NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pak Damar tidak menjawab. Matanya justru menatap kartu kredit yang masih ada di tangan asisten Arven.

“Berikan saya kartu kredit itu.”

Asisten Arven langsung menyerahkannya. Kartu kredit itu berpindah ke tangan Pak Damar. Ia memperhatikannya cukup lama, memutar pelan, lalu membaca detail kecil di permukaannya. Arven mengernyit.

“Ada apa? Apa papa menemukan sesuatu yang tidak beres?”

Pak Damar tidak langsung menjawab. Ia hanya memeriksa kartu itu hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut hingga wajahnya berubah datar lalu bingung.

“Ini…” gumam pak Damar pelan yang membuat Arven langsung menegang.

“Apa?”

Pak Damar menatap kartu kredit itu dengan membelalak.

“Arven, kenapa kamu nggak bilang ke papa kalau kartu kredit itu bukan milik kamu, tapi milik Kanisha?”

"Memang apa bedanya kalau Arven tidak bilang sama papa kalau kartu kredit itu milik Kanisha dan bukan milik Arven? Toh uang Kanisha juga milik Arven."

Pak Damar menghela napas panjang.

“Arven… Sekarang bukan itu yang menjadi masalahnya.” Ia menunjuk kartu itu. “Masalahnya sekarang kenapa kartu ini bisa diblokir. Kalau ini kartu milik Kanisha, itu artinya dia yang memegang kontrol utama rekening itu dan dia juga yang memblokir kartu kredit ini.”

Arven langsung terdiam lalu ia menarik napas pelan, tapi nadanya mulai lebih tegang.

“Jadi maksud papa, bukan sistem transaksi perusahaan kita yang error? Tapi Winata grup dan Kanisha lah yang menghentikan transaksi serta memblokir semua sumber pendanaan kita?”

Pak Damar tidak menjawab langsung tapi itu sudah jelas menjadi jawaban. Albi berdiri tidak nyaman di samping ayah dan anak itu, dia tidak berani berbicara di situasi genting seperti ini. Suasana semakin berat lalu Pak Damar akhirnya berkata pelan.

“Kita harus selesaikan pembayaran tender ke Berlian Jaya sekarang. Kalau tidak, kita yang rugi besar.”

Seolah baru tersadar, Arven langsung mengangguk cepat.

“Iya, papa benar.” Ia langsung menoleh ke asistennya. “Proses sekarang pakai kartu itu." Perintah Arven yang membuat asistennya terlihat ragu.

“Tapi Pak… kalau sistem sudah dibekukan, kemungkinan pembayaran tetap gagal dan tidak bisa dilakukan—”

“Coba lagi.” potong Arven dengan tegas dan membuat pak Damar ikut menatapnya dan meminta asisten Arven untuk pergi.

“Tidak ada pilihan lain. Kita tidak bisa menunggu lama. Kontrak ini harus ditutup hari ini.”

Arven mengusap wajahnya.

“Aku tahu.”

Pak Damar menyilangkan tangan.

“Kalau Winata benar-benar menahan dana, kita bisa cari jalan keluar sementara dari cadangan perusahaan.”

Arven langsung menggeleng.

“Cadangan perusahaan sudah dipakai untuk proyek sebelumnya.”

Pak Damar terdiam.

“Lalu?”

Arven menjawab tanpa ragu.

“Gimana kalau pembayaran tender ini pakai uang pribadi papa dulu.”

Kalimat itu membuat Pak Damar menoleh cepat.

“Apa?” jawab pak Damar yang membuat Arven menatapnya lurus.

“Dana tender ini besar. Arven nggak punya uang cash sekarang. Kalau kita tunggu sistem pulih, kita bisa kehilangan Berlian Jaya.”

Pak Damar mengerutkan kening.

“Jadi kamu mau papa yang bayar dulu?”

“Iya.” jawab Arven cepat. “Nanti Arven ganti setelah Winata grup transfer masuk.”

Pak Damar terdiam bukan karena setuju tapi karena menghitung lalu ia tertawa kecil.

“Arven…” Nada suaranya berubah pelan. “Papa juga tidak punya dana sebesar itu sekarang.”

Arven langsung menoleh.

“Jangan bercanda pa, ini sama sekali nggak lucu.”

Pak Damar menghela napas.

"Papa nggak bercanda, uang perusahaan sebagian besar sudah papa pakai untuk membeli mobil mewah dan mengajak mama kamu jalan jalan ke luar negeri." Jawab pak Damar yang membuat Arven menatapnya dengan tatapannya yang tak percaya.

"Apa papa sadar dengan apa yang papa lakukan?” Nada suaranya mulai naik. “Kita lagi di tengah tender miliaran.” keluh Arven kepada ayahnya sendiri.

“Ya papa tahu.”

Arven mengusap wajahnya dengan keras.

“Jadi sekarang papa bilang kita nggak punya dana sama sekali?”

Pak Damar mengangguk.

“Untuk saat ini? Tidak.”

Suasana lorong kembali hening karena situasi yang dihadapi oleh Arven dan papanya mulai berbahaya. Arven tertawa kecil, tapi penuh tekanan.

