cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
..
Cahaya matahari Jakarta yang tidak pernah santun menembus celah gorden apartemen Langit, tepat mengenai kelopak mata Jelita yang masih tertutup rapat. Hal pertama yang Jelita rasakan saat kesadarannya mulai merayap naik adalah rasa sakit yang luar biasa di kepalanya—seperti ada sekelompok kurcaci yang sedang melakukan demo anarkis di dalam tengkoraknya.
"Aduh..." rintih Jelita sambil mencoba memijat keningnya.
Bau pertama yang ia hirup bukan lagi wangi mawar atau aroma sabun mandinya, melainkan bau alkohol yang bercampur dengan wangi maskulin yang sangat familiar. Jelita membuka mata perlahan, mengerjapkan matanya yang terasa lengket karena sisa maskara yang luntur semalam. Dia menatap langit-langit ruangan yang... asing. Ini bukan plafon kosannya yang ada bekas bocor rembesan air hujan. Ini plafon mewah dengan lampu kristal minimalis.
Jelita langsung terduduk tegak, dan saat itulah dia menyadari sesuatu yang lebih horor: Dia terbungkus selimut seperti burrito raksasa, dan ritsleting dress-nya sudah turun setengah.
"ASTAGA!" teriak Jelita panik, refleks memeluk dirinya sendiri. "Gue diperkosa?! Langit?! LANGIT LO DI MANA NYET?!"
"Bisa nggak teriaknya santai dikit? Kuping gue belum siap denger nada tinggi lo pagi-pagi gini," suara bariton yang serak khas bangun tidur terdengar dari arah bawah.
Jelita menunduk dan mendapati Langit sedang meringkuk di sofa samping tempat tidur dengan posisi yang sangat tidak manusiawi. Lehernya miring, kakinya menjuntai, dan wajahnya tampak sangat kuyu—seolah habis begadang menjaga gerbang neraka.
Langit bangkit berdiri, merenggangkan badannya hingga terdengar bunyi kretek-kretek yang sangat keras. Dia menatap Jelita dengan tatapan "lo-berhutang-penjelasan-besar-sama-gue".
"Lang... kok gue di sini? Terus... terus kenapa baju gue begini?!" Jelita menunjuk ritsletingnya dengan tangan gemetar, wajahnya sudah merah padam antara malu dan takut.
Langit berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir kasur dengan gaya yang sangat dramatis. Dia menghela napas panjang, sangat panjang, seolah sedang membuang seluruh beban hidupnya.
"Jee, dengerin gue baik-baik," kata Langit serius, menatap tepat ke mata Jelita. "Malam ini... adalah malam paling traumatis dalam hidup gue sebagai cowok keren. Lo tahu nggak apa yang lo lakuin semalam?"
Jelita menggeleng pelan, jantungnya berdegup kencang. "Gue... gue cuma inget kita ke club sama Windi, terus gue minum... satu gelas? Dua?"
"Dua puluh gelas mungkin!" potong Langit sarkas. "Lo mabuk berat, Jee. Lo nangis kejer di mobil gue cuma gara-gara lo kangen sama kucing lo yang ilang pas SD! Lo bilang kucing itu agen rahasia negara! Gue harus dengerin konspirasi kucing selama satu jam!"
Jelita melongo. "Kucing... agen rahasia?"
"Belum selesai!" Langit melanjutkan, kali ini nadanya makin naik. "Pas sampe sini, lo tiba-tiba ngerasa kepanasan. Lo hampir telanjang bulat di depan gue kalau gue nggak sigap nangkap tangan lo! Gue harus berantem sama lo cuma buat mastiin baju lo tetep nempel! Lo tau betapa beratnya cobaan iman gue? Gue hampir mimisan, Jee! Gue nahan diri sampe mau pecah pembuluh darah gue!"
Jelita langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Malu. Malu tingkat nasional. Dia bisa membayangkan betapa konyolnya dia semalam—meracau soal kucing sambil mencoba buka baju di depan cowok seganteng Langit.
"Terus... gue nggak ngapa-ngapain kan?" tanya Jelita pelan dari balik jarinya.
Langit menyeringai nakal, kembali ke mode tutor sesat-nya. "Hampir. Lo hampir gigit rahang gue karena katanya rahang gue kelihatan enak kayak ayam goreng. Terus lo minta diajarin cara bikin cilok yang bener. Jadi, selamat ya, Jelita, lo resmi jadi pasien paling ajaib yang pernah gue urus."
Jelita ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. "Maafin gue, Lang... sumpah, gue nggak tau kalau gue semabuk itu."
Langit berdiri, lalu berjalan menuju dapur apartemennya yang menyatu dengan ruang tengah. "Maaf nggak cukup, Sayang. Gue rugi bandar semalam. Leher gue sakit tidur di sofa, mental gue kena karena harus nolak 'godaan' lo yang brutal, dan gue harus dengerin cerita kucing agen rahasia itu."
"Terus lo mau apa?" tanya Jelita pasrah, mengikuti Langit ke dapur dengan langkah gontai karena kepalanya masih kliyeng-kliyeng.
