🌶️WARNING!! Unsur dewasa🌶️
Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Tahun
Mobil hitam meluncur perlahan di atas jalanan berbatu cobblestone yang basah oleh embun malam.
Mereka berhenti di depan sebuah kedai kecil dengan papan kayu bertuliskan "L'Aube" yang bergoyang tertiup angin malam.
Tempat itu jauh dari kemewahan restoran bintang lima yang biasa Lucien kunjungi. Hanya sebuah kedai sederhana dengan jendela kaca besar yang beruap, menampakkan kehangatan di dalamnya.
Saat mereka masuk, denting lonceng di atas pintu menyambut mereka. Aroma kaldu daging yang kaya, bawang putih panggang, dan roti gandum segar langsung menusuk indra penciuman Aurora, membuat perutnya kembali memberikan protes kecil yang memalukan.
"Pilih tempat yang kau suka," ujar Lucien.
Aurora memilih meja kayu di sudut ruangan, jauh dari jendela agar tidak terlalu terlihat dari luar. Suasana di dalam sangat tenang, hanya ada seorang pria tua yang sedang membersihkan gelas di balik konter dan alunan musik jazz pelan dari gramofon tua di pojok ruangan.
Seorang pelayan dengan celemek kain putih bersih datang membawakan menu.
"Dua porsi sup bawang kental dengan roti panggang keju, dan dua gelas wine merah hangat," pesan Lucien tanpa bertanya lagi, seolah ia tahu persis apa yang dibutuhkan tubuh Aurora yang kedinginan.
Setelah pelayan pergi, keheningan menyelimuti mereka. Aurora menatap lilin kecil yang menyala di tengah meja, jari-jarinya memainkan ujung taplak meja kotak-kotak.
"Kau sering ke tempat seperti ini?" tanya Aurora memecah kesunyian, suaranya sedikit tenggelam oleh suara hujan rintik-rintik yang mulai turun di luar.
Lucien menyandarkan punggungnya, menatap Aurora dengan intensitas yang lebih tenang.
"Dulu, dengan ibuku. Kadang, tempat seperti ini jauh lebih jujur daripada perjamuan makan malam di istana."
Tak lama kemudian, dua mangkuk keramik putih besar berisi sup yang mengepul tiba.
Aurora tidak menunggu lama. Ia segera menyuapkan sendok pertama. Rasa hangat dari kaldu dan manisnya bawang bombay yang terkaramelisasi sempurna membuatnya memejamkan mata sesaat.
"Enak?" tanya Lucien, memperhatikan Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Luar biasa," gumam Aurora tulus, melupakan sejenak amarahnya.
"Jauh lebih baik daripada makanan formal yang kau sajikan di mansion."
Lucien terkekeh kecil, ia meminum sedikit wine-nya.
"Mungkin karena bumbunya adalah rasa laparmu yang sangat besar itu, Aurora."
Aurora baru saja akan membalas dengan sindiran, namun ia terhenti saat melihat Lucien. Di bawah cahaya lilin yang bergoyang, wajah pria itu tampak tidak terlalu dingin. Jasnya disampirkan di kursi, lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan sisi Lucien yang lebih santai.
"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Lucien, menyadari tatapan Aurora.
"Hanya berpikir..." Aurora menunduk, mengaduk supnya.
"Bahwa kau sebenarnya tidak terlalu menyebalkan kalau kau sedang diam dan tidak bicara soal kontrak atau ciuman."
Lucien terdiam sejenak, lalu ia memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya ke arah Aurora.
"Lalu, bagaimana jika aku bicara soal hal lain? Sesuatu yang bukan kontrak, dan bukan ciuman?"
"Apa itu?" tanya Aurora hati-hati.
"Tentang bagaimana kau terlihat sangat manis dengan noda sup di sudut bibirmu itu," bisik Lucien dengan nada menggoda.
Aurora tersentak dan segera meraih serbet dengan panik, wajahnya kembali merona merah, menghancurkan suasana damai yang baru saja terbangun.
Aurora mendengus pelan, matanya menyipit tidak percaya saat ia mengusap sudut bibirnya dengan kasar menggunakan serbet linen.
Ia menatap Lucien yang masih memasang wajah tenang namun penuh kemenangan itu.
"Kau memang sudah gila sepertinya belakangan ini..." gumam Aurora sangat lirih, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Lucien hanya menaikkan sebelah alisnya, telinganya yang tajam menangkap gumaman itu dengan jelas.
"Gila? Itu istilah yang cukup ekstrem untuk menggambarkan seseorang yang hanya ingin memastikan istrinya makan dengan baik."
"Bukan itu maksudku," potong Aurora cepat, suaranya naik satu nada.
Ia meletakkan sendoknya dan menatap Lucien lekat-lekat di bawah cahaya lilin yang temaram.
"Kau berubah. Kau yang biasanya hanya bicara soal angka, keuntungan, dan jadwal pertemuan, tiba-tiba... kau menunggu di museum sampai tertidur, kau membawaku ke kedai terpencil ini, dan kau terus-menerus mengatakan hal-hal yang—"
Aurora menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan kata 'menggoda'.
"Hal-hal yang apa?" desak Lucien, suaranya rendah dan serak, berpadu sempurna dengan rintik hujan yang makin deras menghantam kaca jendela kedai.
"Hal-hal yang tidak ada dalam kontrak!" ketus Aurora akhirnya.
