NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ruang Tenang di Lantai Tertinggi

​Pintu lift eksklusif tertutup dengan bunyi klik yang halus, seketika memotong seluruh hiruk-pikuk dan tatapan menghakimi dari lobi bawah. Kecepatan lift yang melesat menuju lantai tertinggi tidak terasa sama sekali karena teknologi peredamnya yang luar biasa, namun bagi Aisya, keheningan di dalam kotak kaca ini justru terasa menyesakkan.

​Di dalam lift, Aisya berdiri di pojok kiri, sementara Cassian berdiri tegap di sisi kanan dekat panel tombol. Jarak di antara mereka terjaga dengan sopan. Kehadiran Pak Lukas yang ikut masuk dan berdiri di dekat pintu lift memberikan rasa aman bagi Aisya, memastikan bahwa mereka tidak benar-benar berdua di ruang tertutup itu.

​Aisya terus menunduk, menatap ujung sepatu botnya yang masih sedikit basah oleh sisa salju lobi. Sepasang mata hitam pekatnya masih terasa panas, menahan sisa-sisa air mata yang mati-matian ia bendung agar tidak jatuh. Bahunya yang kecil tampak sedikit bergetar karena emosi yang belum sepenuhnya mereda.

​Cassian tidak mengatakan sepatah kata pun selama lift bergerak ke atas. Namun, mata biru abu-abunya yang dingin sesekali melirik pantalan bayangan Aisya di dinding lift yang mengilap. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana jemari kecil gadis itu meremas ujung jaket musim dinginnya dengan sangat erat. Ada kilatan ketidaknyamanan yang sempat melintas di wajah sang CEO melihat kerapuhan gadis di sebelahnya.

​Ting.

​Pintu lift terbuka langsung di lantai eksekutif—lantai yang sunyi dan hanya diisi oleh ruangan-ruangan penting.

​"Lukas, minta Arthur untuk mengantarkan teh chamomile hangat dan beberapa camilan ke ruanganku. Sekarang," perintah Cassian dengan suara berat yang rendah saat melangkah keluar dari lift.

​"Baik, Tuan Noir," jawab Pak Lukas dengan patuh dan segera berbalik menuju ruang pantri.

​Cassian berjalan lebih dulu, langkahnya yang lebar dan tegap menuntun Aisya menuju pintu ganda berbahan kayu mahoni yang merupakan ruang kerja pribadinya. Ia membuka pintu itu, lalu berdiri di samping pintu, memberikan ruang yang luas bagi Aisya untuk masuk terlebih dahulu.

​"Masuklah," ujar Cassian datar.

​Aisya melangkah ragu ke dalam ruangan yang sangat luas itu. Dindingnya didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Toronto yang tertutup salju dari ketinggian. Di tengah ruangan, terdapat sofa kulit besar yang nyaman dan sebuah meja kopi berbahan marmer hitam.

​Aisya tidak berani duduk di kursi kerja Cassian. Ia memilih berdiri di dekat sofa, memeluk tas ranselnya yang tadi sempat terjatuh di lobi bawah.

​Cassian berjalan menuju meja kerjanya, meletakkan map kulit hitam yang dibawa Aisya, lalu melepas mantel wol hitamnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Ia melonggarkan sedikit dasinya, lalu berbalik menatap Aisya yang masih berdiri kaku seperti patung di tengah ruangan.

​"Duduklah, Aisya. Aku tidak menggajimu—atau dalam hal ini, menagih hutangmu—hanya untuk melihatmu berdiri sampai kakimu goyah lagi," kata Cassian dengan nada dingin khasnya, namun tidak ada nada kasar di sana.

​Aisya perlahan duduk di ujung sofa kulit, meletakkan ranselnya di samping tubuhnya sebagai pembatas. Ia menarik napas dalam-dalam di balik niqabnya, mencoba mengumpulkan kembali ketenangannya yang sempat hancur di lobi tadi.

​Tepat saat itu, pintu ruangan diketuk. Pak Arthur masuk membawa nampan berisi teko teh keramik yang masih mengepulkan uap hangat dan meletakkannya di atas meja kopi di depan Aisya. Kehadiran Pak Arthur kembali memastikan bahwa batasan di antara mereka tetap terjaga dengan baik di dalam ruangan luas itu.

​"Silakan dinikmati, Nona," ujar Pak Arthur lembut sebelum melangkah mundur dan berdiri dengan sikap sopan di dekat pintu ruangan, siap sedia jika dibutuhkan.

​Cassian tidak ikut duduk di sofa. Ia tetap berdiri di dekat meja kerjanya yang berjarak beberapa meter dari Aisya, bersandar pada tepi meja kayu besar itu sambil melipat kedua tangannya di dada. Mata biru abu-abunya mengunci pandangan pada sepasang mata hitam Aisya yang kini mulai terlihat lebih tenang.

