NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar yang Dingin dan Lembar Baru yang Menanti

Rebecca menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih tersisa dari labirin mimpi buruk berbalut romansa tadi. Ia menoleh ke arah jendela besar kamarnya. Di luar, langit malam London ah bukan, langit malam kotanya sendiri perlahan mulai menipis, berganti dengan semburat ungu fajar yang dingin membelah cakrawala.

Nama yang sempat diucapkan Gus Xavier di restoran sore kemarin kini melekat erat dengan nama lengkap yang tertera di piagam penghargaan ruang transit: Doktor Adrian Khalid Al-Fahri, M.A. Sesosok pria dengan nama yang begitu megah, berwibawa, dan sakral, kini secara tidak sengaja telah mengusik ketenangan alam bawah sadar seorang siswi SMA berwajah porselen.

Rebecca menghela napas panjang, belahan bibir ombrenya yang merah alami ditekuk tipis. Ia melirik jam beker berbentuk capybara di atas nakas yang menunjukkan pukul setengah lima subuh. Sudah waktunya untuk mandi dan bersiap-siap. Tidak ada waktu lagi untuk meratapi mimpi konyol atau memikirkan kecemburuan buta Sagara Immanuel Arya.

Satu jam kemudian, Rebecca sudah siap dengan setelan seragam sekolahnya yang rapi. Kemeja putih bersih yang pas di tubuh, dipadukan dengan rok abu-abu span yang memperlihatkan lekuk pinggul semoknya secara natural. Kali ini, ia sengaja memilih untuk membiarkan rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang terurai bebas dengan jepitan minimalis di sisi kanan, menutupi leher jenjangnya agar memberikan kesan yang lebih dewasa dan tidak terlalu mencolok seperti kuncir ponytail maut kemarin pagi.

Sebelum melangkah keluar kamar, tangan kecilnya yang mulus bergerak meletakkan selembar cadar sutra hitam baru dari dalam keranjang, cadar cadangan kemarin yang kali ini ia pastikan tersimpan aman di bagian paling dalam lemari kamarnya, bukan diletakkan sembarangan di atas meja.

Begitu Rebecca turun ke lantai bawah, aroma soto ayam hangat buatan Ibunya sudah menyengat indra penciuman. Di meja makan, Naufal sudah duduk rapi dengan kaus polo hitam yang mengepres otot kekarnya, sibuk mengunyah kerupuk sembari menatap layar ponsel.

"Pagi, Dek. Tumben rambutnya digerai, biasanya heboh dikuncir maut," tegur Naufal tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Oh iya, omong-omong, tadi malam Sagara mengirim pesan ke Mas. Katanya, kalau pagi ini kamu tidak berangkat bareng mobil jemputan, dia mau menunggu di tikungan depan kompleks pakai motor sport-nya. Anak itu kenapa, sih? Tumben protektif sekali seperti satpam kompleks."

Mendengar ucapan Naufal, langkah kaki anggun Rebecca seketika tertahan di anak tangga terakhir. Sepasang mata hijau lembutnya yang langka memicing tajam.

Sagara Immanuel Arya benar-benar tidak main-main dengan aksi cemburu butanya. Pemuda jangkung berwajah es itu tampaknya siap melakukan konfrontasi terbuka pagi ini, menghadang jalur jalan Rebecca bahkan sebelum gadis itu sampai di gerbang sekolah, demi menuntut kejelasan tentang selembar kain sutra dan nama Adrian Khalid Al-Fahri yang telah mengacaukan ego remajanya.

...----------------...

Rebecca menarik napas dalam-dalam, menenangkan riak emosi yang sempat menyentak dadanya. Wajah porselennya kembali terkunci dalam mode tenang mutlak yang teduh. Ia melangkah mendekati meja makan, mengambil sepotong tempe goreng, lalu menatap abangnya dengan pandangan datar.

"Biarkan saja, Mas. Sagara mungkin hanya sedang kurang kerjaan karena tugas laboratorium biologinya belum selesai," jawab Rebecca jernih, suaranya terdengar begitu acuh tak acuh.

