NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dengan Evan

Seminggu berlalu dengan dinamika yang luar biasa padat di dalam studio kecil lantai dua. Bagi Naura, setiap detik yang berjalan adalah sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab besar yang tidak ingin ia sia-siakan.

Sesuai dengan tantangan dan arahan yang diberikan oleh Arka, Naura menenggelamkan dirinya ke dalam tumpukan kertas gambar, pensil, dan contoh potongan kain. Hasilnya, bukan hanya lima, melainkan tujuh sketsa pakaian siap pakai (ready-to-wear) berhasil ia rampungkan dengan detail yang sangat matang.

Setiap malam sebelum tidur, Arka selalu menyempatkan diri untuk masuk ke dalam studio, duduk di kursi hidrolik di sebelah Naura, dan meninjau perkembangan sketsa tersebut. Pria itu tidak jarang memberikan masukan dari sudut pandang bisnis tekstil seperti efisiensi potongan kain agar tidak banyak bahan yang terbuang, hingga penyesuaian lingkar dada agar pakaian tersebut nyaman dikenakan oleh berbagai bentuk tubuh wanita Indonesia.

Diskusi-diskusi malam itu tidak hanya mematangkan konsep desain Naura, melainkan juga semakin mengikis sisa-sisa kecanggungan di antara mereka sebagai sepasang suami istri.

Hari Senin yang ditentukan akhirnya tiba. Sejak pukul delapan pagi, Naura sudah tampak rapi mengenakan kemeja katun bergaris biru muda yang dipadukan dengan celana kulot putih, memberikan kesan kasual namun tetap profesional. Ia telah menata ketujuh sketsa terbaiknya di atas meja gambar kaca, lengkap dengan potongan-potongan kain sampel yang dijepit rapi di sudut kertas menggunakan klip besi hitam.

Tepat pukul sepuluh pagi, suara klakson mobil terdengar dari halaman depan. Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya yang mendadak berpacu liar karena gugup. Ketika ia menuruni anak tangga, ia melihat Arka melangkah masuk ke dalam rumah bersama seorang pria muda bertubuh jangkung yang mengenakan kemeja kasual bermotif flanel dan kacamata berbingkai bulat.

"Naura," panggil Arka, suaranya yang berat memberikan efek menenangkan yang instan bagi sang istri. "Ini Evan, kepala manajer produksi dari anak perusahaan garmen yang pernah kuceritakan kepadamu."

Pria bernama Evan itu langsung mengulas senyum ramah yang sangat lebar, menghilangkan kesan kaku yang sempat ditakuti oleh Naura. Ia mengulurkan tangannya dengan sopan. "Halo, Mbak Naura. Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Pak Arka ini seminggu penuh meneror saya di kantor, memuji-muji bakat desain istrinya sampai kuping saya panas. Saya jadi sangat penasaran wanita sehebat apa yang bisa membuat seorang Arka Pratama sampai sebucin ini dalam urusan bisnis."

Wajah Naura seketika merona merah muda mendengar kelakar jujur dari Evan. Ia membalas jabat tangan itu dengan ramah. "Halo, Mas Evan. Senang bertemu denganmu. Kak Arka terlalu berlebihan, aku masih sangat amatir dan butuh banyak bimbingan."

Arka hanya berdeham pelan, memberikan tatapan memperingatkan kepada sahabat sekaligus bawahannya itu agar tidak terlalu banyak menggoda istrinya. "Jangan membuang waktu, Evan. Mari langsung ke studio di atas."

Ketiganya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke dalam studio jahit pribadi Naura. Begitu melangkah melewati pintu, pandangan mata Evan yang semula dipenuhi binar jenaka mendadak berubah menjadi sangat serius dan fokus. Sebagai seorang profesional yang telah berkecimpung di industri garmen selama hampir sepuluh tahun, matanya langsung tertuju pada deretan sketsa yang tertata rapi di atas meja kaca.

