"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Panggilan Darurat
"Den ... Den Elang! Tolong, Den ... bisa segera ke rumah besar sekarang?" suara Mbok Darmi terdengar dari seberang sambungan, bergetar hebat diiringi isak tangis panik yang coba ditahan. Suasana di latar belakang panggilan itu terdengar riuh oleh langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Ada apa, Mbok? Bicara yang jelas," tuntut Elang, rahangnya kembali mengetat, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa cemas yang tiba-tiba menyergap ulu hatinya.
"Nyonya Besar, Den ... Nyonya Aisyah sebenarnya mendadak drop setelah pulang dari hotel semalam. Ini ... sepertinya penyakit jantungnya kumat lagi, Den. Wajah Nyonya pucat sekali layaknya kertas, napasnya sesak dan putus-putus sejak tadi di dalam kamar. Dokter pribadi sedang dalam perjalanan ke sini, tapi Nyonya terus memanggil nama Den Elang ...."
Mendengar rentetan kalimat panik dari Mbok Darmi, seluruh persendian tubuh Elang mendadak kaku. Bayangan wajah Nenek Aisyah yang menatapnya penuh kekecewaan di ruang transit hotel semalam langsung berputar liar di dalam ingatannya. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadanya dengan telak.
"Em ... baiklah, Mbok. Saya akan segera ke sana sekarang juga. Pastikan Nenek tetap tenang dan beri obat daruratnya dulu," jawab Elang cepat, memotong kalimat Mbok Darmi tanpa menunggu penjelasan lebih lama lagi.
Ia langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Rencana untuk mengganti kemeja biru tuanya dengan pakaian santai rumahan seketika batal. Elang memutar tubuhnya dengan gerakan kilat, melangkah lebar meninggalkan kamar utama lantai dua tanpa memedulikan penampilannya yang mulai tampak sedikit kusut. Pikirannya kini sepenuhnya tersita oleh kondisi kesehatan sang nenek yang mendadak drop.
Elang menuruni anak tangga dengan langkah-langkah besar yang menimbulkan suara debam konstan di seluruh penjuru rumah. Ia berjalan tergesa-gesa melintasi ruang tengah, berniat langsung menuju pintu utama dan mengambil kunci mobilnya di atas meja konsol. Pria itu bergerak begitu cepat, mengabaikan segala hal di sekitarnya, bahkan keluar dari rumah baru itu dengan tergesa-gesa tanpa berniat untuk berpamitan atau menengok kondisi Ega di dalam kamar tamu bawah terlebih dahulu. Bagi Elang saat ini, nyawa Nenek Aisyah berada di atas segala-galanya.
***
Sementara itu, di area dapur yang terbuka dan menyatu dengan ruang makan lantai satu, kesibukan para Asisten Rumah Tangga yang baru mulai mereda karena menu makan siang sudah hampir selesai ditata. Salah seorang pelayan muda tampak mengantarkan segelas besar jus alpukat kental dengan lumatan susu cokelat di tepian gelas ke atas meja bar dapur.
Cindy duduk dengan anggun di salah satu kursi bar kayu setinggi satu meter. Begitu mendengar suara deru mesin mobil mewah Elang yang menyala secara mendadak di halaman depan, disusul suara ban yang berdecit keras mencengkeram aspal tanda kendaraan itu dipacu dengan kecepatan tinggi, sepasang sudut bibir Cindy perlahan terangkat. Rambut kecokelatannya yang terurai bergoyang pelan saat ia menoleh, menatap pintu utama yang kini tertutup rapat.
Wanita itu mengulas senyum samar yang penuh kepuasan, lalu meraih gelas jus alpukat dingin itu dengan jemarinya yang tirus. Ia menyesap minuman manis itu dengan sangat perlahan, menikmati setiap tetes kemewahan fasilitas yang kini bisa ia akses kembali setelah bertahun-tahun hidup nelangsa di dalam rumah kontrakan sempit di pinggiran kota.
