NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Rumah Sakit

Lorong rumah sakit itu terasa terlalu panjang, seolah tidak ada ujung yang benar-benar bisa dijangkau dengan cepat. Lampu putih menggantung di langit-langit dengan cahaya dingin yang membuat kulit tampak pucat dan bayangan terlihat lebih tajam dari biasanya, sementara suara langkah kaki perawat dan bunyi alat medis dari balik pintu-pintu tertutup terus berulang seperti ritme yang tidak pernah berhenti.

Elvara duduk di kursi plastik dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat sampai buku jarinya memucat. Pikirannya tidak berada di sana, melainkan tertinggal di dalam ruangan perawatan, berulang kali memutar satu gambaran yang sama tanpa bisa dihentikan meski ia sudah mencoba berkali-kali.

Wajah Rheon yang memerah karena panas masih terbayang jelas, bersama selang infus di tangan kecilnya yang tampak terlalu rapuh untuk menahan jarum. Setiap kali ia menutup mata, bayangan itu kembali muncul dengan detail yang tidak berubah, membuat dadanya terasa sesak seolah udara di sekitarnya tidak cukup untuk ditarik masuk.

Ia menarik napas pelan, mencoba mengatur ritme, tetapi tetap saja terasa pendek dan tidak stabil. Tangannya sempat bergerak ke arah wajah, menekan pelipis perlahan seperti itu bisa meredakan tekanan yang terus menumpuk sejak beberapa jam lalu.

Di sisi lain lorong, Zayden berdiri di depan meja administrasi dengan tubuh tegap dan ekspresi yang tidak banyak berubah. Nada suaranya rendah saat berbicara, namun cukup tegas untuk membuat orang di depannya tidak berani membantah terlalu lama.

"Rawat inap. Kamar terbaik yang tersedia."

Petugas sempat membuka berkas sambil mencoba menjelaskan sesuatu, tetapi kalimatnya berhenti di tengah jalan ketika Zayden kembali berbicara tanpa menaikkan suara.

"Saya tidak butuh penjelasan tambahan. Siapkan saja yang terbaik."

Nada itu tidak keras, tetapi jelas menutup semua kemungkinan diskusi. Berkas segera disiapkan, formulir digeser ke arahnya, dan pena diberikan tanpa banyak basa-basi lagi.

Zayden menandatangani satu per satu dengan cepat, matanya hanya sekilas melihat isi dokumen sebelum mengisi bagian yang diperlukan. Nama pasien, data pribadi, hingga kolom penanggung jawab semua diisi tanpa ragu, seolah keputusan itu sudah ia ambil sejak langkah pertama masuk ke rumah sakit.

Ia tidak menoleh ke arah Elvara sama sekali selama proses itu berlangsung, tidak meminta izin, tidak memberi penjelasan, dan tidak membuka ruang untuk ditanya. Semua berjalan seperti sesuatu yang sudah pasti harus dilakukan, tanpa perlu dibicarakan lebih jauh.

Beberapa menit kemudian, semua selesai. Berkas dikembalikan, kartu pasien diberikan, dan staf langsung bergerak untuk menyiapkan kamar sesuai permintaan.

Zayden berbalik dari meja administrasi dan kembali ke lorong dengan langkah yang tetap tenang. Dari kejauhan, ia melihat Elvara masih duduk di posisi yang sama, tidak banyak berubah sejak ia tinggalkan, hanya sorot matanya yang kini terlihat lebih lelah dan lebih kosong.

Ia berhenti beberapa langkah darinya, memberi jarak yang tidak terlalu dekat tetapi cukup untuk berbicara tanpa perlu meninggikan suara.

"Kamar sudah disiapkan."

Elvara mengangkat kepala sedikit, seolah butuh beberapa detik untuk kembali ke situasi saat ini.

"Kamu tidak perlu—"

"Sudah selesai."

Nada suara Zayden tetap datar, tetapi cukup jelas untuk menutup kemungkinan penolakan lebih lanjut. Ia tidak ingin perdebatan, tidak ingin argumen, dan jelas tidak ingin membuang waktu pada hal yang menurutnya tidak penting saat ini.