​"Apakah ini pertama kalinya kau menerima perlakuan seperti itu di Toronto?" tanya Cassian tiba-tiba, memecah keheningan ruangan dengan pertanyaan yang langsung menusuk pada inti masalah.

Aisya menatap cangkir teh yang mengepul di depannya, lalu menggeleng perlahan. "Secara terang-terangan seperti tadi... iya, ini yang pertama, Tuan Noir. Biasanya di jalan atau di supermarket, orang-orang hanya menatap saya dengan bingung atau menjaga jarak. Saya rasa itu wajar karena ini tempat baru bagi saya, dan hal seperti ini pasti asing bagi mereka."

​Suara Aisya terdengar lirih namun stabil. Ketakutan yang sempat menguasainya di lobi kini perlahan digantikan oleh ketenangan yang bersahaja.

​Cassian menyipitkan mata biru abu-abunya, memperhatikan bagaimana jemari Aisya yang terbungkus sarung tangan kain menggenggam cangkir teh hangat untuk mengusir sisa dingin. "Jika kau tahu hal seperti ini akan terjadi, kenapa kau tetap memilih untuk menutup wajahmu di negara yang mayoritas penduduknya tidak melakukan itu? Kau hanya mempersulit hidupmu sendiri di sini."

​Pertanyaan Cassian terdengar sangat lugas, bahkan nyaris seperti tuntutan seorang pengusaha yang selalu menghitung efisiensi. Namun, di balik nada dinginnya, ada rasa penasaran yang murni.

​Aisya mendongak, menatap lurus ke arah sepasang mata biru abu-abu di seberang ruangan. "Bagi saya, ini bukan sekadar selembar kain, Tuan Noir. Ini adalah identitas dan cara saya menjaga diri. Ini bentuk ketaatan saya kepada Tuhan. Memang hidup saya mungkin terasa lebih sulit di mata orang lain, tapi melepasnya demi kenyamanan sesaat justru akan membuat jiwa saya tidak tenang."

​Aisya terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan senyum yang tersirat dari binar matanya, "Dan saya percaya, di mana pun saya berada, bumi ini milik Tuhan. Jika saya menjaga batasan saya, Dia juga yang akan menjaga saya. Sama seperti hari ini... Dia mengirim Anda untuk menolong saya."

​Mendengar kalimat terakhir itu, rahang Cassian yang tadinya mengeras perlahan melunak. Seseorang yang berdiri di puncak hierarki bisnis seperti dirinya biasanya selalu diandalkan karena kekuasaan atau uangnya. Namun, gadis di depannya ini melihat pertolongannya sebagai bagian dari rencana takdir yang lebih besar.

​Pak Arthur yang berdiri di dekat pintu tampak tersenyum tipis, tersentuh oleh kedewasaan cara berpikir Aisya.

​Cassian menegakkan tubuhnya, memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Toronto. "Aku tidak menolongmu karena alasan emosional seperti itu, Aisya. Aku hanya tidak suka ada orang yang membuat keributan dan merusak citra profesional di lobi gedungku."

​Meskipun kata-katanya terdengar acuh tak acuh, Cassian sebenarnya tahu bahwa argumen Julian tadi sempat memicu amarahnya yang jarang tersulut.

​Pria itu kembali berjalan ke meja kerjanya, mengambil map kulit hitam yang kini sudah bersih dan rapi. "Kontrak ini sudah aman. Hutang dokumenmu di kafe kelar hari ini."

​Aisya menghela napas lega, bahunya tampak rileks. "Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Tuan Noir."

​"Tapi," sela Cassian cepat, membalikkan tubuhnya dengan senyum miring yang tipis, "karena kau sudah membuat asistenku harus mengantarkan dokumen ke apartemenmu pagi-pagi sekali, dan kau sempat membuat kekacauan di lobi bawah..."

​Aisya menahan napas, mata hitamnya membulat. "Apalagi, Tuan?"

​"Kau harus memastikan pergelangan kakimu yang terkilir itu sembuh total sebelum hari Senin. Lukas akan mengantarmu pulang setelah kau menghabiskan tehmu. Jangan membantah," potong Cassian mutlak, tidak memberikan celah bagi Aisya untuk menolak.

​Cassian kembali duduk di kursi kebesarannya dan mulai fokus pada layar laptop, seolah-olah interaksi mereka sudah selesai. Namun, bagi Aisya, perhatian tersembunyi di balik sikap diktator pria itu terasa menghangatkan hatinya, jauh lebih hangat daripada secangkir teh chamomile yang sedang diminumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!