NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Darmo & Keluarga

Bab 14

Beberapa saat kemudian, setelah melewati beberapa rumah warga, sebuah rumah panggung sederhana terlihat di tepi jalan.

Rumah itu beratapkan genteng dengan cat yang sudah sedikit memudar. Di depan halamannya berdiri pohon palem yang cukup rindang, di bawahnya tergantung sebuah ayunan.

Di sekitar pohon itu, beberapa anak kecil yang sedang bermain.

Nayla mengenali salah satunya.

"Dokter! teriaknya"

Ia berlari kecil menghampiri Nayla tanpa ragu, tanpa sungkan, seperti bertemu teman lama.

Nayla refleks berjongkok menyambutnya, senyumnya melebar.

"Eh, Iva—kamu kok di sini?"

"aku Lagi main, Dok!" jawab Iva antusias. Lalu tangannya langsung menarik lengan Nayla, mengarahkannya ke arah teman-temannya yang berdiri memperhatikan sejak tadi dari kejauhan.

"eh kalian Sini sini".

anak anak itu mendekat.

kenalin ya, Dok ini teman teman iva." ia berdiri tegak, serius seperti pemandu wisata cilik. "Ini Doni, ini Aldi, ini Devi, dan ini Rani."

"Halo semuanya!" Nayla melambaikan tangan sambil tersenyum

"Halo, Kak—" sahut mereka serempak.

Lalu mata Iva bergerak ke belakang Nayla.

"Eh ada Mbak Sari!"

"Hei, Va."

Iva menoleh ke Nayla, wajahnya terlihat menggemaskan saat bingung. "Kok Dokter bareng Mbak Sari?"

"Kami mau jenguk Mang Darmo va,"

"oh pakde"

sari mengangguk "iya"

lalu Sari melirik ke arah salah satu anak laki laki yang saat ini sedang berdiri sedikit lebih jauh dari yang lain

sambil menatap Nayla dengan mata yang entah penasaran.

"Aldi—" Sari memanggil pelan,

"ah iya kenapa kak" Aldi menoleh

" Mang Darmo ada?"

"Ada Kak Bapak di dalam naik aja. Ada Teh Vina sama Emak juga."

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

Aldi mengernyit kecil—wajah anak yang mencoba mengingat sesuatu yang ia dengar.

" kata emak sih Lukanya berkoreng, Kak," "Kemarin perbannya dilepas—katanya gatal. Terus keluar... nanah."

Sari dan Nayla bertukar pandang sebentar.

Nayla tidak berkata apa-apa. Tapi tangannya sudah otomatis meremas tali tas medisnya lebih erat.

Seminggu lebih. Berkoreng. Nanah.

"Oh yauda,mbak naik dulu ya kalian lanjutin mainnya"

"Iva mengangguk iya mbak"

Sari melangkah ke arah tangga rumah panggung itu—tangganya kayu. Di belakangnya, Nayla mengikuti dengan tas medis di tangan.

Mereka naik pelan.

Di atas, pintunya tertutup—kain batik tua tergantung sebagai tirai di sampingnya,

Tok. Tok. Tok.

"Assalamualaikum, Bik—" suara Sari pelan tapi cukup terdengar.

Hening sebentar.

"Assalamualaikum,

"Wa'alaikumsalam... sebentar."

Suara langkah terdengar. Pintu terbuka.

Terlihat Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu—usianya sekitar dua puluhan, matanya sedikit sembab seperti orang yang kurang tidur. Di tangannya masih ada lap basah.

"Mbak Sari Alhamdulillah Mbak Mbak akhirnya datang."

"iya Vin"

"Oh iya vin kenalin ini Dokter Nayla Dokter baru yang ditugaskan ke sini. aku cerita soal Bapak —langsung minta ke sini"

Vina menatap Nayla sebentar—lalu mengangguk, "Makasih ya, Dok. Sudah mau repot-repot ke sini."

