NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jejak Masa Lalu yang Muncul Kembali

Pagi itu, suasana di ruang kerja Aldo terasa lebih serius dari biasanya. Berkas-berkas tebal hasil penyelidikan dari cabang perusahaan di luar kota sudah tergeletak rapi di atas meja. Aldo duduk di kursinya, membaca satu per satu laporan yang dikirimkan tim auditnya, sementara Naura duduk di sampingnya, sesekali melirik dengan penuh perhatian meski ia berusaha tidak terlalu memaksakan diri.

"Jadi, orang yang bertanggung jawab atas penyimpangan ini adalah Bima?" tanya Naura pelan, matanya menatap nama yang tertera di dokumen.

Aldo mengangguk perlahan, rahangnya mengeras menahan amarah. "Benar. Bima adalah keponakan dari Hartono—orang yang dulu merencanakan kecelakaan yang menimpa orang tuamu. Ternyata, setelah Hartono dipenjara, Bima masih menyimpan dendam dan berusaha membalas dengan cara merusak aset perusahaan yang menjadi milik bersama keluarga kita."

Naura menarik napas panjang. Ia tidak menyangka bahwa bayang-bayang masa lalu masih terus mengikuti mereka meski kebenaran sudah terungkap. "Jadi ini bukan soal uang semata, tapi soal dendam yang dibawa turun-temurun?"

"Sepertinya begitu. Ia berpikir bahwa dengan merusak cabang ini, ia bisa membuat perusahaan mengalami kerugian besar dan mempermalukan kita. Ia sengaja menyembunyikan kontrak penting, memanipulasi laporan keuangan, dan memindahkan sebagian dana ke rekening palsu yang dibuat atas nama orang lain," jelas Aldo sambil menunjuk bukti transaksi yang tertera di kertas.

Belum sempat mereka membahas lebih lanjut, telepon di meja berdering. Asisten pribadi Aldo memberitahu bahwa kepala polisi setempat telah tiba dan siap memberikan keterangan lebih lanjut. Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian rapi masuk ke ruangan, diikuti oleh dua orang anggotanya.

"Selamat pagi, Tuan Aldo, Nyonya Naura. Kami telah berhasil melacak keberadaan Bima. Ia bersembunyi di sebuah rumah sewaan di pinggiran kota, namun kami sudah mengawasinya ketat," lapor kepala polisi itu sopan.

"Bagus. Kami ingin dia diadili secara adil sesuai hukum. Jangan biarkan ia melarikan diri atau menghancurkan bukti yang tersisa," perintah Aldo tegas.

"Siap, Tuan. Kami akan segera melakukan penangkapan pagi ini juga," jawab kepala polisi itu sebelum berpamitan.

Setelah mereka pergi, Naura memegang tangan Aldo dengan lembut. "Apakah ini akan berakhir selamanya, Aldo? Apakah kita akan selalu dihadapkan pada masalah yang berasal dari masa lalu?"

Aldo menoleh, menatap wajah istrinya dengan pandangan lembut namun penuh keyakinan. "Mungkin akan selalu ada orang yang tidak puas, Naura. Tapi yang terpenting, kita tidak akan membiarkan mereka mengganggu kebahagiaan kita. Setiap kali masalah muncul, kita hadapi bersama, dan kita pastikan keadilan ditegakkan."

Beberapa jam kemudian, kabar baik datang. Bima berhasil ditangkap tanpa perlawanan berarti. Ia terkejut karena ternyata rencananya sudah diketahui sejak awal. Saat diperiksa, ia akhirnya mengakui semuanya—dendamnya karena pamaninya dipenjara, keinginannya untuk mengambil alih sebagian kekayaan yang dianggapnya milik keluarganya, dan bagaimana ia menyusun rencana selama lebih dari setahun.

"Kalian telah merampas hak keluarga kami! Hartono hanya ingin memajukan perusahaan, tapi kalian menuduhnya berbuat jahat!" teriak Bima emosional saat diinterogasi.

Namun, bukti yang ada terlalu kuat untuk dibantah. Semua dokumen palsu, rekaman percakapan, dan jejak transaksi yang ia lakukan menjadi saksi bisu atas kejahatannya. Ia akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun dan diwajibkan mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkannya.

