorkan uang itu.

Bi Siti tersenyum, " Tidak perlu diganti. simpan saja uangnya."

Nadira tidak menyangka jika bi Siti tidak mau menerima uang itu. " Bibi... Nadira tidak enak..."

Bi Siti membelai lembut rambut Nadira. " Anggap saja bibi ibumu, seorang ibu tidak akan meminta ganti saat memberikan uang pada anaknya."

Nadira meneteskan air mata melihat kebaikan bi Siti. Ia tak menyangka jika bi Siti bagaikan malaikat. " Terimakasih bibi." Nadira memeluk bi Siti.

" Sudah sudah, sebentar lagi tuan muda harus bermain di taman. Kamu bawa dia ke taman ya. Bibi masih ada pekerjaan di dapur, jadi tidak bisa menemani kalian ke taman." ujar bi Siti melepaskan pelukan.

Nadira mengangguk sambil menghapus air matanya.

Nadira meraih tangan bi Siti yang akan pergi.

" Terimakasih bibi, Nadira akan selalu ingat kebaikan bibi." ujar Nadira.

Bi Siti tersenyum, kemudian ia meninggalkan kamar itu.

Nadira menatap uang yang ada di atas pahanya, ia memutuskan menyimpan uang itu di dalam lemari baju milik Keano.

Kemudian Nadira membawa Keano ke taman.

Saat ini Nadira sudah berada di taman, bunga bunga bermekaran dengan indah dan penuh warna. Nadira menggendong Keano menyusuri taman sambil memperkenalkan nama nama bunga yang indah itu pada Keano.

Keano terlihat tertawa dan sangat senang melihat taman berwarna warni itu.

Nadira tersenyum lepas saat bersama Keano.

Sementara itu dari dalam ruangan kaca, Mahesa sedang memperhatikan Nadira. Mahesa bisa melihat ketulusan Nadira pada Keano. Mahesa juga melihat Keano begitu nyaman bersama Nadira, keano terlihat lebih sehat dan ceria saat bersama Nadira.

" Mereka berdua sangat indah seperti bunga bunga itu..." gumam Mahesa tanpa sadar.

Diana yang baru saja tiba duduk di samping Mahesa. Tapi Mahesa tidak menyadari kedatangannya. Diana penasaran apa yang sedang di lihat oleh Mahesa hingga tidak menyadari kedatangannya.

Diana membulatkan mata dengan marah, ternyata Mahesa sedang memperhatikan Nadira yang berada di taman bersama Keano.

Diana mengepalkan tangannya. "Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera bertindak!."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!