Langit berbalik, menyodorkan segelas air putih hangat dan sebutir obat pereda sakit kepala. "Pertama, minum ini. Kedua, lo mandi, karena bau lo udah kayak pabrik alkohol berjalan. Dan ketiga..." Langit mendekatkan wajahnya ke telinga Jelita, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Jelita meremang. "...sebagai ganti rugi, hari ini lo harus turuti semua kemauan gue tanpa bantah. Gue mau kita kencan seharian, dan lo yang harus jadi 'tutor' yang nurut sama gue."
Jelita menelan ludah. "Kencan ke mana?"
"Rahasia. Pokoknya siap-siap aja. Dan inget, jangan coba-coba bahas soal kucing itu lagi atau gue cium lo sampe lo lupa nama sendiri," ancam Langit sambil mencubit hidung Jelita gemas.
Setelah Jelita selesai mandi dan dandan alakadarnya menggunakan baju cadangan yang ada di apartemen Langit yang untungnya ada kaos kegedean yang bikin Jelita kelihatan cute, mereka berangkat. Porsche hitam itu kembali membelah kemacetan Jakarta.
Ternyata, balas dendam Langit tidak seburuk yang Jelita bayangkan. Langit membawanya ke sebuah pasar tradisional yang sangat ramai di daerah Jakarta Barat.
"Ngapain kita ke sini, Lang?" tanya Jelita bingung melihat Langit yang sudah memakai kacamata hitam tapi tetap terlihat sangat out of place di antara pedagang sayur.
"Katanya semalam mau belajar bikin cilok?" Langit menaikkan alisnya. "Ayo, kita cari bahan-bahannya. Gue udah cari resep cilok paling enak di YouTube tadi pagi. Gue bakal jadi asisten lo, dan lo harus masak buat gue di kosan nanti."
Jelita tertawa lepas. Cowok pemilik Porsche hitam, yang biasanya nongkrong di club mewah, sekarang berdiri di depan penjual tepung tapioka sambil menawar harga. Pemandangan itu benar-benar menghapus sisa-sisa sakit kepalanya.
"Lo serius, Lang? Lo mau makan cilok buatan gue?"
"Gue mau liat lo tanggung jawab sama omongan mabuk lo, Jee," balas Langit sambil menjinjing plastik berisi bumbu dapur.
Sepanjang hari itu, mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan konyol. Dari belanja bahan cilok, sampai akhirnya mereka berakhir di kosan Jelita. Di dapur kecil kosan, Jelita sibuk menguleni adonan sementara Langit sibuk mengganggu dengan cara memoleskan tepung ke pipi Jelita.
"Lang! Berhenti nggak! Ini adonannya jadi nggak rata!" pekik Jelita sambil tertawa.
"Biarin, biar lo makin mirip bakpao," ledek Langit.
Di sela-sela kegaduhan itu, Langit tiba-tiba memeluk Jelita dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. Suasana mendadak berubah hangat, tidak ada lagi candaan konyol.
"Jee," panggil Langit lembut.
"Hmm?"
"Makasih ya buat semalam. Walaupun lo gila, tapi semalam gue sadar satu hal. Gue seneng lo bisa se-lepas itu di depan gue. Itu tandanya lo udah bener-bener percaya sama gue, kan?"
Jelita terdiam. Dia memutar tubuhnya dalam dekapan Langit, menatap mata pria yang sudah merubah hidupnya selama enam bulan ini. Dia teringat bagaimana kaku dan dinginnya dia dulu saat masih dibayangi Yayan. Dan sekarang, dia bisa tertawa, bisa mabuk meski memalukan, dan bisa merasa sangat dicintai oleh pria di depannya ini.
"Gue yang makasih, Lang. Makasih udah sabar ngadepin gue, makasih udah sabar jagain gue pas gue lagi nggak tahu diri semalam. Lo bener-bener tutor terbaik... walaupun agak sesat dikit."
Langit tersenyum, sebuah senyuman tulus yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. "Gue bakal tetep jadi tutor lo, Jee. Sampe lo nggak butuh tutor lagi, sampe kita sama-sama belajar gimana caranya bahagia selamanya."
Langit menunduk, mencium bibir Jelita dengan lembut kali ini bukan ciuman liar seperti di club atau di Puncak. Ini adalah ciuman penuh janji, ciuman yang rasanya jauh lebih manis daripada cilok mana pun di dunia.
Dan hari itu berakhir dengan mereka berdua makan cilok buatan sendiri yang rasanya agak terlalu kenyal, tapi bagi Langit, itu adalah makanan paling enak yang pernah ia cicipi. Karena di setiap gigitannya, ada tawa Jelita yang kini sudah benar-benar bebas dari belenggu masa lalu.
Jelita kini tahu, Langit bukan sekadar langit yang menaunginya. Langit adalah rumah, tempat di mana dia bisa menjadi dirinya yang paling konyol, paling rapuh, dan paling bahagia sekaligus.
"Oh iya, Jee," celetuk Langit saat mereka sedang asyik makan.
"Apa?"
"Kucing agen rahasia lo itu... namanya siapa semalam lo bilang?"
"DIEM LO, LANGIT!!!"
Suara tawa Langit kembali pecah, memenuhi ruang kos kecil itu, menjadi melodi penutup yang sempurna untuk sebuah awal yang baru.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