Setelah masalah ini selesai, suasana di rumah kembali menjadi tenang. Persiapan menyambut kelahiran bayi semakin intensif. Kamar bayi yang sudah selesai didekorasi terlihat sangat indah—dinding berwarna krem dengan hiasan bintang-bintang kecil yang bersinar di malam hari, tempat tidur bayi yang empuk, rak buku yang sudah terisi cerita-cerita anak, dan berbagai mainan yang aman.

Suatu sore, Ibu Aldo datang berkunjung. Sejak kejadian fitnah yang lalu, hubungan antara beliau dan Naura menjadi sangat akrab. Ibu Aldo bahkan sering datang untuk membantu memilih perlengkapan bayi dan memberikan nasihat tentang kehamilan.

"Lihat ini, Nak. Ini kain bedong yang saya gunakan untuk Aldo saat ia masih bayi. Kainnya masih bagus dan halus. Saya simpan selama bertahun-tahun, dan sekarang bisa dipakai untuk cucu saya," kata Ibu Aldo sambil menyerahkan kain katun berwarna putih bersih dengan sulaman bunga yang indah.

Naura menerimanya dengan senyum haru. "Terima kasih, Bu. Ini sangat berharga."

"Sama-sama. Saya berharap cucu ini tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki hati yang baik seperti ibunya," ucap Ibu Aldo sambil mengelus punggung tangan Naura.

Saat mereka sedang asyik berbicara, Aldo pulang dari kantor. Ia membawa kotak besar yang dibungkus rapi. "Ada yang saya beli tadi. Saya pikir ini akan berguna," katanya sambil meletakkan kotak itu di meja.

Setelah dibuka, ternyata di dalamnya terdapat tempat tidur bayi portabel, kursi dorong yang nyaman, dan peralatan keamanan untuk mobil. Naura tertawa kecil melihatnya. "Kamu ini, membeli terlalu banyak. Kita sudah punya cukup banyak perlengkapan."

"Lebih baik terlalu banyak daripada kurang. Lagipula, ini hanya sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan," jawab Aldo santai sambil tersenyum.

Malam itu, saat mereka sedang beristirahat, Naura tiba-tiba merasakan gerakan halus di dalam perutnya. Ia segera memanggil Aldo. "Aldo, rasakan. Anak kita bergerak!"

Aldo segera mendekat dan meletakkan telapak tangannya di atas perut istrinya. Beberapa saat kemudian, ia merasakan tendangan kecil yang lembut. Matanya langsung berbinar, senyum yang sangat lebar dan tulus terukir di wajahnya—sesuatu yang jarang pernah dilihat orang lain.

"Dia... dia bergerak," gumam Aldo pelan, suaranya sedikit bergetar karena haru. "Terima kasih, Naura. Terima kasih telah memberikan saya kebahagiaan sebesar ini."

Naura memegang tangan suaminya dan menempelkannya lebih erat. "Ini juga kebahagiaan saya, Aldo. Saya tidak pernah membayangkan hidup saya akan seindah ini setelah semua penderitaan yang saya alami dulu."

Aldo mencium kening istrinya dengan lembut. "Mulai sekarang, tidak ada lagi penderitaan. Hanya ada kebahagiaan, kebersamaan, dan masa depan yang cerah untuk kita bertiga."

Namun, ketenangan itu kembali terganggu tak lama kemudian. Beberapa hari sebelum perkiraan kelahiran, seorang wanita paruh baya datang ke rumah dengan membawa sebuah amplop cokelat besar. Ia mengaku telah diperintahkan untuk menyerahkannya langsung kepada Naura.

"Ini dari seseorang yang ingin tetap anonim. Katanya, ini berisi informasi penting tentang masa lalu Nyonya," ujar wanita itu sopan sebelum pergi.

Naura dan Aldo saling berpandangan. Rasa penasaran bercampur waspada memenuhi hati mereka. Dengan hati-hati, mereka membuka amplop itu dan menemukan foto-foto lama serta surat tulisan tangan yang sudah agak pudar. Saat membaca isinya, mata mereka terbelalak—ternyata ada rahasia lain yang belum terungkap sepenuhnya tentang kecelakaan yang menimpa orang tua Naura dua puluh tahun yang lalu.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!