Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kediaman Keluarga Yan
Kediaman keluarga Yan berdiri dengan megah di pusat Kota Peiling, sebuah kompleks bangunan luas yang memancarkan aura wibawa.
Gerbang kayunya yang tinggi dihiasi ukiran naga api, melambangkan keistimewaan teknik bela diri mereka yang telah tersohor ke seantero wilayah.
Banyak pihak yang selama ini menyimpan ambisi gelap untuk merebut rahasia teknik api tersebut, namun kekuatan keluarga Yan selalu menjadi benteng yang tak tertembus.
Kini, suasana di kediaman itu jauh lebih riuh dari biasanya. Sang kepala keluarga, Yan Qingchen, secara mengejutkan mengumumkan kompetisi terbuka.
Sebuah pertaruhan besar di mana pemenangnya bukan hanya mendapatkan pengakuan, tapi juga hak untuk meminang putri tunggal mereka.
Di halaman luas yang beralaskan batu pualam, kerumunan pemuda berbakat berkumpul dengan ambisi yang meluap-luap.
Satu per satu mereka maju menantang tuan muda keluarga Yan yang berdiri kokoh di tengah arena. Namun, pemandangan yang tersaji tetap sama.
Setiap penantang tumbang dengan cepat, dikalahkan dengan gerakan yang sangat efisien dan telak sebelum mereka sempat mengeluarkan jurus andalan.
Dari balkon lantai atas yang menghadap langsung ke arena, Yan Qingchen memperhatikan setiap pertarungan dengan tatapan tajam.
Jari-jarinya yang kasar sesekali mengelus janggut putihnya yang panjang, sementara kerutan di dahinya semakin dalam menunjukkan rasa kecewa yang nyata.
'Aishh... tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Tuan Muda.'
Ia menghela napas pendek, merasa para jenius yang datang hari ini masih jauh dari kriteria menantu yang ia dambakan.
Tepat di sampingnya, berdiri sosok yang menjadi pusat perhatian semua pria di bawah sana. Yan Chu, sang putri keluarga Yan, tampak seperti dewi yang turun ke bumi.
Rambut hitam pekatnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajahnya yang mungil. Sepasang matanya yang berwarna emas berkilau indah di bawah sinar matahari, senada dengan kulitnya yang seputih susu dan tampak sangat halus.
Lekuk tubuhnya yang matang terbalut kain sutra berwarna merah menyala yang melekat sempurna. Pakaian itu didesain cukup berani, membiarkan bahunya yang mulus terekspos sepenuhnya dan memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda setiap kali ia menarik napas.
Kedua puncak kembarnya yang bervolume tampak menonjol di balik balutan kain merah tersebut, memberikan kesan sensual sekaligus elegan.
Meski dari luar ia tampak sangat tenang dan dingin, sebenarnya ada badai kegelisahan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Ia terus-menerus memilin ujung pakaiannya dengan jemari yang lentik, merasa takut jika nasibnya berakhir di tangan pria yang salah.
Bagi Yan Chu, ketulusan hati jauh lebih berharga daripada tingkatan kultivasi, namun ia sadar suaranya tak cukup kuat untuk menentang keputusan ayahnya.
Ia mengangkat tangan halusnya, menyentuh pipinya sendiri dengan gerakan pelan yang penuh kecemasan.
'Tuan muda... seharusnya tidak akan ada yang bisa mengalahkannya, kan.'
Dalam hati kecilnya, ia terus merapal doa agar kakaknya tetap tak terkalahkan, demi melindungi kebebasannya yang kini berada di ujung tanduk.
Setelah rentetan kekalahan yang memalukan bagi para penantang, suasana halaman kediaman keluarga Yan sempat menjadi hening sejenak.
Namun, kesunyian itu pecah saat seorang pemuda asing melangkah masuk dengan ketenangan yang ganjil. Jubahnya berkibar pelan tertiup angin pagi, sementara tatapannya lurus ke depan seolah tidak terpengaruh oleh atmosfer kompetisi yang berat.
Pemuda itu adalah Yun Zhu.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, menyapu pandangan ke seluruh area sebelum matanya tertuju pada balkon lantai atas. Di sana, sosok kepala keluarga Yan yang berwibawa duduk berdampingan dengan sang putri yang cantik jelita.
