Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Mencoba berbagai cara
"Bagus, kayaknya udah banyak nih, Mbak." Kata pria berdiri di belakang kamera sambil menatap mereka dengan puas. "Mau lihat hasilnya atau ganti ke tema selanjutnya dulu nih?"
"Kita lakuin keduanya aja, Mas. Alda, tolong lihat hasilnya, nanti pilih aja yang bagus menurut kamu." Pinta Nayra pada asistennya, yang baru saja mendekatinya untuk memberikan ponsel, memiliki penilaian yang tak pernah membuatnya kecewa. Selama tiga tahun berkerja dengannya selera Alda hampir sama dengannya hingga membuat Nayra cocok dengan Alda.
"Ngga mau saya bantu ganti baju atau benerin makeup dulu, Mbak?"
"Ma, Rayyan–"
Nayra menggeleng. "Di dalam ada timnya, mendingan kamu bantuin saya pilih-pilih foto yang bagus buat di cetak terus beberapa fotonya juga minta di kirim ke saya buat koleksi di rumah ya."
"Oke, siap, Mbak."
Setelahnya Nayra menyingkir ke tepi untuk membuka ponsel dan membaca chart-chat dari pekerjaan yang tiada henti di kirimkan padanya.
Sekarang Nayra lebih pemilih dalam memasarkan produk yang benar-benar bagus dan di pakaian dirinya atau beberapa tim yang bersedia menjadi uji coba, karna kalau endorse itu berbahaya saat di coba oleh orang lain maka ia yang akan mendapatkan masalahnya.
Selain itu Nayra juga ingin lebih banyak waktu bersama putranya. Setidaknya ia harus memiliki satu hari yaitu Minggu tanpa menyentuh ponsel atau pekerjaan untuk benar-benar memberikan perhatian penuh pada Rayyan.
"Ma," panggil Rayyan lagi, membuat Nayra berdeham sebagai jawaban. "Rayyan ngga mau berangkat bareng Mama karna ngga mau bikin Mama bolak balik dari apartemen ke tempat kerja."
"Mama ngga repot, Ray." Balas Nayra sebenarnya sudah muak dengan penjelasan Rayyan yang tak mengerti juga karna kalau ia membiarkan seperti itu maka dirinya terkesan seperti ibu yang tidak bertanggung jawab yang main menitipkan anak pada tetangga tanpa berniat menemuinya lebih dulu.
Sekarang hubungannya sudah lebih baik dengan Gatra karna dua hari yang lalu pria itu datang ke unitnya untuk minta maaf karna sudah melaporkannya pada Hakim. Saat itu Gatra sangat merasa bersalah pada mereka hingga Nayra memaafkannya.
"Tapi Rayyan yang nggak suka, Rayyan juga khawatir, nanti ada apa-apa sama Mama di jalan. Kita kan belum punya supir dan Mbak Alda ngga bisa nyetir mobil."
"Kamu ngga perlu khawatir, Mama bisa nyetir kok."
"Tadi bukannya Mama bilang jam dua siang ada urusan penting yang ngga bisa di tinggal ya? Nanti kalau Mama ikut Rayyan nanti terlambat terus pasti berdampak buruk pada kerjaan Mama kedepannya."
"Nanti Mama coba ngomong ke Alda, cari alasan biar mereka nunggu... paling lama satu jam." Balas Nayra tak membuat Rayyan puas. Ia masih tak ingin diantara karna sudah besar serta takut kalau nanti Gatra mengatakan sesuatu yang membuat Nayra tak mengizinkannya bertemu dengan pria baik itu lagi.
"Mama lupa ya, Rayyan juga ngga suka kalau sudah sampai di apartemen, Mama pergi kerja lagi." Ungkap Rayyan Protektif, membuat tangan Nayra terulur hendak mengacak rambut sang anak tapi mengurungkannya.
"Tapi kali ini beda konteks, Ray. Dulu kamu ngelarang karna udah malam, tapi Mama pergi keluar lagi buat kerja. Sekarang kalau kamu lakuin itu apa yang akan Mama lakukan selama satu jam nunggu waktu les kamu di apartemen?"
