NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

Matahari sore itu terasa begitu membakar kulit, sekering tenggorokan Hendra yang sejak tadi tak henti-hentinya mengumpat di dalam mobil. Setelah drama pingsan palsu Arumi di rumah sakit yang ternyata dinyatakan dokter murni karena stres ringan, Hendra memutuskan untuk membawa wanita itu pulang ke rumahnya.

Di kursi samping kemudi, Arumi masih memegangi keningnya dengan wajah cemberut.

"Mas, kepalaku masih pusing banget tahu. Kamu sih, pakai bentak-bentak aku di parkiran tadi. Harusnya kamu tuh mikirin kesehatan calon istri kamu ini!"

Hendra mencengkeram setir mobil dengan sangat erat, urat-urat di tangannya menonjol.

"Arumi, bisa diam tidak?! Perusahaan di ambang kehancuran, kita dituntut sepuluh miliar, dan kamu masih bisa-bisanya menuntut aku untuk bersikap manis?!"

"Ya kan aku—"

Kalimat Arumi terputus saat mobil mereka perlahan memasuki kawasan perumahan elite tempat mereka tinggal. Dari kejauhan, tampak sebuah truk kontainer besar terparkir tepat di depan gerbang rumah mereka. Tidak hanya itu, beberapa pria berbadan tegap dengan seragam hitam tampak sibuk mengangkut barang-barang keluar dari dalam rumah.

"Lho, Mas. Itu kenapa rumah kita ramai sekali? Itu barang-barang siapa yang dikeluarkan?!" tanya Arumi mendadak panik, rasa pusingnya hilang seketika.

Hendra membelalakkan matanya. Ia mengenali sofa, televisi, bahkan lukisan dinding yang sedang diangkat oleh orang-orang itu.

"Itu... itu barang-barang kita!"

Hendra langsung menginjak rem dengan kasar hingga mobil berhenti mendadak. Belum sempat mereka turun, suara jeritan histeris seorang wanita paruh baya sudah memecah keheningan jalanan.

"Hendra! Arumi! Tolong, Nak! Ini orang-orang berbadan besar tiba-tiba masuk dan mengusir Ibu!" teriak ibu Arumi.

Wanita berlari tertatih-tatih mendekati mobil Hendra dengan daster yang agak kusut. Di belakangnya, tampak koper-koper pakaian miliknya dan milik Arumi sudah tergeletak begitu saja di atas trotoar, berserakan seperti tumpukan sampah.

Arumi langsung turun dari mobil dengan histeris. "Ibu! Ada apa ini sebenarnya?! Siapa yang berani mengusir Ibu dan mengeluarkan barang-barang kita?!"

"Ibu tidak tahu, Rum! Mereka datang membawa surat-surat resmi, katanya rumah ini sudah disita dan bukan milik Hendra lagi!" tangismya sembari menunjuk ke arah teras rumah.

Hendra melangkah maju dengan amarah yang meledak-ledak. Ia mendekati salah satu pria tegap yang tampaknya menjadi pemimpin di sana.

"Heh! Berhenti! Apa-apaan kalian ini, hah?! Masuk ke rumah orang tanpa izin dan membuang barang-barang saya! Saya ini pemilik sah rumah ini! Saya bisa laporkan kalian ke polisi atas pasal pencurian dan perusakan!"

Mendengar gertakan Hendra, pria tegap itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum remeh, lalu mundur satu langkah untuk memberikan jalan kepada seorang pria berkacamata yang baru saja keluar dari dalam rumah membawa sebuah map dokumen hitam.

Pria itu adalah Pak Roni, kuasa hukum Ningsih.

"Selamat sore, Pak Hendra. Kita bertemu lagi," sapa Pak Roni dengan nada suara yang teramat santai namun menohok.

Hendra tertegun, jantungnya kembali berdegup menggila. "Pak Roni?! Kenapa anda ada di rumah saya? Apa hubungannya PT Adiwangsa dengan aset pribadi saya?!"

Pak Roni terkekeh pelan, lalu membuka map hitam di tangannya dan menunjukkan sebuah sertifikat tanah dan bangunan tepat di depan wajah Hendra.

