Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kunjungan rutin
Pagi sekali, Laura sudah bangun. Padahal, tadi malam gadis itu menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan tugas kuliah. Ia baru saja bisa tidur jam 3 subuh tadi, dan sekarang, di jam 6 pagi ia sudah rapi dengan pakaiannya.
Bagi sebagian orang, hari Minggu adalah hari yang sangat-sangat di nanti-nanti. Karena mereka dapat memanfaatkan hari itu untuk beristirahat dan bermalas-malasan di atas kasur. Namun, tidak untuk Laura.
Setiap hari Minggu, ia akan datang ke makam Ibunya. Ia akan menghabiskan setengah hari dengan duduk dan juga bercerita seakan-akan Ibunya berada di sampingnya. Setelah itu di lanjutkan dengan memakan eskrim dan berjalan-jalan di sekitaran taman.
Dulu, ia selalu melakukannya sendiri, namun sekarang ia memiliki lima Kakak yang akan menemaninya.
Laura keluar dari kamarnya, saat kakinya akan melangkah berbelok menuju paviliun para pengawalnya, ia tidak sengaja berpapasan dengan pelayan Kim.
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa pelayan Kim.
Laura tersenyum cerah. “Iya, selamat pagi juga pelayan Kim.”
“Anda akan berpergian?” pelayan Kim memperhatikan penampilannya Nyonya mudanya yang terlihat sudah rapi.
“Iya, aku akan pergi ke makam Ibuku. Tenang saja, aku membawa kelima pengawalku kok.”
“Anda sudah meminta izin pada Tuan muda?” tanya pelayan Kim memastikan.
“Aku meminta izin kepada sekertaris Juan,” Laura mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan room chatnya bersama sekertaris Juan. “Jika sekertaris Juan tahu, otomatis Suami juga akan tahu, bukan?”
“Baiklah jika begitu, saya akan buatkan sarapan sebelum Anda berangkat.”
“Eh! Tidak usah, aku ingin sarapan masakan Kak Owen lagi. Tidak apa-apa 'kan?” nada suaranya memelan di akhir kalimat.
Pelayan Kim tersenyum tipis. “Tentu, Nyonya. Jika begitu saya permisi.”
Pelayan Kim berlalu meninggalkan Laura. Setelah kepergian pelayan Kim, Laura menghela napas lega. Ia segera melangkahkan kakinya menuju paviliun pengawal yang terletak di belakang kediaman utama. Udara pagi yang masih sejuk menyapu wajahnya, memberikan sedikit energi tambahan meski matanya masih terasa agak berat.
Baru saja ia sampai di depan pintu paviliun, pintu kayu besar itu terbuka. Owen muncul dari dalam dengan kaos hitam santai, tampak terkejut melihat Laura sudah berdiri di sana.
“Nyonya? Anda sudah siap?” Owen melirik jam tangannya. “Ini baru jam enam lewat sedikit.”
Laura menyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Aku tidak sabar ingin bertemu Ibu, Kak. Dan juga... aku lapar.” Laura menepuk pelan perut datarnya.
Owen tertawa kecil, suara beratnya terdengar hangat. “Sudah saya duga. Masuklah, yang lain sedang berada di ruang tengah. Saya akan siapkan sarapan kilat untuk Anda.”
Laura mengekor masuk ke dalam paviliun yang luas itu. Di dalam, ia melihat empat pengawal lainnya, Hans, Gabriel, Zero dan juga Arlo. Mereka duduk dengan tenang, sesekali mengobrol ringan dengan gelas kopi hitam di hadapan mereka semua.
Ugh! Melihatnya saja sudah membuat Laura mual. Kopi di pagi hari? Apa tidak sakit perut? Soalnya ia pernah mencobanya, dan berakhir berada di kamar mandi karena mulas.
“Selamat lagi, Nyonya. Anda terlihat bersemangat pagi ini.” Gabriel menyapa terlebih dahulu.
“Pagi juga Kak Riel, harus semangat dong, soalnya mau ketemu Ibu,” jawab Laura tanpa melunturkan senyumannya. Ia duduk di single sofa sembari menunggu sarapan paginya.
