Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: RATU TIDAK TUNDUK
Jam 6.30 pagi. Gue nggak tidur lagi. Duduk di pinggir ranjang presidential suite, masih pake jubah mandi, rambut acak-acakan, mata sembab. Di TV layar gede depan ranjang, semua channel berita nyala. Breaking News semua.
"VIDEO SYUR NYONYA PRATAMA? HOAX ATAU FAKTA?"
"KONGLOMERAT ARGA PRATAMA AKAN BUKA SUARA 10 MENIT LAGI"
"CLARISSA WIJAYA DITANGKAP, DIDUGA OTAK VIDEO PALSU"
Jari gue dingin. Gigit kuku. Takut. Walaupun Mas Arga bilang video palsu, tetep aja nama gue udah kebawa-bawa. Gimana kalo orang percaya? Gimana kalo emak di kampung liat?
Tok tok. Elang masuk bawa nampan. Teh anget sama roti. "Nyonya, sarapan dulu. Tuan pesen Nyonya harus makan."
"Mas Arga di mana?" tanyaku lirih.
"Sudah di lobi, Nyonya. Wartawan udah full. Satu Indonesia nonton." Elang naruh nampan, terus nunduk. "Tuan bilang... Nyonya nonton aja dari sini. Jangan turun. Percaya sama Tuan."
Gue ngangguk. Percaya. Selalu percaya.
---
Jam 7 tepat. TV pindah ke live. Gedung Pratama Group. Lobi marmer yang gede banget, sekarang penuh wartawan. Flash kamera kayak petir. Di tengah, ada podium.
Mas Arga keluar.
Anjir. Gue merinding.
Dia pake setelan jas hitam, kemeja putih, dasi merah darah. Rambut disisir rapi ke belakang. Muka datar, nggak ada senyum. Mata dinginnya balik. Tapi ini bukan dingin yang cuek. Ini dinginnya es kutub utara sebelum badai. Di belakangnya ada 20 bodyguard, ada pengacara, ada Kapolres.
Dia nggak duduk. Dia berdiri di podium, dua tangan ngepal di atasnya. Hening 5 detik. Wartawan aja nggak berani nanya duluan.
Terus dia ngomong. Suaranya berat, ngebass, nusuk sampe ke tulang.
"Selamat pagi. Saya Arga Pratama."
Satu lobi diem.
"Tadi malam, video asusila menyebar. Mengatasnamakan istri saya, Siska Putri Lestari. Nyonya Arga Pratama."
Flash makin gila.
"Saya di sini bukan buat klarifikasi. Saya di sini buat ngasih tau." Dia ngangkat dagu. "Video itu PALSU. 100% EDITAN. Dibuat oleh tersangka Clarissa Wijaya dengan cara memasang kamera tersembunyi di kancing gaun pengantin istri saya."
Wartawan heboh. "Pak! Buktinya, Pak?"
Mas Arga ngode. Layar gede di belakangnya nyala. Muncul dua video split screen. Kiri: Video "syur" yang blur. Kanan: CCTV butik. Keliatan jelas Clarissa nyogok Mbak Lia, masang kancing kamera.
"Yang kerekam cuma gaun. Nggak ada wajah. Nggak ada badan. Nggak ada suara." Suara Mas Arga makin rendah. "Karena istri saya, Nyonya Pratama, malam tadi tidur di pelukan saya. Dengan selamat. Dengan terhormat. Dan saya jaga dia tiap detik."
Gue tutup mulut. Air mata netes lagi. Dia... dia ngumumin itu. Di depan satu Indonesia.
"Clarissa Wijaya," lanjut Mas Arga, dan sekarang suaranya kayak mau ngebunuh. "Sudah ditangkap 30 menit yang lalu. Pasal berlapis. Pembunuhan berencana Alina Pratama 5 tahun lalu. Percobaan pembunuhan Siska Pratama. UU ITE. Pencemaran nama baik. Penyebaran konten palsu. Perusakan barang bukti. Penyuapan."
DOR! Pintu lobi kebuka. Clarissa diseret masuk sama 4 polwan. Pake baju tahanan oranye, tangan diborgol, rambut awut-awutan, makeup luntur. Tapi matanya masih melotot ke arah kamera. Ke arah Mas Arga.
"ARGA! LO NGGAK BISA GITUIN GUE! GUE CINTA SAMA LO! GUE LAKUIN SEMUA KARENA GUE CINTA!" jeritnya.
