Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Tabib
Begitu para pengawal bayangan pergi, Mei Huarin juga segera pergi ke kamar anaknya. Sedangkan jenderal Lu segera berlari ke arah halaman samping.
Di sana Lu Yansheng melihat Shen Meiren sudah pingsan dan di bawa oleh beberapa pelayan ke pinggir kolam.
"Nona..." Chuying sudah menangis di sisi Shen Meiren.
"Meiren!"
"Calon cucuku, cepat panggil tabib!" teriak nyonya tua Wang yang menyusul ke halaman samping.
Para tetua hanya menghela nafas dan membelai janggut panjang mereka.
"Nyonya tua Wang, kami seperti datang sia-sia..."
"Para tetua, aku sungguh minta maaf. Aku akan datang ke rumah para tetua dan memberi penjelasan!" kata nyonya tua Wang.
"Nyonya jenderal ini, memang sangat berbahaya. Bisa-bisa keluarga Lu kita di injak-injak olehnya. Aku akan katakan semua yang terjadi disini pada putraku, setidaknya dia pejabat tingkat dua di istana kekaisaran. Dia akan mengadu pada yang mulia. Meski Nyonya Jenderal adalah putri Chenping. Tidak boleh juga bersikap seenaknya seperti itu! dari jaman nenek moyang, wanita selalu bersandar pada pria. Bukan berdiri setara seperti yang dilakukan oleh nyonya jenderal. Kaisar juga pria, dia pasti tidak mau juga merasa diremehkan!"
Nyonya tua Wang tampak senang.
"Benar sekali! aku mengucapkan terima kasih pada para tetua. Aku pasti akan kirimkan hadiah yang pantas!"
"Ha ha ha, kita ini satu keluarga! jangan sungkan seperti itu. Ya sudah, kami membeli dulu. Sepertinya banyak yang harus diurus oleh nyonya tua!"
"Mohon maaf, aku tidak bisa mengantar"
Ketiga tetua itu pergi bersama dengan pelayan pribadi mereka. Sedangkan nyonya tua Wang segera ikut masuk kediaman jenderal, karena tadi Lu Yansheng membawa Shen Meiren masuk ke kediaman jenderal.
"Mana tabibnya?" tanya Lu Yansheng pada Du Guanzhi.
"Tuan jenderal, tabib istana sedang sibuk semua di kediaman keluarga raja. Sedangkan tiga orang tabib di panggil oleh nyonya jenderal ke kediaman Jinxi untuk memeriksa nona Lu Yanzhi!" jelas Du Guanzhi.
"Apa-apaan ini? kenapa sampai tiga orang! Yansheng, cepat pergi ke sana. Tarik satu tabib untuk memeriksa Shen Meiren!" kata nyonya tua Wang.
"Ibu, tolong jaga Meiren. Aku akan temui Mei Huarin!"
Lu Yansheng segera pergi dari tempat itu. Nyonya tua Wang segera meminta para pelayan mengganti pakaian Shen Meiren, lalu menggosok tubuhnya supaya tidak dingin. Juga memberikan sup hangat dan herbal.
Sementara itu di kamar Lu Yanzhi, Mei Huarin masih duduk di samping putrinya yang sedang diperiksa oleh tabib ketiga.
Tabib pertama sedang meramu obat, dan tabib kedua sedang menyiapkan terapi, supaya Lu Yanzhi tidak mengalami hipotermia.
Xueyao juga ada di tempat tidur dadakan yang dibuat di dekat tempat tidur Lu Yanzhi. Karena keadaan Xueyao tak jauh berbeda dari Lu Yanzhi. Lu Yanzhi bilang pada ibunya, kalau Xueyao bahkan beberapa kali menghalangi air dingin yang disiramkan padanya. Bahkan sempat di tendang beberapa kali supaya Xueyao menyingkir, menjauh dari Lu Yanzhi.
Namun, karena fisik Xueyao lebih kuat. Dia dengan mudah minum obat dan beristirahat. Sementara Lu Yanzhi masih terus menggigil.
"Yan'er, ibu disini!" kata Mei Huarin.
Matanya berkaca-kaca. Dia sedih sekali, melihat putrinya seperti itu. Dia harus melakukan sesuatu, membuat putrinya memiliki pelindung. Dia harus menyerahkan lencana pengawal bayangan pada Lu Yanzhi. Supaya para pengawal itu melindungi Lu Yanzhi.
"Nyonya, ini kantong biji-bijian nya sudah kami panaskan!" kata pelayan yang membawa kantong-kantong yang sudah dipanaskan.
"Letakkan perlahan di telapak kaki dan telapak tangan Yan'er!"
"Nyonya, ini benar-benar lebih efektif daripada menggosok telapak tangan dan kaki!"
"Aku akan ajari cara membuatnya nanti! bagaimana Yan'er?" tanya Mei Huarin.
"Nyonya jenderal..."
"Nyonya!"
"Ada apa Yao Yao?" tanya Mei Huarin.
"Tuan jenderal ingin masuk..."
"Nyonya, nyonya apakah aku bisa masuk?" tanya Lu Yansheng yang berada di depan pintu kamar Lu Yanzhi.
"Tabib, bagaimana Yan'er?" tanya Mei Huarin mengacuhkan Yao Yao dan juga Lu Yansheng.
"Kondisi nona pertama sangat lemah. Dia mengalami angin dingin. Harus di hangatkan seperti ini, dan minum ramuan!"
