hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 12: SUAPAN PENUH PENYESALAN
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 12: SUAPAN PENUH PENYESALAN
Sampai tepat pukul jam tiga sore hari, Ria pun akhirnya perlahan mulai terbangun dari tidurnya yang cukup panjang dan lelap itu. Ia terguncang sejenak, matanya masih terasa berat dan pandangannya sedikit kabur, perlahan menyadari keadaan sekitar dan menyadari bahwa ia sekarang berada di dalam kamarnya yang sederhana itu. Dalam hatinya yang masih penuh rasa tanya dan kebingungan, ia pun bertanya-tanya sendiri dengan penuh keheranan:
“Bukankah tadi Ria tidur di pangkuan Bunda? Kenapa sekarang sudah ada di kamar sendiri? Apakah mungkin Bunda yang menggendong Ria ke sini? Rasanya tidak mungkin... Bunda sudah tua dan tubuhnya pun mulai lemah, tentu akan berat sekali jika harus mengangkat tubuhku. Atau jangan-jangan Abang yang menggendong dan memindahkan Ria ke sini? Siapa ya yang melakukannya dengan sangat hati-hati sampai Ria sama sekali tidak terbangun dan merasa apa-apa?” batinnya bertanya penuh rasa heran sekaligus haru yang mulai menyelinap di hati kecilnya.
Ria menoleh melihat jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya, matanya terbelalak kaget tak percaya. “Ya Allah... ternyata sudah jam tiga sore! Berarti waktu sudah berlalu begitu lama, sejak selesai salat Zuhur tadi Ria tertidur pulas dan nyenyak sekali sampai sekarang, bahkan belum makan siang sama sekali... Wah, pasti perutku sudah keroncongan keras sekali nih,” keluhnya dalam hati sambil mengusap perutnya yang mulai terasa lapar.
Ria pun bangkit perlahan dari pembaringannya, berjalan melangkah pelan menuju teras rumah, tempat di mana tadi siang ia duduk bersandar dan tidur di pangkuan Bunda dengan penuh ketenangan. Namun, baru saja ia melangkah keluar, perutnya tiba-tiba berbunyi keras sekali, seolah menadahkan dan menuntut rasa lapar yang sudah tak tertahankan lagi. Segera saja ia bergegas menuju ke kamar mandi yang letaknya tak jauh dari dapur, membasuh muka dan tangan sejenak agar terasa lebih segar dan siap, lalu berjalan melangkah pelan dan hati-hati ke arah dapur untuk mengambil makanan. Meski langkahnya pelan, hatinya masih berdebar kencang dan penuh rasa takut seperti biasanya, khawatir ada yang marah atau mengusirnya seperti dulu.
Belum sempat ia mengambil apa-apa atau menyentuh pinggan yang ada di meja, tiba-tiba lewatlah Abang Arifin yang kebetulan hendak mengambil minum di dekat situ.
“Eh, Dik... sudah bangun rupanya?” sapa Abang Arifin dengan suara lembut dan nada yang sangat berbeda dari biasanya. “Sudah bangun ya... maafkan Abang ya, tadi Abang yang menggendongmu masuk ke kamar, dan minta izin sama kamu dalam hati untuk memindahkanmu ke kasur. Abang melakukannya sangat berhati-hati sekali agar tidak sampai membangunkanmu, karena kelihatannya kamu tidur begitu nyenyak dan lelap sekali,” jelasnya pelan namun penuh kelembutan.
Ria mengangguk pelan, hatinya terasa sedikit tersentuh dan hangat mendengar penjelasan itu, tak menyangka abangnya seperhatian itu padanya.
“Abang sudah makan tadi, Dik,” kata Abang Arifin pelan sambil menatap wajah adiknya yang kurus kering itu. “Waktu itu kamu tidur begitu pulas dan damai, Abang tidak tega sama sekali membangunkanmu. Ayo makan yang banyak ya, supaya badanmu agak gemuk sedikit dan kuat. Tubuhmu ini kurus sekali, sampai Abang sendiri terasa perih dan sakit hati melihatnya,” ucapnya tulus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ria terdiam terpaku di tempatnya, tangannya terulur hendak mengambil nasi dan lauk, namun ia tak berani melakukannya, tangannya terasa kaku dan berat untuk bergerak. Masih terbayang jelas di benaknya, betapa tadi pagi pun ia harus sarapan sendirian di pojokan dapur yang sepi, menunggu sampai semua saudara selesai makan dengan tenang, baru ia berani maju mengambil sisa makanan mereka, dan ia pun tak berani bercampur atau duduk satu meja dengan mereka seperti keluarga biasa.
Melihat keraguan, ketakutan, dan rasa rendah diri yang begitu jelas terlukis di wajah polos adiknya, hati Abang Arifin terasa seperti disayat pisau tajam, perih dan sakit sekali rasanya menyadari betapa tersiksanya hidup adiknya selama ini. Ia segera menyambar piring yang sedang dipegang Ria, lalu tersenyum haru.
