Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKANDAL
"Ck, itu cewek kamu kah? Heh, Lingga. Perbuatan kamu itu norak banget tahu, gak. Ngapain kamu blow up masalah tuh cewek, ujung-ujungnya aku yang kena! Kamu senggol dia urusan hamil tanpa suami, kamu tak terima atau bagaimana? Kamu gak sadar apa yang kamu lakukan bisa menjadi boomerang bagi kita berdua. Ingat, Ngga. Istri kamu tuh influencer, banyak yang gak suka juga. Kalau para netizen nyerang aku gimana?" Calista mengomel, akun pribadinya banyak yang tag dirinya juga, bahkan saat dia posting satu brand makanan, muncul beberapa komentar mengenai suaminya sedang menyerang perempuan lain.
"Gak peduli," jawab Lingga cuek. Dia mana bisa berpikir panjang dan efek apa saja yang akan ditimbulkan pasca beredarnya video itu. Emosi sesaat, membuat Lingga menggila. Kini.Calista juga ikut was-was kalau sisi kelam kehidupannya bisa dikuliti para netizen. Meski tak terlibat langsung, namanya para netizen kepintarannya melebihi badan intelejen negara.
"Ck, gak peduli. Enak banget ya mulut kamu bilang begitu, lepas tangan saja. Netizen tuh pada tag aku, dih aku kenal sama cewek kamu juga enggak," kesal Calista.
"Kalau kamu risih, bikin aja video klarifikasi, repot amat!"
"Ya kamu yang bikin repot, hidup sudah setenang ini, malah mencari gara-gara saja!" sewot Calista.
"Kenapa? Kamu ketakutan kalau dikuntit paparazi, takut dikuliti kehidupan kamu dan pacar kamu itu?" kali ini Lingga menatap Calista dengan tatapan menantang. Rasanya Lingga sudah muak pura-pura dalam rumah tangga ini. Kalau menunggu Calista melakukan kesalahan fatal juga pasti lama, itu berarti Lingga tidak bisa menceraikan Calista seenaknya. Sesuai perjanjian kakek Lingga dan keluarga Calista. Berbeda kalau Calista melakukan skandal besar, Lingga masih bisa mengajukan perceraian. Apalagi Calista dan sang kekasih sangat bermain apik, tak pernah terendus media. Sialan.
Setelah mendengar ocehan Calista kali ini Lingga mendapat panggilan dari Yovi. Lingga bisa menebak, pasti kembali diomeli oleh sang abang.
"Hapus semua video gila kamu itu Lingga, kamu gak berpikir mobil Tania kamu sorot, nomor plat tak kamu sensor, jangan sampai membahayakan hidup Tania. Cukup kamu merendahkan dia tempo hari!" benarkan, Yovi bakal mengomel pada sang adik. Hidup Yovi terlalu lurus, sampai tak mau bermain api sedikit saja.
Lingga hanya tertawa, tanpa menjawab, ia langsung memutus panggilan sang abang. Lingga akan terus mengganggu Tania, sampai perempuan itu meminta tolong padanya, minta kembali dan bergantung pada Lingga lagi. Dia tak suka Tania terlalu mandiri, serasa menginjak harga diri Lingga.
Calista kembali beraktivitas di dunia hiburan, kali ini ia pemotretan untuk sebuah majalah fashion. Dia begitu anggun dan wajahnya sangat cantik dalam bidikan kamera. "Suami lo berulah lagi tuh, kurang jatah kayaknya," sindir Cantika, manajer Calista saat mereka istirahat setelah menyelesaikan satu sesi pemotretan.
"Gak peduli gue. Laki-laki kok mulutnya lemes amat! Kelihatan banget masih cinta, sok sok an memojokkan!" ujar Calista sembari membalas chat sang kekasih.
"Marah gini, bukan berarti lo cemburu pada Lingga yang masih notice ceweknya kan?" ledek Cantika dan jelas mendapat tatapan tajam dari Calista.
"Dih, ngapain cemburu. Cinta aja enggak. Dia belum berarti dalam hidup gue Cantika, dia gak kayak Mine (panggilan Calista pada kekasihnya), uang ada, memberi aku jalan buat sampai ke tangga kesuksesan seperti ini, makanya gue loyal. Mau gaya apa aja gue ayo aja!" jujur Calista diiringi tawa, Cantika hanya mendorong lengan perempuan itu.
"Itu mah lo nya juga keenakan," ujar Cantika. Keduanya pun tertawa.