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik!"
"Nyonya... nyonya!"
Lu Yansheng terus berteriak. Sementara Xueyao sudah tidur. Mei Huarin pun akhirnya keluar dari kamar itu.
"Aku yakin jenderal bukan datang untuk mengetahui keadaan Yan'er kan?" tanya Mei Huarin.
Pertanyaan itu terdengar sangat menyindir. Karena memang Lu Yansheng datang untuk memanggil salah satu tabib.
"Aku juga ingin tahu bagaimana keadaan Yan'er!" katanya dengan tatapan gugup.
Jelas sekali, meski pada akhirnya dia mengatakan semua itu. Tadinya dia tidak mau mengatakan itu. Terpaksa saja bilang seperti itu. Memang keterlaluan, bagaimana seorang ayah malah terkesan tidak tulus bertanya tentang kondisi anaknya begitu.
"Jangan basa-basi jenderal! Kalau memang ingin tahu kondisi Yan'er, kamu akan datang sejak tadi. Bahkan seharusnya kamu menolong Yan'er, mengeluarkannya dari gudang sebelum aku datang!"
"Nyonya, aku sungguh tak menyuruh orang menyiram. Aku pasti usut masalah ini. Aku akan cari tahu siapa yang sudah melakukan hal itu! Tapi nyonya, di dalam ada tiga tabib bukan? bisakah kamu biarkan satu tabib pergi denganku? kondisi Meiren juga sangat berbahaya..."
"Aku meninggalkan putriku sejak sore. Kalau di hitung, kemungkinan Yan'er sudah kedinginan selama 7 jam baru aku mengeluarkannya dari gudang. Saat ini dia sedang menggigil, sudah tidak bisa bicara dengan benar, bibirnya sampai biru, tangannya pucat, mengkerut... " Mei Huarin menelan salivanya dengan susah payah, dia benar-benar tak tega melihat kondisi putrinya saat ini.
"Nyonya, aku minta maaf. Lain kali aku akan pastikan saat menghukum..."
"Masih ada lain kali?" pekik Mei Huarin menyela Lu Yansheng.
"Nyonya, Yan'er memukul Meiren..."
"Pergi!" bentak Mei Huarin.
"Nyonya..."
"Aku benar-benar tak habis pikir! Lu Yanzhi adalah anakmu! bagaimana kamu bisa meragukan anakmu sendiri jenderal. Sepertinya kita memang harus bicara baik-baik setelah semua kejadian ini. Aku tidak ingin marah, karena anakku butuh aku sekarang! yang mengirim tabib dari istana adalah Kaisar. Beliau mendengar Yan'er menggigil dan mengirimkan tiga orang tabib sekaligus. Jika ingin salah satunya, pergilah menghadap Kaisar!"
Mei Huarin berbalik, dan hendak masuk ke dalam kamar.
"Nyonya, Meiren dan bayinya tidak bisa menunggu..."
"Hanya satu setengah jam dia tidak bisa menunggu? putriku sudah kedinginan 7 jam!" sela Mei Huarin tanpa berbalik.
"Haruskah sekejam ini, nyonya?"
Mei Huarin memejamkan matanya sekilas.
"Jika jenderal mengenalku dengan baik. Maka jenderal pasti tahu, aku selalu membalas berkali-kali lipat siapapun yang menggangguku!"
Brakk
Mei Huarin masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu dengan cukup keras.
***
Bersambung...
Tak akan datang kebaikan, selama niat mu datang saja tak ada baik²nya..
Nikmati lah hidup baru mu, dengan wanita pilhan mu jendral, nyonya tua.. 😏
Karena Yan'er akan sama seperti ibunya..
Tak akan tunduk dengan orang² yg melukai hati & perasaan nya..
Kini Mei Huarin telah pergi, jadi buang saja mimpi mu untuk kembali menjadi kaya..
Karena apa pun yg kau lakukan percuma saja, akan sia².. 😏
Tapi doyan nya cari masalah..
Sudah tau dengan Mei Huarin masa tua mu lebih bahagia..
Tapi lu sendiri yg cari masalah..
Kau kira dengan status mu yg hanya mertua, lu kira bisa mengatur semuanya.. ?
Ohh.. Tentu tidak, berarti kau tak mengenal karakter menantu mu, Nyonya Tua..
Karena ketika kalian cari masalah, maka hukuman buat kalian justru makin parah..
🤭
nanti aku pula lama naik tensi🤦🏻♀️🤦🏻♀️
kayaknya dia pengen mepet sawah terus🤭
Siapa yang mau di paksa..?
Mei Huarin yg bersujud pada kalian semua..?
Yang benar saja.. 🤭
Meski kalian yg bersujud pada nya, Mei Huarin tak kan luluh dengan air mata buaya.. 😏
Karena Mei Huarin sangat tau, kalian adalah orang² yg bermuka dua..
Jadi, buang jauh² mimpi mu Nyonya Tua.. 😝😏
Apalagi kalian memanjakan nya dgn manja² gak menentu, gak terdidik adab & akhlak nya.. habislah.. 🤣🤣
Karena apa yg kau tanamkan sejak dini, seperti itulah kelak anak² akan mencontoh perilaku orang tua nya..
Dan kau lu Yansheng, ortu mu itu ada kurang²nya kalau kulihat.. Seperti orang gila harta, makanya anak lelaki mu punya prinsip yang sama dengan nyonya tua.. 🤦🏻♀️