Anindya Maheswari, menikah dengan Raditya Wicaksono tanpa restu dari orang tua Radit karena Anindya hanya seorang yatim piatu dan besar di panti asuhan.
Cinta tulus dari Radit membuat Anindya bertahan, berjuang bersama, banting tulang, memeras otak dan keringat. Memulai segalanya dari nol hingga akhirnya sukses.
Namun, siapa sangka setelah sukses Radit malah berkhianat? Menjalin hubungan dengan gadis yang lebih muda, memiliki seorang anak, dan bahkan selingkuhan itu sedang hamil lagi.
Membawa amarahnya yang membara, Anindya bertekad mengembalikan Radit dan keluarga nya ke keadaan semula.
“Kamu lupa satu hal. Jika aku bisa membuatmu sukses, aku juga bisa membuatnu hancur!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
.
Baru saja Anindya hendak kembali menikmati hidangannya setelah kepergian Sofia, ponselnya yang tergeletak di atas meja kembali berdering. Wanita itu hanya melirik sekilas, dan terlihat nama Radit sebagai pemanggil. Dengan santainya Anin menggeser tombol merah tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Sudah cukup kamu bersenang-senang. Sekarang giliranku untuk bahagia," batinnya tegas.
Anindya mulai menikmati hidangan mewah di hadapannya dengan lahap. Setiap suapan terasa begitu nikmat, terasa seperti balas dendam yang manis.
Suara dering kembali terdengar berkali-kali, namun Anindya tetap tak peduli. Mulai hari ini, dunianya berubah. Raditya dan urusan perusahaan bukan lagi prioritas utamanya.
Setelah puas makan, Anindya memberi isyarat dengan petikan jarinya. Sesaat kemudian pelayan datang membawa bill. Anin hanya melirik sekilas jumlahnya yang cukup fantastis, lalu dengan santai menggesekkan kartu kreditnya.
Bibirnya tersenyum kalau membayangkan wajah geram suaminya nanti saat melihat tagihannya, “Radit. Ini baru permulaan," gumamnya sinis.
Anindya berdiri, merapikan gaunnya, lalu melenggang keluar restoran dengan kepala tegak.
"Kapan lagi aku menikmati hasil kerja kerasku sendiri?" ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Daripada dikuras habis untuk wanita lain, mending aku habiskan untuk diriku sendiri!"
Ia tidak kembali ke kantor. Sebaliknya malah mengemudikan mobil mewahnya menuju mal terbesar di kota itu. Hari ini, ia akan berbelanja sepuas hati.
Sementara itu, di kantor pusat RA Corp...
Suasana di lantai utama sedang mencekam. Suara bantingan berkas dan teriakan amarah terdengar memecah keheningan.
"Di mana Anindya?! Cepat hubungi lagi?!" hardik Raditya dengan wajah memerah padam. Ia mondar-mandir dengan langkah lebar di ruang rapat yang besar.
Darius, asisten pribadinya berdiri dengan tubuh guru agar di hadapannya karena dia lah yang menjadi sasaran kemarahan bosnya.
"Maaf, Pak... Saya sudah coba telepon berkali-kali, tapi tidak diangkat. Sepertinya Ibu Anin mematikan ponsel," jawab Darius terbata-bata.
"Di mana sebenarnya dia?!" bentak Raditya. "Masalah ini krusial, Darius! Kontrak kerja sama dengan investor asing dari Eropa itu harus ditandatangani hari ini juga! Detail teknis dan negosiasi finalnya hanya Anindya yang hafal di luar kepala! Tanpa dia, proyek bernilai miliaran ini bisa batal!"
Raditya mengacak rambutnya frustrasi. Memang benar, meski namanya Raditya yang lebih sering tampil di depan publik, namun urusan perhitungan, strategi, dan negosiasi rumit selalu dipegang penuh oleh Anindya. Anindya adalah otak di balik semua kesuksesan mereka.
"Sekarang bagaimana, Tuan? Investor sudah menunggu di ruang tamu sejak tadi! Mereka mulai tidak sabar dan mengancam akan membatalkan kerja sama jika tidak ada yang bisa menjelaskan detail teknis dengan jelas!" lapor Darius dengan panik.
"Brengsek!" umpat Raditya keras. Ia menepuk meja kuat-kuat. "Kenapa tiba-tiba dia menghilang?! Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu?!"
Di luar kemarahannya, ada rasa cemas yang mulai menggerogoti hatinya. Sikap Anindya kemarin malam, dan sekarang ia yang menghilang saat perusahaan sangat membutuhkannya, membuat firasat buruk tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Cari tahu di mana dia sekarang! Aku butuh dia di sini SEKARANG!"
Darius segera keluar dari ruangan Radit lalu berlari kecil menuju lantai yang satu tingkat di bawah ruangan Presiden Direktur, tepatnya di depan ruangan Wakil Presiden Direktur. Ruangan milik Anindya. Ia mendorong pintu kaca itu dengan tergesa-gesa, bahkan lupa untuk mengetuk pintu.
Di dalam sana, Rosita, sekretaris pribadi Anindya, sedang sibuk mengetik di depan komputernya. Melihat kedatangan Darius yang napasnya terengah-engah, wanita itu langsung berdiri.
"Pak Darius?" tanya Rosita kaget.