Selesai pemotretan, Cantika diminta pulang lebih dulu oleh Calista, karena ia sedang menunggu jemputan dari Mine. Calista masih menunggu di studio foto, masih ada beberapa kru juga. Dipikir ia santai, hingga saat kru pamit, masih ada Adit sang fotografer yang sepertinya sedang menata lensa kameranya.
"Gak pulang?" tanya lelaki itu.
"Tunggu bentar, menunggu jemputan," jawab Calista sembari bermain ponsel. Ia juga tak ngeh dengan gelagat Adit yang sudah memasang wajah mesum, senyum gak jelas. Saking fokus pada ponsel, Calista sampai tidak sadar kalau Adit telah mengunci studio tersebut.
"Setelah nikah, badan lo kok makin bagus, Cal? Gak pernah dipakai suami lo?" barulah Calista mendongak, dan menatap Adit heran. Keduanya bekerja sama sudah beberapa kali, dan baru kali ini Calista aneh dengan sikap Adit, sampai menanyakan hal pribadi.
"Sori?" tanya Calista agar Adit mengulang pertanyaannya. Namun Adit hanya tersenyum saja, tahu kalau Calista tak suka dengan pertanyaan ranah pribadi.
"Gue sebenarnya tahu hubungan lo sama pemilik rumah produksi itu," pancing Adit dan benar, ekspresi Calista langsung terkejut. Pasalnya selama ini, mereka bermain sangat rapi. Belum terendus media manapun.
"Maksud lo?" tanya Calista sudah mulai emosi.
"Istri bos itu sudah tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri bukan? Bahkan dia rela suaminya tidur sama kamu kapan pun," Adit memandang Calista dengan remeh, sedangkan perempuan itu mengepalkan tangannya erat, dan buru-buru menyimpan ponselnya.
"Waow, tahu banget kayaknya ya! Selain fotografer ternyata lo reporter juga," sindir Calista dengan tampang tak kalah menantang. "Mau lo apa sampai membahas kehidupan pribadi gue?" tanya Calista.
Adit tertawa, "Lo tahu lah apa yang aku maksud, sesekali icip boleh lah. Biar mulut gue terkunci dengan aman, soalnya gue punya video loh lagi main sama si bos, saat lo dan suami lo bulan madu!"
Jelas saja Calista mendelik kaget, kok bisa?
"Gak usah kaget gitu, gue sengaja banget intai lo, gue udah terobsesi sama lo sejak lama, tapi kalah sama si bos!" ujar Adit mulai mengelus pipi Calista.
"Di mana?" Calista tak perlu basa-basi, ia tahu betul bagaimana circle dan komunitas Adit, jika dia tak memenuhinya bisa-bisa semalam namanya juga langsung hancur.
"Di sini saja dulu," ujar Adit sembari duduk dan menepuk pahanya. Calista diam sebentar, berharap ada panggilan dari si bos. "Ayo!" pinta Adit.
Terpaksa Calista mau, ia pun duduk di pangkuan Adit, dan lelaki ganteng itu segera memeluk erat pinggang ramping sang model, mengendus dada mulusnya, dan Calista hanya bisa memejamkan mata, karena perlakuan Adit sangat lembut.
Tangan kekar itu mulai aktif melepas atasan Calista, sungguh pemandangan yang sudah lama diidamkan oleh Adit. "Dit," panggil Calista yang mulai terbuai, saat pucuk pinknya dimainkan oleh sang fotografer.
"Kenapa?" tanya Adit dengan senyum penuh arti. Sungguh Calista terlena, karena selama ini bermain dengan bos, dirinya yang aktif memanjakan, sedangkan dengan Adit, justru ia dibuat melayang.
Tatapan keduanya bertemu, Calista lebih dulu mencium bibir si fotografer ganteng itu, "Kenapa gak dari dulu, kita bermain?" bisik Calista sengaja memancing gejolak Adit di telinga pria itu.
"Tunggu masa yang tepat, di saat citraku sudah top!" ujar Adit kemudian melumat bibir mungil Calista, mereka tak sampai berhubungan badan hanya saling menjamah saja, keintiman mereka terputus karena panggilan ponsel Calista.
"Aku harus pergi, si bos sudah menunggu di bawah!" jawab Calista sembari membenarkan baju dan lisptiknya, tak lupa menyemprotkan parfum agar si bos tak curiga.
Adit hanya mengangguk, belum waktunya dia mengeluarkan kartu ASnya, yah meski gejolak prianya sudah memuncak, tapi malam ini ia tak menghalangi Calista pergi.
GO go Tania semangat