Setelah menghabiskan setengah dari jus alpukatnya, Cindy turun dari kursi bar. Ia membawa sisa minuman di dalam gelas itu, melangkah pelan dengan ritme kaki yang sengaja diatur tanpa suara, menuju ke dalam kamar tamu tempat Ega berada.
Pintu kamar tamu ditutupnya dengan rapat dari dalam, lalu ia memutar kunci selotnya hingga terdengar bunyi klik kecil yang samar. Atmosfer di dalam kamar itu mendadak berubah drastis. Topeng wajah sedih, rapuh, dan penuh duka yang sejak kemarin malam Cindy pamerkan di depan Elang kini luruh seutuhnya, digantikan oleh tatapan mata yang dingin, tajam, dan sarat akan ancaman yang mematikan.
Ega, yang sedang berbaring lemas di atas ranjang dengan kompresan kecil yang mulai mengering di dahinya, perlahan membuka sepasang mata bulatnya. Bocah berusia empat tahun itu menatap ibunya dengan tatapan ketakutan yang mendalam. Tubuh mungilnya mendadak menegang di balik selimut tebal, seolah sudah hafal dengan perubahan watak sang ibu jika mereka sedang berada di situasi tanpa ada orang lain yang melihat.
Cindy melangkah mendekati sisi ranjang, meletakkan gelas jusnya di atas meja nakas dengan ketukan yang cukup keras hingga menimbulkan bunyi denting. Ia menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajah pucatnya yang tirus tepat di depan wajah mungil Ega. Kedua matanya menyipit tajam, memancarkan aura intimidasi yang kuat pada anak kandungnya sendiri.
"Ega, dengar baik-baik ucapan Ibu sekarang," desis Cindy dengan nada suara yang rendah, dingin, dan penuh penekanan yang menusuk, sangat kontras dengan suara merdu memelas yang ia gunakan di depan Elang beberapa menit lalu.
Cindy mencengkeram pelan dagu kecil Ega, memaksanya untuk terus menatap lurus ke dalam manik matanya. "Kalau kamu mau tetap tinggal di rumah mewah ini, makan makanan yang enak setiap hari, dan tidur di kasur yang empuk bersama Papa ... kamu harus selalu nurut dan patuh pada semua ucapan Ibu! Mengerti?!"
Ega tidak menjawab. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk mata bulatnya, namun bocah kecil itu menahannya sekuat tenaga agar tidak tumpah, karena ia tahu tangisannya hanya akan memicu kemarahan yang lebih besar dari ibunya jika Elang tidak ada di rumah.
"Jangan sekali-kali kamu berani melawan Ibu, atau mengadu yang macam-macam pada Papamu tentang apa yang Ibu lakukan padamu pagi ini!" ancam Cindy kian tajam, memperdalam tatapan intimidatifnya hingga membuat Ega kian menciut ketakutan di balik selimut. "Kalau sampai kamu berani membuka mulutmu yang kecil itu ... Ibu tidak akan segan-segan untuk kembali menitipkanmu dan membuangmu di panti asuhan yang kotor seperti sebelumnya! Biar kamu kelaparan sendirian di sana! Dengar itu, Ega?!"
Mendengar ancaman tentang panti asuhan—tempat yang paling ditakuti dalam memori singkat masa kecilnya—Ega yang sedang didera rasa sakit di sekujur badannya akibat sisa demam hanya bisa diam membisu. Bocah malang itu meremas kuat-kuat ujung selimut katunnya, menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan seluruh rasa takut, perih, dan duka di hatinya agar tidak menjelma menjadi suara tangisan yang bisa membuat ibunya kian murka. Di dalam kamar tamu yang sunyi itu, di balik kemegahan rumah baru sang CEO, sebuah sandiwara manipulasi yang keji baru saja memperkokoh cakar-cakarnya di atas penderitaan seorang anak kecil yang tidak berdosa.
Bersambung ...
Sabar ya Kakak Cantik 🫣🫣, Elang-nya emang agak rada-rada.