"Tapi Mama ngga profesional kalau alasan kayak Mama gitu cuma buat karna nganter Rayyan ke Om Rara."
"Oke, oke, lihat nanti aja." Nayra menyerah tapi tidak berjanji. "Oh ya, Mama ingat, ngga punya nomornya tetangga kita."
"Rayyan punya kok. Udah ngabarin juga ngga papa kalau Om mau jemput ke studio, kalau itu ngga bikin Om Rara repot."
"Oh jadi dia yang nawarin?"
Rayyan mengangguk. "Iya, kasihan tahu, Ma. Om Rara selama libur kerja, ngga tahu harus kemana. Katanya sih sengan ke rumah sahabat-sahabatnya karna mereka udah nikah. Mau pulang ke rumah, dia takut Tante Hana–"
"Siapa Hana?"
"Adiknya Om Rara. Dia takut Tante Hana ngga nyaman atau paling parah ngga mau datang ke rumah orang tua mereka selama ada Om Rara di sana."
"Loh kenapa?" Tanya Nayra tanpa sadar membuat Rayyan mengangkat kedua bahunya tidak tahu.
"Omnya ngga cerita, Rayyan udah maksa sih, tapi dia malah pergi."
"Jadi selama ini kamu maksa dia?"
"Iy... Enggak juga, tapi... Om Raranya tiba-tiba ngga mau lanjutin ceritanya jadi Rayyan yang penasaran maksa lanjut."
"Ngga boleh gitu, nanti orangnya ngga suka sama kamu lagi loh!"
"Enggak kok, Ma. Buktinya Omnya nawarin buat jemput ke sini, jadi boleh ya, Ma? Soalnya orangnya juga ada di kafe yang ngga jauh dari sini. Kebetulan ketemu sama teman-temannya."
"Lihat–"
"Jangan foto-foto!" Bentak Rayyan tiba-tiba saja sambil menatap tajam pada belakang Nayra yang menatap arah pandangan sang putra.
"Eng... enggak kok. Saya ngga foto siapapun." Pria itu lalu memasukkan ponsel ke dalam saku. "Lagian siapa juga yang mau foto kamu? Ngga ada untungnya bagi saya."
"Saya ngga mungkin salah lihat, Om." Balas Rayyan tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya sambil mendekati pria itu. "Sini Hpnya biar Rayyan periksa ada ngga foto Rayyan di sana."
"Kamu beneran anaknya Nayra si konten kreator, jujur, baik, lemah, lembut dan tidak memiliki catatan buruk itu? Kok ngga sopan main minta Hp orang cuma buat mastiin suatu yang belum tentu kebenarannya."
"Om yang enggak sopan! Aku ngga suka–"
"Maaf banget karna anak saya ngga sopan, Mas." Nayra buru-buru mendekati pria itu sambil tersenyum tidak enak. "Mohon di maklumi ya, dia ngga suka kamera. Mau foto keluarga saja dia harus di paksa dulu."
"Iya, Mbak, tapi tolong di ajarin lagi anaknya buat ngga curigaan ngga jelas sama orang lain, apa lagi main minta Hp orang sembarang."
Nayra tersenyum dengan ujung mata melirik asistennya yang sedang berbisik dengan fotografer professional. Dengan pelan perempuan itu menggeleng, sebagai kode atas jawaban dari chat yang di kirim Nayra dengan cepat sebelum memutuskan menghampiri pria asing yang tidak di kenal oleh sang tukang foto.
Ibu dari satu anak itu menghela nafas kasar, mencurigai pria itu adalah salah satu anggota dari akun gosip, tapi masih memasang ekspresi ramah dan membiarkan pria itu pergi di susul oleh asistennya.
"Loh kok dia–"
"Biar Tante Alda yang menyelesaikan semua masalah ini. Kita mendingan fokus sama pemotretan aja."
"Awas aja kalau sampai Rayyan bocor ke sosial media, Rayyan bakal marah banget sama Mama!" Ancamnya.
"Iya, iya, sekarang mendingan kamu siap-siap gih buat tema selanjutnya."