"Di mana Bu Anin?!" tanya Darius tanpa basa-basi, suaranya terdengar panik. "Pak Radit butuh beliau sekarang juga!"
Rosita mengerutkan kening, lalu menggelengkan kepalanya bingung.
"Bu Anin belum kembali sejak jam makan siang tadi, Pak," jawab Rosita jujur.
"Hah?!" Darius terbelalak. "Maksud kamu?"
"Iya, Pak. Tadi Bu Anin bilang mau pergi makan siang, tapi sampai sekarang belum kembali," tambah Rosita.
"Gawat!" seru Darius pelan. Ia tidak punya waktu banyak untuk berdiskusi. "Oke, terima kasih Ros! Aku lapor ke Bos dulu!"
Darius segera berbalik dan berlari kembali masuk lift, menuju ruangan Raditya.
Di ruangan utama...
Raditya masih mondar-mandir dengan wajah penuh tekanan. Begitu melihat Darius masuk, ia langsung menyergah.
"Bagaimana?! Di mana istriku?!"
Darius menarik napas sejenak untuk mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Maaf, Tuan. Menurut informasi dari asistennya, Ibu Anindya pergi sejak jam makan siang tadi," lapor Darius dengan nada takut.
"Apa?!" Raditya menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut dalam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Belum kembali? Sejak makan siang?" tanya Raditya tidak percaya. Otaknya bekerja cepat memutar ingatan.
“Bukankah biasanya Anindya selalu membawa bekal dari rumah? Sejak kapan Anin suka keluar dari perusahaan hanya untuk makan siang?” gumam Raditya pelan, matanya menyipit tajam menatap dinding kosong. Ada perubahan besar yang terjadi pada istrinya. Perubahan yang membuatnya gelisah.
"Investor itu bagaimana, Tuan?" tanya Darius pelan memecah lamunan bosnya.
Raditya menghela napas panjang, lalu meninju meja dengan keras.
"Aku yang akan tangani sendiri! Siapkan semua berkasnya! Cepat!" bentak Raditya. "Dan kamu, cari tahu sekarang juga di mana dia berada!”
“Baik, Tuan.” Darius segera bergerak melakukan apa yang diperintahkan oleh Radit.
Dengan nafas memburu dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya, Raditya bergegas masuk ke ruang rapat utama diikuti oleh Darius. Di sana, dua orang investor asing berwajah datar sudah duduk menunggu dengan wajah penuh ketidaksabaran.
"Selamat siang, Tuan-tuan. Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucap Raditya sambil mengulurkan tangan dengan senyum yang dipaksakan. "Saya Raditya Wicaksono, Presiden Direktur perusahaan ini."
Namun, kedua investor itu hanya menjabat sekilas lalu kembali duduk dengan wajah dingin.
"Dimana Ibu Anindya?" tanya Mr. Henderson, salah satu investor dengan logat Inggris yang kental. "Kami sudah sepakat bahwa beliau yang akan menjelaskan detail teknis dan analisis keuangan proyek ini. Kami butuh kepastian dari ahlinya langsung."
Jantung Raditya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri lalu duduk di kursi utama.
"Istri saya sedang ada keperluan mendadak hari ini, Tuan. Tapi tenang saja, saya juga paham betul seluruh isi kontrak ini. Silakan, tanya apa saja pada saya," jawab Raditya berusaha terlihat percaya diri.
Rapat pun dimulai. Namun, tak butuh waktu lama bagi para investor untuk menilai bahwa pengetahuan Raditya tentang detail proyek ini sangatlah dangkal.
"Stop!" Mr. Henderson menghentakkan tangannya ke meja, memotong penjelasan Raditya yang mulai ngawur. Wajah pria asing itu memerah menahan kesal.
"Mr. Raditya, kami bukan anak kecil yang bisa diberi omong kosong! Selama ini kami setuju bekerja sama karena kami percaya pada kecerdasan dan ketelitian Ibu Anindya!” hardiknya tegas.
"Anda hanya bisa bicara soal gambaran besar dan visi yang manis, tapi semua penjelasan Anda sangat tidak memuaskan!" tambah rekannya.
Raditya terlihat panik. "Tidak, Tuan. Mohon beri saya kesempatan, saya bisa jelaskan lagi..."
"Tidak perlu!" potong Mr. Henderson dingin. "Kami tidak mau menaruh uang miliaran dolar pada proyek yang pemimpinnya tidak paham detail kerja."
Pria itu mengambil berkas kontrak di hadapannya, lalu melipatnya dan menyerahkan kembali ke arah Raditya.
"Dengan ini, kami menyatakan membatalkan seluruh kerjasama ini. Selamat siang."
Tanpa mau mendengar alasan lagi, kedua investor itu berdiri dan pergi meninggalkan ruangan dengan langkah membara,
GLEK!
Raditya menelan ludah dengan susah payah. Wajah pria itu pucat pasi. Kontrak bernilai fantastis batal. Hancur lebur hanya dalam waktu kurang dari satu jam.
“Anindya… !”
apa lgi yg lbih mnyedihkn slain nsibnya s pcundang....udh pd tngkat dewa bkln dpt tender,taunya zonk...😛😛😛....
smntra anin,dia udh bngkit plus dpt dkungn dr bnyak orng yg pduli sm dia....ga sbr nunggu s pcundang hncur.....