Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 5
Deru mesin mobil Dipta terdengar stabil membelah jalanan siang. Tangannya menggenggam kemudi dengan satu tangan, sementara itu pikirannya sudah melayang pada rumah. Kepada Rana, ia melirik ke kursi samping, sudut bibirnya ditarik kecil...tersenyum amat tipis. Kotak dessert yang ia beli tadi masih terduduk di atas kursi mobil.
Namun, sebuah panggilan masuk membuat alisnya berkerut. Nomor dari rumah.
Dipta mengerem perlahan, menepikan mobilnya ke sisi jalan. Ada firasat aneh yang tiba-tiba mengusik. Tanpa menunggu lama, ia mengangkat panggilan itu.
"Hallo?"
Suara panik langsung menyambut di seberang sana.
"Tu-tuan...tuan...ini saya, Mbak Sari."
Nada suara itu bergetar, nyaris seperti orang yang menahan tangis.
Dipta langsung menegakkan tubuhnya. "Ada apa? Kenapa kamu telpon?"
"Non...Nona kecil...Non Masayu..." suara Mbak Sari tersendat. "Sekarang lagi di bawa ke rumah sakit, tuan..."
Jantung Dipta seakan berhenti sesaat.
"Apa?! Kenapa?!"
"Tiba-tiba saja, tuan...tadi dia...dia kejang...terus napasnya susah... wajahnya merah semua..." Mbak Sari terdengar semakin panik. "Saya nggak tahu kenapa tuan...saya takut."
Dipta meremas setir hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mbak sekarang dimana?"
"Di perjalanan ke rumah sakit, tuan. Saya dan Mas Vito mau ke rumah sakit dokter Sardjito...ke rumah sakit yang besar itu."
Napas Dipta memburu. Otaknya berusaha tetap jernih meski amarah dan panik mulai bercampur.
"Istriku mana?" tanyanya tajam.
Mbak Sari terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Nyonya...tadi bilang mau jemput Mas Al ke sekolah. Belum ada kabar sampai sekarang, barusan saya belum telpon nyonya."
"Biar saya yang telpon, kamu urus dulu putri saya. Pastikan dia mendapatkan penanganan yang cepat!"
"Ba-baik tuan."
Klik.
Sambungan terputus begitu saja.
Dipta langsung menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras. Tanpa membuang waktu, ia mencari nama yang sangat ingin ia temui sejak tadi.
Rana.
Nama itu tertera pada kontak, ia menekan nomor itu. Panggilan tersambung hanya dalam beberapa detik.
"Hallo?" suara Rana terdengar santai, bahkan cenderung ringan. "Ada apa, Mas?"
Dipta memejamkan mata sesaat, mencoba menahan emosinya yang hampir meledak.
"Kamu dimana?"
"Aku? Lagi di tempat Nuri. Lagi..."
"Pulang sekarang."
Nada suara Dipta dingin. Tegas. Menekan.
Rana terdiam sesaat di sebrang sana. "Hah? Kenapa sih..."
"Masayu masuk rumah sakit."
kalimat itu jatuh seperti palu.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Lalu suara Rana berubah. Tidak lagi santai. Suaranya lebih ke nada khawatir dan takut.
"A-apa maksudmu, Mas? Masayu kenapa?"
Dipta menghela napas kasar, kesabarannya sudah di ujung.
"Dia kejang. Sesak napas. Sekarang di rumah sakit."
Suara Rana terdengar gemetar, panik mulai merambat. "Aku...aku nggak tahu...tadi dia baik-baik aja..."
"Cukup." Potong Dipta tajam. "Kalau kamu masih punya waktu untuk bicara, lebih baik kamu pakai buat pulang."
Tanpa menunggu jawaban, Dipta langsung memutuskan panggilan.
Tangannya bergetar saat ia menyalakan kembali mobilnya. Kali ini, tujuannya hanya satu.
Rumah sakit.