"Halah, kurang kerjaan bagaimana? Anak itu jarang sekali kirim pesan ke Mas kalau tidak ada maunya," gerutu Naufal sembari menghabiskan kuah sotonya. "Ya sudah, Mas antar kamu sampai depan kompleks saja kalau begitu. Kebetulan Mas harus buru-buru ke kampus pagi ini."

Sepuluh menit kemudian, mobil sedan hitam milik Naufal bergerak perlahan membelah jalanan kompleks perumahan yang masih diselimuti sisa embun pagi. Begitu mobil berbelok di tikungan utama yang ditumbuhi deretan pohon puring rindang, siluet yang ditunggu akhirnya terlihat.

Di sana, bersandar dengan angkuh di atas motor sport putih besarnya, Sagara Immanuel Arya sudah menunggu. Pemuda jangkung itu mengenakan jaket kulit hitam di luar seragam putih-abu-abunya, memberikan kesan pemberontak yang sangat tampan namun berbahaya. Begitu melihat mobil Naufal melambat, Sagara menegakkan tubuh tegapnya, membuka kaca helm *full-face*-nya, dan menatap lurus ke arah kaca penumpang dengan sepasang mata elang yang sedingin es kutub.

Naufal menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca jendela. "Oi, Sagara! Benar-benar jadi satpam kompleks kamu pagi ini, ya?" seloroh Naufal terkekeh.

Sagara tidak membalas candaan Naufal. Tatapan tajamnya langsung mengunci sosok Rebecca yang duduk di kursi penumpang. Pagi ini, melihat rambut asli hitam pekat milik Rebecca yang panjang bergelombang dibiarkan terurai bebas menutupi bahunya, membuat dada Sagara kembali berdesir panas oleh kecemburuan yang belum padam sejak kemarin. Penampilan Rebecca yang tampak lebih dewasa dan memikat mutlak dengan poni see-through-nya justru membuat Sagara semakin merasa terancam.

"Mas Naufal, biar Rebecca berangkat bersamaku saja sampai sekolah. Ada materi osis dan tugas kelas yang harus kami koordinasikan pagi-pagi," ujar Sagara, suaranya terdengar berat, serak, dan penuh penekanan posesif yang tidak bisa dibantah.

Naufal menoleh ke arah adiknya, menaikkan alisnya seolah meminta persetujuan. Rebecca menatap Sagara melalui kaca mobil. Sorot mata hijau lembutnya yang langka membaca ketegangan yang luar biasa di garis rahang tegap Sagara. Ia tahu, jika ia menolak sekarang, Sagara yang keras kepala pasti akan terus mengekorinya dengan motor sport itu sampai ke gerbang sekolah dan membuat kehebohan yang tidak diinginkan jiwa introvernya.

"Baiklah, Mas. Aku turun di sini saja," ucap Rebecca tenang.

Tangan kecilnya yang mulus membuka pintu mobil. Begitu kakinya yang terbalut rok abu-abu span menapak di atas aspal, keharuman mawar hitam bercampur cendana kasual miliknya seketika menguar, menembus indra penciuman Sagara dan langsung mengunci fokus pemuda itu sepenuhnya.

Rebecca berjalan anggun, lalu berdiri di samping motor sport putih Sagara. "Jangan mengebut, Sagara Immanuel Arya. Aku tidak mau rambutku berantakan sebelum jam pertama dimulai."

Sagara hanya mendengus dingin, menyembunyikan sudut bibirnya yang hampir berkedut senang karena berhasil membawa gadis porselen itu ke dalam jangkauannya. Ia memberikan helm cadangan kepada Rebecca dengan gerakan kaku. "Pakai ini, Tuan Putri. Dan pegangan yang erat, karena pagi ini aku tidak berniat membawa motor ini dengan kecepatan santai."

Aksi cemburu buta sang rival sekolah kini resmi membawa mereka berkendara bersama di bawah siraman matahari fajar, membuka lembaran konfrontasi baru yang akan menentukan ke mana arah hubungan 'teman tapi musuh' ini akan bermuara.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!