Mas Arga nggak noleh. Nggak ngasih dia muka sedikit pun. Dia cuma ngomong ke mic, tapi matanya natap lurus ke kamera. Kayak natap gue.
"Cinta?" Dia ketawa. Ketawa dingin. "Lo nggak tau artinya cinta, Clarissa. Cinta itu nggak ngerekam orang. Nggak nyebar aib. Nggak nembak orang. Cinta itu..." Dia diem sebentar, terus narik napas. "Cinta itu kayak istri saya. Yang nerima saya pas saya paling hancur. Yang nggak ninggalin saya pas saya ditembak. Yang mau nikahin saya walaupun saya om-om galak umur 35."
Satu lobi hening. Terus... ada yang tepuk tangan. Satu. Dua. Terus semua wartawan, semua staf, semua yang nonton tepuk tangan. Gemuruh.
Clarissa makin histeris. "SISKA BABU! LO DENGER NGGAK?! LO CUMA PELAMPIASAN! LO NGGAK BAKAL BAHAGIA SAMA DIA!"
Mas Arga akhirnya noleh. Pelan. Tatapannya bisa bikin orang mati berdiri. "Elang."
"Siap, Tuan."
"Bungkam."
Elang maju, bekap mulut Clarissa pake lakban. Digotong keluar lagi. Tapi jeritannya masih kedengeran samar: "HHMPHHH! HHH!"
Mas Arga benerin dasinya. Terus ngomong lagi ke kamera. Ke gue.
"Buat kalian yang nyebarin video, yang nonton, yang komen jelek tentang istri saya," suaranya tenang tapi ngeri, "Tim IT saya udah ngelacak 1.342 akun. Semua udah dikantongin. Kalian punya 1x24 jam buat minta maaf secara publik dan hapus. Kalo nggak..." Dia senyum. Senyum yang bikin merinding. "Percaya sama saya. Kalian nggak mau tau apa yang terjadi kalo nggak."
Wartawan pada nelen ludah.
"Terakhir," Mas Arga lepasin satu kancing jasnya, biar lebih santai. "Saya, Arga Pratama, suami dari Siska Putri Lestari, nyatakan perang sama siapa pun yang berani nyentuh istri saya. Mau fisik, mau mental, mau lewat omongan. Istri saya itu merah. Garis darah. Lewatin garis itu, kalian berurusan sama saya. Dan saya jamin... kalian nggak akan suka."
Dia ngangguk ke Kapolres, terus balik badan, jalan ninggalin podium. Konferensi pers selesai 5 menit. Singkat. Padat. Ngebunuh.
---
Di suite, gue nangis sejadi-jadinya. Bukan sedih. Lega. Bangga. Cinta.
Pintu kebuka. Mas Arga masuk. Langsung nyamperin gue, narik gue dari kursi, peluk kenceng banget sampe tulang gue bunyi.
"Udah, Sayang. Udah selesai," bisiknya di rambut gue. "Nggak ada yang bisa nyakitin lo lagi."
Gue meluk balik. "Mas... makasih. Makasih udah bela aku depan satu Indonesia."
Dia lepasin pelukannya, ngusap air mataku. "Harusnya Mas yang makasih. Karena lo udah bikin Mas punya alasan buat hidup lagi. Buat perang lagi." Terus dia senyum, senyum Arga Pratama yang asli. Hangat. "Sekarang... mau sarapan bareng suami nggak? Laper banget habis marah-marah."
Gue ketawa di sela nangis. "Mau. Tapi Mas suapin ya. Kayak di RS."
"Siap, Nyonya Pratama." Dia gendong gue ke meja makan. "Yang kelima."
"Apaan yang kelima?"
"Sayang." Dia nyium pipiku. "Tadi yang keempat pas di podium. 'Cinta itu kayak istri saya'. Sekarang yang kelima. Kurang 3 lagi buat hari ini."
Gue nyubit perutnya. Dasar om-om bucin. Tapi gue suka. Suka banget.
Di luar, matahari udah tinggi. Kasus Clarissa jadi trending nomor 1. #TeamNyonyaPratama menang telak.
Dan gue tau, ini baru awal. Karena jadi istri konglomerat, musuhnya nggak cuma satu. Tapi selama ada Mas Arga, gue nggak takut. Karena ratu nggak pernah tunduk. Apalagi kalo rajanya udah murka.