Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencitraan
"Eh? Lo kok disini?" tanya Dira yang terkejut mendapati dirinya bertemu dengan Ardi di kedai makan dekat taman bermain, tempat dia mengantar keponakannya.
"Lo juga," kata Ardi tak menjawab pertanyaan Dira.
"Gue laper. Mau makan. Lo sendirian?" tanya Dira sambil celingukan. Ardi menggelengkan kepala.
"Sama bini. Sama anak juga. Lagi main," kata Ardi sambil sibuk melahap french fries pesanannya.
"Lhah? Kenapa lo disini? Enak-enak makan lagi," kata Dira heran.
"Gue ngantuk kalo suruh nungguin anak main. Mereka kan asik main, kita cuma duduk, ngawasin. Mana nggak boleh bawa makanan lagi. Bikin ngantuk," kata Ardi memberi alasan.
"Lo ikut main juga boleh kok," kata Dira sambil terkekeh lalu menyeruput es tehnya. Ardi mendengus.
"Lo sendirian?" tanya Ardi.
"Sama sodara gue. Lagi nungguin keponakan di play ground juga. Laper gue, belum sarapan," kata Dira lalu memakan nasi ayam pesanannya.
"Eh, kebetulan. Sodara gue psikiater. Lo bisa nanya-nanya soal rumah tangga lo ke dia," kata Dira.
"Hah?!"
"Lhoh? Udah beres masalahnya?" tanya Dira. Ardi diam.
"Tambah parah,"
"Tambah parah? Kok bisa?" tanya Dira keheranan dengan mulut penuh nasi ayam.
Ardi menghela nafas panjang. Dia tak mungkin menceritakan pada Dira soal hubungan semalamnya bersama Farida. Sama saja tengah membocorkan aib sekaligus mencoreng citra Ardi sebagai pria "bersih" di kantornya.
"Tenang aja, sodara gue cowok kok. Aman. Lo bisa cerita apa aja ke dia termasuk masalah.... ehem... ranjang," kata Dira sambil memelankan suaranya saat mengatakan kata ranjang.
"Uhuk!" seketika Ardi tersedak.
"Nah kan. Tepat sasaran," kata Dira puas melihat reaksi Ardi.
"Beres makan, gue kenalin," kata Dira.
Ardi tak bisa menolak. Tak ada alasan lagi. Dia sebenarnya hanya ingin Tuhan saja yang tahu dosanya malam itu. Bagaimana pandangan saudara Dira kalau mengetahui teman sekantor saudaranya melakukan hubungan intim satu malam dengan rekan bisnis, sedangkan dia sudah beristeri?
'Gue harus bilang apa?'
***
"Maaf, Dok," kata Arumi yang tersadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum. Dimas melepas genggamannya dengan cepat sambil melihat kemana Gendhis dan Kayla bermain.
"Maaf," kata Arumi sekali lagi.
"Bukan salah kamu," kata Dimas lembut, kembali menatap Arumi setelah memastikan Kayla dan Gendhis dalam jangkauan matanya.
Hening.
Tanpa mereka sadari, Kayla kecil menatap mamanya dan Mas Dokter dengan penuh tanda tanya. Namun, Kayla segera kembali bermain dengan Gendhis.
"Maaf. Seharusnya saya tak membicarakan hal seperti ini diluar klinik," kata Arumi akhirnya, memecah hening di antara dirinya dan Dimas. Dimas tersenyum lalu menoleh, kembali mengawasi anak-anak bermain.
"Aku yang tanya. Aku yang minta kamu buat cerita," kata Dimas sambil mengawasi Kayla dan Gendhis bermain. Arumi terdiam.
"Aku tau, kamu tak ada tempat untuk mengadukan semua ini," lanjut Dimas.
"Pasti sangat berat bertahan sampe sejauh ini," kata Dimas sambil menoleh menatap Arumi.
Arumi menatap Dimas. Ada kehangatan terpancar disana. Tidak seperti tatapan Ardi yang dingin dan entah mengapa menyesakkan dada.
"Mamaaaa," panggil Kayla sambil berlari ke arah Arumi, menyadarkan Arumi tentang statusnya. Gendhis mengikuti Kayla berlari ke arah Dimas.
"Lhoh? Sudah mainnya?" tanya Arumi pada Kayla.
"Kayla laper. Mau es krim, boleh?" tanya Kayla.
"Mmm... Tunggu ya, mama telpon papa dulu," jawab Arumi sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Ardi.
"Lhah? Kok udahan mainnya?" sebuah suara membuat Arumi menoleh.