"Tidak repot kok," jawab Nayla singkat tapi hangat. "Boleh saya masuk?"

"Oh iya, iya—silakan, Dok. Maaf, rumahnya berantakan."

Mereka masuk.

Ruangan itu kecil—tapi bersih Tikar pandan tergelar di lantai kayu. Di sudut ruangan, sebuah lemari kayu tua laluh Foto-foto kecil tertempel di dinding

"mang Ini ada dokter, Namanya Dokter Nayla. Baru datang kemarin—langsung minta ke sini begitu dengar kabar mamang".

Pak Darmo mengalihkan pandangannya ke Nayla.

"terima kasih dok maap merepotkan"

enggak papa pak emang udah jadi tugas saya, Boleh saya periksa dulu kakinya pak?"

"ah iya dok boleh".

Nayla mulai memeriksa,

Kemerahan di sekitar tepi luka, sedikit bengkak, dan di beberapa bagian terlihat cairan kekuningan yang sudah mengering membentuk kerak.

"Sudah berapa lama lukanya seperti ini, Pak?"

"Lebih kurang seminggu, Dok,

Vina menjawab dari belakang Awalnya sih cuma lecet kecil—kena paku waktu di kebun. Tapi nggak mau sembuh-sembuh. Malah makin melebar."

"Bapak punya riwayat diabetes?"

Vina dan Pak Darmo bertukar pandang.

"Kata dokter di kota dulu... iya, Dok," jawab Vina pelan. "Tapi sudah lama nggak kontrol. Obatnya juga sudah habis."

Nayla mengangguk—tidak berkata apa-apa. dia membersihkan luka itu pelan pelan, lalu membalutnya ulang dengan kasa bersih.

Pak Darmo sesekali menahan napas

"Sakit, ya Pak?"

"Nggak apa-apa Dok Sudah biasa."

Nayla tidak menjawab. Tapi tangannya bergerak lebih hati-hati dari sebelumnya.

"Lukanya infeksi, Pak—karena gula darah bapak yang tidak terkontrol,

jadi lukanya susah sembuh"

"nanti Saya kasih antibiotik dan salep untuk infeksinya. Oh iya Perbannya juga harus rajin diganti ya pak setiap hari—jangan sampai lembap."

"baik dok"

"Dan yang paling penting obat diabetesnya harus dilanjutkan, lagi ya Pak. Saya akan coba carikan dari persediaan yang ada. Tanpa itu, lukanya akan lambat sembuh.

Pak Darmo diam sebentar.

Makasih, Dok."

Nayla tersenyum kecil. "Sama-sama, Pak."

beberapa saat kemudian setelah mengobati pak Darmo—terdengar suara langkah kecil dari arah dapur. Di tangannya, sebuah nampan kayu sederhana—dua gelas teh hangat dan sepiring singkong rebus.

"Ini Mak bawain minum"

Emak meletakkan nampan di sudut meja kecil—lalu duduk pelan di tepi tikar.

"enggak usah repot-repot bu" jawab Nayla sungkan

"enggak repot ayok di minum"

"Nayla mengangguk tersenyum terima kasi bu "

iya engak usah sungkan sungkan gitu anggap rumah sendiri.

"Sudah seminggu lebih lukanya dok engak sembuh sembuh saya jadi khawatir kalau lukanya jadi tambah parah saya sudah coba obat obatan tradisional, tapi tetap saja tidak sembuh

Pak Darmo mendehem pelan. "Mak ini..."

"Beneran nggak apa-apa kan dok?"

Nayla tersenyum

"lukanya Infeksi, Bu Tapi belum terlalu parah .

"Alhamdulillah," gumamnya pelan. Tangannya mengusap lutut

Di balik pintu yang setengah terbuka, angin siang Karang Wilis masuk pelan—membawa suara anak-anak yang masih bermain di bawah pohon palem di halaman.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!