Elvara menatapnya beberapa detik, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak benar-benar menemukan kata yang tepat. Akhirnya ia mengalihkan pandangan, memilih diam karena memang tidak punya tenaga untuk mempertahankan jarak seperti biasanya.

Mereka duduk berdampingan di kursi yang sama, dengan jarak yang tidak terlalu jauh namun juga tidak benar-benar dekat. Jarak itu terasa berbeda dari biasanya, bukan karena posisi fisik, tetapi karena suasana yang menyelimuti keduanya saat ini.

Tidak ada ketegangan tajam seperti di kantor, tidak ada pertanyaan yang menggantung seperti beberapa hari terakhir. Yang ada hanya kecemasan yang sama, dan itu secara perlahan menghapus batas yang biasanya mereka jaga.

Waktu berjalan lambat tanpa terasa. Jam di dinding bergerak sedikit demi sedikit menuju tengah malam, sementara aktivitas di lorong tetap berlangsung dengan ritme yang sama, perawat keluar masuk, dokter sesekali lewat, dan suara alat medis terus terdengar dari berbagai arah.

Namun bagi mereka berdua, semua itu terasa jauh. Fokus mereka hanya satu, tertuju pada satu ruangan di balik pintu yang saat ini tertutup rapat.

"Dia kuat."

Suara Zayden memecah keheningan tanpa peringatan.

Elvara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Iya."

"Anak itu tidak mudah jatuh."

Nada suara Zayden tetap tenang, tetapi ada keyakinan yang tidak dibuat-buat di dalamnya. Ia tidak mengatakan itu untuk menenangkan, melainkan karena ia benar-benar percaya.

Elvara menoleh sedikit, memperhatikan wajah pria di sampingnya seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.

"Aku tahu."

Ia mengusap wajahnya pelan, mencoba menahan sesuatu yang hampir muncul lagi.

"Aku cuma... takut."

Kata itu keluar begitu saja tanpa ia rencanakan, dan setelah mengatakannya, ia sedikit terdiam. Seolah baru menyadari bahwa ia baru saja mengakui sesuatu yang biasanya ia simpan sendiri.

Zayden menatapnya tanpa segera menjawab. Wajah yang selama ini ia kenal selalu tenang dan terkendali kini terlihat berbeda, lebih rapuh dan lebih jujur.

Ia tidak mencoba menghibur dengan kalimat berlebihan. Ia hanya tetap berada di sana, tidak bergerak, tetapi cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Elvara kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih pelan dan lebih berat.

"Aku biasanya bisa sendiri."

Ia menunduk, menatap tangannya yang masih saling menggenggam.

"Selama lima tahun ini, aku selalu sendiri."

Tidak ada dramatisasi dalam kalimat itu, hanya kejujuran yang keluar karena lelah menahan semuanya sendiri terlalu lama.

"Semua keputusan, semua masalah, aku yang hadapi."

Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

"Dan aku pikir aku sudah terbiasa."

Sebuah tawa kecil keluar, tetapi tidak membawa rasa ringan.

"Ternyata tidak juga."

Zayden mendengarkan tanpa memotong, membiarkan setiap kata keluar tanpa gangguan. Ia memahami bahwa ini bukan sesuatu yang sering Elvara lakukan, dan justru karena itu ia tidak ingin menghentikannya.

"Sendirian bukan berarti harus selalu kuat."

Kalimat itu keluar tenang, tanpa nada menggurui, hanya sebagai pernyataan sederhana yang ia yakini.

Elvara menoleh, menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Namun ada perubahan kecil di matanya, seperti sesuatu yang baru saja ia sadari tetapi belum siap ia akui sepenuhnya.

Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka, dan seorang perawat keluar sambil mencari.

"Ibu pasien?"

Elvara langsung berdiri.

"Iya."

"Kondisinya mulai stabil. Kami akan pindahkan ke kamar rawat."

Kalimat itu membuat dadanya terasa lebih ringan, meski belum sepenuhnya tenang.

"Terima kasih."

Ia hampir langsung masuk, tetapi langkahnya tertahan sesaat. Ia menoleh ke arah Zayden yang sudah berdiri di belakangnya.

"Aku ikut."

Tidak ada pertanyaan dalam kalimat itu, hanya keputusan.