Arumi melihat seorang wanita berdiri di samping Ardi. Arumi segera memasukkan kembali ponselnya.
"Papaaa... Kayla mau es krim boleh?" tanya Kayla pada Ardi. Dimas seketika itu menatap Ardi.
"Eh, kenalin. Temen kerja gue. Ardi. Ardi, ini sodara kembar gue, Dimas," kata Dira memperkenalkan Dimas pada Ardi.
"Kembar?" tanya Ardi sambil menjabat tangan Dimas.
"Gue belum cerita?" tanya Dira. Ardi menggelengkan kepala.
"Eh... Ini namanya siapa?" tanya Dira pada Kayla sambil berjongkok.
"Kayla," jawab Kayla.
"Halo, Kayla. Nama aku Dira," kata Dira ramah. Arumi diam.
"Boleh, Pa? Es krim?" tanya Kayla sekali lagi pada Ardi.
"Eh? Boleh," jawab Ardi sambil tersenyum.
"Ayok, Maaa, beli es krim," ajak Kayla pada Arumi.
"Eh? Oh, iya," jawab Arumi lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke penjual es krim terdekat.
"Gendhis juga mau es krim?" tanya Dimas. Gendhis mengangguk.
"Ya udah. Ayok!" ajak Dira sambil menggandeng Gendhis menyusul Kayla dan Arumi.
Dimas dan Ardi berjalan pelan di belakang Dira.
"Anda satu divisi sama Dira?" tanya Dimas membuka percakapan.
"Eh? Oh, iya. Saya baru tau kalo Dira punya kembaran," kata Ardi kikuk. Dimas tersenyum.
"Saya dengar, Anda psikiater," kata Ardi. Dimas mengangguk.
Hening.
Dimas masih merasakan sisa kemarahannya pada Ardi setelah mendengar keluhan Arumi.
"Ehem... apa banyak pasien... dengan keluhan tentang... rumah tangga?" tanya Ardi akhirnya, memecah keheningan yang terasa tak nyaman.
Dimas menoleh ke arah Ardi cepat. Ardi terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa tak nyaman menanyakan hal itu.
"Banyak," jawab Dimas sambil menatap lurus ke arah Arumi yang sedang membelikan Kayla es krim.
"Yang terbaru, seorang isteri mengeluhkan tentang suaminya yang tiba-tiba berhenti bergairah di tengah hubungan intim," lanjut Dimas, masih sambil menatap Arumi. Ardi merasa tertohok dengan cerita Dimas, namun berusaha bersikap biasa.
"Eh? Bahkan menceritakan hal seperti itu?" tanya Ardi dengan ekspresi terkejut.
"Ya. Tujuan kami adalah membantu pasien. Kalau pasien tidak menceritakan hal-hal detail, kami tak akan mampu membantu mereka. Jadi, sudah sering saya mendengar hal-hal seperti itu," jawab Dimas terkesan profesional. Ardi manggut-manggut.
"Dira," kata Dira pada Arumi sambil tersenyum, memperkenalkan diri, saat berdiri di kedai es krim.
"Oh, Arumi," kata Arumi.
"Kamu kenal Dimas?" tanya Dira dengan nada berbisik. Insting Dira tentang Dimas tak pernah meleset.
"Eh?" Arumi menatap ke arah Dimas dan Ardi yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Dunia ternyata sesempit itu ya?" celetuk Dira. Arumi mengerutkan kedua alisnya. Dira tersenyum ke arah Arumi.
"Tenang aja. Gue cuma rekan kerja biasa. Ardi terkenal cowok 'bersih' di kantor," kata Dira menenangkan Arumi.
"Bersih?" tanya Arumi bingung.
"Bebas dari perselingkuhan," jelas Dira singkat.
"Entah mengapa, gosip perselingkuhan selalu cepat menyebar di kantor. Hampir delapan puluh persen cowok di kantor punya simpanan. Tapi, tenang, Ardi termasuk yang dua puluh persen," kata Dira. Arumi tersenyum. Bukan senyum kelegaan. Melainkan sebuah senyuman keraguan.
Arumi dan Dira duduk di kursi, menemani anak-anak memakan es krimnya. Arumi menatap Dimas yang kini duduk di hadapannya dan juga menatap dirinya. Ardi duduk di samping Arumi. Tangannya dengan santai merangkul bahu Arumi. Arumi sedikit terkejut. Dia menatap tangan Ardi yang bertengger di bahunya. Dimas menatap hal itu dengan rasa kesal yang tak bisa dia jelaskan.
'Pencitraan,'
***