~
Lorong UGD rumah sakit Sardjito terasa dingin dan riuh dalam waktu yang bersamaan. Suara langkah kaki, bunyi alat medis, hingga percakapan tenaga kesehatan bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang menyesakkan dada.
Masayu sudah dipindahkan dari UGD ke ruang rawat inap anak VIP. Tubuh kecilnya kini terbaring lemah di atas ranjang, selang infus terpasang di tangannya yang mungil. Wajahnya masih sedikit kemerahan, napasnya sudah mulai stabil, meski sesekali terdengar berat.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore.
Mbak Sari berdiri canggung di dekat pintu, sementara seorang supir yang tadi menemaninya ke rumah sakit menggenggam tangan Alaric. Bocah itu terlihat bingung, matanya bergantian menatap adiknya dan kedua orang tuanya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, tuan… nyonya…" ucap Mbak Sari pelan.
Dipta hanya mengangguk singkat tanpa benar-benar menoleh. Rana pun tidak banyak bicara, hanya membalas dengan anggukan kecil.
Tak lama, pintu tertutup.
Menyisakan keheningan yang terasa berat.
Dipta berdiri di dekat jendela, membelakangi ranjang tempat Masayu terbaring. Kedua tangannya masuk ke saku celana, bahunya tegang. Ia tidak bergerak, tidak juga menoleh.
Rana berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jemarinya saling meremas, napasnya terasa tertahan.
Lalu, tanpa melihat, Dipta membuka suara.
"Kamu beli kue kacang lagi?"
Suaranya datar. Tidak tinggi. Tidak meledak. Tapi justru itu yang membuatnya terasa lebih menekan.
Rana menunduk dalam. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya menjawab lirih, "Iya…"
Hening sejenak.
"Aku… aku cuma pengen…" suaranya mengecil, "pengen makan aja… tapi aku nggak kasih ke Masayu. Aku taruh lagi kok… di kulkas…"
Penjelasan itu terdengar rapuh. Seolah ia sendiri tahu betapa lemahnya alasan itu.
Dipta akhirnya berbalik.
Tatapannya jatuh kepada Rana, bukan dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan sesuatu yang lebih dingin dan tajam.
"Kamu kenapa sih gak pernah ngerti, Ran?" ucapnya pelan, namun penuh tekanan membuat Rana mengangkat wajah cantiknya, kedua bola mata wanita itu berkaca-kaca karena merasa sangat bersalah atas keteledorannya.
"Kamu kan tahu kalau kedua anak kita punya alergi kacang tanah..." ucapnya, kali ini nada suaranya penuh penekanan.
Dipta melangkah mendekati Rana, "bahkan aku juga punya alergi yang sama,"
Rana menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar karena rasa bersalahnya itu. Bulir air mata tidak terasa jatuh dari pelupuk matanya.
"Apa bagimu alergi aku dan anak-anak cuma sekedar mainan semata buatmu, Ran?"
Rana dengan cepat menggengkan kepalanya yang tertunduk. "Bu-bukan begitu, Mas. Aku cuma..."
"Cuma apa?" tanya Dipta memotong.
Rana diam. Tidak ada jawaban yang bisa ia katakan pada suaminya. Dipta menghela napasnya, pria itu memalingkan wajahnya dan menatap Masayu yang terbaring lemah.
"Kalau kamu mau ceroboh dengan dirimu sendiri, silahkan," ucapnya akhirnya. "Tapi jangan bawa itu kepada anak-anak."
Rana menunduk semakin dalam. Bahunya bergetar menahan tangis.
Di ruangan itu, suara mesin infus dan balas kecil Masayu menjadi satu-satunya pengesi keheningan.
Rana menatap putrinya, ia merasa kesalahan ini terasa begitu nyata, seharusnya aku tidak membeli kue itu tempo hari. Mungkin saja Masayu tidak akan masuk rumah sakit sampai di rawat. Batinnya.
...****************...
Hallo, mohon dukungannya...
Bersambung...