Evan melangkah mendekat tanpa perlu dikomando. Ia membungkukkan tubuhnya, mengamati baris demi baris guratan pensil Naura dengan saksama. Tangannya bergerak menyentuh kain sampel linen dan katun premium yang telah disiapkan, merasakan teksturnya, lalu mencocokkannya dengan siluet pakaian yang digambar.

Ruangan itu mendadak jatuh ke dalam keheningan selama beberapa menit. Naura berdiri di dekat Arka, meremas jemarinya sendiri dengan cemas.

Arka yang menyadari ketegangan istrinya, dengan gerakan natural di balik tubuh Evan, meraih tangan Naura dan menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, memberikan suntikan rasa percaya diri yang mutlak.

Evan menegakkan tubuhnya, melepas kacamatanya sejenak, lalu menatap Arka dan Naura bergantian dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"Bagaimana, Evan? Berikan penilaian objektifmu," desak Arka, suaranya tenang namun sarat akan ketegasan seorang pebisnis.

Evan menghela napas panjang, lalu senyum kekaguman yang tulus merekah di wajahnya. "Pak Arka, maafkan saya karena sempat meragukan penilaian Anda seminggu lalu. Mbak Naura ... ini bukan sekadar desain amatir. Ini adalah karya seorang desainer yang memiliki visi yang sangat jelas tentang pasar modern."

Evan mengambil salah satu lembar kertas sketsa yang menampilkan gaun midi dengan detail lipatan asimetris di bagian pinggang. "Lihat ini. Potongan (cutting ) ini sangat cerdas. Ini memberikan ilusi tubuh yang lebih ramping tanpa harus membuat pakaian terasa ketat atau tidak nyaman. Karakter desain Mbak Naura ini sangat kuat; minimalis, elegan, namun memiliki sentuhan unik yang tidak pasaran. Ini adalah jenis pakaian yang dicari oleh wanita karier muda di perkotaan saat ini."

Mendengar pujian yang begitu lugas dari seorang manajer produksi garmen ternama, Naura merasa seolah ada batu besar yang diangkat dari atas dadanya. Air matanya hampir saja menggenang karena rasa haru. "Benarkah, Mas Evan? Apakah desain ini benar-benar layak untuk diproduksi?"

"Sangat layak, Mbak Naura. Bahkan lebih dari layak," jawab Evan dengan penuh keyakinan. "Di pabrik kami, kami sering menerima desain dari merek-merek lokal besar, dan saya bisa menjamin bahwa karya Mbak Naura ini memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi dalam hal orisinalitas."

Evan kemudian beralih menatap Arka, kembali ke mode profesionalnya sebagai rekan bisnis. "Pak Arka, jika Anda mengizinkan, saya ingin membawa ketujuh sketsa ini ke pabrik sampel di Bandung besok pagi. Saya akan meminta tim pola terbaik kami untuk menerjemahkan gambar-gambar ini ke dalam cetakan pola kain pertama. Kita bisa menggunakan bahan katun dan linen premium dari stok internal kita yang kualitasnya setara dengan barang impor."

Arka mengangguk mantap, menyetujui rencana tersebut tanpa keraguan sedikit pun. "Lakukan, Evan. Buat prototipe pertama untuk ketujuh desain ini. Aku ingin semua sampel pertama selesai dalam waktu dua minggu. Pastikan kualitas jahitannya berada di standar tertinggi, setara dengan lini busana utama Pratama Group."

"Siap, Bos. Serahkan semuanya padaku," ujar Evan penuh semangat, segera merapikan lembar-lembar sketsa tersebut ke dalam map khusus yang dibawanya dengan sangat hati-hati, memperlakukannya seperti dokumen rahasia negara yang sangat berharga.

Setelah pertemuan yang produktif itu selesai dan Evan berpamitan pulang untuk kembali ke kantor pusat, suasana di dalam rumah minimalis itu mendadak terasa begitu lengang namun dipenuhi oleh sisa-sisa energi keberhasilan yang meluap-luap.