Mata gadis itu meliar menjelajahi ruangan, lalu pandangannya terhenti pada wajah Arlo yang sudah terlihat kinclong seperti sedia kali.
“Kak Ar wajahnya sudah kinclong kembali, ya? Mau aku coret lagi nggak?” tanya Laura, sengaja menggoda pengawal yang paling muda.
Di tempatnya Arlo sudah menggeleng panik. Ia bahkan hampir tersedak dengan kopinya sendiri.
“Nyonya, dua jam penuh saya habiskan untuk membersihkan muka saya. Jangan lagi,” balas Arlo dengan lesu.
Laura sudah terpingkal-pingkal di tempatnya, merasa terhibur dengan wajah melas yang di tunjukan Arlo. Ia merasa nyaman dengan Arlo karena pria itu yang paling muda di banding yang lainnya. Umurnya pun tidak jauh darinya, hanya berbeda 3 tahun. Jika ia sekarang berumur 20 tahun maka Arlo berumur 23 tahun.
“Bagaimana kamu bisa membersihkan wajahmu hingga begitu bersihnya. Wajan di dapur pun kalah kinclong dengan wajahmu, Kak Ar.”
“Dengan do'a dan usaha,” balasnya dengan tangan menengadah ke atas.
Sontak hal itu membuat Laura kembali meloloskan tawanya. Arlo ini benar-benar lucu pikirnya.
Mereka yang berada di sana merasa takjub melihat tawa lepas yang di keluarkan Laura. Matanya berbinar cerah, tidak ada sedikitpun kesedihan yang terpancar di sana.
“Sarapan kilat Anda sudah siap, Nyonya.”
Owen datang dengan dua potong sandwich dengan isi daging yang melimpah. Laura bertepuk tangan senang, mengambil piring itu dengan cepat dan memakan hidangan itu dengan rakus. Pipinya bahkan sampai menggembung lucu karena mulutnya penuh.
“Pelan-pelan, Nyonya,” Hans menasehati. Merasa ngeri dengan cara makan Nyonya mudanya.
“Aku benar-benar lapar. Malam tadi aku hanya makan sedikit karena banyak tugas kuliah yang harus aku kerjakan.” Laura kembali mengambil sandwich satunya lagi. “Aku baru bisa tidur jam 3 subuh tadi,” lanjutnya dengan santai.
Hal itu mengundang tatapan prihatin dari mereka semua. Laura sadar akan hal itu.
“Jangan menatapku begitu, aku sudah biasa. Walaupun aku kecil, aku gadis strong tahu,” ucap Laura dengan memamerkan otot tangannya yang bahkan tidak terlihat sedikitpun.
Rasanya mereka ingin tertawa, di banding otot itu terlihat seperti gumpalan daging saja. Tapi mereka tidak dengan gamblang mengatakannya. Jika mereka berterus terang soal itu, bisa hancur mood Laura.
“Baiklah, Adik kecil, habiskan sarapanmu, kamu akan bersiap-siap.” Zero berdiri terlebih dahulu, dan Laura hanya merespon dengan anggukan, terlalu sibuk dengan sarapan di tangannya.
***
Suasana di pemakaman benar-benar sunyi pagi ini. Namun walaupun begitu, cuaca tampak cerah. Bercak-bercak air kecil menempel pada dedaunan, terasa sejuk.
Sebelum ia datang ke pemakaman, ia sempat mampir pada toko bunga langganannya. Setiap ia datang, si penjual sudah menyiapkan bunga untuknya. Terlalu hafal dengan apa yang menjadi rutinitas Minggu Laura.
Dan di sinilah ia berada, di sebuah gundukan tanah, tempat peristirahatan terakhirnya Ibunya.
“Halo, Ibu. Aku datang lagi,” Laura membawa tubuhnya untuk duduk di samping gundukan tanah itu.
Laura mengelus batu nisan bertuliskan nama Ibunya. Sebelum menyimpan bouquet bunga, tangannya dengan telaten mencabut beberapa rumput liar yang berada di atas gundukan tanah itu.
Kelima pengawal yang menemani hanya memperhatikan dari kejauhan. Laura menegaskan untuk mereka diam di tempat mereka sekarang. Tentunya mereka patuh, karena mereka faham betul jika Nyonyanya membutuhkan ruang.
