Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Krak! Krak!
Suara es yang pecah di bawah hantaman air terjun Guntur Es terdengar lebih tajam pagi ini. Sudah memasuki bulan ketiga sejak aku pertama kali menapakkan kaki di kolam maut ini. Tubuhku yang tadinya ringkih, kini mulai berubah. Jika kau menyentuh lengan atau dadaku, rasanya tidak lagi seperti menyentuh kulit anak enam tahun, melainkan seperti meraba permukaan kayu jati yang tua dan kering. Keras, padat, dan tahan banting.
"Kurang fokus, Qinar! Kau melamunkan apa? Gadis-gadis desa yang bahkan belum pernah kau temui?"
Suara cempreng Ki Kusumo menggelegar di antara deru air. Beliau berdiri di tepi kolam, memegang sebatang bambu panjang yang ujungnya sudah diruncingkan. Wush! Beliau melemparkan bambu itu ke arahku dengan kecepatan yang mengerikan.
Ting!
Bambu runcing itu menghantam dadaku, lalu terpental dan patah menjadi dua seolah baru saja menabrak dinding batu. Aku tidak bergeming. Rasanya hanya seperti disentil oleh jari yang agak kuat. Kulit Besiku mulai terbentuk secara permanen, sebuah lapisan energi Qi yang tak terlihat namun solid menyelimuti setiap inci tubuhku.
"Bagus. Tapi jangan senang dulu, Bocah Ingusan. Gunung Sandaran tidak suka pada mereka yang terlalu cepat merasa kuat," gumam Ki Kusumo. Matanya yang biasanya jenaka tiba-tiba menyipit, menatap ke arah semak-semak lebat di balik air terjun.
Aku merasakan sesuatu. Bulu kudukku meremang, bukan karena dinginnya air es, tapi karena sebuah aura yang busuk dan anyir. Qi-ku yang biasanya mengalir tenang seperti sungai, mendadak bergejolak liar. Ada sesuatu yang mengintai dari balik kabut.
Grrrrrrrr...
Geraman itu rendah, dalam, dan bergetar hingga ke tulang sumsumku. Dari balik bayang-bayang pepohonan yang tertutup salju, muncul sesosok makhluk yang mengerikan. Tingginya hampir tiga meter, badannya dipenuhi bulu hitam legam yang gimbal dan berlumuran darah kering. Wajahnya menyerupai kera, namun dengan taring-taring panjang yang mencuat keluar dari mulutnya yang berbau busuk.
"Gendruwo Gunung," bisik Ki Kusumo. Beliau tidak bergerak untuk membantuku, malah duduk kembali ke batunya dan mulai mengunyah sirih. "Nah, Qinar. Sepertinya ujianmu hari ini mendapat 'bumbu' tambahan. Makhluk itu lapar, dan dia sangat suka daging bocah yang kulitnya sudah kenyal karena air es."
"Ki! Kau tidak bercanda, kan?! Dia bisa merobekku jadi dua!" teriakku sambil berusaha keluar dari bawah kucuran air terjun. Tubuhku menggigil, kali ini karena adrenalin.
"Jangan keluar dari kolam!" perintah Ki Kusumo dengan suara yang menggelegar seperti petir. "Gunakan apa yang sudah kau pelajari selama tiga bulan ini! Kalau Kulit Besimu tidak bisa menahan cakar kera buduk itu, artinya kau memang pantas jadi kotorannya esok pagi!"
Makhluk itu—Gendruwo Gunung—melompat ke atas batu besar di tengah kolam. Brak! Batu itu retak di bawah kakinya yang besar. Matanya yang merah menyala menatapku dengan penuh nafsu membunuh. Ia menggeram lagi, memperlihatkan deretan gigi yang kuning dan tajam.
Roaaarrrr!
Makhluk itu menerjang. Cakarnya yang panjang dan hitam menyambar ke arah leherku. Aku tidak sempat menghindar karena posisi kakiku masih terendam air sedalam pinggang.
Sreeet!
Cakar itu mengenai pundakku. Aku memejamkan mata, bersiap merasakan perihnya daging yang robek. Namun, yang terdengar justru suara srek seperti kuku yang menggores permukaan logam keras. Pundakku terasa panas, tapi tidak ada darah yang mengalir. Kulit Besiku menahannya!
"Hahaha! Lihat itu! Kulitmu sudah lebih keras dari egomu, Qinar!" tawa Ki Kusumo meledak di tepi kolam.
Namun, Gendruwo itu semakin marah karena serangannya gagal. Ia mengayunkan tangannya yang besar ke arah kepalaku. Bugh! Pukulan itu telak mengenai pelipis. Tubuh kecilku terpental, menghantam dinding tebing di balik air terjun.
Duar!