Naura berdiri di tengah ruang tamu, menatap pintu depan yang baru saja tertutup dengan pandangan kosong yang dipenuhi rasa tidak percaya. Langkah pertamanya menuju impian yang selama bertahun-tahun terkubur di bawah puing-puing kemiskinan dan kemalangan, kini benar-benar telah terbuka lebar di depan mata.

Arka berjalan mendekati istrinya dari arah belakang. Ia memperhatikan bagaimana bahu mungil Naura sedikit bergetar. Tanpa banyak bicara, Arka melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling bahu Naura, menarik tubuh wanita itu bersandar pada dada bidangnya yang kokoh dari belakang.

"Aku sudah mengatakannya, bukan? Kamu memiliki bakat yang luar biasa, Naura," bisik Arka, suara baritonnya terasa bergetar lembut di dekat tengkuk Naura, mengirimkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh sang istri.

Naura memegang lengan Arka yang melingkari dadanya, membiarkan dirinya sepenuhnya bersandar pada kekuatan fisik suaminya. "Aku masih merasa seperti sedang bermimpi, Kak. Dulu, setelah Papa meninggal, aku mengira sisa hidupku hanya akan dihabiskan untuk bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya tanpa pernah bisa memikirkan apa yang aku inginkan. Tapi sekarang ... Kak Arka memberikan dunia ini kembali kepadaku."

Arka membalikkan tubuh Naura perlahan agar mereka bisa saling berhadapan.

Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata indah Naura yang kini berkaca-kaca oleh luapan rasa syukur. Dengan gerakan yang sangat lembut, Arka menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sebutir air mata yang sempat lolos membasahi pipi halus istrinya.

"Dunia ini memang sudah seharusnya menjadi milikmu, Naura," ucap Arka dengan nada suara yang sarat akan komitmen dan rasa sayang yang mendalam. "Tugasku bukan hanya memastikan kamu memiliki tempat tinggal yang layak, melainkan memastikan jiwamu tetap hidup dan bersinar. Dua minggu lagi, ketika sampel pakaian pertama itu datang, kamu akan melihat hasil kerja kerasmu berubah menjadi nyata. Dan aku akan menjadi orang pertama yang berdiri di sana untuk bertepuk tangan untukmu."

Naura tidak mampu lagi menyembunyikan debaran dahsyat di dalam dadanya. Rasa hormat, rasa kagum, dan rasa cinta yang telah lama tumbuh kini telah mencapai puncaknya. Ia menjinjitkan kakinya sedikit, lalu dengan keberanian yang mendadak muncul dari lubuk hatinya, Naura mendaratkan sebuah kecupan lembut dan singkat di pipi kanan Arka.

"Terima kasih banyak, Kak Arka. Untuk semuanya," lirih Naura, sebelum segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang kini dipastikan sudah memerah sempurna akibat tindakan nekatnya sendiri

Arka terpaku sejenak, sentuhan bibir Naura yang lembut di pipinya menyisakan sensasi hangat yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

Seulas senyuman lebar dan tulus senyuman yang paling lepas yang pernah ia tunjukkan selama bertahun-tahun akhirnya merekah di wajah tampan sang CEO.

Ia kembali menarik Naura ke dalam dekapannya yang erat, menenggelamkan wanita itu dalam kehangatan perlindungan mutlak yang tidak akan pernah ia lepaskan seumur hidupnya. Langkah pertama telah diambil, dan bersama-sama, mereka siap menghadapi hari esok dengan fondasi cinta yang semakin tak tergoyahkan.

1
Mutia Kim🍑
Gimana hancurnya Rama melihat kekasih hatinya menikah dengan pria lain. Padahal dia udah mau ngelamar lho😭
MayAyunda: ya ..namanya jodoh kita nggk tahu kak 😄
total 1 replies
Mutia Kim🍑
Dilema banget jadi Naura. Kalau berat, jangan pilih dua-duanya aja😭
MayAyunda: pilih salah satu aja kak😁
total 1 replies
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!