Yun Zhu memberikan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan sejuta rencana.
Ia melangkah maju melewati kerumunan penantang yang kini sibuk meratapi luka-luka mereka. Di tengah arena, sosok tuan muda keluarga Yan, Yan Huan, berdiri dengan angkuh menunggu lawan berikutnya.
Di atas balkon, Yan Chu merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia meremas pinggiran balkon kayu yang dingin, matanya yang emas tak lepas dari sosok Yun Zhu.
'Dia tadi... menatapku?' pikirnya dalam hati. 'Aku melihat jelas, ia seolah-olah menemukan harta karun.'
Yan Chu sedikit merapatkan tangannya ke depan tubuh, melindungi bagian dadanya yang sedikit terekspos saat ia mencondongkan badan ke bawah untuk melihat lebih jelas.
Ada perasaan aneh yang mulai merayapi hatinya, sebuah firasat bahwa hari ini tidak akan berakhir seperti biasanya. Di sampingnya, Yan Qingchen masih tampak tidak terkesan, menganggap Yun Zhu hanyalah pemuda nekat dengan bakat yang biasa-biasa saja.
Di bawah sana, Yun Zhu menyatukan kedua tangannya, memberikan salam resmi kultivator.
"Yun Zhu, kultivator bebas."
Suaranya tenang namun bergema di seluruh halaman, sebuah bentuk penghormatan dasar sebelum memulai duel.
"Tuan Muda keluarga Yan. Yan Huan."
Yan Huan membalas dengan sedikit anggukan kepala, tangannya sudah mulai mengepal erat, siap untuk menghancurkan penantang baru ini.
Yun Zhu mengangkat pandangannya, matanya berkilat tajam.
"Pakai senjata?" tanya Yun Zhu dengan nada santai.
"Jika mau. Maka silahkan."
"Baiklah."
Dalam sekejap, aura di sekitar Yun Zhu berubah menjadi ganas. Ia melesat maju bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Tangannya diselimuti oleh pendaran energi spiritual yang padat saat ia melancarkan pukulan pertama yang mengarah tepat ke dada Yan Huan.
Yan Huan segera menggeser kakinya ke belakang, memasang kuda-kuda kokoh untuk menerima hantaman tersebut.
BUGH!
Hantaman itu terdengar sangat keras. Tubuh Yan Huan terpental mundur cukup jauh, kakinya menyeret tanah hingga menciptakan dua garis dalam, membuktikan betapa besar tenaga yang disalurkan Yun Zhu.
"Uhuk-uhuk."
Yan Huan terbatuk kecil, menyapu sisa debu dan sedikit darah di ujung bibirnya dengan punggung tangan.
'Kuat... sangat kuat,' batin Yan Huan, kini ia benar-benar waspada.
Tanpa memberikan waktu napas, Yun Zhu kembali melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi. Ia melakukan putaran tubuh di udara dan melayangkan tendangan melingkar dari sisi kiri.
Yan Huan yang sudah bersiap segera merunduk rendah, menghindari serangan yang bisa mematahkan lehernya itu.
Udara di sekitar Yan Huan mulai memanas, api merah menyala berkobar di kedua tangannya.
"Haa! Teknik Tinju Api!"
WUSH!
Gelombang api panas menerjang ke arah Yun Zhu. Dengan refleks yang sangat cepat, Yun Zhu menarik sebuah perisai abu-abu dari cincin penyimpanannya.
Hantaman api itu membentur permukaan perisai, menciptakan ledakan kecil yang menyeret Yun Zhu mundur beberapa meter.
'Dia... benar-benar lawan yang kuat. Aku semakin menginginkan teknik api itu.'
Setelah api mereda, Yun Zhu kembali menyimpan perisainya. Ia menatap Yan Huan dengan tatapan penuh tantangan, sebuah senyum penuh semangat kini merekah di wajahnya.
Yan Huan juga merasakan gairah bertarung yang jarang ia alami. Ia mengepalkan tangan apinya lebih erat, matanya menyala-nyala.
"Maju! Lawan aku dengan seluruh kekuatanmu!" seru Yan Huan tanpa ragu sedikit pun.
"Hahaha!" Yun Zhu tertawa ringan, suaranya terdengar penuh percaya diri di tengah arena. "Sesuai keinginanmu!"