Elvara tidak menolak. Ia hanya mengangguk kecil sebelum berjalan mengikuti perawat, dengan Zayden di sampingnya tanpa perlu diminta.

Langkah mereka berjalan selaras tanpa disadari. Tidak ada percakapan, tetapi tidak ada juga jarak yang terasa kaku seperti sebelumnya.

Di dalam kamar rawat, suasana jauh lebih tenang dibandingkan lorong. Lampu lebih redup, udara terasa lebih hangat, dan suara mesin tidak terlalu mendominasi.

Rheon dipindahkan ke tempat tidur dengan hati-hati. Tubuh kecil itu masih terlihat lemah, tetapi napasnya sudah lebih teratur dibandingkan sebelumnya.

Elvara langsung duduk di samping ranjang, tangannya segera mencari tangan kecil anaknya dan menggenggamnya pelan seolah memastikan ia benar-benar ada di sana.

Zayden berdiri tidak jauh dari pintu. Ia tidak masuk terlalu dalam, seolah masih menjaga batas yang tidak pernah mereka bicarakan tetapi selalu ada.

Namun matanya tidak lepas dari sosok kecil di atas ranjang.

Ia memperhatikan dengan diam, setiap detail kecil yang selama ini hanya ia lihat sekilas kini terasa lebih jelas. Wajah yang masih pucat, garis alis yang halus, dan napas yang perlahan menjadi lebih stabil.

Tanpa disadari, bahunya sedikit rileks.

Elvara mengusap rambut Rheon dengan gerakan lembut, seperti kebiasaan yang sudah dilakukan berkali-kali sebelumnya.

"Dia selalu seperti ini," katanya lirih.

"Apa."

"Berusaha kuat meski sakit."

Nada suaranya tenang, tetapi ada rasa yang tertahan di dalamnya.

Zayden tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap Rheon, seolah mencoba memahami lebih dari yang terlihat.

"Aku tidak ingin dia belajar jadi kuat sendirian."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Tidak ada suara lain selain napas Rheon yang perlahan stabil dan bunyi mesin yang berjalan pelan.

"Dia tidak akan sendirian."

Zayden akhirnya berbicara, suaranya tetap rendah tetapi jelas.

Elvara menoleh, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tidak ada penolakan seperti biasanya, tidak ada bantahan yang langsung keluar.

Ia hanya menatap beberapa detik, lalu kembali mengalihkan pandangan ke anaknya.

Malam semakin larut. Jam menunjukkan lewat pukul satu, tetapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan waktu.

Elvara tetap duduk di kursi, sesekali mengusap tangan Rheon, memastikan anak itu tetap hangat dan tenang. Zayden duduk di sofa kecil di sudut ruangan, tubuhnya sedikit condong ke depan, tangannya bertaut tanpa membuka ponsel atau melakukan hal lain.

Beberapa kali mata mereka bertemu tanpa sengaja, lalu kembali berpaling tanpa kata.

Tidak ada konflik.

Tidak ada ketegangan.

Hanya satu hal yang sama, kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.

Dan di antara keheningan panjang itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Bukan hubungan yang tiba-tiba membaik, bukan juga rasa percaya yang langsung tumbuh, melainkan jarak dingin yang selama ini selalu ada mulai retak sedikit demi sedikit.

Digantikan oleh sesuatu yang lebih nyata dan lebih jujur, sesuatu yang muncul bukan karena dipaksa, tetapi karena situasi yang tidak bisa mereka abaikan.

Di tengah malam yang panjang, di kamar rumah sakit yang sunyi, mereka tidak lagi berdiri di dua sisi yang saling berseberangan. Mereka hanya dua orang dewasa yang sama-sama cemas, menunggu satu anak kecil membuka mata dan kembali memanggil mereka seperti biasa.

Dan tanpa mereka sadari, dari titik itulah semuanya mulai berubah ke arah yang tidak bisa lagi mereka kendalikan sepenuhnya.

1
Lisa
Jgn keras hati Elvara..Zayden tdk akan mengambil Rheon dr kamu.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
terlalu n makin mbuleeddd, n heran nya masih aq baca🤣🤣🤣🤣
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!