“Ibu.. Lau kangen banget. Lau udah ikhlas Ibu pergi, tapi kadang Lau suka sedih kalo Ibu nggak ada di samping Lau. Lau selalu keinget momen-momen bareng Ibu.. Lau kangen masakan Ibu.. Lau kangen cerita-cerita kegiatan Lau sama Ibu..”
“Oh iya, aku sekarang udah nikah. Impian Ibu pengen liat aku nikah 'kan? Tapi kayaknya Tuhan lebih sayang sama Ibu, makanya Ibu di ajak pulang lebih cepet.”
“Jujur aku sedih sama pernikahanku, ini bukan pernikahan impianku. Tapi.. ya mau gimana lagi, aku nggak bisa bantah Ayah.”
“Aku juga mau ngadu suatu hal sama Ibu, suami aku itu jelek! Jelek banget! Banget! Banget! Pokonya jelek. Aku nggak suka, mana mukanya datar lagi kayak dinding tembok. Pengen banget aku geprek mukanya, tapi aku takut masuk penjara, nanti aku nggak bisa ngobrol lagi sama Ibu.”
Laura terdiam sejenak. Ia menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ocehannya.
“Tapi.. walaupun aku dapet suami jelek, aku dapet 5 Kakak baik hati tahu,” Laura menoleh kebelakang, melempar senyum pada kelima pengawalnya. “Mereka semua pengawalku Ibu, tapi aku anggap mereka sebagai Kakak kandungku sendiri. Mereka baik sekali.”
“Kemarin aku main seru sama mereka berlima Ibu, aku juga makan masakan Kak Owen, makanannya enak banget. Tapi tenang saja, makanan Ibu masih paling the best sedunia!”
“Kak Hans paling tua, dia walaupun mukanya datar tapi hatinya hello kitty, kalo Kak Gabriel.. dia nggak beda jauh sama Kak Hans sih, kalo buat Kak Zero sama Kak Owen.. mereka mirip orangtua yang sigap kalo anaknya kenapa-kenapa. Bicara mereka itu mirip kayak ayah yang ngingetin anaknya.”
“Nah, kalo Kak Arlo, aku paling nyaman ngobrol sama dia, soalnya selisih umurnya nggak beda jauh. Kak Arlo paling muda tapi paling lucu juga. Kak Arlo kemarin bener-bener hibur aku sama muka cemongnya, hehehe...”
“Kalo nggak ada mereka, aku nggak tahu jalanin hidup after pernikahan itu kayak gimana. Untungnya aku bertemu sama mereka berlima, jadi kehidupanku nggak terlalu sunyi.”
Laura kembali mengelus batu nisan itu, tersenyum tipis lalu mencium nisan tersebut. “Minggu depan aku ke sini lagi. Aku bakal cerita hal-hal seru lagi sama Ibu. Aku pamit ya, Bu...”
Laura berdiri dari duduknya, menatap sejenak pada gundukan tanah itu lalu berlalu pergi. Ia berjalan dengan pelan menuju para pengawalnya yang sudah menunggu tidak jauh dari mobil yang mereka gunakan. Total dua mobil, masing-masing mobil berisikan tiga orang.
Mobil pertama, Hans, Gabriel dan Laura, dan untuk mobil kedua ada Zero, Owen juga Arlo.
“Anda sudah selesai, Nyonya?” Gabriel bertanya pelan.
Laura tersenyum tipis, membalas dengan anggukan lesu. Arlo menangkap ekspresi tersebut.
“Jangan bersedih, Nyonya. Hari masih panjang, mari kita bersenang-senang seperti yang sudah Anda jadwalkan!” seru Arlo.
“Benar! Aku memiliki kalian untuk jadi objek jahilku. Mari! Kita bermain! Aku tidak sabar membuat kalian lelah hari ini,” Laura berjalan dengan cepat. Di kepalanya sudah tersusun rencana-rencana yang akan ia lakukan hari ini.
“Dengan senang hati, Nyonya.” Jawab mereka serentak.
***
Sabtu, 18 April 2026
Published : 18 April 2026