"Rumah anda, Pak Hendra? Maaf sekali, sepertinya anda mengalami amnesia jangka pendek. Silakan anda baca baik-baik nama yang tertera di sertifikat otentik ini."

Hendra merebut dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak sempurna saat melihat nama pemilik yang tertulis dengan jelas di sana, Ningsih Adiwangsa.

"T–tidak mungkin..." lirih Hendra, tubuhnya mendadak lemas seketika. "Rumah ini... rumah ini kan aku yang membelinya lima tahun lalu!"

"Betul, anda yang membelinya. Tapi menggunakan uang dari rekening pribadi nyonya Ningsih sebagai modal awal, dan seluruh kepemilikan mutlak sejak awal terdaftar atas nama beliau," jelas Pak Roni dengan tegas. "Dan berdasarkan instruksi langsung dari pemilik sah, mulai sore ini, hak guna bangunan untuk anda telah dicabut. Rumah ini akan dikosongkan dan digembok."

Arumi yang mendengar hal itu langsung berteriak tidak terima, ia merangsek maju dan mencoba merebut dokumen dari tangan Pak Roni.

"Bohong! Ini pasti surat palsu buatan wanita kampung itu! Mas Hendra, jangan percaya! Rumah mewah ini milik kita! Aku tidak mau tidur di jalanan!"

"Nona Arumi, jaga ucapan anda," potong Pak Roni dengan tatapan mata yang sangat tajam, membuat Arumi langsung terintimidasi. "Jika Anda menolak keluar, petugas kepolisian di dalam tidak akan segan-segan menyeret anda dan ibu anda ke sel tahanan atas pasal penyerobotan tanah tanpa izin. Paham?"

Hendra mati kutu. Sisa-sisa wibawa dan kesombongannya sebagai direktur PT Buana runtuh total sore itu juga. Ia menatap nanar ke arah rumah megahnya yang kini sedang dipasangi rantai dan gembok besar di bagian gerbangnya.

"Mas... bagaimana ini, Mas? Kita mau tinggal di mana kalau rumah ini diambil? Semua baju dan tas bermerekku ditaruh di trotoar begini! Aku tidak mau miskin, Mas!" tangis Arumi pecah, ia mencengkeram lengan Hendra dengan panik.

"Diam kamu, Arumi! Ini semua gara-gara kamu yang gatal dan tidak bisa masak itu! Kalau bukan karena idemu untuk mengoplos bahan proyek dan kesombonganmu semalam, Ningsih tidak akan pernah menghancurkan aku sampai sebegininya!" bentak Hendra frustrasi, melampiaskan seluruh kemarahannya pada Arumi.

"Kok kamu malah menyalahkan aku, Mas?! Kamu sendiri yang serakah!" balas Arumi tidak mau kalah.

Di tengah pertengkaran hebat dan tangisan histeris keluarga parasit itu di pinggir jalan, sebuah mobil Alphard hitam mewah perlahan melintas di depan gerbang. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun, menampilkan sosok Ningsih yang duduk anggun sembari memangku Luna.

Ningsih menatap Hendra dan Arumi yang sedang terlantar di atas trotoar dengan tatapan yang teramat dingin dan puas. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan, sebelum akhirnya menaikkan kembali kaca mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan mereka yang kini benar-benar jatuh miskin di jalanan.

"Ma, bukankah itu papa? Kenapa papa ada di luar dan barang-barangnya berantakan di sana?" tanya Luna sembari menunjuk ke arah trotoar.

Ningsih melirik sekilas dari balik kaca mobil, lalu mengusap rambut putrinya dengan sangat lembut. "Papa kamu sedang latihan jadi gelandangan, Sayang."

"Gelandangan?" Luna mengerutkan dahi kebingungan.

"Kenapa? Apa Luna kasihan melihat papa seperti itu?" tanya Ningsih sengaja memancing reaksi sang putri.

Secara tak terduga, Luna menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Ma! Luna nggak suka papa nikah lagi dengan tante centil itu. Kalau papa mau latihan jadi gelandangan, ya sudah biarkan aja!"

Ningsih tersenyum puas, pengkhianatan Hendra memang telah menutup rapat pintu maaf, bahkan dari darah dagingnya sendiri.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!