“Sini biar Abang yang ambilkan ya,” ucapnya lembut sambil menggeleng pelan. “Ria duduk saja di sini, diam saja dan biarkan Abang yang menyuapi ya. Anggap saja Abang sedang menebus semua kesalahan dan kelalaian Abang selama ini,” pintanya lembut namun tegas, tak memberi kesempatan Ria untuk menolak.
Ria hanya bisa diam dan menurut saja, matanya mulai berkaca-kaca menahan haru yang meluap-luap.
“Maafkan Abang ya, Dik...” bisiknya di sela-sela isak tangisnya yang tertahan. “Maafkan semua kesalahan Abang, kelalaian Abang, dan sikap dingin Abang selama ini yang membuatmu menderita sendirian...”
Ria membuka mulut perlahan menerima suapan itu, lalu tak sanggup lagi menahan perasaannya yang meluap. Air matanya pun jatuh berderai membasahi pipi. Abang Arifin segera menarik tubuh mungil adiknya itu ke dalam pelukan yang hangat, erat, dan penuh dengan rasa penyesalan yang mendalam.
“Maafkan Abang... maafkan Abang...” ucapnya berulang-ulang seolah tak ada habisnya, menumpahkan segala rasa bersalah yang selama ini terpendam.
“Tidak apa-apa, Bang... sudah, jangan menangis lagi...” jawab Ria lembut sambil memeluk balik tubuh abangnya, kepalanya bersandar lembut di dada bidang itu.
Setelah cukup lama saling berpelukan dalam keheningan yang penuh makna itu, Ria pun perlahan melepaskan pelukannya lalu bertanya pelan, “Oh ya Bang... Bunda ke mana ya? Dari tadi belum kulihat...”
“Bunda sedang pergi ke warung sebentar saja, Dik. Yang lain ada di luar rumah sedang bermain-main di halaman depan,” jawab Abang Arifin lembut. “Kenapa memangnya? Kamu rindu sama Bunda?”
Ria mengangguk pelan, hatinya terasa sedikit lega dan tenang mendengarnya.
“Sudah, ayo lanjut makan ya,” ajak Abang Arifin sambil tersenyum haru dan mengusap kepala adiknya dengan kasih sayang. “Nanti setelah selesai makan, kita berkumpul bersama yang lain di depan rumah, ya? Kamu mau ikut kan? Sekarang kamu sudah boleh ikut bermain dan duduk bersama kami semua, tidak ada lagi yang melarang atau mengusirmu,” janjinya tulus.
“Baik, Bang...” jawab Ria lembut sambil tersenyum malu, merasa bahagia yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah Ria selesai makan dengan penuh perhatian dan kasih sayang dari Abang Arifin, mereka pun berjalan beriringan keluar rumah menuju halaman depan. Begitu melihat Ria muncul di ambang pintu dengan wajah ceria, adik bungsunya Fajar langsung berlari dengan cepat menghampirinya sambil melompat-lompat kegirangan.
“Kakak sudah bangun! Kakak sudah bangun!” seru Fajar riang sambil memegang tangan kakaknya. “Kakak sudah makan belum? Sudah makan belum?”
Semua orang yang ada di halaman, yaitu Bang Hamza, Bang Ardiansyah, Dimas, dan Bagas, langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah polah Fajar yang lucu dan menggemaskan itu.
“Ya Allah, Fajar itu bertanya satu saja dong... kenapa dua-duanya diulang terus?” canda Bang Ardiansyah sambil tertawa renyah, memecah suasana yang tadinya sedikit hening.
Mendengar itu, Fajar langsung cemberut malu-malu, wajahnya memerah karena diejek kakaknya. “Ih... Kakak... Bang Ardiansyah jahat!” serunya cemberut manja.
Wajah Ria pun akhirnya tersenyum lebar, senyum tulus yang paling indah selama dua tahun terakhir ini, lalu ia dengan gemas mencubit pelan pipi gembil Fajar. “Iya, Kakak sudah bangun kok... dan Kakak sudah makan tadi...” jawab Ria pelan, lalu ia menunduk malu dan menambahkan dengan suara yang agak lirih namun jelas terdengar, “Disuapin oleh Abang Arifin tadi...”
Seketika itu juga, semua mata yang ada di sana langsung tertuju ke arah Ria. Ada rasa haru yang mendalam, rasa bangga, dan rasa penyesalan yang begitu besar dan mendalam di setiap pasang mata mereka, melihat adik perempuan satu-satunya yang selama ini mereka abaikan, kini kembali dicintai dan diperhatikan dengan begitu tulus. Di hati mereka, semua sadar, inilah awal yang baru, awal kebangkitan kasih sayang yang sempat hilang, dan awal kebahagiaan yang akan mereka jaga mati-matian agar tak pernah hilang lagi.