"Kita sepakat ini hanya profesional. Tapi kau bersikap seolah-olah kita sedang... sedang..."
"Sedang berkencan?" sambung Lucien tenang.
Aurora tersedak udara.
Ia segera meraih gelas wine merah hangatnya dan meminumnya dengan terburu-buru untuk menutupi rasa gugupnya. Rasa hangat alkohol itu membakar tenggorokannya, tapi tidak sebanding dengan rasa panas di pipinya.
"Jangan katakan kata itu. Itu kedengarannya mengerikan keluar dari mulutmu," ujar Aurora setelah berhasil menguasai diri, meski tangannya masih sedikit gemetar saat meletakkan gelas.
Lucien terdiam sejenak, matanya menelusuri wajah Aurora yang tampak rapuh namun keras kepala di saat yang bersamaan.
"Mungkin kau benar. Mungkin aku memang sudah gila. Aurelia adalah kota yang dingin, Aurora. Terkadang orang gila adalah satu-satunya yang bisa tetap hangat di sini."
Ia memajukan tubuhnya sedikit lagi, membuat bayangan tubuhnya di dinding kayu kedai tampak mendominasi.
"Dan kalau kegilaan ini memberiku kesempatan untuk melihatmu makan dengan lahap seperti ini, aku rasa aku tidak keberatan menjadi gila sedikit lebih lama."
Aurora kehilangan kata-kata.
Ia hanya bisa menatap dalam-dalam ke mata gelap Lucien, mencari sisa-sisa kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah pantulan dirinya sendiri yang tampak begitu bingung dan... luluh.
Lucien terdiam sejenak, menyesap sisa wine di gelasnya sambil menatap rintik hujan yang mengalir di kaca jendela. Suasana kedai yang sepi membuat setiap kata yang diucapkannya nanti akan terasa lebih berat.
"Kau benar-benar tidak ingat hari ini hari apa, bukan?" tanya Lucien tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Aurora mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat kalender di museum.
"Hari ini? Tanggal enam? Memangnya ada apa? Apa ada jadwal lelang yang aku lewatkan?"
Lucien menarik sudut bibirnya, sebuah senyum kecut.
"Hari ini tepat dua tahun sejak kita menandatangani dokumen itu di kantor pengacaraku. Dua tahun sejak kau resmi menjadi Nyonya Valehart."
Aurora tertegun. Sendok di tangannya terasa berat. "Dua tahun? Jadi... kontrak kita tinggal satu tahun lagi?"
"Ya. Tujuh ratus tiga puluh hari sudah berlalu," ujar Lucien, matanya menatap tajam ke arah Aurora.
Aurora tertawa hambar, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa menyesakkan.
"Kau menghitung harinya? Untuk apa? Kau seharusnya senang. Tinggal satu tahun lagi dan kau bebas dari 'istri' yang merepotkan dan suka menamparmu ini. Kita tidak perlu merayakannya, ini kan hanya kontrak. Tidak ada cinta, tidak ada komitmen nyata. Hanya bisnis."
Di seberang meja, Aurora masih terlihat sibuk dengan pikirannya, tidak menyadari badai yang berkecamuk di dalam diri pria di hadapannya.
Lucien menatap Aurora yang sedang menunduk, dan seketika ingatan tentang percakapannya dengan Aren di kantor beberapa waktu lalu terlintas di benaknya.
"Kau sudah memandangi wanita itu dari jauh selama lima tahun. Lima tahun, kawan! Sejak dia masih gadis!" tawa Aren saat itu seolah masih terngiang di telinganya. "Kau bahkan mendatangi ayahnya sebelum beliau wafat hanya untuk memastikan Aurora tetap aman di bawah namamu."
Lucien mengepalkan tangannya di bawah meja. Aren benar. Pernikahan ini bagi Aurora mungkin adalah sebuah jebakan kontrak, tapi bagi Lucien, ini adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjaga Aurora tetap berada dalam jangkauannya—setelah lima tahun hanya berani memperhatikan dari bayang-bayang.
"Kenapa kau diam saja?" suara Aurora membuyarkan lamunan Lucien.
"Tiba-tiba wajahmu jadi sangat serius."
Lucien menghela napas, mencoba menyembunyikan getaran emosi yang baru saja dipicu oleh ingatan tentang Aren.
"Aku hanya sedang berpikir," jawabnya singkat.
"Berpikir tentang apa? Tentang kontrak tahun terakhir kita?" tanya Aurora dengan nada yang sengaja dibuat ringan, meski ada secercah kecemasan di matanya.
Lucien menatapnya dalam-dalam.
Ia ingin sekali berteriak bahwa kontrak itu hanyalah alasan. Bahwa ia sudah mencintai Aurora jauh sebelum Aurora tahu namanya ada di dunia ini. Tapi ia tahu, jika ia mengatakannya sekarang, Aurora yang keras kepala pasti akan menjauh.
"Aku sedang berpikir," Lucien menjeda, suaranya kini lebih lembut dari sebelumnya,
"bahwa tiga tahun mungkin waktu yang terlalu singkat untuk membayar lima tahun penantian."
Aurora mengernyitkan dahi, tampak bingung. "Lima tahun penantian? Apa maksudmu?"
Lucien tersenyum tipis, sebuah senyum misterius yang menyimpan banyak luka dan rahasia. Ia menyesap sisa anggurnya.
"Bukan apa-apa. Anggap saja aku sedang melantur karena pengaruh anggur hangat ini."