"Lalu sekarang kita harus bagaimana, pa? Semua uang perusahaan sudah papa habiskan dan kita tidak punya uang sepeserpun untuk membayar tender kerjasama dengan perusahaan berlian jaya." Ujar Arven dengan putus asa.

Pak Damar tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai berantakan oleh situasi yang datang terlalu cepat. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali terdengar, lebih tenang dibanding ekspresi wajahnya.

"Tenang dulu, Arven.” ujar pak Damar yang membuat Arven langsung menoleh.

“Tenang?” ulang Arven pelan, tapi nada suaranya jelas tidak setuju. “Situasi saat ini benar benar tidak bisa kita kendalikan pa, perusahaan kita lagi kehilangan akses dana, tender hampir gagal, dan kartu kredit juga diblokir. Di situasi sekarang, bagaimana Arven bisa tenang?”

Pak Damar mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar Arven menahan emosinya.

“Kita belum kehabisan solusi untuk semua masalah saat ini.”

Arven tertawa kecil, tapi lebih seperti tekanan yang dilepaskan sebentar.

“Solusi apa lagi pa?”

Pak Damar menatapnya lurus.

“Papa akan ke Winata Group.”

Kalimat itu membuat Arven langsung terdiam sementara Pak Damar melanjutkan perkataannya dengan nada mantap.

“Papa akan minta penjelasan langsung kepada pak Rendra, Kapan dana mereka masuk dan kenapa bisa ada keterlambatan seperti ini. Kita harus pastikan semuanya jelas.”

Arven langsung mengernyit.

“Papa mau ke Winata grup sekarang?”

“Iya.”

Arven langsung menggeleng cepat, merasa tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh ayahnya.

"Tidak, papa nggak boleh pergi kesana sekarang." Jawab Arven yang membuat pak Damar menatapnya dengan tajam.

"Apa maksud kamu? Kenapa papa tidak boleh pergi kesana?"

Arven mencoba mencari kata yang tepat sebelum dikatakan kepada ayahnya, pikirannya berputar cepat, ia tidak mau sampai ayahnya tahu kalau ia sudah berselingkuh dari Kanisha, memberinya talak hingga mengusirnya dari kediamannya tanpa membawa apa-apa.

"Pokoknya kalau Arven bilang tidak boleh, ya tidak boleh pa. Lagipula ini masalah internal perusahaan kita dan ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan mereka."

Pak Damar tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit dan menilai kalau penolakan Arven terhadap dirinya yang ingin pergi ke Winata grup justru bukan keputusan yang tepat.

“Jadi kamu mau papa menunggu disini tanpa hasil apa apa, begitu?”

Arven langsung menggeleng.

“Bukan begitu, pa. Arven cuma mau bilang kalau kita bisa cari cara lain dulu.”

Pak Damar menghela napas pelan.

“Kita tidak punya waktu untuk memikirkan cara lain untuk menyelamatkan situasi kita saat ini, Arven. Apa kamu mau perusahaan kita kehilangan tender besar dan membuat klien bisnis kita kabur karena masalah ini?!”

Namun sebelum Arven bisa menjelaskan lebih jauh, Pak Damar tiba-tiba berbalik.

“Tidak.” Arven langsung menoleh. “Papa mau ke Winata grup sekarang juga.” ujar pak Damar yang membuat Arven langsung mengejarnya.

“Papa nggak bisa datang ke Winata sekarang!” teriak Arven yang membuat langkah Pak Damar terhenti.

“Kenapa?”

1
Rain Aricia
Iya pak gasskan lagii, keluarkan semua biar mampus tuh bapak sama anak
Rain Aricia
Prettt, keluarga kau blg matamu lah keluarga
Rain Aricia
Mendadak apanya? Makanya tanyakan sama anak kesayanganmu itu
Rain Aricia
Coba pikir baik2
Rain Aricia
Iya bener, ngapain kasih dana ke org yg ga becus
Rain Aricia
Kanisha kalau sama bapaknya jadi kayak putri kecil kesayangan🥰
Rain Aricia
Lu mau ngeles kah nanti?
Noey Aprilia
Pdhl cma dngr crta hdpnya doang,tp udh ga sbr ya bang pgn ktmu....😁😁😁....
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pastinya kak😄
total 1 replies
Rain Aricia
Hahha mampus lu, biar bapakmu tau gmb sebenarnya kelakuan busukmu
Rain Aricia
Yah mampuslah kalian bangkrut
Rain Aricia
Oi pak, anakmu noh selingkuh sampe punya anak. Pecat aja lah dia itu
Rain Aricia
Hah? Statement dari mana itu kamu ambil? Harusnya kebalikannya anjai
Putri Sylvia
menyesal kan Lu sekarang ven
Putri Sylvia
atas dasar perselingkuhan kamu
Putri Sylvia
syukurin, orang lagi frustasi tapi masih bisa bisanya menggatal🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
salah besar kamu Arven kl berpikiran seperti itu
Putri Sylvia
musuh bebuyutan
Putri Sylvia
puas banget aku liat Arven digebukin pak Rendra/Doge/
Putri Sylvia
muak sama orangnya tapi doyan sama uangnya 🤣🤣🤣🤣
Putri Sylvia
malu maluin aja anakmu pak damar/Yawn//Yawn//Yawn/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!