Kepalaku pening. Pandanganku berkunang-kunang. Air terjun yang dingin kembali menghantam tubuhku, mencoba menekan kesadaranku ke dasar kolam. Gendruwo itu mendekat lagi, langkahnya membuat air di kolam terciprat ke mana-mana. Ia mengangkat kedua tangannya, bersiap menghancurkan kepalaku dengan hantaman ganda.
Deg. Deg.
Jantungku berdegup kencang. Amarah mulai membakar dadaku. Aku teringat semua siksaan Ki Kusumo, dinginnya es yang menghancurkan mentalku, dan rasa haus akan jawaban tentang siapa diriku sebenarnya. Aku tidak boleh mati di sini oleh monyet besar ini!
"Qi... kumpulkan di tangan!" bisikku pada diri sendiri.
Aku memanggil seluruh energi panas dari perut bawahku. Tanda merah di pergelangan tanganku mulai berdenyut, memancarkan hawa panas yang luar biasa. Saat Gendruwo itu menghantamkan tangannya ke bawah, aku berguling ke samping—sret!—dan melepaskan sebuah pukulan lurus tepat ke arah perut makhluk itu.
"Mati kau!"
BHOOOM!
Pukulanku yang mungil menghantam perut Gendruwo itu dengan kekuatan yang tak masuk akal. Lapisan Qi di tanganku meledak saat bersentuhan dengan kulit makhluk itu. Gendruwo itu terangkat dari tanah, tubuh besarnya terpental sejauh lima meter dan menghantam pohon jati hingga tumbang.
Krak!
Makhluk itu tergeletak lemas. Perutnya ambles ke dalam, tulang rusuknya pasti hancur berkeping-keping. Ia mencoba mengeluarkan suara, tapi hanya darah hitam yang menyembur dari mulutnya sebelum akhirnya ia tak bergerak lagi.
Aku berdiri dengan napas terengah-engah. Tubuhku bergetar hebat. Tanganku terasa panas, hampir membara. Aku menatap mayat Gendruwo itu, lalu menatap telapak tanganku sendiri.
"Aku... aku membunuhnya?" gumamku tak percaya.
"Jangan bengong! Kembali ke bawah air terjun!" Ki Kusumo tiba-tiba sudah berada di belakangku, menendang pantatku hingga aku terjebur kembali ke titik jatuhnya air. "Satu kemenangan kecil bukan berarti ujianmu selesai. Air terjun ini masih akan menghantammu sampai matahari tenggelam!"
Aku meringis, tapi aku patuh. Aku kembali duduk bersila di bawah Guntur Es. Air yang jatuh kini tidak terasa seberat tadi. Rasa takutku telah menguap bersama darah Gendruwo yang hanyut dibawa arus kolam.
"Ki," panggilku di tengah gemuruh air. "Kenapa makhluk itu menyerangku? Apa dia mencium bau Qi-ku?"
Ki Kusumo kembali ke posisinya semula, menatapku dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. "Dunia kultivasi itu seperti rimba, Qinar. Saat kau mulai bersinar, kegelapan akan datang untuk memadamkanmu. Semakin kuat kau tumbuh, semakin banyak 'serangga' yang ingin mencicipi darahmu. Makhluk tadi cuma pembuka. Di luar sana, ada manusia-manusia yang jauh lebih iblis daripada Gendruwo itu."
Aku terdiam. Penjelasan Ki Kusumo membuatku sadar bahwa Gunung Sandaran ini sebenarnya adalah tempat teraman bagiku. Di luar sana, dunia mungkin jauh lebih dingin daripada air terjun ini.
"Fokus lagi!" teriak Ki Kusumo. "Tahan napasmu! Bulan keempat nanti, aku tidak akan hanya melempar bambu, tapi aku akan melempar batu bara panas ke arahmu saat kau berendam di es ini. Siapkan mentalmu!"
Aku memejamkan mata, membiarkan dingin dan panas bertarung di dalam tubuhku. Kulitku terasa semakin tebal, pikiranku semakin tajam. Satu hal yang pasti: Pangeran Kedua yang dibuang ini tidak akan lagi membiarkan siapa pun menggores kulitnya dengan mudah.
Sore harinya, saat langit berubah menjadi jingga kemerahan, aku keluar dari kolam dengan langkah tegap. Ki Kusumo menatapku, lalu melemparkan kain bulu beruang ke arahku.
"Kau bertahan hari ini, Bocah. Makanlah jantung Gendruwo itu malam ini. Itu bagus untuk memperkuat Qi-mu," katanya sambil berjalan pergi.
Aku menatap mayat makhluk itu di kejauhan. Hidup di gunung ini memang gila, tapi entah kenapa, aku mulai menyukainya. Tantangan demi tantangan hanya akan membuatku semakin tak tertandingi.